
Ella terkejut kala melihat dokter Vano memasuki kamarnya dan terlihat cemas sementara Alex mengikutinya dari belakang.
"Astaga Nona, apa yang terjadi padamu? apa pria pemarah itu melukaimu?" tanya Vano dengan raut cemas membuat Alex berdecak malas sementara Ella hanya terkekeh.
"Tidak, aku baik baik saja." kata Ella membalas Vano.
"Tapi wajahmu pucat Nona, kau juga demam." kata Vano memegang dahi Ella.
"Berhenti mencari kesempatan untuk menyentuh istriku!" bentak Alex dari belakang.
"Hey pria pemarah, jika aku tak menyentuhnya bagaimana aku bisa memeriksanya?" protes Vano.
"Kau bisa menggunakan alat alat doktermu itu!" kata Alex.
"Dasar pria pemarah posesif!" ejek Vano.
"Sudahlah aku baik baik saja." kata Ella "Kepalaku hanya sedikit pusing." kata Ella lagi.
"Apa kau semalam tak makan?" tanya Vano.
"Aku makan kue dan minum susu."
"Seharusnya kau makan nasi."
"Baiklah, besok tak akan ku ulangi lagi." kata Ella sedikit menyesal, seharusnya permasalahannya dengan Alex tak membuatnya nafsu makannya berkurang, sekarang Ella merasa bersalah dengan calon anaknya yang masih didalam perut.
"Maafkan mommy ya nak." batin Ella.
"Kau harus segera makan dan minum vitamin mu, setelah itu kau harus istirahat, jangan pikirkan pria pemarah ini lagi." kata Vano yang langsung diangguki Ella.
"Bik Sumi akan segera datang membawa bubur untukmu." kata Alex yang juga diangguki Ella.
Alex dan Vano pun keluar digantikan oleh Bik Sumi yang masuk membawa nampan berisi bubur dan teh hangat.
"Non Ella kok bisa sakit sih." kata Bik Sumi meletakan nampan dimeja lalu mengambil mangkuk untuk menyuapi Ella bubur.
"makasih bik," kata Ella melihat Bik Sumi begitu perhatian padanya "Ella cuma pusing aja kok kata Dokter Vano juga nggak apa apa." kata Ella.
"Tetep aja Non, ini pasti karena Den Alex yang masih marah sama Non Ella." tebak Bik Sumi "Non Ella pasti mikirin ini sampai sakit kayak gini."
"Enggak Bik, udahlah jangan salahin mas Alex lagi, ini salah Ella gara gara semalem nggak makan." kata Ella.
"Iya deh iya, yang suaminya dibelain aja terus!" kata Bik Sumi membuat Ella terkekeh.
Sementara diluar Alex Dan Vano memandangi satu sama lain dengan pandangan tak suka.
__ADS_1
"Semua ini salahmu!" kata Alex dengan nada sinis.
"Apa? kenapa kau menyalahkanku?" protes Vano tak terima.
"Jika saja kau tak mengantar Ella ke penjara pasti aku tak akan marah dengannya dan sekarang Ella juga tak akan sakit seperti ini!" ketus Alex pada Vano.
"Bagaimana mungkin aku menolak permintaannya jika dia saja memohon padaku sambil menangis, aku tidak setega dirimu yang bisa melihat wanita menangis didepanmu." balas Vano tak kalah ketus.
Alex terdengar mendesah frustasi,
"Lagipula tidak terjadi apa apa kan? aku juga sudah memikirkan keamanannya sebelum mengantar kesana." kata Vano.
"Apa maksudmu?"
"Ya aku meminta para polisi itu untuk memborgol tangan Hanna agar Hanna tak mempunyai celah untuk melukai Ella." jelas Vano.
"Aku tak menyangka ternyata kau pintar juga." Kekeh Alex.
"Seharusnya aku saja yang menjadi suaminya, lebih berguna dan selalu ada untuknya." cibir Vano.
"Tutup mulutmu dan berhentilah bermimpi, Ella sudah menjadi milik ku jadi tak akan kubiarkan kau mengambilnya dariku." kata Alex posesif.
"Ck, dasar pria pemarah posesif." ejek Vano.
"Aku sudah memeriksa istrimu jadi sekarang aku minta bayaranku!"
"Pergilah ke meja makan, disana ada banyak makanan, bukankah itu yang kau cari?"
Vano tersenyum tengil "Kau memang saudara yang paling mengerti aku, tapi sayang sekali bukan Ella yang memasak untuk ku." kata Vano segera berlari menjauh dari Alex sebelum pria pemarah itu mengamuk.
Alex menghela nafas melihat tingkah kekanakan Vano yang belum berubah. Segera Alex berjalan turun untuk menemui Sandi yang pasti sudah menunggunya didepan.
"Tuan, kita berangkat sekarang?" tanya Sandi.
"Tidak, aku tidak akan berangkat kekantor." balas Alex membuat Sandi terkejut.
"Tapi Tuan, bukankah hari ini ada jadwal meeting dengan klien penting?" tanya Sandi.
"Katakan pada Sekretarisku untuk membatalkan semua jadwal hari ini, aku ingin menemani Ella yang sedang sakit." jelas Alex.
"Tapi Tuan,"
"Apa kau ingin dipecat?"
"Tidak Tuan, maafkan saya! saya akan segera kekantor." kata Sandi segera memasuki mobil dan melajukan keluar dari mansion Alex.
__ADS_1
Alex kembali memasuki mansion, Alex melihat Bik Sumi tengah melayani Vano yang tengah berada dimeja makan.
"Ella sudah selesai makan dan minum obat Bik?" tanya Alex.
"Sudah Tuan, sekarang Non Ella sedang istirahat." kata Bik Sumi.
"Baiklah, aku akan menemaninya dan kau segeralah pulang jika sudah selesai!" kata Alex pada Vano lalu pergi tanpa menunggu jawaban Vano.
"Aku iri pada Alex, rasanya aku ingin merebut istrinya." omel Vano.
"Hus, Den Vano ini! makanya cepetan cari istri Den." kata Bik Sumi.
"Cari dimana Bik? nggak ada yang buang kayaknya." balas Vano yang langsung membuat Bik Sumi tertawa.
Bik Sumi cukup mengerti, Vano memang masih belum bisa move on dari Anna cinta pertama Vano yang telah menikah dengan pria lain.
Sudah lama Vano menyukai Anna namun nyatanya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan karena Anna memiliki pria yang Ia cintai, dan setelah itu memang Vano masih enggan membuka hati untuk siapapun namun semau berbeda saat Vano bertemu Ella. gadis sederhana yang memiliki sifat hampir sama dengan Anna namun sayang, nyatanya Ella telah memiliki suami yang tak lain adalah sepupu Vano, tentu saja Vano tak akan mengharap lebih lagi.
Kini Vano hanya bisa berharap ke depan Ia bisa memiliki wanita yang selama ini Ia idamkan itu hingga membuatnya bisa melupakan Anna dan Ella yang telah menyentuh hatinya dan membuatnya jatuh cinta.
Didepan kamar, Alex membuka pintu pelan. Alex melihat Ella tengah berbaring dan memejamkan mata.
Alex menghampiri Ella lalu berbaring disampingnya, menatap wajah Ella sebentar lalu memeluknya yang sontak membuat Ella terkejut dan bangun.
"Mas nggak ngantor?" tanya Ella namun Alex tak membalas malah semakin mempererat pelukannya.
"Oh iya, kan Daddy masih marah, ngapain sih Mommy tanya tanya." kata Ella lagi yang langsung membuat Alex terkekeh.
"Udah tidur, ngapain sih malah bawel gitu?" kata Alex dengan suara cuek.
"Baru aja mas ketawa sekarang udah galak lagi." cibir Ella.
"Makanya kalau dibilangin suami yang nurut! jangan ngeyel." kata Alex lagi.
"Mas sih nggak ngrasain gimana posisi aku yang setiap siang harus mimpi aneh kayak gitu, bikin kepikiran mas." keluh Ella.
"Trus sekarang habis dari sana udah nggak kepikiran lagi?" tanya Alex.
"Nggak mas, malahan aku lega banget tau!"
Alex hanya tersenyum lalu mengecup bibir Ella membuat Ella terkejut.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1