
Riska membuka pintu rumahnya, terkejut karena Ayahnya masih menunggu dirinya diruang tamu.
"Ayah kok belum tidur?" tanya Riska mencium punggung tangan ayahnya.
"Nungguin kamu, kok tumben malem banget?" tanya Pakde.
"Iya yah, soalnya tadi lembur dulu."
Pakde hanya manggut manggut, sebenarnya Ia tak tega jika melihat Riska harus pulang malam seperti ini setiap hari tapi jika Ia juga tak bisa berbuat apapun untuk membantu masalah Riska. Ia benar benar tak memiliki apapun hanya rumah yang Ia tinggali ini harta satu satunya.
"Mas Rangga udah tidur yah?" tanya Riska.
"Tadi sih masih ngegame, nggak tau kalau sekarang."
"Ya udah, Riska temui mas Rangga dulu ya yah, ada yang mau Riska omongin." kata Riska yang langsung diangguki Pakde.
Riska memasuki kamar Rangga karena memang kamar Rangga tak di kunci. Riska masih melihat Rangga masih bermain game sambil rebahan.
"Bang.." panggil Riska.
"Apa?" balas Rangga cuek, matanya masih menatap layar ponsel.
"Udahan dulu lah ngegame nya, ada yang mau aku omongin penting." kata Riska.
"Ck, bentar lah. nanggung!"
"Bang, seriusan!" bentak Riska membuat Rangga kaget lalu menjatuhkan ponselnya.
"Kan ,kalah! Elo mah ganggu aja!" kesal Rangga.
"Lagian gue mau ngomong penting malah dicuekin!" kata Riska tak kalah kesal.
"Emang mau ngomong penting apa sih?"
"Kalau gue nikah duluan gimana bang?" tanya Riska sedikit takut. Takut jika Rangga tak mau di dahului lalu bagaimana nasibnya padahal besok keluarga Vano akan datang untuk melamar.
Rangga menatap ke arah Riska, menatapi wajah Riska lekat lekat, mencari keseriusan disana lalu,
Hahahahahaha...
Rangga tertawa membuat Riska kesal,
"Eh tidur dulu sana baru ngimpi!"
"Ya ampun bang, gue seriusan ini!" kesal Riska karena Rangga menganggapnya bercanda.
"Mana bisa gue percaya, Lo aja pacar nggak punya sekarang bilang mau nikah," kata Rangga masih menertawakan Riska.
__ADS_1
"Gue mau nikah sama Vano bang, cowok yang kemarin ikut ke klinik waktu Ella lahiran." jelas Riska membuat Rangga melonggo.
"Jadi kemarin itu bener? dia cowok lo?"
"Enggak, bukan gitu bang, duh ceritanya panjang lah."
"Jangan jangan beneran kalau Lo bunting gara gara tuh cowok!" tuduh Rangga yang langsung mendapatkan cubitan dari Riska.
"Sembarangan kalau ngomong, gini gini disentuh aja gue ogah bang!" kesal Riska.
"Hmm, ya udah nikah duluan aja nggak apa apa, lagian kalau dilihat tuh cowok orang baik." kata Rangga "Tajir pula." imbuh Rangga lagi.
"Ck, lagian abang juga sih nggak cepetan nikah kalau aku nungguin Abang bisa bisa ketuaan ntar." ejek Riska.
"Masih males mikir nikah!"
"Alah, bilang aja belum bisa move on dari Aca." kata Riska yang langsung di jitak oleh Rangga.
"Nggak usah nyebut lagi nama tuh cewek, bikin badmood aja!"
Riska terkekeh geli, mengingat betapa bucinnya Rangga dulu sewaktu memiliki kekasih namun sayang nya mereka harus putus karena Aca mantan kekasih Rangga harus keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan disana.
"Kapan kalian mau nikah?" tanya Rangga.
"Besok lamarannya." balas Riska yang membuat Rangga terkejut.
"Eh monyet, Lo kira kira dong. pedekate kesini aja belum pernah udah mau nglamar aja!"
"Ck, ya udah sana bilang sama ayah Ibu dulu biar besok nggak kaget kalau mereka datang."
"Oke siap bang, yang penting abang udah setuju ya kalau aku duluan yang nikah?" tanya Riska sekali lagi.
"Iye iye, sono bawel banget."
Riska tersenyum senang lalu keluar dari kamar Rangga. Kini Riska berjalan menuju kamar ayah dan ibunya, berharap orangtuanya belum tidur.
Riska memasuki kamar orangtuanya dan melihat kedua orangtuanya asik mengobrol dan masih belum tidur,
"Ayah sama Ibu kok belum tidur?" tanya Riska yang kini sudah duduk di pinggir ranjang.
"Tadinya Ibu udah tidur tapi digangguin sama ayah kamu jadi bangun lagi." adu Budhe yang membuat pakde tertawa.
"Ck, ayah mah usil banget."
Pakde masih tertawa "Ada yang ingin kamu katakan nak?" tanya Budhe melihat raut wajah Riska terlihat gugup.
"Emh, anu Bu. boleh nggak kalau Riska nikah duluan." tanya Riska ragu, namun Riska merasa aneh karena orangtuanya sama sekali tak terkejut mereka justru mengulum senyum.
__ADS_1
"Kamu udah ijin sama abang kamu belum kalau mau mendahului?" tanya Pakde.
"Udah kok yah, dan bang Rangga bilang nggak apa apa." balas Riska.
"Ya sudah jika abang kamu merestui kamu menikah duluan kami sebagai orangtua juga merestui nak." kata Ayah yang langsung diangguki Ibu, entah mengapa mendengar jawaban orangtuanya Ia sedikit lega dan senang juga.
"Apa kamu mau menikah dengan Dokter Vano?" tanya Ibu yang membuat Riska terkejut karena orangtuanya bisa menebaknya.
"Kok Ibu tau?"
"Dari tingkah laku kalian sudah keliatan jelas sekali jika kalian memang ada hubungan spesial." jelas Pakde.
"Eh, tapi nggak gitu kok Yah."
"Nggak gitu gimana maksudnya?" tanya Pakde curiga.
"Ya nggak gitu yah, nggak yang aneh aneh pokoknya." balas Riska, beruntung dirinya tak keceplosan jika keceplosan bisa bisa orangtuanya tak merestui pernikahannya.
"Iya kami percaya nak, apapun yang membuat kamu bahagia, kami selalu dukung." kata Budhe.
Riska menghela nafas berat, Ia sendiri juga masih binggung dengan keputusannya menikah dengan Vano namun mau bagaimana lagi sepertinya takdir lah yang membawanya sampai sejauh ini dengan Vano. Sekarang Riska hanya berharap jika besok dirinya dan Vano bisa saling mencintai dan menjaga rumah tangga mereka.
Riskaa mengambil tangan Ayah dan Ibunya secara bergantian lalu menciumnya.
"Makasih ya Ayah Ibu, udah ndukung apapun yang Riska lakuin."
Pakde dan Budhe pun tersenyum lalu membawa Riska kedalam pelukan.
Sementara Alex keluar dari mobilnya lalu memasuki mansion, Alex berjalan sambil bersiul saking senangnya malam ini.
Rencana nya hampir 100% berhasil, hanya tinggal menunggu hari esok untuk acara lamaran Vano dan Riska dan semuanya selesai.
Dan setelah mereka menikah, sudah tak akan ada lagi yang datang pagi pagi untuk menganggu istrinya.
Biarlah orang berkata jika Alex posesif, Alex tak peduli karena dirinya sangat mencintai istrinya dan tak ingin ada yang menganggu keharmonisan rumah tangga nya.
Meskipun Alex cukup tau jika Vano hanya menggoda Ella, namun tetap saja perasaan seseorang bisa berubah kapan saja.
Ceklek... Alex membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri sudah tertidur pulas.
Ia pandangi wajah cantik istrinya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi, Alex mendengar tangisan baby Liu, segera Alex menuju kamar Baby Liu tanpa membangunkan Ella.
"Hello Baby, kamu pasti haus yaa?" tanya Alex segera saja mengendong Baby Liu lalu Ia bawa kekamarnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa...