
Selesai menemani Vano makan, kini Riska dikejutkan oleh permintaan Vano.
"Aku akan memberikan penawaran agar kamu bisa segera melunasi hutangmu!" kata Vano.
"Penawaran apa?"
"Aku mau kamu memasak untuk ku setiap hari dan aku akan memotong 10 juta setiap bulan jadi selama 5 bulan kau harus memasak untuk ku dan aku anggap hutang mu lunas!" jelas Vano.
"Ta-tapi aku kan harus bekerja."
"Aku tau, aku juga tak memintamu untuk disini terus, kamu bisa datang pagi hari sebelum berangkat kerja untuk memasak sarapan dan makan siang, lalu setelah kau pulang kerja, kembali lagi kesini untuk memasak makan malam, bagaimana? apa kau setuju?" tanya Vano.
Riska terlihat memikirkan penawaran Vano.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Riska.
"Kau harus segera melunasi hutangmu dalam waktu dua bulan atau aku akan melaporkan mu ke polisi." kata Vano membuat Riska melotot tak percaya.
"Hey, bukankah itu terlalu kejam." protes Riska.
"Jangan lupa, aku korban disini!" kata Vano tak mau kalah.
Riska terlihat menghela nafas lelah, "Baiklah, aku menyetujuinya! jadi kapan aku bisa mulai memasak?" tanya Riska.
"Besok, kau bisa mulai memasak besok pagi sampai 5 bulan ke depan."
"Baiklah, aku akan kesini lagi besok pagi." balas Riska lesu.
Vano terlihat mengeluarkan credit card lalu memberikan pada Riska.
"Kau bisa gunakan ini saat belanja bahan makanan." kata Vano yang langsung diterima oleh Riska.
''Baiklah, tulis aja apa makanan yang kau sukai dan tidak kau sukai, aku akan mempelajarinya." kata Riska.
"Ide yang bagus," Vano segera mengambil note dan pulpen lalu segera menuliskan apa saja yang Ia sukai dan Tidak Ia sukai.
Selesai menulis, Vano menyodorkan kertas nya pada Riska membuat Riska segera membaca apa saja yang disukai Vano.
"Wow, kamu suka sambel terong?" tanya Riska sedikit terkekeh, siapa sangka Dokter tampan dan kaya seperti Vano menyukai sambel terong.
"Kenapa? apa masalah kalau aku suka?' tanya Vano dengan nada sinis.
"Ups, santai dong bang, aku kan cuma nanya." kekeh Riska.
__ADS_1
"Nanya kamu kayak ngejek,"
"Enggak ngejek, aneh aja cowok sama kamu suka sambel terong, ehm kamu alergi udang juga?"
"Hmm, jadi jangan sekali kali kamu masak udang."
"Oke deh, tapi nggak janji ya." balas Riska lalu terkekeh membuat Vano menatap wanita yang kini tengah fokus membaca tulisannya itu.
"Oke deh aku paham." Riska meletakan kertas nya kembali dimeja lalu menatap ke arah Vano yang buru buru mengalihkan tatapannya.
"Umur mu berapa?" tanya Vano basa basi untuk menghilangkan kegugupannya.
"24 tahun, kenapa? udah keliatan tua ya?" tanya Riska.
"Iya, tua banget wajahmu." ejek Vano membuat Riska kembali cemeberut.
"Selain jago mojokin orang, kamu juga jago ngledekin ya?" kesal Riska.
Vano terkekeh, "jangan lupa aku juga jago mojokin disana." kata Vano sambik memperlihatkan sebuah pintu yang Riska yakini jika itu kamar.
Seketika wajah Riska berubah pucat, "Mulai masaknya besok kan? jadi sekarang aku selesai kan? aku pulang ya." pinta Riska cemas.
"Ngapain sih buru buru, nggak nyoba mojok disana dulu?" goda Vano.
"Ku-kucing aku dirumah mau melahirkan jadi aku harus nemenin." Riska memasukan ponsel ke dalam tasnya lalu beranjak pergi
"Eng-engak usah, aku naik taksi aja" balas Riska segera berlari keluar dari rumah Vano.
"Dasar pria mesum!" batin Riska kesal berjalan meninggalkan rumah Vano sementara Vano masih terkekeh melihat tingkah Riska.
Aneh, dia yang mengoda lebih dulu kenapa dia juga yang takut batin Vano masih terkekeh.
Sudah pukul 7 malam namun Alex tak kunjung pulang, padahal tadi Alex mengatakan jika Ia pergi sebentar namun nyatanya hingga malam Alex belum pulang bahkan belum mengabari Ella sama sekali.
Cemas, kesal, itulah yang dirasakan Ella saat ini.
Menatap ponselnya, sesekali membuka layar ponselnya berharap ada notifikasi dari Alex namun nyatanya tidak ada.
Mendesah pelan, rasanya ingin menangis saja melihat suaminya seperti ini. Jika dulu Ella cuek diperlakukan bagaimana pun dengan suaminya namun sekarang Ella lebih sensitif, apa ini pengaruh kehamilannya, Ella juga tak tau yang Ella inginkan sekarang hanya ingin menangis.
"Apa aku nyusul aja ya?" batin Ella.
"Tapi gimana kalau Mas Alex marah, tadi kan udah ngelarang aku!" seketika Ella mengurungkan niatnya. Tau bagaimana jika Alex sedang marah dan Ella tak ingin membuat Alex marah meskipun Alex tak pernah kasar jika marah namun tetap saja hanya didiami Alex pun rasanya juga menyakitkan.
__ADS_1
Setelah lama menunggu akhirnya yang ditunggu Ella menelepon juga,
ponsel Ella berdering dan segera Ella melihatnya, memang Alex yang menelepon. tak butuh waktu lama Ella segera menggeser layar hijau.
"Sayang maafin aku ya baru ngabarin! ponsel aku tadi mati, jadi aku cas dulu." jelas Alex didalam telepon.
"Iya nggak apa apa mas, gimana keadaanya Mama nya mas?" tanya Ella.
"Nggak baik, jadi kayaknya aku harus nginep disini." kata Alex yang langsung membuat Ella lesu "Nggak apa apa kan sayang?" tanya Alex.
"Ya udah mas nggak apa apa!" balas Ella lesu, sebenarnya Ella tak ingin ditinggal karena hari libur suaminya, Ella ingin quality time bersama suaminya namun mau bagaimana lagi, Ella juga tak bisa membuat suaminya tinggal jika Keluarga Alex sangat membutuhkan Alex disana.
"Tapi besok pagi kamu pulang kan mas?" tanya Ella.
"Aku nggak janji ya sayang, tapi aku usahain pulang." sekali lagi ucapan Alex membuatnya lemas seketika.
"Ya udah mas kalau gitu."
"Kamu udah makan sayang?" tanya Alex.
"Udah." balas Ella berbohong, padahal Ella tidak bahkan makan siang tadi karena menunggu Alex pulang, Ella ingin makan bersama Alex.
"Kak, aku udah beliin makan malam." samar samar Ella mendengar suara wanita mengatakan itu.
"Mungkin itu adiknya yang menelepon tadi pagi." batin Ella.
"Ya udah aku tutup dulu ya sayang, nanti kalau ada apa apa segera telepon aku!" pinta Alex.
"Ya mas." Ella segera mematikan panggilannya setelah mengatakan itu pada Alex.
Seketika Ella menelingkupkan kedua tangannya diwajah lalu menangis disana. Entah mengapa rasanya sesak sekali dan Entah mengapa Ella juga egois sekali tak mengerti posisi Alex saat ini.
"Non Ella kenapa?" tanya Bik Sumi terkejut kala memasuki kamar Ella, melihat Ella menangis. Tadinya Bik Sumi ingin mengatakan jika makan malamnya sudah siap namun karena Ella menangis buru buru Bik Sumi menghampiri Ella.
"Ada yang sakit Non?" tanya Bik Sumi panik.
Ella menggelengkan kepalanya pelan, "Alex nginep dirumah sakit Bik, nggak tau kenapa aku ngerasa sedih aja." kata Ella menghentikan tangisannya.
Bik Sumi memang sudah mengetahui perihal Mama Rena yang sakit dan sekarang Bik Sumi juga bisa mengerti kenapa Ella seperti ini.
Jika dulu Ella nampak biasa saja saat Alex tak pulang karena pulang kerumah Hanna, namun berbeda dengan sekarang karena Ella sudah terbiasa dengan Alex dan juga ini mungkin Hormon kehamilan Ella yang menginginkan dekat dengan Alex.
Bik Sumi cukup mengerti perasaan Ella saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen...