ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
207


__ADS_3

Riska tak henti hentinya mengulum senyum saat Vano sudah duduk disampingnya.


"Ngejek aja terus, biasanya juga sering liat aku pake celana kayak gini!" kesal Vano.


"Maaf mas, aku seneng aja. suamiku khawatir sampai lupa nggak pake celana panjang!" balas Riska masih terkekeh membuat Vano hanya mendengus sebal.


"Gimana ceritanya kamu bisa disini?" tanya Vano membuat Riska gugup. Binggung harus menjawab jujur atau bohong.


Jika Ia jujur pasti Vano akan marah, jika bohong pun belum tentu Vano percaya. entahlah.


"Kamu jatuh? kepleset?" tanya Vano menebak karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Riska.


"Tadi kan nggak sengaja numpahin minyak dilantai dapur, baru mau aku bersihkan malah terlanjur kepleset." jelas Riska sedikit takut.


"Trus kamu malah hubungin Bianca buat nolongin kamu? nggak malah hubungin aku?" tanya Vano terdengar marah.


"Enggak, bukan gitu mas tadi itu-"


"Apa?"


Riska menghembuskan nafas panjang, Bukan nya melanjutkan cerita Ia malah diam.


"Nggak mau cerita sama aku? mau ceritanya sama Bianca?" sentak Vano yang membuat Riska ingin menangis saja.


Melihat Riska hanya diam saja membuat Vano merasa bersalah, akhirnya Ia mengenggam tangan Riska "Iya iya aku minta maaf, gimana tadi ceritanya?" tanya Vano lembut.


"Pas aku jatuh, pas Bianca dateng makanya dia nolongin aku trus dibawa kesini." jelas Riska dengan wajah menunduk.


"Kenapa nggak hubungin aku?"


"Kan Aca udah telepon kamu tapi katanya nggak diangkat."


Kini giliran Vano yang menghembuskan nafas panjang "Aku pikir nggak penting, lagian kenapa nggak telepon pake ponsel kamu aja?"


"Terlanjur panik mas, mana sempet mikirin ponsel aku." cibir Riska.


"Ya udah iya aku minta maaf deh, dimana yang sakit? bilang sama aku?" tanya Vano sambil mengelus perut buncit Riska.


"Udah nggak sakit mas, semua baik baik saja kata dokter Dina." jelas Riska yang langsung bisa melihat raut wajah lega Vano.


"Aku tadi panik banget sampai nggak sadar pake celana kayak gini, ck si cewek tomboy itu pasti seneng bisa ngejekin aku." gerutu Vano yang membuat Riska tersenyum.


"Ya udah mas pulang dulu, ganti celana dulu aja nggak apa apa, deket ini." kata Riska membuat Vano mengerutkan keningnya.


"Kamu belum boleh pulang?" tanya Vano.

__ADS_1


Riska memperlihatkan infus yang menancap di tangannya "Harus disini dulu kata Dokter Dina."


Vano kembali menghembuskan nafas panjang "Berarti kamu nggak baik baik aja sayang, ya udah coba nanti aku ngomong sama Dina."


"Kalau bisa pulang hari ini aja ya mas, aku bosen disini." pinta Riska dengan wajah memelas.


"Nggak janji ya." kata Vano sambil mengelus rambut Riska.


"Aku temui Dina dulu trus pulang ganti celana, biar cewek tomboy itu yang jagain kamu."


"Bianca mas bukan cewek tomboy." protes Riska.


"Ck, namanya kebagusan tuh, lebih enak dipanggil cewek tomboy." balas Vano acuh lalu keluar membuat Riska menggelengkan kepalanya.


Sementara Bianca yang tengah duduk disebuah bangku panjang, dihampiri oleh Dina.


"Congrats." ucap Dina sambil mengulurkan tangannya.


Bianca menatap Dina dengan wajah penuh keheranan, "Buat apa?"


"Pertunangan Lo sama Rangga."


"Oh, ya." Bianca membalas uluran tangan Dina, entah lah dia sedikit tak yakin Dina bersikap baik hingga memberikan ucapan selamat, pasti ada udang dibalik batu pikir Bianca.


"Gue nggak tanya." batin Bianca.


"Oh..."


"Lo masih nggak suka sama Gue?" pertanyaaan Dina yang sontak membuat Bianca terkekeh.


"Malah ketawa?" heran Dina.


"Lagian pertanyaan Lo itu lucu banget tau nggak! bukan nya kebalik ya? bukannya Lo yang nggak suka sama Gue dan Mama gue? Gue masih inget gimana dulu mama Lo sama Lo fitnah gue didepan Tuan Ken." jelas Bianca mengingatkan.


Dina hanya tersenyum "Maka nya gue tanya, Elo masih benci sama gue? nggak salah kan pertanyaan gue?"


"Jelas lah, gue benci banget sama Lo!" kesal Bianca hendak bangkit namun tangan nya ditahan oleh Dina.


"Sorry, gue tau semuanya udah telat tapi gue bener bener nyesel udah nglakuin itu semua." kata Dina terdengar haru.


"Ck, udahlah lupain aja." balas Bianca yang sebenarnya tak ingin mengingat ingat masa lalu.


"Lo maafin gue?" tanya Dina.


"Etcieeeeee... dua saudara kembar beda rahim udah baikan nih yeee." Dina dan Bianca yang sedang serius pun terkejut dengan celotehan pria yang tak lain adalah Vano.

__ADS_1


Wajah Dina yang tadinya mengharu biru tertawa seketika melihat penampilan Vano apalagi celana boxer Vano yang terlihat sangat mengemaskan.


"Sialan, kayaknya nggak tepat nih ngejekin mereka. malah jadi gue yang kena." batin Vano menggerutu.


"Omega, dokter Vano yang digandrungi banyak kaum hawa, boxer nya spongebob cuy." celoteh Dina sementara Bianca hanya tertawa.


"Diem Lu pada!" sentak Vano membuat Bianca dan Dina semakin terkekeh.


"Heh temenin istri gue, ada yang mau gue omongin sama adek Lo." kata Vano pada Bianca.


"Oke siap Bob." balas Bianca menirukan suara khas patrick sahabat spongebob, membuat Vano terlihat kesal.


Bianca beranjak pergi namun Dina masih saja tertawa geli melihatnya.


"Diem nggak! gue rontokin gigi Lu kalau masih ketawa!" bentak Vano dengan nada bercanda.


"Ampun Bob, jadi gimana Bob? mau ngomongin apa?" Dina ikut ikutan menirukan suara Patrick.


"Sialan emang, kalian ini bener bener ya, sama orang yang lebih tua nggak ada sopan sopan nya!" kesal Vano.


"Jadi gimana Bapak Vano? mau ngomong disini apa diruangan saya? kalau di sini ya nggak apa apa sekalian menghibur para pasien saya di sini." kata Dina yang sontak membuat Vano sadar jika Ia sedang jadi bahan tontonan orang orang yang ada di klinik.


"Sialan, ke ruangan Lo aja." Vano berjalan mendahului Dina dengan perasaan dongkol sementara Dina masih saja terkikik sambil mengikuti Vano dari belakang.


"Katanya istri gue baik baik aja, kenapa harus nginep? pake di infus segala." tanya Vano namun Dina masih belum menghentikan tawanya.


"Eh kuda nil, gue lagi nanya nih!" kesal Vano.


"Eh sory sory, masih nggak bisa nahan soalnya." balas Dina dengan nada mengejek membuat Vano semakin kesal.


"Sebenarnya memang tak ada yang perlu dikhawatirkan cuma tadi kenceng banget perutnya makanya aku suruh stay dulu disini dari pada nanti dirumah kenapa napa." jelas Dina "Lagian kamu juga kebangetan banget deh istri udah hamil tua gitu kenapa nggak nyari asisten rumah tangga aja!"


"Ck, gue udah mau nyari tapi dia nya nggak mau!" balas Vano membela diri.


"Jadi nggak bisa pulang hari ini nih?" tanya Vano.


"Biarin dulu di sinilah! besok pagi baru pulang."


"Ck, puasa deh gue!" gerutu Vano yang membuat mata Dina langsung melotot.


"Awas Lo sampai mesum ditempat gue!"


"Wah ide yang bagus itu!" kekeh Vano lalu keluar dari ruangan Dina tak memperdulikan Dina yang berteriak dan mengomel.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2