ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
156


__ADS_3

Riska memasuki ruangan Alex karena baru saja Alex menelepon agar dia datang keruangan Alex.


Riska yakin pasti ini ada sangkut pautnya dengan Vano yang baru saja menemui Alex.


"Bapak memanggil saya?" tanya Riska kala sudah didepan meja Alex.


"Ah ya benar sekali, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Alex yang bersikap formal saat dikantor namun ketika diluar kantor mereka bersikap biasa layaknya saudara ipar.


"Masalah apa ya pak?" tanya Riska sudah penasaran.


"Untuk proyek mu dengan Rama biarkan Dara yang mengambil alih, selanjutnya kau bantu saja Rika dibagian marketing, aku sudah memberitahu Rika jadi kau nanti bisa langsung kesana untuk menanyakan tugas apa yang harus kau kerjakan." jelas Alex.


"Baiklah pak," balas Riska terlihat kecewa. Tentu saja Ia kecewa karena proyek yang Ia kerjakan bersama Rama sudah hampir 90% selesai dan sekarang Ia dipindah begitu saja. Pasti ini karena Suaminya yang menyebalkan itu.


"Kau baik baik saja?" tanya Alex melihat raut wajah Riska yang langsung terlihat murung.


"Saya baik baik saja pak."


"Aku mengerti kau pasti kecewa, tapi kau juga harus memikirkan perasaan suamimu." jelas Alex.


"Benar kan ini ulah suaminya!" batin Riska sebal.


"Dia hanya cemburu, tentu saja dia akan cemburu karena dia begitu menyanyanggimu." jelas Alex lagi.


"Sayang dari mana? setiap hari saja membuat kesal terus." batin Riska lagi.


"Kau yang pertama untuknya jadi wajar saja jika Ia sangat posesif padamu." jelas Alex lagi yang membuat Riska yang tadinya diam saja langsung tersentak dan menatap Alex penuh tanya.


"Maksudnya pak?"


"Ya kau wanita pertama, mungkin Vano memang pernah mencintai wanita lain namun kau wanita pertama yang beruntung di pilihnya, dia memang seperti itu kadang menyebalkan tapi percayalah apapun yang dilakukan nya pasti itu yang terbaik untukmu." jelas Alex namun Riska masih diam saja.


"Vano takut jika kau mengkhianatinya karena kau wanita pertama untuknya, jadi lebih baik jaga jaraklah dengan pria lain karena kadang perasaan suka itu timbul saat pria dan wanita sering bersama." jelas Alex lagi.


"Tapi pak, saya tidak mungkin mengkhianati mas Vano jika memang hanya rekan kerja.''


"Ya aku tau, tapi suamimu mungkin terlalu khawatir, jadi mengertilah." nasihat Alex.


Riska menghela nafas, lalu mengangguk saja.


"Baiklah, terimakasih pak atas nasihatnya, saya akan mencoba lebih pengertian lagi dengan mas Vano." kata Riska yang sebenarnya kesal karena Alex mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan.


"Ya sudah kembalilah bekerja." kata Alex yang langsung diangguki Riska.

__ADS_1


"Baik pak, saya permisi." kata Riska lalu beranjak keluar.


Sementara Vano yang sudah sampai dirumah sakit kini tengah duduk diruangan pribadinya karena jadwal prakteknya masih 30 menit lagi.


"Gue nggak sabar pengen cepet cepet pulang trus hamilin Bini gue!" gumam Vano sudah memikirkan gaya apa saja yang nanti harus Ia praktekan agar bisa cepat hamil.


Namun tiba tiba Vano merasa perutnya sangat mual, Ia kemudian berlari memasuki kamar mandi yang ada didalam ruanganya dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.


"Kok gue jadi mual gini ya? apa kena angin? gue juga udah minum vitamin tadi pagi." gumam Vano lalu kembali merasakan mual dan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Beneran masuk angin nih gue, mana kepala pusing banget lagi." gerutu Vano mencuci wajahnya lalu bergegas membaringkan tubuhnya di sofa.


"Dokter baik baik saja?" tanya Suster yang berjaga saat memasuki ruangan Vano dan melihat Vano berbaring di sofa.


"Bisa nggak jadwal praktek diundur satu jam dulu atau nggak kamu minta dokter lain buat gantiin dulu soalnya kepala saya pusing sama mual." kata Vano.


"Baik Dokter, nanti saya akan meminta Dokter Raisa untuk mengantikan." kata Suster itu. "Dokter mau dibikinkan teh hangat?" tawar suster itu.


"Boleh, agak panasin dikit ya." pinta Vano.


"Baik dok." Suster itu pun segera keluar dari ruangan Vano.


"Aneh banget sih ini, perasaan tadi pagi nggak apa apa deh." gerutu Vano.


Vano mendial nomer Riska, sekali dua kali tak diangkat dan ketiga kalinya akhirnya Vano meletakan ponselnya dimeja karena Riska tak kunjung menjawab panggilannya.


"Sibuk banget sih sampai nggak angkat teleponnya." gerutu Vano.


Tak berapaa lama Suster datang dan membawa teh panas pesanan Vano.


"Saya sudah mengatakan pada Dokter Raisa dan beliau mau mengantikan Dokter untuk jadwal praktek siang ini jadi dokter bisa pulang jika sedang sakit." jelas Suster itu yang hanya diangguki Vano.


Vano mulai menyeruput teh hangat lalu Ia malah menyemburkan tehnya membuat Suster yang masih disana terkejut.


"Dokter baik baik saja?" tanya Suster itu panik pasalnya Ia yang membuatkan teh itu, jika terjadi sesuatu dengan Vano bisa bisa Ia langsung dipecat.


"Kenapa kau menambahkan madu di tehnya?" protes Vano yang membuat suster itu melonggo.


"Kan biasanya memang teh madu dok?"


"Tapi hari ini saya nggak mau dikasih madu." sentak Vano membuat suster itu sedikit takut.


"Lalu saya harus menambahkan apa dok?"

__ADS_1


"Gula aren, ya ganti tehnya dan tambahkan gula aren." pinta Vano yang lagi lagi membuat Suster itu melonggo.


"Tapi dok, disini mana ada gula aren?"


"Saya nggak mau tau pokoknya ganti sekarang juga atau kau ku pecat!" ancam Vano.


"BA-baik Dok." Suster itu segera keluar untuk membuatkan pesanan Vano.


"Sial, dirumah sakit mana ada gula aren? lagian tumben banget sih dokter Vano minta aneh aneh, teh dikasih gula aren memangnya enak apa!" gerutu suster itu sambil terus berjalan menuju dapur rumah sakit.


Namun sepertinya keberuntungan berpihak pada suster itu karena didapur rumah sakit ada gula aren.


"Ck, seriusan nih bentuknya kayak gini? emangnya enak?" gerutu suster itu saat mencampurkan teh panas dengan gula aren.


Tanpa pikir panjang lagi, Suster itu segera membawa tehnya pada Vano yang sudah menunggu.


"Ck, lama banget sih!" gerutu Vano membuat Suster itu sedikit takut.


"Maaf dok, nyari gula aren dulu tadi jadi agak lama."


"Alesan ajaa kamu ini!" kata Vano yang membuat Suster itu binggung.


"Kesambet setan apa sih nih dokter kok tumben galak amat." batin suster itu.


Vano segera saja meneguk teh panasnya "Hmm enak sekali." gumam Vano.


Suster yang masih disana pun cukup terkejut saat Vano mengatakan tehnya enak.


"Oh ya kamu masih punya waktu 10 menit kan sebelum membantu dokter Raisa?" tanya Vano.


"Ya dok, apa ada yang bisa saya bantu lagi?"


"Hmm, ya tolong kamu belikan bakso beranak yang didalam bakso isinya telur puyuh 3, bakso kecilnya 5 sama cabe rawit 4." pinta Vano memberikan uang ratusan ribu 2 lembar "Kembaliannya buat kamu." jelas Vano.


Sementara Suster itu menatap Vano tak percaya. "Mana ada dok, bakso beranak isiannya direquest gitu,?"


"Ooo jadi kamu mau dipecat aja?"


"Ba-baik dok akan saya carikan." kata suster itu berlari keluar.


"Tuh orang abis kejedot apa sih, tumben banget minta aneh aneh gini." gerutu suster itu kesal.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2