
Melihat para anak buah Alex memasuki ruangan membuat wajah Hanna pucat ketakutan.
Hanna sudah paham, kini waktunya tiba, waktunya Ia disiksa oleh para anak buah yang bertubuh kekar itu.
"Tidak, jangan! jangan mendekat." teriak Hanna ketakutan.
"Sayang sekali, padahal aku ingin menikmati tubuhmu hingga puas namun sayangnya Tuan kita tidak mengijinkan." keluh salah satu pria.
"Ya benar sekali mungkin Tuan kita masih mencintaimu Nona, jadi tak perlu menjerit ketakutan Nona, kita tidak akan menyiksamu tapi kita akan membawamu ke tempat yang membuatmu menyadari semua kesalahanmu." kata pria satunya lagi yang melepaskan ikatan Hanna.
"Tidak, aku tidak mau, ku mohon lepaskan aku." kata Hanna sudah membayangkan Ia pasti akan dikurung diruangan gelap dan sepi. Hanna takut ya Hanna sangat takut.
"Ayolah Nona jangan mempersulit pekerjaan kami, atau kau ingin kami memperkosamu dulu?" tanya pria yang hendak melepaskan ikatan Hanna sambil terkekeh.
"Sepertinya ide yang bagus, toh Tuan Alex juga tidak tau." kata Pria satunya menatap Hanna penuh minat.
"Tidak, kumohon jangan! baiklah aku akan menurut dan tidak berteriak lagi." Hanna terlihat ketakutan, Ia tak bisa membayangkan tubuh mulus nan seksinya dijamah oleh pria kotor seperti anak buah Alex.
"Nah begitu kan lebih baik," kata pria itu melepas namun sedikit meraba lekuk tubuh Hanna.
"Pria brengsek."
"Wah sepertinya bibirmu itu harus diberi pelajaran Nona." kata Pria itu mencium paksa Hanna membuat Hanna menjerit.
"Nikmat sekali, aku juga mau mencobanya." kata pria yang satunya ikut melecehkan Hanna.
Hanna hanya bisa menjerit dan menangis meratapi nasibnya yang dilecehkan oleh para bawahan Alex, padahal dulu jangankan dilecehkan hanya memandang Hanna saja sudah pasti akan mendapatkan amukan dari Alex. namun sekarang Hanna benar benar sudah tak berharga lagi.
...
"Bagaimana rasanya?" tanya Ella kala Vano mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Enak, kenapa kau pintar sekali memasak makanan yang lezat seperti ini?" puji Vano membuat Ella tersipu.
"Jangan tersipu seperti itu, nanti jika Alex tau bisa dibunuh aku karena membuat istrinya tersipu." ejek Vano membuat raut wajah Ella kembali kesal.
"Ck, aku tidak tersipu." sangkal Ella.
"Ya ya, apa kau masih marah pada Alex?"
"Ya aku masih sangat kesal sekali, bisa bisanya dia membohongiku seperti itu." kesal Ella.
"Jangan terlalu lama jika ingin marah," kata Vano membuat Ella menatap Vano.
"Ya jangan terlalu lama, karena dia mempunyai alasan untuk berbohong." jelas Vano.
__ADS_1
"Alasan apa? dia hanya tidak percaya padaku." dengus Ella sebal.
"Bukan masalah tidak percaya padamu, Alex hanya ingin membongkar kebusukan istri pertamanya, jadi mengertilah." kata Vano.
Ella hanya diam, meresapi ucapan Vano.
"Apa kau sangat mengenal Hanna?" tanya Ella penasaran.
"Hanya beberapa kali aku bertemu dengannya namun aku sudah bisa mengenali jika dia bukan wanita baik baik." jawab Vano.
Ella hanya mengangguk paham.
"Lalu apa dia pernah menyakitimu sebelum ini?" tanya Vano kali ini.
"Entahlah, aku hanya merasa kesal beberapa kali dengannya, tapi untuk fisik dia belum pernah menyakitiku, jadi aku masih tak menyangka jika tadi Ia hendak menusuk ku." kata Ella masih belum bisa mempercayai.
"Ya memang seperti itulah watak wanita ular itu, aku sangat bersyukur sekali sekarang Alex memilikimu." kata Vano.
"Jangan terlalu memuji ku seperti itu, bahkan kau saja belum mengenalku lebih dalam." cibir Ella.
"Apa aku boleh mengenalmu lebih dalam?" goda Vano mendekatkan wajahnya ke wajah Ella membuat Ella terkejut.
"Ekhemm." Sandi tak sengaja keluar kamar dan melihat Vano mendekati Ella.
"Maaf menganggu, aku hanya ingin mengambil Air minum." kata Sandi sambil melirik tajam ke arah Vano yang terlihat gugup.
"Apa yang anda lakukan dengan istri Tuan Alex?" tanya Sandi sinis.
"Ekhem, mana mungkin aku menggodanya!" sangkal Vano.
"Saya melihatnya, dan saya akan mengadukan pada Tuan Alex." ancam Sandi.
"Dasar tukang pengadu! lagipula aku tak melakukan hal yang salah, katakan saja pada Tuanmu itu!" balas Vano dengan nada kesal.
"Baiklah aku akan mengatakan." kata Sandi tenang membuat Vano mendengus kesal.
"Katakan apa?" tanya Alex yang ternyata sudah pulang.
"Kenapa cepat sekali? apa kau tak jadi menemui Hanna?" tanya Vano terlihat panik. sebenarnya Ia tadi hanya mengoda Ella saja namun siapa sangka Sandi malah mengira yang lain.
"Sudah kuselesaikan!" balas Alex cuek "Apa yang baru saja kalian bicarakan?" tanya Alex penasaran.
"Begini Tuan tadi sa-"
"Aku menyuruh istrinya agar dirawat dirumah sakit namun dia menolaknya karena tak memiliki uang untuk membayar tagihannya." sela Vano sambil melirik tajam ke arah Sandi yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Apa benar seperti itu?" tanya Alex menatap Sandi.
"Ti-tidak Tuan." sangkal Sandi.
"Dia takut mengatakan padamu." imbuh Vano lagi membuat Sandi mendesah kesal.
"Kenapa kau bisa bersikap seperti itu? apa selama ini aku kurang memperlakukanmu dengan baik?" tanya Alex.
"Tidak tidak seperti itu Tuan, sebenarnya.-"
"Sudahlah kalian selesaikan saja dulu, aku harus segera kerumah sakit." kata Vano meninggalkan Alex dan Sandi yang terlihat jelas sangat kesal.
Sementara Ella memasuki kamar yang ditempati Nisa, melihat Nisa masih berbaring namun tak memejamkan mata.
"Aku membuatkan mu bubur, makanlah lebih dulu agar kau bisa segera meminum obatmu." kata Ella membuat Nisa terkejut lalu bangun dari tidurnya.
"Terimakasih Nona, maaf merepotkan." kata Nisa merasa tak enak.
"Sudahlah, jangan sungkan." balas Ella sambil tersenyum.
Ella mengambil mangkuk bubur "Aku akan menyuapimu." kata Ella.
"Ti-tidak Nona, tidak perlu saya bisa sendiri." kata Nisa.
"Tak apa, lagipula tanganmu masih sakit dan juga suamimu sedang makan didepan." jelas Ella.
"Tapi saya masih bisa kok makan sendiri." kata Nisa.
"Tidak apa apa," kata Ella memaksa, mengambil bubur kedalam sendok lalu mengarahkan ke mulut Nisa membuat Nisa tak mempunyai pilihan lain selain menerima suapan Ella.
"Pasti rasanya tidak enak ya karena mulutmu pahit."
"Tidak kok Nona, enak." balas Nisa.
Ella hanya tersenyum namun dalam hatinya Ia merasa kasian dengan Nisa karena bagaimana bisa Hanna memperlakukan Nisa seperti ini, bukankah Nisa adalah maid kepercayaan Hanna tapi Hanna tega menyakiti Nisa seperti ini.
"Apa tidak sebaiknya kerumah sakit saja? aku takut jika lukamu ada yang infeksi." kata Ella.
Nisa menggeleng "Saya takut jarum suntik Nona lagipula Dokter Vano bilang saya tidak apa apa hanya luka lebam saja."
"Hmm ya sudah, kau bisa menggunakan kamar ini sementara sampai kau sembuh, aku akan membantu merawatmu." jelas Ella.
"Terimakasih Nona, terimakasih banyak." kata Nisa.
"Nona Ella baik banget, nggak kayak nenek lampir sialan itu yang udah bikin gue bonyok kayak gini, pantes saja Tuan Alex bisa berpaling." batin Nisa.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen yaaa...