ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
133


__ADS_3

Pukul 10 malam, Vano keluar dari kamar tempat persembunyian sejak siang tadi. Vano mengendap endap agar bisa keluar tanpa ketauan orangtua Riska apalagi mendengar dari maid jika orangtua Riska menginap disini tentu saja Vano berhati hati agar tak ketauan Orangtua Riska.


"Ekhemmm, Eh calon mantu udah mau pulang." suara seseorang mengejutkan Vano hingga membuat jantung Vano serasa mau copot saja. tadinya Vano pikir itu Ayahnya Riska namun siapa sangka ternyata Alex yang mengubah suaranya agar terdengar sama.


"Kamvret Loh, saudara nggak punya akhlak emang." kata Vano dengan suara pelan.


Alex terbahak melihat raut wajah pucat Vano "Suka sama anaknya ee kok takut sama bokapnya, pake rok aja sana lo."


"Sialan lo, semua ini gara gara Lo juga, coba aja Lo nggak kompor komporin bokapnya Riska tadi siang, gue juga nggak akan kayak gini." kesal Vano.


"Lah emangnya gue bilang apa? gue bilang calon mantu tapi kan calon mantunya bukan Lo, pede banget!" kata Alex masih tertawa.


"Lama lama gue embat juga bini Lo, biar ngrasain jadi jomblo kayak gue."


"Riska aja kagak mau sama Lo, apalagi Bini gue? hahahah." Alex masih saja menertawakan Vano membuat Vano semakin kesal.


"Gue bilangin sama bini Lo kalau Lo masih minum susu di botol dot padahal udah kelas 6 sd." ancam Vano yang membuat Alex diam seketika.


"Lah Lo aja masih ngompol padahal udah kelas 1 smp." kekeh Alex dan kali ini Vano yang diam.


Jika sudah seperti ini, sudah pasti dirinya yang kalah debat dengan Alex jadi lebih baik dia segera pulang saja.


"Hey, mau kemana lo? pulang? berani nggak? kalau nggak gue anter hahhaha."


"Emang bener bener sialan tuh Alex," kesal Vano akan memasuki mobilnya namun Alex berlari ke arahnya.


"Nggak usah ngambek gitu dong, dasar tupol (tukang ngompol)" ejek Alex lagi yang tak digubris oleh Vano.


"Gue udah siapain kado spesial buat Lo dirumah, semoga Lo suka Tupol." kekeh Alex lalu berlari memasuki mansionnya.


Vano hanya menggelengkan kepalanya, Alex yang dulu sudah kembali. Bukan Alex yang bersikap dingin dan diam padanya namun Alex yang selalu mengejek dan mengodanya namun juga sangat menyayangginya.


Ella memang mengubah segalanya, mengembalikan Alex yang dulu, dulu saat sebelum menikah dengan Hanna. Ya seperti ini lah hubungan mereka, saling mengejek dan menggoda.


"Dasar Bucin." gumam Vano tersenyum lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.


Didalam mobilnya Vano bertanya tanya, hadiah apa yang disiapkan Alex untuknya membuat Vano sangat penasaran.


Sesampainya dipekarangan rumah, Vano terkejut melihat mobil milik Mamanya disana. Apa ini yang dimaksud Alex dengan hadiah tadi? jika benar, astaga Vano tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Riska didalam.

__ADS_1


Vano segera berlari memasuki rumah,


"Ma-mama..." Vano terkejut memang mamanya yang berada disana, duduk disampaing Riska yang menatapnya penuh protes.


"Ma-mama ngapain kesini?" tanya Vano mencium tangan Mamanya membuat Riska sedikit terkejut. meski Vano terlihat sombong dan menjengkelkan namun nyatanya Vano begitu sopan dengan Mamanya.


Wina memukul lengan Vano yang kini duduk disampingnya. "Kamu ini bener bener kebangetan deh, kenapa udah punya calon nggak ngabarin mama, nggak dikenalin sama Mama." protes Wina.


"Ca-calon, maksud Mama apa?" tanya Vano masih tak paham.


"Udah nggak usah bohongin Mama lagi, Riska ini calon istri kamu kan?"


"Bu-bukan ma, kata siapa?" sangkal Vano.


"Kamu mau jantung mama kumat lagi kalau bohongin mama haa? hayo ngaku dia calon kamu kan? tadi Alex yang ngasih tau Mama." jelas Wina membuat Vano semakin kesal pada Alex.


"Tapi ma, dia itu bukan-"


"udahlah mas, kita akui saja." kata Riska tiba tiba membuat Vano melonggo tak percaya sementara Wina terlihat bahagia.


"Tuh kan, calon istri kamu aja udah ngakuin kok kamu masih mau aja bohongin mama," protes Wina "Apa jangan jangan kalian lagi berantem ya?"


"Oh jadi bener dugaan mama kalau kalian lagi berantem." Wina segera membereskan barang bawaannya "Kalau gitu Mama balik aja, selesaikan saja urusan kalian berdua, mama nggak akan ganggu." kata Wina bangkit dari duduknya.


"Dan kamu Vano, segera tetapkan tanggal lamaran kalian agar kalian bisa segera menikah." kata Wina kemudian pergi meninggalkan Vano dan Riska yang masih melonggo dengan permintaan sang Mama itu.


"Kenapa bisa jadi gini sih!" kesal Riska kala Wina sudah tak terlihat lagi.


"Harusnya aku yang nanya, kok Mama bisa nganggep kamu mantunya gini gimana?" tanya Vano.


"Tanya aja pada saudara mu itu!" kesal Riska.


"Dia juga saudara mu kalau kamu lupa!"


"Ck, nyebelin banget tau nggak sih," kesal Riska lagi.


"Kalau kesel kenapa juga tadi nggak jujur aja sama mama, malah minta aku buat ngakuin?" protes Vano.


"Aku udah bilang sama mama kamu tapi nggak percaya, dan malah bilang kalau Mama punya penyakit jantung dan bisa kumat sewaktu waktu di bohongi, mana mungkin aku maksa jelasin." kata Riska.

__ADS_1


"Ap-apa? jantung?"


"Iya, katanya kamu juga tau kalau mama kamu punya penyakit jantung." kata Riska.


Sejak kapan mama punya penyakit jantung, apa ini cuma alasan Mama biar Riska nggak bisa nolak. batin Vano.


"Oh iya, hampir aja aku lupa." kata Vano yang merasa mungkin ini kesempatan Vano agar bisa menikah dengan Riska (licik sih, tapi nggak apa apa kan ya buat cinta gitu)


"Ck, trus gimana dong kita?" keluh Riska.


"Jalani aja dulu, nanti kalau Mama udah tenang biar aku yang ngomong sama Mama." jelas Vano.


"Tapi gimana kalau mama kamu maksa buat segera nikah?" tanya Riska.


"Ya kita tinggal bilang kalau belum siap dan ngulur waktu beres kan?" kata Vano.


"Ah iya ya kenapa nggak kepikiran sama aku, nanti kalau mama sedikit tenang kamu bisa jelaskan semua sama mama kamu kan?" kata Riska yang langsung diangguki Vano.


"Tapi ngomong ngomong kamu udah punya pacar belum nih? takutnya nanti kamu jalan sama pacar kamu ketauan mama lagi."


"Enggak kok, aku nggak pernah pacaran." jawab Riska jujur.


Yess, jadi selama ngulur waktu gue bisa bikin Riska jatuh cinta sama gue jadi kita tetep nikah batin Vano tersenyum senang.


"Ngapain malah senyum, ngejek aku gara gara belum pernah pacaran?" tanya Riska sengit.


"Eng-enggak kok, ngapain juga ngejekin kamu! nggak penting." balas Vano tak kalah sengit.


"Udah sana makan, aku udah masakin kamu dan sekarang aku mau pulang." kata Riska bersiap untuk pulang.


"Mau dianter?" tawar Vano.


"Nggak usah sok baik deh." kata Riska lalu keluar meninggalkan Vano yang masih tersenyum bahagia.


"kado Lo emang spesial," gumam Vano tersenyum bahagia.


Bersambung...


Like vote dan komen yukkk...

__ADS_1


__ADS_2