
Fernando sedang menunggu kabar kekasihnya, sudah lewat satu jam, tapi Rara belum juga mengabarinya, nomor ponsel wanita itu masih belum aktif.
Lelaki itu menjadi semakin gelisah, dalam hati ia berdoa, agar kekasihnya baik-baik saja.
Ia memegangi cincin platinum yang baru ia kenakan tadi saat dirinya masih bersama Rara,
Sebelum berangkat ke Bandara, designer perhiasan mengantarkan cincin juga satu set perhiasan untuknya.
Rara yang membantunya memasangkan cincin itu, ia juga melakukan yang sama pada wanita itu.
Cincin yang didalam lingkaran dalam, ada inisial namanya juga kekasihnya, FW tanda love AC .
Fernando tersenyum kecil mengingat kejadian tadi, namun senyum itu berubah kecut, mengingat ia merindukan kekasihnya itu padahal baru beberapa saat yang lalu ia masih bisa memeluk wanita pujaannya.
Ia beranjak menuju ranjang miliknya, saksi bisu dimana pertama kali ia membuka segel milik Amara,
Saat itu ia melihat noda merah darah di sprei putih miliknya, menandakan jika ia yang merenggut kegadisan kekasihnya itu.
Fernando merebahkan diri, dimana biasanya ia berhadapan dengan wanita itu, senyum bentuk hatinya yang khas, atau sapaan lembutnya di pagi hari, semua teringat jelas dalam ingatannya.
Hanya seminggu lebih sedikit, ia mengenal wanita itu, tapi entah mengapa ia sudah yakin jika Rara adalah jodohnya.
Fernando memeluk erat guling itu, ada aroma khas dari kekasihnya, aroma serba Strawberry yang menjadi kesukaannya.
Beberapa saat kemudian, lelaki itu tertidur sambil memeluk guling yang biasa dipeluk oleh wanitanya.
Disisi lain, Rara sudah tiba di bandara Djuanda, ia bergegas keluar dari bandara, ia menggunakan taksi konvensional menuju stasiun kereta, tadi saat masih di pulau Dewata, ia mengecek keberangkatan kereta melalui aplikasi,
Tiba di stasiun Rara membeli langsung tiket kereta jurusan Jakarta,
Sejak ia mengikuti Fernando sebenarnya ia sudah merencanakan diri untuk pergi dari rumah orang tuannya,
__ADS_1
Ia tidak ingin menikah dengan lelaki pilihan bapaknya,
Bisa dibilang Rara sedang kabur dari rumah.
Sebenarnya ibunya memiliki rumah warisan dari kakeknya di Jakarta, tapi sekarang ini, sedang di kontrakan,
Saat di Bali kemarin, rekan kerjanya di perusahaan jasa angkutan memberi tahunya tentang lowongan kerja sebagai staf keuangan di kantor pusat yang ada di Jakarta.
Kereta berangkat dari Surabaya pukul setengah sebelas malam, selama dalam perjalanan panjang itu, dia sengaja tidak mengaktifkan ponsel yang dibelikan oleh lelaki blasteran itu.
Penumpang pada gerbongnya tidak terlalu banyak hanya beberapa saja, sehingga terasa sunyi, tak terdengar suara penumpang lain yang berbicara, hanya suara hembusan pendingin ruangan, atau crew yang kebetulan lewat.
Rara mengenakan Hoodie hitam yang kebesaran ditubuhnya, tadi sore sebelum berangkat, Fernando memintanya untuk menukar baju miliknya, katanya jika lelaki itu merindukannya, dia cukup memeluk baju milik Rara, sebagai gantinya, ia diberi Hoodie hitam milik lelaki itu.
Dan ternyata bermanfaat juga Hoodie pemberian lelaki itu, suhu di kereta saat ini dingin sekali, AC-nya terlalu dingin untuknya, dan ditambah lagi, diluar sedang turun hujan.
Rara melihat keluar jendela, gelap hanya sesekali terlihat rintik hujan yang menimpa jendela kaca kereta juga lampu yang menyala dari rumah-rumah penduduk atau lampu jalan besar yang bersebelahan dengan jalan kereta.
Matanya sulit terpejam, padahal ia sangat lelah, mungkin karena pikirannya penuh, dengan persoalan yang sedang dihadapinya.
Amara Cahyani, dikenal sebagai gadis yang baik juga penurut, apapun yang orang tuanya suruh, ia akan melakukannya, meski terkadang ia tidak ingin melakukannya, tapi ia tak berani.
Seperti saat dirinya baru lulus SMA, orang tuanya memaksanya untuk pindah ke kampung halaman bapaknya di Malang, sebenarnya ia tidak mau pindah, ia ingin tetap tinggal di ibu kota, ia ingin bersama dengan dua sahabatnya, Ayudia putri juga Pradikta tapi apa mau dikata, Amara si anak baik dan penurut akhirnya terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya.
Dan sekarang ini puncak dimana ia nekad memberontak juga menentang keinginan orang tuanya,
Sekitar dua bulan lalu, bapaknya mengenalkannya pada laki-laki yang merupakan anak dari sahabat sekaligus penolong bapaknya dulu, entah apa jasanya, Rara tidak mau tau.
Ia dijodohkan dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai, hingga beberapa hari yang lalu , istri siri calon suaminya, menemuinya, dan mengatakan semua hal tentang calon suaminya.
Tak ada amarah di dirinya, hanya sedikit kecewa, itu artinya dua kali gagal menikah, karena alasan itulah, ia memilih melarikan diri rumah orang tuanya,
__ADS_1
Rara menceritakan semuanya pada kakak tertuanya, dan beruntungnya kakaknya itu mendukung keputusannya secara diam-diam.
Sedari kecil ia lebih dekat dengan kakak yang pertamanya yang bernama Andi Cahyono, segala yang ia rasakan, diceritakan kepada kakaknya itu.
Mengenai bapak yang terlalu mengekang dan memaksakan kehendaknya, sementara Amara si anak baik dan penurut hanya bisa pasrah dengan apapun keputusan bapaknya.
Rara menghela nafas, entah apa yang akan terjadi pada orang tuanya nanti, dua hari lagi, acara pernikahannya dengan pilihan orang tuanya ditentukan, ia malah kabur dari rumah.
Rara tau ia salah, tapi ini menyangkut masa depannya kelak, ia tidak mau salah pilih, dan yang terpenting ia tak mau berbagi suami.
Entah beruntung atau apes, ia bertemu dengan lelaki player seperti Fernando, mungkin bisa dibilang ia beruntung karena diperkenalkan dunia yang baru baginya,
Rara yang berasal dari keluarga sederhana, bisa merasakan naik kereta eksekutif, makan di restoran mewah disalah satu hotel bintang lima di Surabaya, menaiki pesawat kelas bisnis, meski hanya kurang lebih satu jam, menaiki mobil sport mewah yang hanya ia bisa lihat di televisi, menginap di resort mewah dengan privat poll, dan yang membuat ia tak menyangka, saldo tabungannya saat ini lebih dari lima puluh juta, tadi saat ia menarik uang di ATM, saat baru turun dari pesawat, ia tercengang, bahkan ia mengucek matanya tak percaya, Fernando mengiriminya uang lagi.
Dan apesnya ia mengenal Fernando adalah karena ia harus merelakan mahkotanya yang berharga, dan dengan rela berkali-kali lelaki itu melakukan hubungan intim dengannya.
Antara merasa kotor juga merasa senang, ia merasa sudah tidak ada lagi yang bisa ia banggakan, jika suatu saat ia menikah, dan merasa senang, setidaknya ia pernah bercinta dengan laki-laki yang tampan.
Meskipun jujur ada getaran dihatinya, saat dekat dengan lelaki itu, tapi apa mau dikata lagi-lagi ia tak mau berurusan dengan laki-laki yang tidak bisa setia, Fernando lebih parah dari dua calon suaminya, lelaki itu bahkan mengakui sendiri, sering menyewa psk, juga melakukan hubungan intim dengan pacarnya.
Bahkan lelaki itu tidak keberatan saat ada perempuan yang bergelayut manja padanya, yang membuat Rara membulatkan keputusannya untuk tak melanjutkan hubungannya dengan lelaki blasteran itu, adalah ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Fernando berciuman mesra dengan wanita yang mengenakan dress kuning malam itu di resort dengan pemandangan persawahan.
Rara akui ia cemburu, ia Tak rela, ia jijik membayangkan saat bibir itu sembarangan mencium wanita lain,
Selain ada getaran juga ada kemarahan pada dirinya, terkadang usai bercinta dengan lelaki itu, ada tanya dalam dirinya, apa Fernando juga melakukan hal yang sama dengan mantan-mantannya juga Psk yang ia sewa?
Ia merasa jijik sekali, tapi tak berdaya, ketika lelaki itu mulai melancarkan rayuan mautnya untuk bercinta, rasanya kesal sekaligus muak.
Berkali-kali ia memaki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia melakukan hal itu dengan lelaki yang sering berganti-ganti partner ranjang, kalau ia terkena penyakit bagaimana? Mengingat lelaki itu tak pernah sekalipun memakai pengaman ketika melakukan itu dengannya.
Masalah pengaman, lagi-lagi Rara memaki dirinya sendiri, bodoh sekali dirinya, setiap kali bercinta, Fernando selalu menumpahkan benihnya ke dalam rahimnya, bagaimana jika dirinya hamil?
__ADS_1
Dalam hati Rara berdoa, berharap ia tidak hamil, tapi jika memang dirinya harus hamil anak dari lelaki blasteran itu, setidaknya akan ada sosok anak yang akan menemaninya kelak,
Kalau seandainya itu benar, ia berjanji tak akan lagi menjalin hubungan dengan laki-laki manapun, sudah cukup tiga kali ia berurusan dengan lelaki brengsek, ia kapok, ia tak mau tersakiti lagi.