
Seminggu Fernando dan Benedict mempelajari strategi yang akan mereka lakukan untuk menangkap ketua mafia Amerika bagian selatan.
Dari pihak organisasi dan badan pemerintah terdapat perbedaan pendapat.
Pemerintah menginginkan jika pimpinan mafia itu ditangkap hidup-hidup agar bisa diinterogasi lebih lanjut, sementara organisasi mengatakan akan sulit jika membawanya dalam keadaan hidup-hidup, bisa-bisa anggota organisasi yang menjalankan misi, nyawanya akan terancam.
Sang eksekutor hanya diam saja melihat perdebatan diantara dua pihak yang tetap kekeh dengan pendapat mereka masing-masing.
Hingga Troy menengahi perdebatan itu, lalu memberikan pendapat jika bagaimanapun caranya, akan diserahkan kepada pihak eksekutor saja.
Setelah kesepakatan diantara pemerintah dan organisasi mencapai titik temu, Fernando dan Benedict memulai misinya.
Entah bagaimana caranya, keduanya bisa menyusup menjadi anggota mafia itu.
Sebulan lamanya mereka hidup berbaur dengan para anggota mafia yang lain.
Bagaikan seorang aktor peraih piala Oscar, keduanya berakting dengan baik, bahkan sampai bertingkah layaknya kaum pelangi, itu opsi yang mereka pilih, Karena keduanya sering diajak oleh anggota yang lain mengunjungi club' malam yang menyediakan wanita penghibur.
Tentu saja kedua lelaki itu tak akan mengkhianati istri mereka masing-masing, meskipun setiap saat disodorkan wanita seksi yang nyaris tak tertutup apapun didepan mata mereka.
Bahkan Fernando sampai muntah ketika ada seorang wanita yang menggodanya.
Hal itu membuat para anggota lain semakin percaya dengan aktingnya.
Sejujurnya keduanya muak sekali, dengan hidup yang mereka jalani saat ini, rasanya kesal sekali jika mereka disuruh-suruh layaknya budak, apalagi Benedict yang notabennya seorang pimpinan tertinggi perusahaan.
Selama menyamar, mereka mempelajari situasi, kebiasaan juga celah, bahkan latar belakang anggota mafia yang begitu banyaknya.
Hingga saat keduanya berkesempatan berinteraksi langsung dengan pimpinan mafia itu.
Mereka benar-benar berusaha mencari celah untuk memulai aksi mereka.
Tepat dua bulan, keduanya memulai eksekusi, mereka bertugas mengawal pimpinan mafia itu melakukan perjalanan menuju Italia, ada kerja sama penjualan senjata dengan mafia di sana.
Kebetulan, pimpinan mafia itu mengajak serta keluarganya, mereka akan merayakan natal dan tahun Baru di sana, dengan menaiki private jet.
Namun entah bagaimana, pesawat yang mereka tumpangi tiba-tiba bermasalah,
Sang pilot memberitahu para penumpang jika pesawat akan mendarat darurat di lautan Atlantik.
Karena keadaan tidak memungkinkan, Fernando dan Benedict menyarankan pimpinan mafia untuk loncat terlebih dahulu menggunakan parasut yang tersedia dipunggung masing-masing.
Dan hanya hitungan detik saat ketiganya keluar, pesawat itu meledak di udara.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya pimpinan mafia itu, di depan matanya anak dan istrinya mati akibat ledakan pesawat miliknya.
Ketiganya berhasil mengapung dilautan Atlantik saat musim dingin di penghujung tahun.
Andai Fernando dan Benedict tak pernah melatih fisiknya menghadapi keadaan buruk seperti saat ini, mungkin mereka bisa mati terkena hipotermia.
Dua jam ketiganya, terombang-ambing dipermukaan laut, hingga sebuah yacht menemukan ketiganya.
Mereka ditolong, diberi makan dan obat-obatan juga pakaian ganti.
Yacht berlayar menuju Amerika, pemilik mengaku jika dirinya usai liburan disalah satu pulau.
Mereka tiba di dermaga setelah setengah hari berada di yacht itu.
Ketiganya berterima kasih pada pemilik Yacht, karena menolong mereka.
Pimpinan mafia itu mengajak
Fernando dan Benedict mengunjungi salah satu kenalannya.
Di sana mereka tinggal selama dua hari, rencananya mereka akan kembali ke markas setelahnya.
Hari terakhir, Fernando dan Benedict meminta ijin pada pimpinan mafia untuk mengunjungi salah satu teman keduanya.
Dari kejauhan kedua sahabat itu tersenyum lebar, meskipun memakan waktu lebih lama, setidaknya, itu sesuai permintaan pemerintah, pimpinan mafia itu ditangkap hidup-hidup.
Ingat jika keduanya adalah orang yang manipulatif?
Pimpinan mafia itu tidak menyadari jika koleganya, telah lama mengincarnya.
Untuk itu koleganya diam-diam melapor pada polisi tentang keberadaan pimpinan mafia yang paling dicari.
Sekali tiga uang, pimpinan mafia itu ditangkap beserta koleganya itu, senjata makan tuan, polisi juga diam-diam menyelidiki pelapor itu dan mendapati pelanggaran hukum yang dilakukannya.
Pimpinan mafia berhasil ditangkap, keesokan harinya, pembasmian besar-besaran dilakukan oleh gabungan polisi dan anggota organisasi, hingga markas mafia itu rata dengan tanah.
Sebuah proses panjang, untuk Fernando yang baru saja menjadi ayah dan Benedict yang istrinya masih terbaring tak berdaya.
Semua hal yang terjadi pada pimpinan mafia itu, semuanya ulah Fernando dan Benedict, dari pesawat yang di sabotase, yacht pribadi milik Benedict yang dikemudikan oleh Troy.
Selesai misi, mereka tak langsung kembali, Fernando membantu Benedict menyelesaikan pekerjaan utamanya yang tertunda.
Troy tersenyum senang, melihat kedua sahabat itu nyaris tak berkelahi selama dua bulan terus bersama, rekor bagi keduanya.
__ADS_1
Karena pekerjaan yang menumpuk, karena ditinggal terlalu lama, butuh satu Minggu lamanya untuk menyelesaikannya.
"Do, kayaknya gue mau lepasin Ayu deh,"celetuk Benedict saat keduanya sedang berada di laptop masing-masing menyelesaikan pekerjaan yang sisa sedikit itu.
Tanpa melihat sahabatnya, Fernando berucap, "alasannya apa?"tanyanya.
Benedict menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asap ke udara, "gue emang cinta mati sama Ayu, tapi dia nggak kayak gitu Sama gue, coba Lo pikir, hanya dengan mendengar suara Dikta, bini gue bisa membuka matanya, rasanya sakit banget do,"
Fernando juga menghisap rokoknya, "Lo pikir gue nggak, coba Lo bayangin, didepan temen-temen dan umi gue, Rara terang-terangan minta ditemenin sama Dikta, dibanding gue suaminya, padahal dia abis lahiran anak gue,"
Benedict terdiam mendengar keluhan sahabatnya.
"Lo tau Ben, Rara minta pisah sama gue, meskipun udah ada Arana diantara kami, gue ambil misi ini, buat mengalihkan rasa amarah gue, dan ngasih dia waktu untuk merubah keputusannya,"
Benedict menghentikan pekerjaannya, ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, ia mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya, ia menghembuskan nafasnya kasar, "Lo ngerasa nggak do, kalau kita jadi bodoh banget cuman gara-gara cewek, padahal kalau dipikir-pikir, kalau kita mau, kita bisa dapet cewek manapun, tapi kenapa kita harus bertekuk lutut sama cewek biasa kayak mereka ya?"
Fernando yang duduk berhadapan dengan Benedict memilih mematikan rokok yang sedari tadi dihisapnya, "ya itu kali yang dinamakan cinta, tapi sebisa mungkin logika kita mesti tetep jalan, jangan bego-bego amat lah,"
"Ya itu sih elo, pulang dari sini gue mau lepasin Ayu, gue mau ikhlasin dia, mungkin dengan begitu dia bisa bahagia, mungkin juga dia bisa balik sama Dikta,"
Fernando menggelengkan kepalanya, "yakin Lo kalau Ayu mau balikan sama Dikta? Seingat gue, Ayu pernah cerita, dia nggak bakal mau sama Dikta, katanya Dikta terlalu bagus buat dia,"
"Maksudnya?"tanya Benedict heran.
"Mungkin maksudnya, kalau dia pisah sama Lo, otomatis dia Janda dua anak kan? Terus Dikta masih bujang, jadi mungkin Ayu nggak percaya diri kalau harus bareng sama Dikta,"jawab lelaki berkemeja hitam itu.
"Ya terserah lah Ayu mau balikan apa nggak sama Dikta, yang jelas kalau dia selalu sama gue, nantinya dia bakal tersakiti sama sifat posesif gue,"
"Ya Lo kurangin tuh sifat posesif Lo, kasih kebebasan buat Ayu, dikit aja, seenggaknya biar dia bergaul sama temen-temennya, kalo gue pikir, Lo juga kebangetan banget, masa bini dikurung nggak boleh berinteraksi sama dunia luar, lama-lama orang juga jenuh Ben, meskipun segala fasilitas udah tersedia, apalagi Ayu yang biasa berinteraksi sama banyak orang di lingkungannya yang dulu,"
"Maka dari itu gue mau lepasin dia,"
"Serah Lo Ben, gue mah bodo amat, asal jangan pada libatkan gue dalam urusan rumah tangga kalian, dulu gue masih bisa, sekarang gue udah ada Amara sama anak-anak,"
Benedict tertawa, "ya itu salah Lo, karena ikut campur,"
"Anj*Ng, mau gue juga nggak ikut campur, yang frustasi sampai mabok di tempatnya mami siapa? Hampir aja Lo tidur sama anak buahnya mami, belum lagi Ayu yang nurutnya cuman sama gue, mau nggak mau gue turun tangan, masa iya gue diem aja gitu lihat sahabat gue frustasi, mikir Benedict,"
Benedict makin mengeraskan tawanya, ia bahkan memegangi perutnya melihat ekspresi kesal pria blasteran dihadapannya.
"Ketawa lagi Lo sialan, buruan selesain kerjaan Lo, gue mau balik, udah kelamaan gue ninggalin Amara, mana hape gue pake acara disita segala, brengsek emang Lo pada,"
Benedict menghentikan tawanya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya, walau sambil menahan tawanya.
__ADS_1