ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
65


__ADS_3

Alex membuka lembaran selanjutnya namun ternyata sudah kosong, tentu saja kosong karena Papanya telah tiada, mungkin dilembar sebelumnya adalah saat terakhir Papanya menuliskan diary itu untuknya.


Meskipun sempat kecewa saat membaca awal awal diary Papahnya namun tak bisa Alex pungkiri jika Ia merasa beruntung memiliki Papanya yang bahkan sebelum meninggal pun telah menyiapkan wanita terbaik untuknya, Ella. Ya hanya mengingat nama Ella saja sedikit mengurangi rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Alex saat ini.


Alex menutup buku diary itu lalu membawanya keluar.


"Kau tidak sarapan dulu?" tanya Rena mengingat ini masih pukul 9 pagi.


"Aku sudah sarapan dirumah?" kata Alex terdengar serak.


Rena cukup paham, telah terjadi sesuatu pada Alex melihat raut wajah Alex yang terlihay kecewa namun Ia juga tak ingin menanyakan itu, takutnya jika hanya menambahkan luka untuk Alex.


"Syukurlah, istri barumu ternyata bisa juga merawatmu bahkan sekarang kau terlihat sedikit gemuk." celetuk Rena yang hanya disenyumi Alex.


Ya wanita pilihan papa itu memang bisa merawat Alex dengan baik, sangat baik.


"Aku pulang dulu." pamit Alex pada Rena.


"Kapan kapan ajak istrimu kesini." kata Rena yang hanya diangguki oleh Alex.


Alex memasuki mobilnya,


"Tuan baik baik saja?" tanya Sandi saat melihat Alex terlihat berbeda.


"Carikan orang untuk menyelidiki kecelakaan Papa." perintah Alex dengan nada dingin.


"Apa terjadi sesuatu Tuan?"


"Ya sepertinya begitu." balas Alex yang sebenarnya sejak awal tak mencurigai kecelakaan yang merenggut nyawa papanya namun entah mengapa Ia tiba tiba ingin melakukan itu semua.


"Baiklah Tuan." Sandi segera melajukan mobilnya keluar dari mansion Tuan Ken.


"Antarkan aku ke mansion."

__ADS_1


"Mansion milik Tuan?" tanya Sandi memastikan.


"Tentu saja, milik siapa lagi kalau bukan milikku."


"Ba-baiklah Tuan." perasaan Sandi sedikit tak enak, sepertinya telah terjadi sesuatu pada Tuannya itu apalagi melihat Tuannya sangat kesal.


Sepertinya Tuan Alex mengetahui kebusukan Hanna, batin Sandi.


Sesampainya di mansion, Alex segera memasuki mansion dan masih membawa buku diary milik Papanya.


"Dimana Hanna?" tanya Alex saat melihat Nisa yang sedang membersihkan kamar Hanna.


"Nyonya sedang mandi Tuan." jawab Nisa dan memang terdengar suara gemericik air dikamar mandi.


"Kau bisa keluar."


"Baiklah Tuan." Nisa segera bergegas meninggalkan kamar Hanna dan Alex.


Alex duduk dipinggiran ranjang, tak sabar menunggu Hanna selesai mandi. Rasanya Ia ingin segera mendobrak pintu kamar mandi.


"Kau kesini? apa kau merindukanku?" tanya Hanna genit yang entah mengapa membuat Alex jijik mendengar suara genit Hanna.


"Lepaskan aku!" kata Alex dingin melihat Hanna bergelayut manja dilengannya.


"Tidak akan! kau merindukanku kan? aku juga merindukanmu, maafkan salahku aku janji tak akan meminta uang seperti kemarin." jelas Hanna.


"Kau pikir aku kesini untuk menidurimu?" tanya Alex segera menyentak tangan Hanna membuat Hanna terkejut.


"Jelaskan apa ini?" tanya Alex melemparkan sebuah foto pada Hanna yang membuat Hanna melotot tak percaya.


"Astaga, aapa apaan ini! bisa bisanya tua bangka itu memotret diriku secara diam diam." batin Hanna kesal.


"Kenapa kau malah diam? aku ingin mendengar penjelasanmu mengenai foto ini!" kata Alex terdengar dingin.

__ADS_1


Awalnya Hanna terlihat gugup namun sekarang Ia sudah terlihat biasa.


"Apa kau marah? kau kecewa? dan ah ya kau pasti akan segera menceraikanku setelah ini?" tanya Hanna santai membuat Alex menatapnya tak percaya.


"Aku hanya ingin mendengar penjelasan darimu tentang foto ini!" kata Alex.


"Ya memang benar aku pernah menjadi kekasih Papah." kata Hanna masih santai.


Alex tersenyum miris, ia pikir Hanna akan mengelak namun nyatanya Hanna malah mengakui semuanya.


"Kenapa tidak jujur padaku sejak awal?" tanya Alex lirih.


"Kenapa? kau tanya kenapa? kau pikir aku mau menjadi kekasih tua bangka itu!" kesal Hanna.


"Jaga ucapanmu!" Alex terlihat marah mendengar Hanna menyebut Papahnya dengan sebutan tua bangka.


"Lalu aku harus memanggilnya apa? di umurnya yang sudah tua seharusnya Ia menjadikanku putrinya bukan malah budak seksnya." ucap Hanna nanar membuat Alex terkejut.


"Memangnya apa yang diharapkan seorang gadis yatim piatu seperti aku selain kasih sayang orang tua? namun dengan angkuhnya papahmu membeliku, awalnya dia bilang akan menjadikanku putrinya namun kenyataanya dia malah menjadikanku budak seksnya! dan setelah itu aku bertemu denganmu, pria tampan dan muda, tentu saja aku memilihmu! dan sekarang salahku dimana?" tanya Hanna dengan suara serak ingin menangis.


Alex sangat terkejut dengan jawaban Hanna, Ia juga membayangkan jika berada diposisi Hanna yang begitu menginginkan kasih sayang orangtua namun yang Ia dapatkan malah sebaliknya.


"Tapi Papahku sangat mencintaimu." lirih Alex.


"Cinta kau bilang? setiap malam dia selalu memaksa ku untuk melayaninya dan selalu kasar denganku! apa itu yang kau sebut cinta?" tanya Hanna remeh.


Tidak mungkin kan papa seperti itu? batin Alex yang kini mulai binggung harus mempercayai siapa.


"Bahkan aku sekarang tidak lagi percaya dengan cinta! orang yang ku cintai nyatanya sudah meninggalkanku karena wanita lain." kata Hanna yang kini mulai terisak.


Entah mengapa setelah mendengar penjelasan dari Hanna membuat Alex ikut merasakan sedikit kesedihan yang dirasakan Hanna.


Ya Tuhan, bahkan aku tak menyangka Hanna bisa menyimpan luka yang begitu pedih seperti ini batin Alex segera mendekati Hanna yang masih terisak dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan aku." lirih Alex sementara Hanna terlihat menyerigai dipelukan Alex.


BERSAMBUNG...


__ADS_2