
Sepulang kerja, Riska melajukan motornya menuju rumah Vano. rutinitas yang Ia lakukan beberapa bulan terakhir pulang kerumah Vano terlebih dahulu untuk memasak sebelum pulang kerumahnya.
Setelah memarkirkan motornya didepan rumah, Riska segera memasuki rumah dengan kunci cadangan yang Ia bawa.
Riska meletakan tasnya di ruang tamu, Ia berjalan menuju dapur untuk segera membuatkan makan malam agar Ia bisa segera pulang kerumah.
Baru selesai mengupas kentang, Riska sudah mendengar suara mobil Vano yang sepertinya baru pulang.
"Hp kamu bunyi terus tuh." kata Vano menghampiri Riska didapur.
"Masa sih, kok aku nggak denger." balas Riska berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponselnnya.
"Budek sih." gumam Vano geli yang tak bisa didengar oleh Riska.
"Apa kak? oke aku kesana kirim alamatnya." kata Riska dengan wajah panik membuat Vano mengerutkan keningnya penasaran.
"Ak-aku boleh ijin nggak masak dulu nggak?" tanya Riska terlihat sangat panik.
"Kenapa? apa terjadi sesuatu?" tanya Vano.
"Adik aku mau lahiran, jadi aku harus kesana sekarang. please kasih aku ijin ya?" pinta Riska dengan wajah memelas.
"Ya udah yok aku anter sekalian aku nyari makan malam." kata Vano menyambar kunci mobilnya.
"Enggak usah, aku pake motor aku aja."
"Ck, nggak usah ngeyel deh, kamu baru panik gini naik motor bisa bisa nabrak orang lagi." kata Vano yang langsung membuat Riska cemberut da membuntuti Vano memasuki mobil.
"Lahiran dimana memang?" tanya Vano.
Riska membuka balasan chat dari Rangga lalu memperlihatkan pada Vano.
"Lah disana? itu mah klinik saudara aku." kata Vano segera melajukan mobilnya sementara Riska hanya mengangguk, tak heran Vano kan seorang dokter pasti saudaranya pun juga ada yang mengikuti jejaknya. seperti Riska yang mengikuti kakaknya Rangga menjadi seorang accounting.
"Memangnya adik kamu orang kaya?" tanya Vano mengingat Klinik obgyn milik Dina terkenal bagus dan sangat mahal.
"Hmm, suaminya yang kaya raya," balas Riska "Kau bertanya seperti itu karena aku miskin?" tanya Riska sedikit tersinggung dengan ucapan Vano.
"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu, aku bertanya karena klinik itu sangat mahal." jelas Vano.
"Oh."
Sesampainya disana Vano mengikuti Riska turun dari mobil.
"Kau tak perlu ikut masuk, nanti membuat keluargaku salah paham dengan keberadaaanmu." kata Riska berhenti dan menatap Vano.
"Ck, aku tidak membuntutimu, aku ingin menemui saudaraku, dia pemilik klinik ini," jelas Vano.
__ADS_1
"Terserah saja." balas Riska acuh melajutkan langkahnya.
Riska sedikit heran dengan keadaan klinik yang sangat sepi, seperti tak ada pengunjung disini. mungkin karena mahal jadi mereka takut periksa disini.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang suster yang sedang lewat. mata suster itu melirik ke arah Vano karena memang mengenal dokter Vano.
"Ya, apa suster tau dimana ruangan Ella melahirkan? ya namanya Ella." tanya Riska.
"Oh, ya hari ini memang nona Ella yang memesan seluruh klinik ini dan ruangannya ada disebelah sana." kata Suster itu menunjukan sebuah ruangan pada Riska.
"Ah terimakasih." Riska segera berjalan ke arah yang ditunjukan oleh suster tadi sementara Vano masih membuntutinya dari belakang.
"Gila, sombong banget, mau lahiran aja sampai boking satu klinik mahal." gumam Vano yang terdengar oleh Riska.
Riska hanya menatapnya tajam lalu melanjutkan langkahnya.
Samar samar Riska mendengar ucapan syukur ibunya dan tangisan bayi didalam ruangan yang di maksud suster tadi.
Dengan senyum mengembang, Riska membuka pintu dan "Bayinya sudah keluar?" tanya Riska.
Seketika semua mata tertuju padanya, Alex, Ella, ayah, Ibu serta Rangga menatapnya dengan tatapan aneh.
Sementara Vano sendiri cukup terkejut mengetahui adik yang di maksud Riska adalah Ella.
"Kau?" Alex menatap Vano penuh curiga membuat Vano bergidik ngeri.
Sementara Riska juga binggung, tak menyangka jika Alex dan Ella mengenal Vano.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Pakde pada Riska membuat Riska binggung harus menjawab apa.
"Pantas saja, kau selalu pulang malam, ternyata kau memiliki kekasih. sepertinya aku harus mengintrogasi kekasihmu itu agar tak macam macam padamu." jelas Rangga yang juga ada disana.
"Dia bukan kekasihku." kata Riska sedikit takut.
"Lalu, siapa dia?" tanya Pakde masih menunggu jawaban Riska.
"Eum, dia hanya teman, ya hanya teman." kata Riska meyakinkan.
Alex yang tak percaya akhirnya keluar dari ruangan itu.
"Dimana bayi nya?" tanya Riska.
"Sedang di bersihkan." balas Ella "Bagaimana mbak Riska bisa mengenal Vano?" tanya Ella masih penasaran.
"Ceritanya panjang, aku tak tau jika kau dan Alex juga mengenal Vano." kata Riska.
"Vano sepupu Alex." balas Ella yang membuat Riska mengangga tak percaya.
__ADS_1
Sementara Alex terlihat menarik tangan Vano yang hendak kabur.
"Astaga, aku seperti kekasih yang sedang ketauan selingkuh." kata Vano saat Alex menatap nya tajam.
"Sekarang jelaskan padaku, bagaimana kau bisa mengenal Riska, dan apa hubungan kalian?" tanya Alex masih menatap Vano tajam.
Vano menghela nafas lelah "Kami saling mengenal karena terjebak suatu situasi."
"Situasi apa? kau tidak berniat mempermainkannya kan? apa kau memanfaatkan tubuhnya haa?" bentak Alex.
"Astaga brother, pikiranmu terlalu jauh. hubunganku dan dia hanya rekan bisnis tidak lebih." kata Vano dengan nada kesal karena Alex menuduhnya seperti itu.
"Aku tidak mempercayaimu, jika Ella mengetahui apa yang sudah kau lakukan pada saudaranya, dia pasti akan membunuhmu!." kata Alex.
"Terserah jika memang tidak percaya, tapi hubungan kami memang hanya sebatas itu." kata Vano dengan nada kesal.
Vano hendak pergi meninggalkan Alex namun lagi lagi Alex menarik tangannya.
"Apa lagi sih?" kesal Vano.
"Ikut gue." Alex menarik tangan Vano membuat Vano memberontak.
"Eh bego, Lo mau ngajak gue kemana? ogah gue nggak mau." protes Vano melepaskan tangannya.
"Lo harus tanggung jawab!"
Vano melonggo dibuatnya.
"Emangnya gue hamilin tuh cewek, bisa bisanya Lo nyuruh gue tanggung jawab!" kesal Vano.
"Gue kenal Lo nggak sehari dua hari tapi udah dari orok. gue tau pasti lo cuma manfaatin dia aja kan! jadi lebih baik Lo tanggung jawab atau gue bunuh Lo."
"Eh anjing, gue bener bener nggak nglakuin apapun!" bentak Vano.
"Hey kalian berdua, ngapain disini?" tanya Dina keluar menemui Vano dan Alex.
"Tau tuh, kakak lo nih gila banget." kata Vano kesal.
"Tuh babybnya udah selesai di bersihkan, nunggu di adzani sana buruan masuk, udah pada nungguin." kata Dina.
Alex mengangguk paham "Lo, ikut gue!" Alex kembali menarik tangan Vano yang sudah pasrah dan lelah membantah ucapan Alex yang sama sekali tidak benar.
BERSAMBUNG...
Lagi nggak nih?
Like, vote dan komennya dulu dong...😁
__ADS_1