
Malam harinya, sebelum pulang Riska menyempatkan untuk kembali keruangan Alex, Ia masih ingin mengucapkan terima kasih pada Alex secara langsung.
Namun Riska kembali dikejutkan oleh adanya Ella disana.
"Lho mbak Riska, belum pulang?" tanya Ella duduk di sofa ruangan Alex sementara Alex masih fokus pada laptopnya.
"Eh, kamu masih disini El?" tanya Riska.
"Iya mbak, tuh si boss minta di temenin seharian." sindir Ella membuat Alex terkekeh.
"Yang ikhlas sayang, kalau nggak ikhlas nanti kamu nggak dapet pahala." kata Alex menyahuti Ucapan Ella.
"Oh ya, ada apa Riska? bukannya kamu seharusnya sudah pulang?" tanya Alex membuat Riska gugup apalagi ada Ella disini.
"Saya cuma mau terima kasih buat motornya pak." kata Riska ingin cepat menyelesaikan ini semua karena memang ini yang ingin Riska ungkapkan pada Alex.
Ella hanya tersenyum,
"Ck, jangan terlalu dipikirkan, kau ini kakaknya Ella jadi sudah sepatutnya jika aku baik padamu."
Deg, ah iya Alex menganggapnya sebagai saudara bukan karena Alex menyukainya, jadi disini memang Riska lah yang salah paham dengan kebaikan Alex.
Menyukainya? cih bahkan Alex itu milik sepupunya batin Riska menertawakan dirinya sendiri.
"Mas Alex bener mbak, kan dulu Mbak juga suka bantuin Ella waktu susah jadi sekarang waktunya Ella bales itu semua." kata Ella yang kini sudah mendekati Riska.
"Iya, sekali lagi makasih, ya sudah aku pulang duluan ya, udah malem takut orang rumah khawatir." kata Riska ingin segera pergi dari sana.
"Ya mbak, salam buat Pakde dan Budhe ya." kata Ella yang langsung diangguki Riska.
"Mari pak." sapa Riska pada Alex yang langsung diangguki Alex.
Riska pun segera pergi dari sana.
Ella mendekati kursi suaminya, "Kapan kita pulang mas?" tanya Ella.
"Hmm, kasian istriku capek ya?" Alex membawa Ella ke pangkuannya lalu mengelus punggung Ella.
"Laper mas." balas Ella manja.
"Ya udah yuk pulang, tapi kita dinner diluar aja ya." kata Alex yang langsung diangguki Ella.
Sementara itu Riska mengendarai motor sambil menangis, bukan tanpa sebab Riska menangis, Ia sungguh malu dengan dirinya sendiri. Riska malu karena dengan bangganya Ia menganggap Alex menyukainya namun kenyataan menamparnya ketika Alex hanya menganggapnya sebagai saudara ipar tidak lebih.
Riska pun menghentikan motornya kala hampir sampai dirumahnya. Menyeka air matanya dengan tisu. setelah dirasa wajahnya cukup baik, Riska kembali menyalakan motornya dan memasuki pekarangan rumah.
__ADS_1
"Kamu lembur lagi nak?" tanya Pakde yang menunggu Riska didepan rumah.
Riska melepas helm yang Ia pakai "Iya pak, besok kan libur jadi ngejar kerjaan, oh ya bapak kok belum tidur?" tanya Riska.
Pakde menatap wajah Putrinya yang terlihat berbeda "Kamu habis nangis?" tanya Pakde sedikit ragu.
"Eng-enggak kok pak, tadi kelilipan dijalan gara gara kaca helmnya dibuka." cengir Riska terpaksa berbohong.
"Bapak kira ada masalah apa, ya sudah sana masuk udah disiapin makan malam tuh sama ibu kamu."
"Siap pak," Riska pun berjalan memasuki rumah.
Pagi harinya, Riska menepati janji untuk menemui dokter Revvano di rumah sakit Ia bekerja.
Dan kini Riska sudah sampai diparkiran rumah sakit, sedikit ragu untuk masuk karena dirinya sama sekali tidak membawa uang. Pikiran Riska sudah melayang kemana mana takut jika dokter itu meminta tanggung jawab yang lainnya.
"Gimana kalau dia minta perawan gue? oh God jangan sampai." batin Riska yang mulai berpikiran liar.
Dengan langkah ragu, Riska pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit sampai didepan receptionist.
"Maaf sus, dimana ruangan dokter Revvano?" tanya Riska pada suster yang berjaga disana.
"Dokter Umum Vano maksudnya?" tanya suster itu mengeryit.
"Ah ya, lurus aja terus mbak, disana ada nanti ketemu tulisan ruang periksa dokter Vano, apa mbak sudah mendaftar untuk periksa?." tanya Suster itu.
"Eng- saya enggak periksa kok sus cuma mau ketemu." jelas Riska.
"Urusan pribadi?"
"Iya begitulah kiranya sus." balas Riska.
"Tapi karena ini jadwal praktek dokter Vano, mungkin mbak harus menunggu sampai pasien Dokter Vano habis." jelas suster itu.
"Jadi saya harus nunggu dimana sus?" tanya Riska lagi.
"Nanti didepan ruang praktek dokter Vano ada ruang pribadi dokter Vano, mbak bisa menunggu disana tapi sebelum itu mbak harus ngomong dulu sama suster yang berjaga disana."
"Oh baiklah sus, makasih ya sus." kata Riska segera melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud.
JADWAL PRAKTEK
DR. REVVANO SANJAYA
PUKUL 08.00-10.00
__ADS_1
Riska melihat tulisan yang tertempel didepan pintu praktek dan cukup terkejut melihat pasien yang mengantri, banyak sekali dan kebanyakan mereka adalah perempuan yang masih muda.
"Apa mereka benar benar sakit?" batin Riska melihat para pengantri yang kebanyakan wanita muda dan terlihat sehat. ya tentu saja Riska tak terkejut melihat dokter Vano yang memang tampan pasti banyak yang pura pura sakit agar bisa bertemu dengan dokter tampan itu.
"Nona, apa yang kau lakukan disana?" tanya seorang suster yang berjaga didepan ruang praktek melihat Riska berdiri didepan pintu.
"Ah iya, saya ada janji dengan Dokter Vano, kata suster yang didepan sana saya bisa menunggu diruangannya." kata Riska.
Suster itu melihat penampilan Riska dari atas sampai bawah, hanya mengenakan celana jeans, kemeja serta tas selempang yang sepertinya harganya tidak mahal.
"Apa dia kekasih dokter Vano?" batin suster itu lalu menggelengkan kepalanya, "Rasanya tidak mungkin." batin suster itu lagi menggelengkan kepalanya.
"Halo sus, saya masih disini lho." kata Riska yang tak mendapatkan tanggapan dari suster itu.
"Ah iya, sebentar saya tanyakan dulu dengan dokter Vano." kata Suster itu memasuki ruangan dokter Vano.
"Jadi sebenarnya apa keluhan anda nona?" tanya Vano frustasi menghadapi pasien yang ada didepannya itu, wanita cantik dan muda yang sedari tadi berbelit belit tak segera mengatakan apa penyakitnya.
"Dokter jangan galak galak dong sama pasiennya." kata Wanita itu manja membuat Vano sedikit geram.
"Permisi dokter, ada wanita yang katanya sudah ada janji dengan anda." kata Suster.
"Siapa namanya?"
"Maaf dok, saya lupa menanya-"
"Ya sudah suruh dia menunggu diruangan saya." kata Dokter Vano yang langsung diangguki Suster.
"Pasti wanita kemarin." batin Vano.
"Ayo Nona berbaringlah, aku akan memeriksamu," pinta Vano.
"Apa yang datang itu kekasihmu?" tanya Wanita itu dengan suara manja. Ia membuka kancing bajunya hingga kebawah.
"Aku bisa memeriksa dari luar baju, tak perlu membukanya hingga setengah telanjang seperti itu." kata Vano yang membuat wanita itu malu setengah mati merasa Vano tak tergoda.
"Dan ya dia kekasihku, aku mencintainya, jadi jangan pura pura sakit lagi hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari ku." kata Vano yang membuat wanita itu malu setengah mati.
Vano ingin tertawa melihat wajah malu wanita itu, namun Ia juga sudah muak dengan para wanita yang datang hanya untuk mencari perhatiannya bukan karena sakit.
BERSAMBUNG...
Bakal ada dua couple yang sweet nih, 😁
jangan lupa like vote dan komen yukk.. mumpung authornya rajin banget update 😂
__ADS_1