ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
203


__ADS_3

Bianca tak henti hentinya memandangi cincin yang melingkar dijari manisnya. dimana cincin itu baru saja disematkan oleh Rangga untuknya.


Saat ini Bianca tengah duduk disebuah kursi tak jauh dari pantai tempat lamarannya tadi, sementara bunga mawar yang bertuliskan will you marry me Bianca sudah hilang dibawa ombak.


"Jangan diliatin trus, cincin murahan itu." kata Rangga datang membawa dua steofom dan juga seplastik gorengan.


Bianca hanya mencibir sebal, "Apa sih, aku juga nggak minta yang mahal."


Rangga terkekeh "Iya iya, tau kok kalau calon istri aku ini orangnya nerima banget, eh calon istri ya sekarang." goda Rangga yang sontak membuat pipi Bianca memerah malu.


"Udah yuk sarapan dulu, untung diluar ada yang jual bubur, kalau nggak kelaperan kita mana jam segini warung pinggir pantai masih tutup."


"Iyalah, lagian siapa juga yang mau ke pantai subuh kayak tadi." gerutu Bianca yang lagi lagi membuat Rangga terkekeh.


"Eh biasanya ramai ya, tapi nggak tau juga kenapa sekarang sepi banget, mungkin udah diboking sama bos besar."


"Bos besar?" tanya Bianca.


"Iya, kakak kamu."


"Kak Alex?" tanya Bianca lagi yang langsung diangguki oleh Rangga.


"Kak Alex tau kalau kamu ngelamar aku?"


"Tau dong, semalem aku kan bahas ini diruangan kakak kamu, nanti tinggal bahas lagi kapan nikahnya toh kamu udah mau ini." kata Rangga geli sendiri karena sempat berpikir Bianca akan menolaknya.


"Bukannya kak Alex mau jodohin kamu sama Dina? kok dia bisa setuju kamu ngelamar aku?"


"Ya gimana dong aku cinta nya sama kamu, mau nikahnya sama kamu." ucap Rangga yang lagi lagi membuat Bianca tersipu malu.


Namun seketika raut senang Bianca berubah muram kala ia ingat jika semalam sudah marah marah dengan Alex, padahal Ia belum tau apapun tapi Ia sudah menafsirkan sendiri membuat Bianca merasa bersalah.


"Kenapa?" tanya Rangga mendapati wajah murung Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya "Nggak apa apa cuma kepikiran sesuatu aja."


"Kepikiran apa sayang?" tanya Rangga menghentikan makan buburnya dan fokus menatap Bianca.


"Ck, semalem aku udah marah marah sama Kak Alex, aku pikir dia mau menentang hubungan kita, tapi ternyata.."


Rangga menghela nafas, Cukup mengerti apa yang Bianca rasakan.


"Ya sudah nanti sampai mansion kau harus segera minta maaf." kata Rangga yang langsung diangguki Bianca.


"Tentu saja aku harus minta maaf."


"Ya sudah, makan buburnya nanti keburu dingin."

__ADS_1


"Iya sayang." balas Bianca lembut membuat hati Rangga seketika adem mendengarnya.


Setelah puas bermain main dipantai, Bianca dan Rangga pun segera pulang karena hari sudah semakin siang. Rangga juga harus mempersiapkan segala sesuatu untuk lamaran resmi ke mansion Alex.


"Kak Alex mana mbak?" tanya Bianca sesampainya dimansion dan melihat Ella tengah menyusui Baby Liu dikamar.


"Lho, mas Alex pergi dari pagi. kamu berangkat mas Alex juga ikut berangkat." jawab Ella.


"Pergi kemana mbak?"


"Nggak tau juga sih," balas Ella.


Sebenarnya Ella tau jika Alex membuntuti Bianca namun enggan mengatakan karena takut nantinya malah semakin salah paham melihat Bianca sedang mode ngambek pada Alex.


"Kenapa nyari Bi? udah nggak ngambek lagi emang?" goda Ella membuat Biabca tersenyum malu.


"Abis kak Alex suka ngeselin sih." cibir Bianca yang kini sudah duduk disamping Ella.


"Ehh enak banget sih abis ***** bobok." Bianca menoel noel pipi Baby Liu.


"Biasa kekenyangan langsung Bobok."


Ella melihat Bianca sudah mengenakan cincin yang sudah dipastikan Bianca menerima lamaran Rangga.


Ella tersenyum lega, mungkin akan happy ending untuk Bianca dan Rangga.


"Ciee cincin nya baru nih! siapa yang ngasih itu." goda Ella yang sebenarnya sudah tau semuanya.


"Apa sih mbak,"


"Jadi udah diterima nih?"


Bianca terkejut "Lho mbak Ella kok tau?" Baru Ella menyadari jika Ia keceplosan harusnya Ia pura pura tak tau.


"Eh, habis pagi pagi udah dijemput mas Rangga, mbak pikir kamu abis jadian sama mas Rangga." kata Ella mencari alasan.


"Hehehe memang mbak cuma bukan jadi pacar tapi calon suami." balas Bianca masih tersipu malu.


"Alhamdulilah, mbak seneng dengernya, kamu sayang sama mas Rangga?"


"Sayang mbak, sayang banget malahan."


"Syukur deh, semoga kalian bahagia ya." kata Ella sambil tersenyum penuh syukur.


"Iya mbak Amiiin."


Sementara Rangga yang baru saja memasuki rumah tengah mencari keberadaan orang tuanya yang ternyata sedang duduk di gazebo belakang rumah.

__ADS_1


Terlihat Budhe dan Pakde asyik bercengkrama sambil sesekali mengulas senyum.


Sungguh masa tua yang sangat membahagiakan, Ia berharap nanti bisa seperti orang tuanya saat sudah menikah dengan Bianca, apapun kondisinya selalu bersama hingga akhir hayat.


"Kamu habis dari mana Ngga?" tanya Budhe kala melihat Rangga berdiri didepan pintu "Pagi tadi masuk ke kamar kamu tapi kamunya udah nggak ada."


Rangga tersenyum lalu mendekati orang tuanya,


"Ayah, Ibu... Rangga mau ngomong sesuatu."


"Ngomong apa?" pakde terlihat penasaran.


"Rangga mau nikah."


Ucapan Rangga membuat Pakde dan Budhe terkejut sekaligus senang.


"Beneran Ngga? siapa calonnya kok nggak diajak kesini?" tanya Budhe terlihat antusias sekali.


"Udah kesini kok Bu," Balas Rangga sambil tersenyum.


"Lho, siapa? kapan?" tanya Budhe lagi sambil mengingat ingat kapan Rangga pulang dengan teman wanitanya.


"Kemarin ,waktu sama Ella."


Pakde dan Budhe terlihat mengingat "Adiknya Alex?" tebak Pakde yang langsung diangguki Rangga.


"Apa kamu yakin nak? memangnya kakaknya setuju?" tanya Budhe tiba tiba khawatir.


Bukan tanpa sebab Budhe khawatir mengingat status sosial mereka yang jauh berbeda.


Rangga hanya tersenyum "Ibu tenang aja, Bianca bukan wanita yang suka menilai orang dari status sosial kok lagian semalem aku juga udah ngobrol sama Alex, dia bilang malah suruh cepet cepet nikah." balas Rangga yang langsung saja membuat Budhe lega.


"Tapi Bianca mau sama kamu?" tanya pakde yang langsung membuat Rangga terkekeh.


"Kalau nggak mau juga nggak bakal Rangga ajak nikah yah."


"Trus kapan kamu mau melamar kerumahnya?" tanya Pakde.


"Besok gimana yah? soalnya Alex minta seminggu lagi nikahnya." kata Rangga yang lagi lagi membuat pakde sama Budhe terkejut.


"Kok buru buru banget nak?"


"Kamu nggak ngehamilin dia kan?" tanya Pakde yang langsung saja membuat semua orang terkejut.


"Eng-enggak lah yah, mana mungkin Rangga kayak gitu." balas Rangga sedikit gugup "Ia hanya ketauan mencium pipi saja." batin Rangga lalu menghela nafas berat.


"Syukur nak, ibu tadi khawatir sama ayah kamu, soalnya kamu juga mendadak gini." kata Ibu dengan raut wajah lega.

__ADS_1


Rangga hanya tersenyum "Tadinya Ia juga tak ingin terlalu buru buru tapi mau bagaimana lagi, Biro jodohnya sudah memutuskan seperti itu jadi lebih baik Ia turuti dari pada malah nggak jadi nikah sama Acca." batin Rangga tersenyum sendiri.


BERSAMBUNG....


__ADS_2