
Sebuah ruangan yang memperlihatkan pemandangan pagi dari lantai atas gedung hotel ini, Riska menatap takjub ruangan Ini, hingga Ia melupakan tujuannya mengikuti Vano.
"Indah banget." puji Riska.
"Sayangnya nggak ada ranjangnya, jadi mau pemanasan dimana nih?" celetuk Vano yang membuat Riska melotot ke arah Vano kesal.
"Ih bisa nggak sih kalau nggak usah ngomongin mesum!" kesal Riska.
Vano tertawa "Siapa suruh negatif thingking terus, emangnya muka aku keliatan mesum apa?" kesal Vano yang membuat Riska tersenyum tak enak.
"Maaf deh, aku takut aja kan mau jaga diri."
"Ya jaga diri tapi nggak nuduh orang juga kali."
"Lagian kamu juga seneng godain aku!" protes Riska tak mau kalah.
"Dah ah malah ngributin apa sih, aku ngajak kesini buat sarapan sama kamu disini, ini sebagai permintaan maaf aku gara gara udah bikin kamu nunggu seharian kemarin." kata Vano mengajak Riska duduk disebuah kursi lengkap dengan mejanya dan disana sudah ada berbagai menu sarapan yang masih mengepul hangat.
Riska duduk disebuah kursi samping dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota dipagi hari. Rasanya menyenangkan, ini pertama kalinya Riska merasakan makan ditempat seindah ini.
"Awas ngeces ntar, ngeliatinya biasa aja dong." ejek Vano membuat Riska menatapnya sebal, Vano selalu saja merusak moodnya.
Vano mulai menyuapkan makanan dimulutnya , diikuti Riska yang mulai memakan roti bakar coklat yang rasanya sangat enak.
"Uhh enak banget." puji Riska kembali menyuapkan roti bakar ke mulutnya.
"Haduh, nggak usah kampungan deh."
"Apa sih julid mulu." kesal Riska.
Mereka pun mulai menikmati sarapan,
"Sering sering deh bikin salah." kekeh Riska.
"Ngarep diajak lagi kan?"
"Apa sih, enggak lah."
"Hmm, malu tapi mau." goda Vano.
"Serah deh!"
"Kantor kamu mana? nanti biar aku anter."
"Enggak perlu, aku ambil motor aja dirumah kamu nanti aku berangkat sendiri, lagian nanti malem mau masak juga kan dirumah kamu." balas Riska.
"Nanti aku pulang malem banget, jadi nggak perlu masak, kamu langsung pulang aja."
__ADS_1
"Serius? beneran?" tanya Riska sumringah.
Vano mengangguk pelan "Tapi cuma hari ini aja, mulai besok harus sesuai perjanjian."
"Iya iya, aku juga tau." balas Riska cuek.
Tepat pukul 7 pagi, Riska dan Vano pun kembali ke mobilnya. Vano mengantar Riska mengambil motor yang masih ada dirumahnya.
Sebelum turun dari mobil, Vano menyodorkan ponselnya pada Riska membuat Riska mengerutkan keningnya.
"Tulis nomer kamu."
"Oh, oke." Riska pun menerima ponsel Vano lalu mengetikan digit nomernya setelah selesai Riska mengembalikan ponsel Vano.
"Udah kan?" Vano hanya mengangguk lalu Riska pun turun dari mobil Vano.
Diam diam Vano masih mengamati Riska yang sedang mengenakan helm sampai Riska melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Vano.
"Gue nggak gila kan? nggak mungkin gue suka ma tuh cewek." batin Vano mengendikan bahunya lalu kembali melajukan mobilnya.
Riska sampai dikantor lebih awal, masih beberapa orang saja yang datang. Riska pun segera menuju meja kerjanya.
"Mentang mentang anak baru datengnya pagi banget." kata salah satu karyawan disana saat keduanya berpapasan di lift.
"Nggak juga mbak, biasanya agak siangan kok."
"Oh ya udah denger belum kalau Mama tirinya pak Alex meninggal jadi mungkin hari ini Pak Alex nggak ngantor."
Pintu lift terbuka, "Aku duluan ya." kata karyawan itu meninggalkan Riska yang masih harus naik satu lantai lagi.
"Berarti hari ini pak Alex nggak masuk? bagus deh aku juga masih belum siap buat ketemu." batin Riska. Jika mengingat beberapa hari yang lalu membuat Riska sangat malu, malu karena hampir saja Ia gila ingin merebut suami adiknya itu. Jika saja Alex menanggapi dirinya mungkin Ia benar benar jadi pelakor. untung saja Alex menganggapnya sebagai ipar tak lebih jadi Riska bisa segera sadar diri dan menjauhi Alex.
Ting, pintu terbuka dan Riska segera keluar menuju meja kerjanya.
Sementara itu pagi ini Alex sudah mengajak Bianca untuk ke mansionnya.
Bukan tanpa alasan Alex mengajak Bianca karena Alex tak ingin Bianca menghabiskan waktu liburnya untuk bersedih dimansion sedirian jadi Ia akan mengajak ke mansionnya agar Ella bisa menemaninya.
"Kamu yakin masih mau ngelanjutin kuliah diluar? nggak mau pindah sini aja?" tanya Alex saat keduanya tengah berada didalam mobil.
"Aku selesain dulu kak, nanti kalau udah baru pulang kesini lagi." balas Bianca.
"Trus nikah ya?" tawar Alex.
Bianca ingat jika permintaan mamanya ingin Bianca segera menikah. meskipun bukan permintaan terakhir namun tetap saja Bianca harus memikirkannya kan.
"Kakak ya yang nyariin jodoh buat Bi?"
__ADS_1
"Hmm, kenapa nggak nyari sendiri?" tanya Alex.
"Aku percaya pasti kakak akan nyariin suami yang terbaik buat Bi."
"Ya sudah, nanti kakak carikan tapi Bi harus mau ya?"
"Siap deh kak."
Alex mengelus rambut adiknya gemas.
Sesampainya dimansion, Alex dan Bianca segera turun.
"Wah mansion kakak lebih bagus dari punya Papa ya?" puji Bianca yang hanya dikekehi oleh Alex.
"Udah ayo masuk, pasti kakak ipar kamu udah nungguin." kata Alex mengajak Bianca masuk.
Pagi tadi Alex memang sudah mengabari Ella jika pagi ini Ia pulang dengan Bianca dan lihat saja istrinya yang sedang hamil besar itu sibuk menyambut kedatangan adik iparnya dengan berbagai masakan yang Alex yakini itu semua masakan Ella.
"Pagi istriku sayang." Alex segera mendekap tubuh Ella yang masih sibuk menata makanan di meja makan.
"Ih apa sih mas." Ella terlihat malu saat Alex memeluk tubunnya dari belakang, malu karena ada adik iparnya dibelakang mereka.
"Anggep aja aku nggak ada kak." sindir Bianca yang membuat Alex terkekeh.
"Nih yang katanya mau kenalan." kata Alex.
"Hay kak Ella, kok beda jauh ya sama fotonya, cantik kalau lihat langsung gini." puji Bianca.
"Kamu juga cantik kok Bi." balas Ella, keduanya pun berpelukan.
"Ah iya kalian pasti belum sarapan kan? ayo kita sarapan bersama." ajak Ella.
"Dari baunya kayaknya aku kenal ini masakan siapa?" sindir Alex yang membuat Ella tersenyum.
Setelah mendapatkan telepon dari Alex, Ella memang sengaja memasak untuk menyambut kedatangan adik iparnya itu. meskipun tadi para maid juga sempat protes dan melarang namun Ella tak peduli, Ia tetap memasak juga.
"Tadi Non Ella udah dikasih tau ngeyel Den." kata Bik Sumi yang baru saja datang.
"Lho ini Bik Sumi kan?" tanya Bianca.
"Iya Non Bianca, apa kabar Non?'"
"Baik Bik, aku nggak nyangka sekarang ikut kak Alex lagi." kata Bianca mengingat dulu yang merawat dirinya dan Alex adalah Bik Sumi.
"Udah jangan bahas masalah yang tak penting karena sekarang ada masalah yang lebih penting." kata Alex menatap Ella tajam.
"Ck, mulai lagi deh." batin Ella.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...