
Mendengar hal itu, Fernando, Rara dan umi Fatimah kembali duduk untuk mendengar penjelasan dari Tamara.
Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu, menceritakan tentang penyakit yang dideritanya, wanita itu mengidap kanker serviks, ia membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk pengobatannya.
Karena penyakit yang dideritanya, ia diceraikan oleh suaminya yang berkebangsaan Italia setahun lalu.
Harta yang Tamara miliki terkuras habis untuk membiayai pengobatan penyakit itu.
Wanita itu dihubungi oleh Citra sekitar satu setengah bulan yang lalu, memberitahukan jika Fernando sudah menjadi orang kaya, menurut saran Citra, ini saatnya Tamara harus meminta pertanggungjawaban pada Fernando karena telah mengandung dan membesarkan Nicholas.
Sebenarnya keluarga Tamara dulunya adalah golongan keluarga berada, namun sudah dua tahun ini, keluarganya sedang ada masalah ekonomi.
Tamara juga sudah tidak bisa bekerja karena kondisinya saat ini, karena itulah ia kembali ke negara ini,
Setelah mendengar penjelasan mantan kekasihnya, Fernando berucap, "Tamara, aku akan mendiskusikan hal ini dengan istri aku, jadi aku akan kabari kamu tentang permintaan kamu, sekarang kamu bisa kembali ke hotel untuk beristirahat, karena setelah ini, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,"
"Jangan lama-lama do, hanya kamu yang bisa menolong aku saat ini,"pinta perempuan itu.
Fernando beserta Rara dan Umi Fatimah benar-benar meninggalkan restoran menuju rumah terlebih dahulu.
Dalam perjalanan tak ada pembicaraan apapun diantara mereka hanya ada keheningan.
Sesampainya di rumah, usai melaksanakan shalat Zuhur, umi mengajak putra dan menantunya untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi saat ini.
"Jadi apa keputusan kamu do?"tanya Umi Fatimah
Mereka duduk di sofa ruang tamu, Fernando duduk bersebelahan dengan istrinya.
"Menurut umi dan Rara bagaimana? Bisakah kalian memberikan saran? Demi kebaikan semua,"tanyanya balik.
Umi Fatimah melirik menantunya, yang sedari tadi diam, perempuan paruh baya itu, menghela nafas, ia tau, ini berat untuk menantunya.
"Ra, apa kamu sudah ikhlas menerima Nicholas sebagai bagian dari keluarga ini?"tanya umi Fatimah.
Rara mengangguk, tanda setuju.
"Lalu apa kamu ikhlas jika suami kamu membiayai pengobatan untuk Tamara?"tanyanya lagi.
Rara melakukan hal yang sama,
__ADS_1
"Oke kamu bisa membantu membiayai pengobatan untuk Tamara, tapi hanya sebatas membiayai bukan mendampingi, bukankah Tamara masih ada keluarga disini do? Kamu harus membatasi diri, ingat do, Rara telah menerima masa lalu kamu, jadi kamu harus tau diri, jangan sampai hanya karena rasa iba kamu pada Tamara, kamu menyakiti Rara, umi nggak rela do, Apa kamu bisa Do?"tanya Umi Fatimah serius.
"Lalu untuk Nicholas, biar dia tinggal bersama umi di Sukabumi, Umi akan menyekolahkan dia di sana, meskipun dia anak kamu, tapi umi tidak mau, hanya karena itu kamu ada masalah dengan Rara, boleh kalau seandainya kamu menjenguknya, tapi tidak dengan tinggal bersama kalian dalam waktu yang lama,"lanjutnya.
"Baik umi, Nando akan melakukan apa yang umi sarankan,"
"Ingat do, setiap kamu akan bertemu dengan Tamara, kamu harus bersama Rara, umi menentang keras jika kamu bertemu dengan dia hanya berdua, ingat itu do!" Umi Fatimah memperingatkan putranya.
Pembicaraan selesai, Fernando mengajak istrinya menuju villa yang sedang dalam tahap pembangunan.
Seperti biasa Rara selalu mendampingi suaminya walaupun lelaki itu sedang bekerja,
Fernando beberapa kali menanyakan pendapat istrinya soal pembangunan villa.
"Yang arsitek kan kamu, kenapa nanya ke aku?"tanya Rara saat keduanya sedang beristirahat dibawah pohon besar yang masih dalam area villa.
"Pendapat kamu itu penting buat aku, entah kenapa aku percaya aja, dan sudah terbukti kan hasilnya,"jawab lelaki yang tengah merebahkan diri dengan kepala di paha istrinya.
Rara mengelus rambut kecokelatan milik suaminya, "kamu terlalu meninggikan aku tau, padahal aku biasa aja,"ujarnya merendah.
"Kan menurut kamu, bagi aku kamu itu anugerah terindah buat aku, kamu paket lengkap tau, kamu itu perempuan yang aku cintai, kamu juga kesayangan umi, kamu partner menyenangkan dalam segala hal, baik urusan ranjang, pekerjaan apapun itu dan kamu penyuka strawberry,"
"Ada sih kekurangan kamu, gampang ngambek, kalau ngomong kadang ketus, walau nggak kasar sih, terus apa ya?"Fernando diam berfikir, "oh ya, ini yang buat aku pusing, sampai saat ini, kamu belum bisa percaya sama aku kan? Kamu masih ragu sama aku,"
Rara tertawa, "menurut kamu, kalau kamu jadi aku, punya suami kayak kamu, kira-kira bakal percaya nggak?"tanyanya.
"Ya nggak sih,"jawab lelaki itu, "eh tapi aku akan berusaha percaya lah,"lanjutnya.
"Begitu juga aku mas, aku juga butuh waktu supaya bisa percaya sepenuhnya sama kamu,"
Fernando memegang tangan istrinya lalu menciuminya, "jangan pernah goyah ya Rara sayang, kamu tau kan aku sangat takut kehilangan kamu, tolong jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku,"
Rara tersenyum lalu mengangguk,
"Ra, apa kamu tau, senyuman kamu buat aku tergila-gila, berikan senyuman itu hanya buat aku ya Ra,"
"Iya mas, udah cukup istirahatnya, kerja lagi yuk,"ajaknya.
"Cium dulu, biar aku semangat,"pinta Fernando seraya bangkit.
__ADS_1
Mau tak mau, Rara menuruti ucapan suaminya, ia memegang kedua sisi pipi lelaki itu lalu menciumnya.
Fernando membalas ciuman itu, jika saja ponselnya tidak berdering, mungkin ciuman itu bukan hanya sekedar ciuman.
Tertera nama Oscar di layar ponselnya, Fernando mengangkatnya,
Sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter itu, memberitahukan jika Tamara segera dibawa menuju rumah sakit agar segera diperiksa,
Tadi Fernando sempat menghubungi Oscar saat dalam perjalanan menuju villa membahas soal Tamara, tentu sahabatnya terkejut, tak percaya, mantan pacar Fernando kembali.
Usai menyelesaikan panggilannya dengan Oscar, Fernando menatap istrinya, "Ra, besok kita ke Jakarta ya!"
Rara mengangguk,
"Kamu harus dampingi aku ya!"
"Iya mas,"
Waktu istirahat selesai, mereka kembali mengawasi pembangunan villa itu hingga sore hari.
Malam harinya, usai makan malam, Fernando menghubungi Tamara, dan memberitahukan jika wanita itu harus ikut dengannya esok hari sedangkan Nicholas harus mengikuti Umi Fatimah ke Sukabumi untuk mulai bersekolah.
Tamara sempat protes, tapi Fernando mengancamnya balik tak akan membantunya jika tidak menurutinya.
"Kamu siapkan semuanya termasuk berkas untuk Nicholas, kamu mengerti Ta,"
"Tapi berkas milik Nicholas masih ada di rumah papi aku,"
"Besok kamu bisa ambil dan kasih ke aku,"
"Apa Nicholas tidak bisa bersama aku saja do,"
"Dia harus sekolah Ta,"
Akhirnya, Tamara menyanggupi, meskipun terdengar isakan diseberang sana.
"Ingat ya do, apapun yang terjadi jangan sampai kamu hanya berdua dengan Tamara, kamu harus selalu bersama istri kamu," pesan umi Fatimah memperingatkan putranya sebelum kembali ke kampung halamannya bersama cucunya.
"Iya mi, Nando akan ingat itu,"ucapnya.
__ADS_1