
Fernando menghampiri Rara, yang berdiri didepan mobil yang disewanya.
"Kamu marah?"tanya lelaki itu.
"Pulang yuk, udah mulai gelap,"jawaban keluar dari mulut gadis itu tidak sesuai dengan pertanyaan dari Fernando.
Lelaki itu membuka pintu di samping kemudi, sedangkan Rara membuka pintu disisi lain.
Fernando mulai melajukan mobil keluar dari area tempat wisata itu.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi,"ucap lelaki itu sambil mengemudikan mobil.
"Pertanyaan yang mana?"Tanya Rara.
Sepertinya gadis itu berpura-pura amnesia, Fernando melirik sekilas, "apa kamu marah karena aku cium kamu tanpa ijin?"tanyanya mengulang ucapnya tadi.
"Kenapa aku harus marah?"tanya gadis itu balik.
"Bukankah aku yang bertanya terlebih dahulu, kenapa kamu malah bertanya balik,"jawabnya mulai tak sabar.
"Kenapa aku harus marah? Bukankah aku juga melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan? Bukannya kita impas?"
"Jadi kamu nggak marah?"
"Apa kamu ingin aku marah atau bahkan menampar kamu? Seperti yang tadi aku bilang, kita melakukannya bersama,"
"Bukan begitu, aku senang kalau kamu nggak marah sama aku, boleh kah aku bertanya?"
Rara berdehem, "apa kamu mau bertanya, kenapa aku tidak ahli dalam berciuman begitu?"
"Apa kamu cenayang? Kenapa kamu tau apa yang ingin aku tanyakan?"
"Tadi ciuman pertama aku, apa kamu kecewa? Berciuman dengan perempuan amatiran seperti aku?"ucapnya jujur.
Fernando tak percaya dengan apa yang ia dengar, bahkan lelaki itu memegang telinga sebelah kirinya, memastikan dia tidak tuli.
"Lalu bagaimana dengan mantan calon suami kamu? Bukankah dia player, apa dia tidak pernah mencium kamu?"tanya Fernando heran.
"Katanya dia ingin menjagaku hingga kami menikah,"jawabnya.
"Lalu calon suami kamu yang sekarang bagaimana?"tanya lelaki itu penasaran.
"Sama seperti yang terdahulu, katanya, dia ingin melakukannya usai menikah dengan aku,"Rara menjawabnya.
"Lalu kenapa kamu tidak menolak saat aku mencium kamu? Bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa,"
"Ingin saja, apa tidak boleh? Apa kamu menyesal mencium aku?"
Fernando menggeleng, "sama sekali tidak, bahkan sedari kemarin aku sudah membayangkan bisa mencium bibir kamu,"ungkapnya jujur.
Rara sampai menganga mendengar jawaban jujur lelaki yang masih sibuk mengemudi itu.
"Apa kamu orang mesum?"tanya Rara kesal.
"Aku tidak peduli penilaian kamu terhadap aku, yang jelas bentuk hati bibir kamu saat tersenyum, sangat menarik aku untuk menciumnya, dan ternyata rasanya seperti yang aku bayangkan bahkan melebihi ekspektasi,"Jawabnya jujur.
"Apa maksud kamu?"
"Rasanya manis, sepertinya aku berharap kamu tidak keberatan jika kita melakukannya lagi,"
Rara tersedak mendengar ucapan frontal lelaki blasteran itu.
Bukanya menolong gadis disampingnya, lelaki itu justru tertawa puas.
"Kamu menertawakan aku?"tanya Rara kesal.
"Iya, aku hanya mengajak kamu untuk melakukannya lagi, kenapa kamu sampai tersedak, bagaimana jika aku mengajak kamu melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar ciuman?"
"Apa kamu orang gila dan mesum?"
"Mungkin, Karena dari pertama kali melihat senyum kamu, bayangan bentuk bibir kamu menghantui pikiranku, rasanya mau gila hanya membayangkan ketika aku merasakan bibir kamu,"
"Kenapa kamu frontal banget sih? Apa memang ini sifat kamu?"
"aku selalu berusaha jujur dan apa adanya, aku juga bukan orang yang bisa memendam perasaan, aku akan mengungkapkan jika aku suka atau tidak suka,"
"Apa kamu tidak merasa bersalah ketika mencium calon istri dari lelaki lain?"
Fernando menggeleng, "Tidak sama sekali, aku tidak peduli, toh kamu balas ciuman aku kan? Jadi buat apa aku merasa bersalah, bukankah tadi kamu juga menikmatinya?"
Lagi-lagi Rara menganga mendengar ucapan lelaki itu, "apa kamu seorang player?"
"Apakah terlalu ketara?"tanyanya balik.
__ADS_1
"Pantas saja kemarin kamu ngotot saat bicara soal laki-laki player,"
"Ya aku seorang player, baru dua hari yang lalu aku memutuskan pacarku,"
"Apa kamu sedang patah hati?"
"Tidak sama sekali, bukankah sudah hal biasa orang datang dan pergi? Untuk apa disesali,"
"Wah... kamu benar-benar player sejati, gampang sekali melupakan mantannya,"
"Lebih banyak hal yang harus aku pikirkan, pekerjaan aku banyak, jadi tidak ada waktu untuk meratapi nasib, bukan begitu?"
"Lalu apa kamu akan terus menjadi seorang player?"
"Tentu saja tidak, ibuku sudah menyuruh aku untuk berhenti, dan mulai serius mencari perempuan baik-baik yang kelak akan aku jadikan istri sekaligus ibu dari anak-anakku,"
"Lalu kenapa kamu malah mencium aku yang wanita asing ini,"
"Entahlah, saat bersama kamu, ada bisikan, jika suatu saat kamu yang akan jadi istri aku,"
"Tapi aku sudah punya calon suami dan dua pekan lagi, kami akan menikah, jadi bagaimana mungkin, aku akan jadi istri kamu,"
"Kita lihat saja nanti, waktu akan menjawabnya,"
"Terserah apapun pendapat kamu, jadi kapan kamu pulang?"
"Entahlah, mungkin setelah kamu berhasil aku bawa ke ranjang hotel yang aku sewa,"
"Kenapa kamu kurang ajar sekali?"
"Setidaknya dihadapan kamu aku jujur apa adanya kan? Tidak seperti lelaki yang pernah mengisi hati kamu,"
"Boleh aku bertanya?"tanya Rara dan Fernando mengangguk.
"Jika kamu suatu saat menikah dengan seorang wanita, dan ternyata kamu tak mendapati istri kamu sudah tidak perawan apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tidak peduli akan hal itu, aku juga tak akan bertanya dengan siapa ia melakukannya, itu bukan urusanku, itu hanya masa lalu, yang terpenting saat dia bersamaku, ia tidak menduakan aku, bagi aku keperawanan itu sebuah jackpot, tapi bukan mutlak aku menginginkan itu,"
"Menurut kamu balasan terbaik untuk seorang player yang mengharapkan keperawanan istrinya, padahal dia seorang Player apa yang harus dilakukan?"
"Tentu saja menghilangkan keperawanannya sebelum menikah, dengan laki-laki lain, kalau perlu one night stand dengan laki-laki random misalnya, dengan itu malam pertama kalian akan hancur, dan lelaki player itu akan kecewa, mungkin akan menceraikannya,"
Rara mengangguk membenarkan ucapan lelaki disampingnya.
"Apa kamu gila? Bisa-bisanya kamu mengajak aku berbuat seperti itu, dasar mesum,"
"Kamu sudah simpan nomor ponselku bukan? Aku disini masih sekitar tiga hari lagi, kalau kamu ingin melakukannya, aku siap kapanpun itu, aku berjanji akan melakukannya dengan lembut,"
"Kamu benar-benar gila!"
"Ya aku memang gila, apalagi saat melihat bibir kamu, rasanya ingin aku cium, hingga kamu lemas,"
"Kenapa jadi bahas kearah sana terus sih?"
"Ra, aku laki-laki dewasa yang sehat, aku butuh melampiaskan hasratku,"
"Nikah lah mas,"
"Ya udah yuk, ketemu orang tua kamu, apa perlu aku telpon ibu aku untuk melamar kamu besok?"
Rara tertawa, "undangan pernikahan aku sudah jadi mas, tinggal disebarkan, apa kata orang kalau aku gagal menikah lagi?"
"Bukankah lebih baik gagal diawal dari pada menyesal diakhir,"
Rara terdiam mencerna ucapan lelaki itu.
"Tidak usah dipikirkan Ra, setidaknya kalau kamu butuh lelaki, ada aku disini, yang siap sedia menuruti mau kamu,"
"Semakin malam pikiran kamu aneh,"
"Apa aku tidak boleh merayu kamu, calon istri masa depan aku,"
"Kamu terlalu mengada-ada,"
"Lihat beberapa tahun ke depan, kamu akan jadi istri aku,"
"Iya mas, beberapa tahun lagi Rara akan jadi istrinya Fernando, puas?"
Lelaki itu menunjukan senyum kemenangan, "tapi Ra sebelum kita berpisah untuk sementara waktu, bagaimana kalau aku unboxing terlebih dahulu, supaya tidak didahului oleh lelaki lain, jadi kamu ingat aku terus,"
"Dasar gila, seumur-umur baru kali ini aku ketemu cowok frontal seperti kamu, apa kamu selalu seperti ini dengan setiap perempuan asing yang baru kamu temui?"tanya Rara mulai penasaran.
"Aku terkenal pendiam diantara perempuan-perempuan itu, aku hanya sebagai pendengar, berbicara hanya kalau diperlukan, mungkin karena itu mereka nyaman sama aku,"jawab lelaki itu jujur.
__ADS_1
Mobil masih menuju ke pusat kota Malang, keduanya masih mengobrol sepanjang perjalanan.
"Lalu bagaimana caranya kamu bisa putus dengan mantan-mantan kamu?"
"Aku ketauan bermain dengan psk yang aku sewa, mereka marah dan meminta putus, tentu saja dengan senang hati aku menyambutnya dan aku akan memberikan kompensasi yang layak, karena selama aku menjalin hubungan, wanita-wanita itu mau melayani hasratku,"
"Seperti psk yang disewa dalam waktu lama ya, lalu kenapa kamu sengaja menduakan pacar kamu?"
"Ibuku tidak setuju dengan mereka,"
"Kenapa?"
"Kata ibuku, mereka bukan wanita baik-baik,"
"Ya gimana mau dapat wanita baik-baik, kamu aja brengsek banget, penjahat kelamin, apa kamu tidak takut terkena penyakit?"
"Aku selalu pakai pengaman dan memastikan partnerku sehat, aku juga rutin melakukan pemeriksaan,"
"Kamu cukup terencana ya,"
"Tentu saja, supaya hidup aku teratur,"
"Apa diantara mantan-mantan kamu, ada yang berkesan dimata kamu?"
"Ada, pacar pertama sewaktu SMA, kakak kelas aku, dengan dia juga aku pertama kali melakukannya dan mendapatkan perawan,"
"Lalu dimana wanita itu?"
"Aku hilang kontak sama dia, aku dengar dia sudah menikah dan memiliki anak diluar negeri,"
"Kenapa kamu mau jujur sama aku?"
"Apa kamu mau aku berbohong?"
"Kamu itu aneh, mana ada orang mau dibohongi, masalahnya kenapa kamu bongkar aib kamu sendiri dihadapan aku? Apa kamu tidak malu?"
"Untuk apa malu, aku hanya bercerita hal ini sama sahabat aku dan kamu orang asing pertama yang aku ceritakan soal aib aku, apa itu membebani kamu?"
"Itu bukan urusan aku, toh setelah kamu pergi dari kota ini, kita tak mungkin bertemu lagi kan?"
"Bukankah aku bilang, beberapa tahun lagi kita akan menikah, pasti kita akan bertemu walau bukan di kota ini,"
"Sok tau kamu, memangnya kamu cenayang, kalaupun kita ketemu lagi, aku udah jadi istri orang,"
"Kamu nggak akan menikah selain sama aku Ra, jadi sebelum menikah beberapa tahun lagi, bagaimana kalau kita mencicil dulu,"
"Kenapa kamu memaksa?"
"Aku nggak memaksa Rara sayang, dan asal kamu tau, feeling aku selalu kuat,"
"Kalau feeling kamu kuat, nggak mungkin kamu jadi player,"
"Itu menyenangkan Ra, sebelum nantinya aku harus menikah dan menghabiskan sisa umurku dengan satu wanita saja,"
"Apa kamu yakin bisa setia nantinya?"
"Tentu saja aku bisa, kenapa tidak? Dan aku selalu tepati janji aku,"
"Manusia nggak ada yang tau langkah kedepannya mas, mungkin saja kalau kamu menikah perilaku kamu tidak berubah,"
"Asal kamu tau Ra, aku tidak pernah sekalipun meminta wanita-wanita itu melayani hasrat aku, mereka sendiri yang menawarkan diri, termasuk psk yang aku sewa,"
"Lalu kenapa kamu meminta aku untuk tidur sama kamu?"
"Karena kamu istri masa depan aku,"
"Makin ngaco kamu, itu nggak akan terjadi mas, dua minggu lagi aku akan menikah,"
"Aku yakin, pada akhirnya kamu nikahnya sama aku,"
"Terserah kamu, suka-suka kamulah, ucapkan menurut kamu benar,"
"Feeling aku selalu tepat,"
"Iya mas, feeling kamu tepat, nantinya aku akan menikah hanya sama kamu, jadi kamu puas sekarang?"
Fernando tertawa, "apa kamu lapar?"
"Iya aku mulai lapar, apa kamu mau makan?"
"Kasih tau aku tempat makan yang menurut kamu enak,"
"Oke,"Rara mengarahkan jalan menuju tempat makan yang menurutnya enak.
__ADS_1