ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
208


__ADS_3

Bianca masih setia menemani Riska di ruangannya, mereka asyik mengobrol banyak hal hingga tak terasa waktu sudah sore hari.


"Lo pulang aja Ca, udah sore ini."


Bianca melihat ke arah jam tangan yang Ia kenakan "Ck, masih jam 4 kok santai aja." balas Bianca acuh.


"Dijemput sama abang?"


"Enggaklah kan gue lagi masa pinggit, gimana sih." balas Bianca yang membuat Riska seketika mengingat masa masa awal akan menikah dengan Vano dulu. sudah lama sekali rasanya dan Ia sangat merindukan masa itu.


"Gue masih penasaran gimana ceritanya Elo bisa nikah sama Vano si cowok tengil kayak gitu?" tanya Bianca menatap Riska dengan serius.


Namun Riska hanya terkekeh "Gue nggak mau cerita soalnya bikin gue malu kalau inget."


"Eh Lo nggak stand night dulu kan sampai harus nikah sama doi?"


"Gila, enggak lah.pecah perawan habis nikah dong."


"Ya soalnya masih suka nggak percaya aja, cewek se alim Lo harus sama Vano, si cowok tengil." gerutu Bianca.


"Ck, dia juga baik kok Ca."


"Iya tau, tapi rese plus tengil."


Riska kembali terkekeh "Kalian tuh kenapa sih kayak musuh bebuyutan gitu, nggak kamu nggak Vano sama sama sewot."


Bianca nyengir "Sebenernya gue nggak ada masalah sama dia, cuma karena dari dulu dia suka ngusilin kakak gue, jelas gue nggak terima." jelas Bianca


"Alex maksudnya?"


"Iyalah siapa lagi kakak gue yang paling the best kalau bukan Kak Alex." jelas Bianca.


"Ohh, gitu. emang mereka berdua tuh gitu kalau lagi bareng suka usil, gue aja suka pusing." Riska menimpali.


"Dan gue nggak suka kalau Kak Alex kalah dari Vano makanya Gue yang maju." kekeh Bianca.


"Ck, udah pada gede juga."


"Eh seru tau, lagian kayak gini malah semakin memperat persaudaraan. nggak pecah. Lo tau kan gue nggak punya siapa siapa selain mereka?"


"Iya sih, tapi kan bentar lagi Lo punya abang gue." goda Riska membuat Bianca tersipu.


Riska terkekeh melihat wajah malu malu Bianca, seumur umur berteman dengan Bianca baru kali ini melihat Bianca tersipu.


"Kalian ngomongin gue?" pintu terbuka dan Vano memasuki ruangan, memandang Riska dan Bianca dengan tatapan menuduh.

__ADS_1


"Iya lah siapa lagi? lagian Lo lama banget sih?" kesal Bianca.


"Elah, cuma bentar dibilang lama." balas Vano acuh.


"Kamu diajak ngobrol apa aja sama cewek tomboy?" tanya Vano pada Riska sambil mengelus rambut Riska membuat Bianca memutar bola matanya malas.


"Idihh, sok romantis, kepo banget." cibir Bianca.


"Bilang aja Lo iri kan?" ejek Vano "Kenapa nggak pernah di giniin sama mas Rangga? duh kasian deh."


Karena kesal Bianca memukul lengan Vano "Ih, ngeselin banget tau nggak! dasar spongebob!" Bianca tak mau kalah.


''Biarin spongebob, dari pada Hulk!" ejek Vano sambil menjulurkan lidah.


"Eh Lo pikir gue monster!"


"Udah udah. ya ampun kalian ini kayak anak kecil aja." kini giliran Riska yang bersuara mencoba melerai kedua saudara ini.


"Dia tuh yang mulai." Ucap Vano dan Riska bersamaan membuat Riska terkekeh.


"Duh kompak amat." ejek Riska membuat keduanya merenggut.


"Gue pulang duluan deh Ris, udah ada spongebob disini. males!" kata Bianca mengambil tas selempangnya lalu mendekati Riska dan mengelus perut Riska "Kalau gede jangan kayak bapak Lo ya nak, kasian mama ngadepin orang nggak waras! baik kayak tante aja." kata Bianca kembali memancing Vano.


"Ya ampun mas, udah."


"Kesel banget aku tuh sama dia!"


Vano duduk di kursi yang ada disebelah ranjang Riska, "Laper nnggak? aku bawain nasi bebek kesukaaan kamu nih." kata Vano memperlihatkan bungkusan plastik pada Riska.


"Yah, barusan aja selesai makan mas, nanti habis magrib aku makan deh." kata Riska yang langsung diangguki Vano. "Lagian kamu dari mana sih mas? kok ganti baju lama banget?" tanya Riska.


"Ck, baru ditinggal bentar aja udah kangen." kata Vano sambil menoel hidung Riska.


"Bukan nya kangen mas, nggak enak sama Acca nungguin di sini lama, disuruh pulang juga nggak mau!" jelas Riska.


"Biarin aja, lagian di mansion juga nggak ada kerjaan dia, makanya aku ngasih kerjaan buat nungguin kamu di sini." balas Vano.


"Ck, sukanya ngrepotin orang! memang kamu sibuk ngapain sih mas? pasti ngegame ya trus lupa waktu. lupa kalau aku disini!" tuduh Riska.


"Ya ampun sayang, enggak lah nggak mungkin aku kayak gitu!" protes Vano tak terima "Besok pas kamu pulang juga tau sendiri."


"Jadi aku pulang nya besok?" tanya Riska dengan raut kecewa.


Vano mengelus rambut Riska "Nggak apa apa sayang biar aman semua."

__ADS_1


"YA udah deh, kamu pulang aja nggak apa apa mas, tidur dirumah. masa iya harus tidur disofa."


"Ck, kata siapa aku mau tidur disofa, ogah banget. nih aku mau tidur disini." Vano naik ke atas ranjang bersebelahan dengan Riska karena ranjang nya memang berukuran besar.


"Mas, kamu tuh ya. nanti kalau dokter Dina masuk gimana? malu dong." protes Riska mencoba mengusir suaminya agar turun.


"Biarin, biar dia pengen." kekeh Vano.


Riska hanya menghela nafas, melarang pun juga percuma suaminya nekat tidur disampingnya.


...


Pagi nya, Vano mengambil cuti libur karena ingin menemani Riska, meskipun Riska sudah boleh pulang namun tetap saja Vano tak tega meninggalkan Riska, takut hal buruk seperti kemarin terjadi lagi.


Vano membuka kan pintu mobil, merangkul Riska dan membawanya masuk rumah.


Sampai di dalam Riska dikejutkan oleh dua wanita yang tersenyum ke arahnya, Dua wanita yang seumuran dengan ibu Riska.


"Selamat pagi Nyonya, Tuan." sapa Dua wanita itu bersamaan.


Vano hanya tersenyum sementara Riska mengeryit heran "Siapa mas?" bisik Riska.


"Kenalin mereka Bik Inah sama Bik Yanti yang kerja disini. Bik Inah yang akan masak sementara Bik Yanti yang akan nyuci baju sama bersih bersih rumah." jelas Vano yang tentu saja membuat Riska terkejut.


"Ya ampun mas, kenap-"


"Nggak ada protes lagi sayang, aku nggak mau kamu kenapa napa lagi, dan aku juga nggak mau dibilang pelit sama semua orang." protes Vano.


Riska menghembuskan nafas panjang "Iya deh mas iya."


"Semoga Bik Yanti sama Bik Inah betah ya disini." kata Riska ramah.


"Terimakasih Nyonya, kalau begitu kami mau melanjutkan pekerjaan lagi." kata Bik Yanti yang langsung diangguki Riska dan Vano.


"Sekarang kamu masuk kamar trus istirahat." ajak Vano.


"Ck, istirahat kalau ditemenin sama kamu juga nggak bakal bisa istirahat mas." gerutu Riska membuat Vano terkekeh.


Mengingat semalam Vano yang terus saja curi curi kesempatan untuk menyenangkan si otong namun gagal karena Riska pura pura kesakitan.


Bukan Riska menolak, namun kesal karena Vano yang tak tau tempat main serang saja.


Benar benar membuat malu, untung sayang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2