
Tak terjadi malam yang panas diantara suami istri itu, mengingat tempat yang tidak memungkinkan juga fakta bahwa Rara baru beberapa kedatangan tamu bulanan.
Ada balita yang tidur satu kasur dengan keduanya, tak mungkin bukan.
Meskipun begitu, itu tak masalah bagi Fernando, yang terpenting ia bisa memeluk istrinya saat keduanya tidur.
Seiring berjalannya waktu, Kebersamaannya dengan istrinya bukan hanya tentang urusan ranjang,
Melampiaskan hasrat pada istrinya memang penting, tapi tak jadi prioritas utama, apalagi selama ini keduanya sering berjauhan dalam waktu yang lama.
Berpelukan sambil mengobrol tentang hari-hari yang mereka lalui atau tentang anak-anak menjadi hal utama saat keduanya bertemu lagi setelah berpisah.
Sisa liburan Fernando dan Alex berusaha lebih dekat dengan anak-anaknya.
Keempat remaja yang awalnya tidak suka dengan kehadiran dua pria dewasa itu, akhirnya senang karena bisa melakukan hal yang menyenangkan seperti tanding basket di halaman villa atau main voli di pantai.
Hari terakhir mereka berada di sana, Fernando dan Alex mengajak keempat remaja itu menaiki kano atau bermain snorkeling.
Liburan yang menyenangkan untuk keempat remaja itu, tak menyangka bisa seseru itu jika berlibur dengan kedua lelaki dewasa itu.
Fernando tak bisa ikut langsung pulang ke Jakarta, dikarenakan pekerjaannya yang menumpuk, berbeda dengan Alex yang turut pulang ke Ibu kota.
Rara kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa sepulang liburan, mengantarkan putranya ke sekolah, karena masih ada sisa empat hari menuju penerimaan rapor.
Dirinya masih tinggal di apartemen, sebenarnya rumah sudah siap ditempati, namun suaminya melarang, karena ingin mengadakan syukuran terlebih dahulu.
Malam hari sebelum pengambilan rapor, Fernando kembali ke ibu kota, hanya saja dirinya tak bisa langsung menemui istrinya, karena ada George bersamanya.
Fernando mengantar sepupu Benedict ke Apartemen Alex terlebih dahulu, mereka mengobrol hingga dini hari.
Obrolan yang membuat terkejut Fernando dan Alex.
Setelah memastikan George nyaman berada di Apartemen Alex, Fernando pamit pulang.
Saat sampai di Apartemen, ia langsung membersihkan diri terlebih dahulu, bagaimanapun tadi saat berkumpul dengan kedua temannya, ia merokok dan meminum sedikit bir kaleng.
Dirinya tau betul, istrinya paling tidak suka dengan aroma itu.
Sebelum bergabung dengan istrinya, ia memindahkan putrinya ke dalam boks tak jauh dari ranjang.
Berhari-hari ia belum melepaskan hasratnya, ia butuh pelepasan saat ini, apalagi ia melihat istrinya yang sedang tidur.
Selain senyuman bentuk hati yang membuatnya jatuh cinta, disaat istrinya tertidur dengan mulut sedikit terbuka membuat hasratnya bangkit.
Fernando yang hanya mengenakan handuk usai mandi, melepaskannya, ia mulai mendekati istrinya.
Ia mulai menciumi betis istrinya, perlahan hingga ke atas, terdengar suara lenguhan dari wanita itu.
Rara mengucek matanya, ia terkejut ketika ada yang menciuminya.
"kamu udah pulang mas?"tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
Fernando tersenyum, lalu mencium kening istrinya, "aku kangen banget sama kamu, bolehkah aku meminta hakku?"
Mata bulat itu menatap ke atas langit-langit kamar, ia sedang berfikir, "kamu punya kond*m nggak?"
Fernando mengernyit heran, "kenapa mesti pakai kond*m? kita suami istri dan selama aku melakukannya sama kamu, aku tidak pernah memakai benda sialan itu,"
"Kayaknya sebentar lagi masa subur aku, bagaimana kalau kita punya anak lagi, Arana masih kecil,"
"apa kamu lupa aku meminta kamu untuk melepas kontrasepsi supaya kita bisa punya anak lagi?"
"Tapi kan,"
"Rara sayang, aku ingin punya anak lagi, kamu mengerti?"
Wanita itu memanyunkan bibirnya, tapi tetap mengangguk menyetujui permintaan suaminya.
Fernando tak membuang waktu, ia mulai mencumbui istrinya, kegiatan yang telah lama mereka tak lakukan.
Rara yang terbuai menyambutnya dengan senang hati, ia juga merindukan sentuhan dari lelaki ini.
Keduanya berperang peluh hingga subuh datang menghentikan aktivitas panas itu.
Seperti biasanya, jika Fernando baru pulang dari luar kota atau luar negeri, Ia akan mengurung istrinya seharian di kamar.
Putranya tentu protes, karena tak bisa melihat dan sarapan bersama uma-nya.
Namun keinginan kepala keluarga tak mungkin bisa remaja itu bantah.
Bahkan pengambilan Rapor kenaikan kelas diambil oleh Fernando,
"Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu akan tau alasan Daddy mengurung Uma di kamar,"lanjutnya.
"Tapi aku dan Uma sudah janjian akan makan bakso bersama teman-teman ku setelah pengambilan rapor,"
"kamu bisa melakukannya bersama Daddy,"
"Memangnya Daddy mau makan ditempat seperti itu?"
"tentu son, apa kamu tau, tempat pertama kali Daddy bertemu dengan Uma adalah warung bakso, lalu setelah kami terpisah selama tiga tahun, kami bertemu kembali di warung bakso juga, jadi itu tak masalah,"
Mungkin remaja itu sedikit terkejut mengetahui fakta itu.
Saat baru keluar dari mobil di parkiran sekolah, Fernando bertemu dengan Tamara, ini kali pertama setelah mereka terakhir bertemu di apartemen, saat itu Tamara masih berusaha menggodanya.
Tamara datang bersama suami barunya,
Fernando bisa melihat raut wajah bahagia terpancar dari mantan pacarnya itu.
Wanita itu menyapanya dan menanyakan kabarnya, ia juga dikenalkan pada papa tiri Nicholas,
Mereka berjalan bersama menuju kelas Nicholas, ini kali pertama kedua orang tua kandung Nicholas datang berkunjung di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Bahkan sekarang, Arana digendong oleh Tamara.
Fernando mengobrol dengan suami Tamara, ya sepertinya obrolan yang nyambung masalah bisnis.
Fernando dan Tamara duduk berdampingan menghadap wali kelas, keduanya mendengarkan penjelasan mengenai Nicholas.
Sama seperti Fernando dulu, Nicholas termasuk siswa yang pandai, walau baru masuk lagi dipertengahan semester setelah vakum cukup lama, karena hanya melakukan pembelajaran daring sewaktu remaja itu di Amerika.
Nicholas mengikuti pembelajaran dengan baik, remaja itu pandai di bidang akademik maupun non akademik.
Nicholas adalah kapten basket di sekolah, selain postur tubuh yang semakin tumbuh tinggi seperti daddy-nya juga kemampuannya memainkan si kulit bundar itu.
"Kayak kamu dulu do,"bisik Tamara.
"Dia putraku, wajar jika menuruni bakat daddy-nya,"
"boleh saja, tapi tidak dengan mempermainkan wanita,"
Keduanya berterima kasih pada wali kelas, tak lupa memberikan bingkisan tanda terima kasih.
Fernando memberikan voucher menginap di villanya yang ada di Sukabumi.
Sedangkan Tamara memberikan Tas dari salah satu brand ternama.
Keduanya berjalan menuju taman dimana Nicholas dan papa tirinya juga Arana menunggu.
"alasan aku mempermainkan wanita juga karena kamu,"ungkap Fernando pada mantan pacar pertamanya.
"kok aku? memang salah aku apa? kamu yang tau-tau diemin aku, padahal aku udah kasih segalanya sama kamu,"ucap Tamara tak mau kalah.
Langkah Fernando terhenti, ia berkacak pinggang dan membuang nafasnya kasar, "bagaimana itu bukan salah kamu, aku yang pendiam kamu dekati secara agresif, lalu setelah kita tidur bersama, di prom night, kamu berciuman dengan teman sekelas kamu, saat itu aku langsung benci sama kamu,"
Tamara juga menghentikan langkahnya, ia mengernyit bingung, mungkin sedang mengingat kejadian yang telah lampau.
"Maksud kamu Jeffery?"tanyanya memastikan.
"Persetan dengan siapapun itu, apa kamu memang semudah itu berpaling dari aku, setelah apa yang telah kita lakukan, bahkan saat melakukan kita baru pertama kali,"
"Do, apa kamu nggak bisa membedakan ciuman sukarela dengan ciuman yang dipaksa? apa kamu nggak bisa melihat, saat itu aku dipaksa, bahkan setelahnya aku menampar Jeffry cukup keras dan memakinya,"
Fernando terkejut mendengar pengakuan mantan pacarnya.
"kamu tau kan do, Jeffry suka sama aku, tapi aku sukanya sama kamu, dia sengaja melakukan itu saat tau kamu datang juga di acara itu, dia ingin kita putus dan memiliki aku, kamu tau alasan aku meminta papi menguliahkan aku di luar negeri, karena aku ingin menghindari dia, dan setelahnya aku baru sadar aku sudah hamil Nicholas, jadi selama ini kamu menuduh aku berkhianat begitu? bukannya kamu yang berkencan dengan adik kelas di mall,"
"itu aku sengaja, buat balas kamu, apa kamu tau yang buat aku seperti itu adalah kamu? kamu yang membuat aku memandang wanita itu hanya sebagai pemuas, kecuali istriku Amara,"
"Aku minta maaf, harusnya aku sadar kalau saat itu kamu di sana, maafkan aku do, gara-gara aku, kamu menjalani hidup seperti itu, tapi aku bersyukur, kamu mendapatkan istri seperti Amara, dia ibu yang lebih baik dibanding aku untuk Nicholas, maaf juga karena aku sempat berniat merusak rumah tangga kamu,"ungkap Tamara sambil menangis.
"Sudahlah, dulu kita sama-sama salah, setidaknya sekarang kita sudah meluruskan kesalahpahaman diantara kita, semoga kehidupan kita semakin baik kedepannya, aku bisa lihat kamu lebih bahagia bersama suami baru kamu,"
"Tentu saja, dia menerima aku apa adanya, dia pengobat hati aku do,"
__ADS_1
Tamara melambaikan tangannya pada suaminya yang sedang menggendong Arana.
Kesalahpahaman yang selama ini terjadi diantara kedua orang tua kandung Nicholas terselesaikan, berharap mereka hidup saling berdampingan dengan rukun bersama pasangan masing-masing demi kebahagiaan remaja itu tentunya.