ISTRI KEDUA TUAN ALEX

ISTRI KEDUA TUAN ALEX
117


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, pagi ini Riska melajukan motornya menuju rumah Vano.


Ini hari minggu, hari libur seharusnya Riska bisa bangun lebih siang dan bermalas malasan namun karena hutangnya dengan Vano ia jadi harus bangun pagi dan pergi kerumah dokter mesum itu.


Karena supermarket masih tutup, dengan sangat terpaksa Riska menggunakan uangnya untuk berbelanja di pasar karena dipasar sudah jelas ia tak bisa membayar dengan credit card pemberian Vano.


"Aku akan meminta ganti nanti," batin Riska kala berbelanja di pasar.


Setelah dirasa cukup, Riska segera melajukan motornya menuju rumah Vano. sesampainya disana Rumah Vano masih terlihat sangat sepi.


"Cih, pasti dia masih tidur." batin Riska sedikit kesal.


Dan benar saja, Riska menunggu lama didepan pintu karena Vano tak kunjung membuka pintunya dan saat pintu terbuka, Vano masih mengenakan piyama tidurnya.


"Kau menganggu tidurku saja." gerutu Vano membuat Riska sebal.


"Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu?" batin Riska kesal.


Riska segera saja memasuki dapur tak peduli dengan Vano yang masih mengerutu.


"Nanti akan kuberikan kunci cadangan jadi kamu bisa masuk rumah tanpa harus menganggu tidurku!" gerutu Vano lagi yang membuat Riska bertambah kesal.


"Sabar Riska, sabar, hanya 3 bulan, jadi bertahanlah." batin Riska menyemangati dirinya sendiri.


"Aku ingin sarapan nasi goreng, dan minumnya kopi susi hangat, antarkan kekamar ku jika sudah selesai."


"Baiklah Tuan." kata Riska penuh penekanan.


"Kamu mengejek ku?"


"Tidak, apa maksudmu?" tanya Riska mulai terpancing emosinya.


"Kenapa kau memanggilku Tuan, memangnya aku ini majikanmu dan memangnya aku ini setua itu hingga kamu memanggilku Tuan?" protes Vano.


Astaga pria ini "Baiklah Dokter Vano yang masih muda, silahkan Dokter menunggu dikamar dan biarkan saya fokus dengan pekerjaan saya."


"Nah begitu kan enak didengar." celetuk Vano yang membuat Riska ingin melempar pisau yang saat ini sedang Ia pegang.


"Sabar ris, Sabarr." Riska mengelus elus dadanya kala Vano sudah berjalan pergi meninggalkan dapur.


Selesai membuatkan nasi goreng, Riska segera menghampiri Vano yang ada didalam kamarnya.


"Dok, sarapannya sudah siap." kata Riska sambil mengetuk pintu kamar Vano.


Vano keluar bertelanjang dada, hanya mengenakan boxer saja membuat Riska menjerit.

__ADS_1


"Aaa dasar dokter mesum." teriak Riska menutupi matanya dengan kedua tangannya.


Vano hanya menatap Riska malas lalu berjalan menuju meja makan.


"Tak cuma penganggu ternyata kau juga sangat berisik!" gerutu Vano duduk lalu menyeruput kopinya yang masih hangat.


Dengan kesal, Riska menghampiri Vano "Tak bisakah kau mengenakan bajumu terlebih dahulu?" protes Riska.


"Ck memangnya kenapa? rumah gue ini." balas Vano acuh malah sibuk menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Hmm, its not bad." Kata Vano mengkritik masakan Riska.


"Dada krempeng aja dipamerin." ejek Riska yang membuat Vano menghentikan makannya.


"Apa Lo bilang? dada krempeng? astaga enggak liat ini otot otot gue hasil dari gym gue tiap hari dan sekarang Lo bilang krempeng, bener bener ya!" Vano bangkit memperlihatkan tubuhnya yang sebenarnya memang berotot namun Riska sengaja mengatakan itu agar Vano mengenakan bajunya.


"Duh mata ku tercemar ngeliat dada krempeng." kata Riska lalu meninggalkan Vano yang tengah kebakaran jenggot.


Vano kembali memasuki kamar, Ia melihat ke arah cermin sebentar untuk memastikan jika tubuhnya tidak krempeng seperti yang Riska katakan padanya.


"Dasar cewek gila!" gerutu Vano segera mengambil kaos nya asal lalu memakainya.


Vano keluar lalu kembali duduk untuk melanjutkan sarapan nya, sementara Riska yang melihat Vano sudah mengenakan baju tertawa geli karena ejekannya berhasil membuat Vano tidak telanjang dada lagi.


"Kamu masak lagi?" tanya Vano melihat Riska masih sibuk didapur.


"Ohh wow siapa yang nyuruh kamu buat peraturan kayak gitu?"


"Lah terus gimana? masa aku disini seharian buat bikinin kamu makanan, kamu pikir aku nggak ada kerjaan lain apa." kesal Riska.


"Aku nggak suka sayuran basi, aku maunya habis masak langsung dimakan, nggak ada microwave disini buat angetin masakan basi." jelas Vano yang membuat Riska melonggo tak percaya.


"Tapi aku nggak mungkin disini seharian kan? gimana besok kalau pas aku kerja?" protes Riska.


"Kalau pas kamu kerja nggak perlu bikinin makan siang, cukup sarapan sama makan malem aja trus kalau libur kamu bisa disini seharian." kata Vano santai.


Rasanya Riska ingin memasukan racun tikus di makanan Vano, bagaimana mungkin Vano menyuruhnya disini seharian, memangnya Ia pikir Riska tak memiliki kegiatan lain dihari liburnya.


"Aku pikir kamu agak nggak waras ya, aku kan juga punya kegiatan dirumah, masa iya aku harus di sini seharian!" protes Riska.


"Kalau aku waras mungkin aku nggak akan gaji kamu 10juta tiap bulan cuma buat masak." balas Vano santai yang langsung membungkam ucapan Riska.


Riska menghela nafas, sepertinya Ia memang kalah kali ini.


"Jadi apa yang harus aku lakukan disini kalau pekerjaan ku sudah selesai."

__ADS_1


"Kau bisa bersih bersih, cuci baju, setrika baju ya seperti itu!"


"Kau pikir aku pembantu? perjanjiannya aku hanya memasak kan?"


"Jika tidak mau ya sudah, kau bisa bermalas malasan di kamar itu." kata Vano sambil menujuk sebuah pintu kamar yang membuat Riska menyilangkan kedua tangannya.


Vano mengelengkan kepalanya tak percaya "Aku pergi setelah ini jadi jangan khawatir."


"Lalu untuk apa aku harus memasak makan siang?" tanya Riska heran.


"Aku akan pulang jika waktunya makan siang."


"Baiklah Tuan, terserah kau saja." kata Riska segera pergi meninggalkan dapur menuju kamar yang tadi Vano tunjukan.


"Hey aku tak suka kau memanggilku Tuan." protes Vano yang tak digubris oleh Riska.


"Dasar wanita aneh!" gerutu Vano.


Riska memasuki kamar minimalis yang rapi dan elegant.


"Wah bagus juga nih kamarnya, kasurnya juga empuk lagi." Riska rebahan di atas ranjang.


Riska membuka ponsel di dalam tas selempang yang Ia pakai, tak ada notifikasi akhirnya Riska kembali memasukan ponselnya di tas lagi.


Kantuk mulai menyerang mata Riska karena tadi Ia bangun sangat pagi, hingga tanpa Riska sadari Ia sudah terlelap tidur.


"Hey putri tidur, bangunlah!" Riska merasa ada yang mengoyang goyangkan tubuhnya.


"Ck apa sih?" Riska bangun dan menyadarkan penglihatannya "AAAAAAA, Dokter mesum , Dokter cabul, kenapa kau bisa berada dikamarku?" teriak Riska histeris.


"Astaga drama lagi dia." celetuk Vano malas.


"Kau pikir kau sedang dimana?" tanya Vano kesal.


Riska pun mengedarkan pandangan, sepertinya ini bukan kamarnya batin Riska.


Riska nyengir menatap Vano yang menatapnya malas "Aku lupa jika aku tidur dirumahmu."


"Aku membayarmu bukan untuk tidur santai seperti ini, mana makan siangku?" tanya Vano galak.


"Ck, jam berapa sih udah minta makan siang." Riska membuka layar ponselnya dan terkejut ternyata sudah pukul 1 siang.


Dengan cepat Riska bergegas bangun dan pergi ke dapur.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN


__ADS_2