
Suster itu berlari memasuki ruangan Vano, sudah 30 menit lebih Ia keluar hanya untuk membelikan bakso. Bahkan Ia terpaksa request pada penjualnya bakso yang diinginkan Vano membuatnya harus menunggu lama.
Saat ingin memasuki ruangan Vano, suster itu melihat antrian pasien Vano sudah panjang dan harusnya Ia sudah ada disana untuk membantu dokter Raisa.
"Lho, kamu gantiin aku?" tanya Suster itu pada temannya yang sudah standby di tempatnya.
"Iya nih, tadi disuruh dokter Vano, eh btw dokter Vano kenapa sih kok kayaknya marah marah mulu."
"Mana gue tau! gue aja dari tadi kena gampar mulu, dah ah gue mau ngasih ini dulu." kata suster itu meninggalkan rekannya.
"Ck, lama!" omel Vano sambil bersedekap tangan membuat wajah suster itu memucat.
"Maaf dok, tadi saya request baksonya dulu.'"
"Alasan saja."
"Sekali lagi maaf dok, saya ambilkan mangkuk sama sendok dulu."
"Nggak usah, baksonya buat kamu saja! lama nggak jadi pengen." kata Vano segera berajak dan pergi meninggalkan suster yang terlihat melonggo tak percaya.
Ia sudah berlari larian hanya untuk membeli bakso ini dan sekarang dengan mudahnya Vano memberikan padanya? apa menikah bisa membuat seseorang menyebalkan seperti ini batin suster itu sangat kesal sekali.
....
Vano melajukan mobilnya, Ia berniat pulang lebih awal dan istirahat dirumah karena perutnya masih mual dan kepalanya masih terasa pusing.
Saat berhenti di lampu merah, Vano melihat pedagang buah di pinggir jalan, tiba tiba Vano merasa ingin makan mangga muda, akhirnya Vano mencari tempat untuk parkir mobilnya dan mendekati kedai buah itu.
"Bu ada mangga muda?" tanya Vano pada penjual buah.
"Ada mas ganteng, mau beli berapa kilo?" tanya penjual itu terlihat genit pada pembeli tampan nya ini.
"Sekilo aja dulu Bu." pinta Vano.
Ibu penjual itu pun segera membungkuskan pesanan Vano "Buat istrinya ya mas? lagi ngidam?" tanya Penjual itu.
"Haa? enggak kok buat saya sendiri." balas Vano binggung. memang apa hubungannya ngidam sama mangga muda pikir Vano.
"Duh ganteng ganteng kok suka yang asem asem ya." kata Penjual itu sambil memberikan bungkusan plastik pada Vano.
"Berapa bu?"
"Buat mas ganteng, saya kasih diskon deh 25ribu aja."
Vano mengeluarkan uang 50ribuan di dompetnya "Buat ibu penjual yang baik kembalianya ambil saja." kata Vano menirukan penjual itu.
__ADS_1
"Ya ampun mimpi apa ibu semalem, udah ganteng, baik lagi." kata Ibu itu dengan senang hati menerima uang dari Vano "Sering sering saja beli buah kesini ya mas." kata Ibu penjual buah yang hanya diangguki Vano.
Vano segera melajukan mobilnya menuju rumah. sesampainya dirumah Vano merasakan ponselnya berbunyi langsung saja Vano mengambil ponsel yang ada disaku nya dan betapa senangnya Vano kala ternyata Riska yang menghubunginya.
"Hmmm.." Vano pura pura malas menjawab.
"Tadi telepon kenapa mas?" tanya Riska dari sana.
"Aku mau bilang kalau aku sakit."
"Haaa?" Riska terdengar terkejut dengan ucapan Vano.
"Suami kamu sakit, dirumah sendirian nggak ada yang ngerawat. kamu nggak ada niat buat pulang gitu?"
"Tapi mas bukannya kamu tadi ke rumah sakit ya?" tanya Riska mengingat suaminya sehat sehat saja saat mengantarnya tadi.
"Ya nggak tau, kepala aku pusing, perutku mual. ini aja tadi aku di anter pake ambulan gara gara nggak kuat nyetir." bohong Vano.
"Ya ampun mas, segitu parahnya ya! ya udah aku minta ijin pulang sekarang." kata Riska yang membuat Vano nyengir lebar.
"Cepetan sayang, aku nggak bisa ngapa ngapain ini, lemes semua badan aku." keluh Vano.
"Iya mas aku ijin dulu." kata Riska lalu mematikan panggilannya.
Yes... Vano bersorak gembira, Ia langsung saja berbaring diranjang dan memakai selimut tebal agar Riska percaya jika Ia memang sakit ya meskipun hanya sakit kepala dan mual tapi tetap saja Ia sedang sakit saat ini.
"Suamiku sakit mbak, nggak bisa apa apa, boleh nggak ya aku ijin pulang sekarang?" tanya Riska dengan raut wajah panik.
"Oh ya udah coba kamu ijin sama pak Alex dulu." kata Rika.
"Iya mbak, makasih ya mbak." kata Riska segera saja pergi ke ruangan Alex.
"Permisi pak." kata Riska memasuki ruangan Alex.
''Ya ada apa Ris?"
"Pak boleh nggak saya pulang sekarang?" tanya Riska sedikit takut.
"Kenapa? ada masalah apa?"
"Barusan mas Vano telepon katanya sakit dan sekarang dirumah sendirian nggak ada yang merawat." jelas Riska dengan raut pucat.
Alex menghela nafas jengah, Ia tau ini hanya akal akalan Vano saja agar Riska bisa pulang lebih awal.
"Ya sudah, tidak apa apa aku mengijinkanmu tapi sebelum itu apa kau mau membantuku?" tanya Alex.
__ADS_1
"Membantu apa pak?" Riska mengerutkan keningnya.
Alex terlihat mengatakan sesuatu pada Riska,
"Tapi pak,.." Riska terlihat cemas, ingin menolak tapi ini permintaan atasannya.
"Hanya bercanda saja, cepat telepon dia, aku hanya ingin tau bagaimana pria posesif itu marah." kekeh Alex membuat Riska geleng geleng kepala. bisa bisanya Alex mengajak bercanda disaat Vano sakit.
Riska pun mendial nomer Vano tak lupa meloudspeaker agar Alex bisa mendengar,
"Halo sayang, kenapa lama sekali?" keluh Vano.
"Maaf mas, Pak Alex tak mengijinkan ku pulang." kata Riska sementara Alex terlihat tersenyum karena berhasil mengerjai sepupunya itu.
"Lalu apa kau menurutinya?" tanya Vano terdengar kesal.
"Iya mas, aku tak enak karena tadi sudah berangkat terlambat dan sekarang harus ijin lagi. Pak Alex tak mengijinkan ku mas." kata Riska.
"Oo jadi kamu lebih memilih pekerjaanmu itu dari pada merawat suamimu yang sedang sakit ini? baiklah, sana kerja saja kalau perlu tak usah pulang tapi ingat jika terjadi sesuatu padaku, aku pasti akan membuat hidupmu tidak tenang." kata Vano drama.
"Mas kamu ngomong apa sih?" Riska terdengar kesal sementara Alex terlihat menahan tawa.
"Sudah urus saja pekerjaanmu, biarkan aku sekarat disini sendiri!" kata Vano langsung mematikan panggilannya.
"Mass..." Riska terlihat merasa bersalah karena menuruti Alex sementara Alex malah terbahak menertawakan Vano.
"Sudah sana pulang, sebelum suamimu frustasi dan bunuh diri."
"Pak Alex..." Riska terdengar kesal.
"Hahaha maafkan aku, ya sudah sana pulang saja." kata Alex yang langsung saja membuat Riska meninggalkan Ruangan Alex.
Buru buru Riska mengambil tas nya dan pulang karena Ia cukup khawatir dengan keadaan suaminya.
Dengan naik ojol akhirnya Riska sampai didepan rumah. Ia mengerutkan keningnya binggung karena mobil Vano terparkir didepan rumah.
Katanya naik ambulan, kok ini mobilnya disini? batin Riska.
Sesampainya dikamar, Riska melihat Vano tertidur pulas.
Riska mendekati suaminya itu, dan memegang dahi Vano.
"Kok nggak demam ya?"
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA...