
Didalam mobil saat perjalanan pulang ke mansion, Ella masih saja dibuat heran oleh ucapan Riska yang mengatakan jika Vano lah yang mengalami efek kehamilan Riska.
"Ngapain sih senyum terus dari tadi?" tanya Alex.
"Aku masih geli aja mas, kok ada ya yang hamil istrinya tapi yang ngerasain mual sama ngidam suaminya." kata Ella.
Alex pun ikut terkekeh "Biarin aja yank, biar tau rasa tuh Vano."
"Kok kamu dulu nggak gitu mas?" tanya Ella.
"Baby kita kan pinter, dia nggak mau nyusahin Daddy nya." kata Alex lalu menciumi pipi Baby Liu yang tertidur dipangkuannya.
Ella hanya mencebikan bibirnya, "Katanya Nisa juga sudah hamil mas." adu Ella mengingat saat awal Baby Liu lahir dan Nisa datang untuk menjenguknya dulu mengatakan jika Nisa sudaah mengandung.
Alex mengerutkan keningnya, sepertinya Ia baru tau.
"Apa benar itu Sandi?" tanya Alex pada Sandi yag tengah menyetir.
"Benar Tuan,"
"kamu itu sama karyawan nggak perhatian banget sih mas!" ketus Ella membuat Alex tersenyum malu.
"Bukan gitu sayang, kamu kan tau aku terlalu sibuk jadi ya nggak tau kalau Nisa udah hamil, lagian yang hamilin kan Sandi bukan aku jadi ya aku nggak tau lah." kekeh Alex yang langsung mendapatkan cubitan mesra dari Ella, sementara didepan Sandi hanya bisa geleng geleng kepala mendengar celetukan Alex.
"Seneng ya dek nanti punya banyak temen." kata Ella sambil mengelusi pipi Baby Liu.
"Kalaupun nggak ada temen kita juga bisa bikinin Adek buat Baby Liu." kata Alex.
"Ck, urusan bikin dedek aja langsung nomer satu." gerutu Ella yang membuat Alex terkekeh.
"Tapi kamu juga tetep nomer satu kok dihati aku."
"Huu dasar mas tukang ngombal." Ella terkekeh memdengar rayuan maut suaminya itu.
"Seriusan sayang," Alex gemas lalu mencium pipi Ella.
"Ck, jangan disini mas kasian tuh Sandi nanti pengen." ungkap Ella.
"Tidak apa apa Non Ella, anggap saja saya tidak ada." kata Sandi yang langsung membuat Ella dan Alex terkekeh.
Setelah melewati perjalanan dimobil selama 3 jam akhirnya mereka sampai dimansion.
Ella keluar lebih dulu sambil mengendong Baby Liu sementara Alex membawa barang bawaan Baby Liu.
"Biar saya bawakan Tuan," pinta Sandi melihat Alex mengangkat tas yang cukup besar.
"Tidak perlu, kau pulang saja."
Sandi mengeryit heran "Tapi Tuan, bukankah pekerjaan saya belum selesai?"
__ADS_1
"Aku ingin memberimu libur 2 hari, luangkan waktumu untuk istrimu yang sedang hamil, ajak dia jalan jalan." kata Alex yang membuat Sandi langsung senyum sumringah.
"Terimakasih Tuan, terimakasih!"
"Sudah sana pulang saja." kata Alex yang langsung dituruti Sandi. segera Sandi melajukan mobilnya keluar dari mansion.
Sementara Alex masih menatapi jejak kepergian Sandi, Ia merasa bersalah karena akhir akhir ini sering memberikan banyak pekerjaan untuk Sandi. Bahkan persiapan pernikahannya dengam Ella pun yang mengurus juga Sandi, pasti istrinya tersiksa karena Sandi jarang pulang pikir Alex. Dan memberikan libur 2 hari seepertinya cukup untuk menyenangkan istrinya yang sedang hamil.
Sementara Budhe dan Pakde tengah berbahagia kala mendengar kabar kehamilan Riska.
"Mulai sekarang kamu harus hati hati, nggak boleh ceroboh kayak biasanya." nasihat Ayah saat mereka tengah berkumpul.
"Iya yah, ayah tenang aja pasti saya jagain Riska dengan baik." kata Vano berusaha terlihat baik didepan mertuanya itu.
"Wah nak Vano ini suami siaga!" puji Ibu membuat Riska memutar bola matanya malas.
"Siaga apaaan, orang dia yang manjanya kebangetan." batin Riska seolah tak terima suaminya mendapatkan pujian dari orangtuanya.
"Wah tokcer juga ya punya Lo, baru sebulan nikah udah bisa bikin adek gue bunting." celetuk Rangga yang ada disana juga mendengarkan sambil main game membuat Budhe gemas lalu mencubit pinggangnya.
"Aduh, sakit Bu." keluh Rangga.
"Makanya kalau ngomong itu jangan terlalu vulgar." kata Budhe sebal.
Vano tersenyum bahagia kala ada yang mengatakan miliknya tokcer. ya tentu saja tokcer otongnya itu memang hebat tiada duanya batin Vano menyombongkan diri.
Setelah memberi kabar bahagia ditempat orangtua Riska kini Mereka berada dirumah Wina untuk memberi kabar bahagia itu pada Wina.
"Mana berani nih kita bohongin mama." balas Vano malas.
"Wah nggak nyangka ternyata otong kamu tokcer juga ya." puji Wina.
"Ck, jelas dong ma, Mama jangan ngremehin otong Vano lah."
"Bagus, jadi bentar lagi Mama bakal gendong cucu." senang Wina.
"Kamu harus bisa jadi suami siaga! jangan sampai Riska kenapa napa, awas aja kalau ada apa apa sama mantu dan calon cucu mama!" ancam Wina.
"Mama tenang aja, Vano udah siaga banget kok ngadepin Riska yang suka rewel." celetuk Vano yang membuat Riska kesal lalu menginjak kaki Vano.
''Aduh duh, " teriak Vano.
"Kamu kenapa mas? nggak apa apa kan?" tanya Riska pura pura terlihat khawatir.
"Gak!"
"Kamu tuh ditanya istri jawabnya yang baik, nggak boleh ketus gitu!" kata Mama Wina.
"Ck, gimana nggak ketus mas, orang kaki Vano aja di-"
__ADS_1
'Nggak apa apa kok ma, udah biasa mas Vano gitu!" Riska mendahului ucapan Vano membuat Vano melotot tajam.
"Kamu bener bener kebangetan deh Van, bisa bisa nya sama istri kayak gitu!"
"Iya iya mah, udah dong ma ngomelnya! udah dibikinin cucu juga masih aja ngomel!" gerutu Vano.
"Percuma dibikinin kalau nggak dijagain."
"Kata siapa nggak dijagain Ma, orang disayang sayang terus gini." kata Vano lalu memeluk tubuh istrinya didepan Wina membuat Riska malu, ingin menolak namun tak enak dengan Mama wina jika tak menolak Vano terdngar menyebalkan memuji dirinya sendiri terus sejak tadi akhirnya Riska hanya bisa pasrah.
"Pokoknya Nak, kalau Vano nggak nurutin ngidamnya kamu, bilang sama Mama." kata Wina.
"Siap ma." Riska tersenyum senang, sepertinya bagus ini bisa menjadi ancaman untuk Vano jika Vano menyebalkan.
Setelah puas mengobrol dengan Mama wina, akhirnya mereka pulang. Baru saja Riska duduk disofa, Suara Vano sudah mengema.
"Sayang bikinin aku teh anget dong.' pinta Vano manja yang kini sudah duduk disampingnya.
Dengan malas Riska bangkit untuk menuruti suaminya, membuatkan teh gula aren yang akhir akhir ini sering diminta Vano.
"Ni mas, " Riska menyodorkan secangkir teh hangat pada Vano.
"Makasih istri aku yang cantiknya kebangetann ini." puji Vano membuat Riska memutar bola matanya malas.
Vano menyeruput tehnya namun langsung saja Ia semburkan membuat Riska terkejut,
"Kenapa sih mas? nggak enak?"
'Kok rasanya aneh sih, kamu kasih apa?" tanya Vano.
"Gula aren lah, biasanya kamu minum ini kan?"
"Pantesan rasanya nggak enak, lagian kamu aneh deh yank masa teh dikasih gula aren!''
"Ck, biasanya kamu mintanya ini kan!"
"Nggak mungkinlah, aku biasanya minta teh madu, kamu ini bener bener deh sama suaminya kayak gitu!" kata Vano yang membuat Riska kesal seketika.
Mode menyebalkan On, Riska lebih baik kabur.
''Sayang aku belum selesai marahin kamu!"
BERSAMBUNG..
Riska
Vano
__ADS_1