
Setelah hampir mencoba 5 gaun akhirnya pilihan Riska jatuh pada Gaun pertama karena gaun setelahnya terkesan lebih seksi dan membuat Riska sedikit tak nyaman.
"Maaf ya mah, kalau lama." kata Riska merasa tak enak dengan calon mertuanya itu.
"Tak masalah sayang, yang penting kamu nyaman sama gaunnya kan juga buat hari spesial kamu." kata Wina mengelus rambut Riska penuh sayang.
Riska merasa sangat beruntung karena Ia memilki calon mertua yang sangat baik dan begitu menyayangginya tanpa memandang status.
"Makasih ya Ma.."
Wina, Vano dan Riska pun keluar dari boutique karena masalah gaun sudah selesai. Wina menatap Riska dan Vano secara bergantian sebelum Ia memasuki mobilnya.
"Kalian makan siang bareng aja ya, Mama nggak ikut soalnya ada acara habis ini." kata Wina sebelum memasuki mobilnya.
"Lagi dipinggit Ma, nggak boleh ketemu dulu." kata Vano dengan nada menyindir membuat Riska dan Wina menatapnya secara bersamaan.
"Kan masih 6 hari lagi kok udah dipinggit aja?" tanya Wina heran membuat Riska salah tingkah sendiri karena dirinya lah yang meminta dipinggit.
"Tau deh mah, nurut aja deh dari pada nggak jadi punya mantu." kata Vano dengan nada kesal membuat Riska paham alasan Vano mengacuhkannya karena ini.
Sementara Wina memgerutkan keningnya heran, mencoba menebak nebak jika memang putranya dan calon mantunya itu sedang bertengkar.
"Oo gitu, ya sudahlah. Mama pulang duluan ya," kata Wina tak ingin ambil pusing lalu memasuki mobilnya.
Dan kini tinggalah Riska dan Vano, masih menatapi mobil Wina yang meninggalkan parkiran boutique.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Vano bergegas meninggalkan Riska, dan karena Riska merasa bersalah telah membohongi Vano membuat Riska mengejar Vano.
"Mau makan siang dirumah? biar aku masakin?" tawar Riska saat Vano akan memasuki mobil.
"Kan kita lagi dipinggit ngapain ngajak makan bareng?" tanya Vano sinis.
"Ya kan cuma sebentar nggak apa apa."
"Aku ada jadwal praktek, kamu makan siang sendiri aja." kata Vano.
"Oh ya udah, aku duluan ya." balas Riska segera meninggalkan Vano yang melonggo menatap Riska tak percaya.
Vano pikir Riska akan sedikit berusaha atau memaksa dirinya agar mau makan siang bersamanya namun nyatanya Riska malah pergi meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Vano memasuki mobilnya dengan kesal dan menutup pintu mobilnya dengan keras.
"Huh sabar... tinggal 6 hari lagi." gumam Vano lalu melajukan mobilnya dengan kencang untuk menghilangkan kekesalannya.
Sesampainya dirumah sakit, Vano dibuat heran oleh pasien yang datang hari ini. Biasanya akan banyak wanita centil yang datang untuk pura pura sakit berbeda dengan kali ini yang hanya ada beberapa orang yang mengantri dan sepertinya mereka memang benar benar sakit.
Vano tersenyum senang karena apa yang Ia lakukan kemarin bisa membuat para wanita itu jera dan tak datang lagi untuk pura pura sakit agar bisa bertemu dengannya.
Entah mengapa ini membuat mood Vano yang tadinya kesal kini sudah membaik karena sekarang Ia benar benar jadi dokter yang sesungguhnya bukan dokter yang hanya memeriksa pasien yang pura pura sakit.
"Masih ada lagi pasiennya?" tanya Vano pada suster yang membantunya.
"Sudah habis dokter, kita bisa tutup lebih awal." kata Suster itu dengan nada senang.
"Ya kau benar, kita bisa pulang lebih awal."
"Ah iya dokter, ada wanita yang menunggumu diruangan, sebenarnya sudah sejak siang tadi namun dia menolak kala saya ingin mengatakan pada Dokter dan malah menunggu diruangan Dokter." kata Suster itu.
"Wanita? siapa?"
"Sepertinya dulu pernah kesini." kata Suster itu yang langsung diangguki oleh Vano.
"Baiklah, terimakasih." kata Vano.
"Siapa? apa Riska? ah mana mungkin dia kesini bahkan tadi saja dia mengacuhkan ku." batin Vano kembali kesal mengingat Riska tadi siang yang mengacuhkanya saat tau Vano kesal.
Vano pun bergegas menuju ruangannya karena penasaran siapa yang datang dan memang Vano dibuat terkejut karena yang datang adalah Riska ya memang Riska yang datang dan menunggu diruangannya.
"Kau sudah selesai?" tanya Riska ramah seperti sedang tak ada yang terjadi.
Vano mengangguk "Untuk apa kau datang? bukankah kita ini sedang dipinggit?" tanya Vano masih sinis.
"Ck, aku tak tau jika itu membuatmu kesal." kata Riska sedikit terkekeh "Baiklah aku akui aku salah karena membohongimu masalah pinggit itu awalnya aku kesal saja karena kau seenaknya saja meminta pernikahan seminggu lagi padahal kan persiapannya tak akan cukup hanya waktu seminggu dan aku ingin membuatmu juga merasakan kesal." jelas Riska.
"Dan sepertinya berhasil, kau terlihat kesal sekarang." imbuh Riska.
"Dan kau senang sekarang?" tanya Vano.
"Hmm, tentu saja. kapan lagi aku bisa membuatmu kesal seperti ini." kata Riska tertawa membuat Vano gemas karena Riska tertawa dan wajahnya terlihat memerah.
__ADS_1
Saking gemasnya tanpa disadari ada setan lewat diantara mereka dan cup...
Vano mengecup pipi Riska membuat Riska terkejut dan memukuli dada Vano.
"Dasar mesum mesum mesum." kesal Riska terus memukuli Vano yang malah terkekeh.
"Mau lagi?" goda Vano yang membuat Riska sedikit menjauh dari Vano.
"Awas saja jika berani lagi menciumku." kata Riska dengan kesal.
"Hey sebentar lagi kita akan menikah apa salahnya jika mencobanya sedikit." kata Vano sambil terkekeh membuat Riska bergidik takut lalu keluar dari ruangan Vano sebelum hal hal yang tak Ia inginkan terjadi.
"Hey kau mau kemana?" Vano terlihat mengejar Riska membuat Riska takut lalu memasuki kamar mandi terdekat.
Vano pun terkekeh melihat wajah takut Riska, padahal Ia hanya mencium pipi saja dan bisa bisanya Riska harus setakut itu hingga memasuki kamar mandi pria.
Riska menyalakan wastafel lalu membasuh wajahnya dengan air dingin, wajahnya terasa panas dan jantung nya berdegup kencang hanya karena Vano mencium pipinya.
"Bisa bisanya dia mencium pipi perawanku! dasar dokter mesum sialan!" gerutu Riska.
Ceklek... pintu terbuka Riska pikir itu wanita namun siapa sangka itu pria dan yang membuat Riska terkejut itu Vano.
"Hey bisa bisanya kau memasuki kamar mandi wanita?" sentak Riska galak.
"Ops apa wanita jika pipis berdiri?" tanya Vano memperlihatkan tempat buang air pria. Langsung saja Riska membegap mulutnya tak percaya saat menyadari jika dirinya salah masuk kamar mandi.
Riska segera saja berlari akan keluar namun sayangnya Vano mencegahnya.
Menarik tangan Riska lalu memyandarkan Riska ke tembok dan mengunci dengan kedua tangannya.
"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Riska gugup.
"Jika sudah seperti ini apa yang sebaiknya kita lakukan?" goda Vano.
"Ja-jangan mesum.. sabarlah seminggu lagi." kata Riska sedikit berbata.
Jika berdekatan seperti ini tak hanya membuat Riska gugup namun Vano pun ikut merasakan gugup.
"Ekhem...makanya jangan berani lagi membuatku kesal." kata Vano melepaskan tangannya lalu pergi begitu saja meninggalkan Riska.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN BOSEN YA SAMA Riska dan Vano dan jangan lupa like vote dan komen...