Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
tiga puluh delapan


__ADS_3

Setelah beberapa kali melakukan hubungan intim dari sore hari hingga malam tiba, kedua sejoli itu bertolak menuju rumah umi Fatimah, tadi saat masih di Apartemen wanita paruh baya itu menanyakan keberadaan calon menantunya.


"Rara sayang, kamu beneran nggak hamil?"tanya Fernando ingin memastikan kecurigaannya,


Rara yang sedang duduk di samping kursi kemudi, terlihat gugup, mendadak dahi dan tangannya berkeringat dingin, ia tak berani menatap lawan bicara, wanita itu hanya memandangi sisi kiri jalanan yang mereka lalui.


Merasa ada yang tidak beres, Fernando lebih memilih menepikan mobilnya dipinggir jalan, ia menarik tuas rem, lalu melepas seat belt dan menghadap kekasihnya yang sedari tadi terdiam.


Lelaki itu memeluk lalu mengelus kepala Rara lembut, "Rara sayang, kalau memang kamu hamil, aku seneng banget malah, bukankah kamu tau, itu yang aku harapkan, sekali lagi aku tanya, apa benar kamu hamil?"tanyanya lembut.


Rara balas memeluk lelaki itu, ia mulai terisak, hingga beberapa menit berlalu, Fernando mulai melepaskan pelukan itu dan menatap wajah kekasihnya yang menunduk, ia menyentuh kedua sisi pipi wanita itu agar mereka saling bertatapan.


Fernando membantu menghapus air mata kekasihnya dengan kedua ibu jarinya, lalu mencium kening wanita itu lembut.


"Rara sayang, kamu tau kan, kalau aku mencintai kamu, bukankah kamu merasakannya, bagaimana besarnya rasa cinta aku ke kamu, aku juga menjalani hubungan ini dengan serius, aku nggak main-main sama kamu, bahkan kamu sudah tinggal bersama Umi aku, jadi apa sampai detik ini kamu masih meragukan aku?"


Rara menggeleng, air matanya masih terus keluar,


"Rara sayang, lalu apa yang membuat kamu masih ragu untuk menerima aku?"


Rara mengambil tisu di dashboard mobil, ia menghapus air matanya, ia juga sempat meminta air mineral yang selalu tersedia di mobil kekasihnya itu, setelahnya ia meyakinkan dirinya untuk berbicara jujur pada lelaki di hadapannya.


Sebelum berbicara, Rara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, "mas bisakah kita berpisah untuk sementara waktu?"


Mendengar hal itu, Fernando melotot kaget, ia sampai menggosok telinganya, seolah tak percaya apa yang didengarnya.


Lelaki itu menggeleng, "coba ulangi lagi ucapan kamu,"pintanya untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengar adalah salah


"Aku mau kita untuk berpisah sementara waktu,"Rara mengulangi ucapannya.


Ternyata pendengaran Fernando masih berfungsi dengan baik, ia mengalihkan pandangan ke depan, lalu tersenyum miris, tanpa melihat lawan bicara, Fernando mulai berkata, "setelah apa yang kita lakukan sedari sore, kamu meminta kita untuk berpisah? Kita bahkan bercinta dengan hebatnya, setelah sekian lama kita terpisah, bahkan tadi kamu sempat menyatakan perasaan cinta kamu ke aku, dan sekarang kamu dengan mudahnya meminta kita untuk berpisah? Lalu apa yang tadi kita lakukan tidak berarti apapun untuk kamu?"nada bicaranya mulai meninggi.

__ADS_1


"Ini hanya untuk sementara, aku juga akan pergi dari kota ini, setelah rekan aku menyelesaikan cuti melahirkan,"


Fernando menoleh, menatap tajam wanita yang ia cintai, "kamu mau kemana?"tanyanya.


"Aku mau pulang kampung,"jawab Rara.


"Kalau sekedar pulang kampung, kita nggak perlu sampai putus sayang, aku kan lagi ada kerjaan juga di Malang,"


"Tapi kita nggak boleh seperti ini terus mas,"


"Maksud kamu?"


"Kita berhubungan layaknya suami istri, sementara kita belum sah menikah, aku nggak mau menambah dosa aku,"


"Amara, bahkan dari awal aku yang mengajak kamu untuk menikah, tapi kamu sendiri yang menolaknya, dan sekarang kamu meminta untuk berpisah dari aku? Apa kamu pikir, aku mau melepaskan kamu, jangan mimpi Amara, aku tidak akan pernah mau kita berpisah, bahkan aku sengaja melakukan itu tanpa pengaman, supaya kamu bisa hamil, dan mau aku nikahi, terbuktikan sekarang kamu hamil, dan mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus mau aku nikahi, karena aku nggak mau anak didalam kandungan kamu, lahir tanpa ayah,"


Rara terkejut mendengar perkataan lelaki itu, namun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya, "mas, kalau aku menikah sama kamu sekarang, itu tidak boleh, pernikahan kita tidak sah, umi juga melarang aku untuk mau kamu nikahi, dengan kondisi aku yang sekarang,"


Tanpa sengaja, wanita itu mengakui dirinya memang tengah hamil anak dari Fernando, Rara menyadarinya dan langsung menutup mulutnya, bodoh sekali dirinya.


"Bukannya aku meninggalkan kamu, kita hanya berpisah hingga aku melahirkan, setelah anak ini lahir, kita bisa langsung menikah,"


Fernando memegang tangan kekasihnya, ia mencium punggung tangan itu lembut,  "Ra, nggak perlu sampai berpisah, toh kita jarang bertemu, kamu bisa tetap tinggal sama Umi, dan aku kerja di Malang atau Bali, seperti dua bulan ke belakang, apalagi sebentar lagi aku harus ke Amerika,"


"Tapi mas, kalau kita ketemu, pasti kita akan melakukan hubungan suami istri, umi bilang itu tidak boleh,"


Lelaki itu menghela nafasnya kasar, "Ra, aku melakukannya, karena aku butuh melampiaskan hasrat, aku lelaki dewasa yang sehat, dari awal aku sudah berniat baik ingin menikahi kamu, selain karena aku mencintai kamu, aku juga tidak mau melakukan dosa terus menerus, tapi bukankah kamu sendiri yang menolaknya, jadi menurut kamu yang salah siapa?"


Rara menunduk dalam, ia tau disini dirinya yang salah,


Melihat kekasihnya diam, Fernando tersenyum miris, "Setelah aku benar-benar serius sama kamu, aku mencintai kamu

__ADS_1


dan sekarang kamu hamil anak aku, kamu minta kita berpisah? Kamu lagi ngelawak apa gimana sih? Apa kamu ingin mempermainkan aku begitu? Setelah semua yang kita lakukan," ucapnya mulai emosi.


Rara memegang tangan kekasihnya, "mas hanya sementara, sampai aku melahirkan, sekitar setengah tahun lagi,"


Fernando menepis tangan wanita disampingnya, "apa jaminannya kamu akan kembali ke aku? Apa bisa kamu meyakinkan aku, bahwa enam bulan lagi kita bisa menikah?" Tanyanya marah.


Rara terdiam bingung menjawab apa, dirinya sendiri tidak yakin bisa baik-baik saja setelah pulang ke rumah orang tuanya, bapaknya tidak akan mentolerir perbuatan yang dilakukannya, karena Rara tau, kesalahan yang diperbuatnya cukup fatal.


"Kenapa kamu diam? Nggak ada jaminan kan? Kalau kamu bakal kembali sama aku,"ujar Fernando sarkas.


"Asal kamu tau Amara, kalau aku mau sekarang juga aku bisa buat kakak kamu yang di Malang jadi pengangguran atau kakak kamu yang bekerja di pertambangan itu, kamu belum tau apapun soal aku, jadi jangan macem-macem sama aku,"ancamnya, sambil mulai mengemudikan mobilnya setelah memasang seat belt.


Rara terkejut kekasihnya mengancamnya, namun sepertinya ia akan bertanya kepada umi Fatimah dulu,


Sisa perjalanan, hanya keheningan yang melanda, sepasang kekasih itu memilih diam tak berbicara hingga mobil berhenti tepat didepan pagar berwarna putih itu.


Umi Fatimah menunggu keduanya di teras, perempuan paruh baya itu membukakan pintu gerbang agar mobil putranya bisa masuk.


Turun dari mobil Rara terkejut ketika, Fernando menutup pintu mobil dengan keras, lelaki itu memasuki rumah tanpa mengucapkan salam juga mencium tangan uminya.


Umi menatap juga bertanya pada Rara apa yang terjadi, dan Rara menceritakan perdebatan mereka di mobil tadi.


"Jadi gimana mi? Mas Nando marah sama Rara, bahkan tadi beliau mengancam Rara,"keluhnya sambil memasuki rumah.


Umi Fatimah menghela nafas, ia tau betul putranya seperti apa, "coba nanti kita ngomong sama-sama,"


Dan benar saja, umi Fatimah mendudukkan putra semata wayangnya dengan calon menantunya di sofa ruang tengah.


Umi mengemukakan pendapatnya, dan mendukung penuh keputusan Rara untuk berpisah sementara waktu, hingga wanita muda itu melahirkan.


Berbeda dari uminya Fernando tetap tidak mau berpisah dengan kekasihnya, bahkan di depan kedua wanita berbeda usia itu, ia menelpon salah satu koleganya yang memiliki tambang batu bara di Kalimantan, untuk merumahkan karyawan bernama Andi Cahyono.

__ADS_1


Umi Fatimah baru ingat, putranya pernah bercerita, pernah menginvestasikan uang cukup besar di perusahaan pertambangan.


Rara melotot kaget, lelaki itu benar-benar diluar pemikirannya.


__ADS_2