ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
77


__ADS_3

Alex segera berlari menuju pintu setelah keluar dari mobil, diikuti Sandi dan Nisa yang berjalan pelan dibelakangnya.


"Kau? Kenapa kau disini?" Tanya Alex melihat Vano sepupunya duduk santai disofa ruang tamu.


"Memangnya kenapa jika aku disini?" Balas Vano santai.


"Dimana Ella?" Tanya Alex dengan raut wajah panik.


"Ohh, jadi kau mencari istrimu? Sayang sekali istrimu sudah pergi dibawa oleh Hanna."


"APAAA?" Alex berjalan mendekati Vano lalu menarik kerah baju Vano.


"Kenapa kau biarkan Hanna membawa Ella, dasar brengsek!" Alex terlihat emosi.


"Ck, mana ku tau! Kupikir kedua istrimu itu memang berniat pergi berdua." Balas Vano santai.


"Brengsek, bisa bisanya kau berkata sesantai itu!" Alex sudah mengangkat tangannya hendak memukul Vano namun terhenti karena mendengar suara Ella dibelakangnya.


"Ya ampun mas, kenapa kamu mau memukul dokter Vano!" Teriak Ella sambil membawa nampan berisi secangkir kopi.


"Ella sayang.." Alex terlihat senang melihat Ella baik baik saja, Ia berjalan mendekati Ella hendak memeluk Ella namun tertahan karena Ella sedang membawa nampan.


"Lho, mas kok sudah bisa jalan? Trus itu Sandi kok disini?" Tanya Ella binggung apalagi melihat Sandi dan seorang wanita yang tengah terluka berdiri didepan pintu.


"Aku saja juga terkejut melihat Alex tiba tiba bisa jalan lagi." Cibir Vano yang langsung mendapatkan tatapan tajam Alex.


"Lebih baik diamlah!" Bentak Alex pada Vano membuat Vano terkekeh.


"Jelaskan! Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ella terlihat marah.


"Aku akan menjelaskan semuanya tapi sebelum itu aku ingin bertanya, apa Hanna datang kesini?" Tanya Alex.


"Ya tadinya dia kema-"


"Aku sudah mengurusnya, lebih baik kalian masuk kekamar dan jelaskan semua pada istrimu itu Tuan Alex yang terhormat." Kata Vano.


"Apa kamu membohongiku mas?" Tanya Ella terlihat shock.


"Tidak seperti itu sayang, aku hanya-" belum sempat Alex melanjutkan ucapan nya, Ella sudah berjalan memasuki kamar membuat Alex membuntuti Ella yang sepertinya sedang marah padanya.


Sementara Vano terkikik geli melihat adegan pertengkaran suami istri yang baru saja terjadi didepan matanya itu.

__ADS_1


"Sakit sekali." Keluh Nisa.


"Ya aku tau, aku akan membalas perbuatan Hanna, tenang saja! Aku akan membuat tubuhnya lebam seperti ini sayang." kata Sandi dengan nada geram.


Sementara Vano yang masih disana terlihat kesal, baru saja Ia senang melihat adegan Alex dan Ella bertengkar sekarang malah harus melihat adegan pasangan romantis yang menjijikan seperti ini, bukan berarti Vano iri hanya saja Vano juga inginkan merasakan seperti itu.


"Dokter Vano," sapa Sandi.


"Kenapa!"


"Bisakah anda berbaik hati sedikit memeriksa keadaan istri saya?" Tanya  Sandi penuh kelembutan.


"Tentu saja tidak, kau pikir ini rumah sakit? Jam praktek ku?" Ketus Vano.


"Ayolah dokter, sekali ini saja! Istri saya kesakitan sekarang." Kata Sandi memelas.


Karena iba melihat keadaan Nisa yang memprihatinkan akibat perlakuan Hanna, akhirnya Vano mengangguk setuju.


"Ambillah air es dan juga kain washlap." Perintah Vano yang langsung diangguki oleh Sandi, segera Sandi pergi ke belakang untuk mencari apa yang Vano perintahkan.


"Berbaringlah." Perintah Vano yang diangguki oleh Nisa, Nisa segera berbaring di sofa panjang yang ada diruang tamu.


"Hanna memukulmu menggunakan apa?" Tanya Vano sambil melihat semua luka yang ada di tubuh Nisa.


Vano segera melihat kepala Nisa yang baru saja Nisa tunjukan.


"Syukurlah, hanya lecet tidak sampai terbuka, apa semalam darahnya keluar banyak?" Tanya Vano lagi.


"Aku tidak tau, hanya merasakan perih saja karena setelah itu Hanna menyeretku kekamarnya dan mengikat tubuhku lalu memukuli ku mengunakan balok kayu kecil." Jelas Nisa.


"Ck, iblis itu benar benar, untung saja hanya lebam tak ada yang retak ataupun patah."kata Vano yang telah selesai memeriksa semua luka Nisa.


"Didalam tidak ada washlap, bagaimana jika menggunakan sapu tanganku saja?" tawar Sandi yang sudah membawa baskom berisi air es.


"Sapu tanganmu bersih?" Tanya Vano.


"Tentu saja."


Sandi memberikan sapu tangan berwarna maroon pada Vano, segera Vano memberikan es batu ditengah sapu tangan lalu menutupnya dan menempelkan pada lebam ditubuh Nisa membuat Nisa meringgis.


"Lakukan seperti ini disemua lukanya." Perintah Vano yang diangguki Sandi.

__ADS_1


Sandi segera mengambil alih apa yang baru saja Vano lakukan pada luka Nisa.


"Dan aku akan memberikan obat pereda sakit karena hanya itu yang saat ini kubawa, untuk salep dan obat antibiotik kau bisa membelinya diapotik, aku akan memberikan resepnya." Kata Vano memberikan obat pereda rasa sakit dan juga kertas berisikan resep obat yang harus Sandi tebus.


"Baiklah, terimakasih."


Sementara itu didalam kamar, Ella terlihat mengacuhkan Alex. Ella memasuki kamar lalu menghadap kearah jendela sementara Alex menghampiri Ella dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, maafkan aku hmm." Kata Alex namun Ella masih tetap diam saja.


"Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin mencari tau kebenarannya." Kata Alex lagi.


"Kebenaran apa?" Tanya Ella mulai penasaran.


"Kebenaran siapa yang tulus mencintaiku dan bertahan padaku apapun yang terjadi." Kata Alex yang tak menceritakan tentang Hanna yang telah membunuh Papahnya, Alex tak ingin Ella tau semua itu. Alex tak ingin Ella ikut memikirkan semua itu cukup Alex saja yang tau.


"Jadi mas meragukanku?" Tanya Ella dengan nada sinis.


"Tidak seperti itu sayang, mana mungkin mas meragukanmu." Alex benar benar binggung harus bagaimana menjelaskan pada Ella.


"Trus kenapa harus bohong?" Tanya Ella "Aku udah pecat bik Sumi karena aku pikir kita nggak bakal mampu bayar gaji beliau, kalau tau gini kan aku nggak mecat Bik Sumi mas." Kata Ella dengan nada kesal.


"Jadi kamu marah karena Bik Sumi? Iya karena itu?" Tanya Alex merasa geli.


"Nggak cuma itu, aku kesel kenapa mas pake bohong lumpuh segala, kalau sampai beneran gimana, nggak takut apa mas?" kata Ella masih dengan nada kesal.


"Iya deh iya, maafin aku yaa sayang." Bujuk Alex.


"Nggak, aku masih marah sama mas." Kata Ella cuek.


"Ck, dosa lho sayang kalau marah marah sama suami itu." Goda Alex.


"Trus kalau bohongin istri emangnya nggak dosa!" Skakmat untuk Alex yang membuat Alex langsung bungkam.


"Hmm, iya deh! Marahnya jangan lama lama ya sayang." Bujuk Alex lagi yang hanya didiami oleh Ella.


Setidaknya Alex sudah berjuang untuk menjelaskan pada Ella yang marah padanya, jika memang Ella masih marah Ia bisa apa?


Alex segera keluar untuk menemui Vano dan menanyakan perihal Hanna, karena Alex ingin menemui Hanna setidaknya sebelum Hanna mempertanggungjawabkan perbuatanya.


Bersambung....

__ADS_1


2 bab, dan nyambung lagi besok sabtu yaaa😁


Karena besok dan jumat mau nulis novel aku yang satunya judulnya Sekretaris culun milik ceo tampan, kuyy yang belum mampir coba baca sambil nungguin ini update. ☺


__ADS_2