
Rara mendorong keras lelaki itu, "apa kamu gila? Bukankah itu wine, kamu meminumkan wine pada aku?"ungkapnya marah,
Fernando hanya menyunggingkan senyumannya, dengan santainya ia kembali menuang cairan berwarna merah itu ke dalam gelas berkakiĀ itu, ia menggoyangkan kembali gelas itu dan kembali meminumnya perlahan, ia berdiri dan menatap kekasihnya dengan pandangan sulit diartikan.
Rara yang masih kesal memilih beranjak menuju toilet, entah apa yang dilakukan wanita itu didalam, karena sudah lima menit berlalu dia masih betah didalam sana.
Setelah sepuluh menit, wanita itu baru saja keluar dari dalam sana, wajahnya basah, ia menatap Fernando penuh amarah, lalu memilih mengambil bantal dan menaruhnya di sofa, ia memilih untuk tidur di sana.
Lagi-lagi Fernando menyunggingkan senyumannya, ia mendekati gadisnya, lalu mengungkungnya, dan ia berbisik, "Ra, kamu pilih aku ngelakuin disini atau di ranjang, kamu tau kan apa yang aku maksud?"
Rara yang tadinya memejamkan matanya, sontak membukanya, ia menatap lelaki itu kesal, "kamu mabuk, aku nggak mau dekat kamu,"
"Sebotol wine nggak akan buat aku mabuk Ra, jadi apa kamu kita main disini? Seru kayaknya,"ucap Fernando dengan tatapan mesum.
Rara duduk bersandar, "mas, hari ini aku capek banget, tadi banyak kerjaan di kantor, ini kan akhir bulan, aku harus kasih laporan sama bos aku, aku mau tidur,"keluhnya.
"Rara sayang, kita udah sebulan nggak ketemu loh, ini rekor terlama aku nggak berhubungan intim, please Ra, aku kepengin banget,"
"Oh ya? Bukannya tadi udah mau ons sama Felicia ya! Sayang aku ganggu, gagal deh, ya udah silahkan kamu hubungi dia, untuk berhubungan sama kamu,"
"Ra kamu pacar aku, masa giliran main aku mesti sama cewek lain,"
"Bukannya dulu kamu sering berburu wanita cantik kan, kenapa nggak dilakuin lagi?"
"Kenapa sih Ra, aku serba salah tau nggak sih, aku udah coba setia loh sama kamu, hargai aku dong, seenggaknya kamu kan pacar aku, kenapa nggak mau berhubungan sama aku? Aku butuh itu Ra,"
"Nggak bisa aku lagi dapet,"jawab Rara berdusta.
"Ra kamu mau bohong lagi sama aku, kamu kan tadi ganti depan aku, dan aku nggak lihat tuh kamu pakai pembalut,"
Rara memutar bola matanya mencari alasan untuk menolak, "belum bersih kok,"Jawabnya gugup,
Fernando bangkit, ia kembali menuju sisi ranjang, ia meminum sisa wine langsung dari botolnya.
Rara melotot kaget, lelaki itu benar-benar gila, dan yang lebih gila lagi adalah dirinya yang mau-maunya bersama lelaki itu.
Lelaki itu menghampiri kembali kekasihnya, tanpa banyak bicara, ia menggendongnya, dan merebahkannya disisi ranjang, lalu dirinya tertidur di samping wanita itu sambil memeluknya.
Fernando mengelus rambut beraroma strawberry itu, sepertinya malam ini ia akan tidur lebih nyenyak,
Tak lama terdengar nafas teratur dari kedua sejoli itu.
Rara yang sudah terbiasa bangun di pagi buta, membuka matanya, hal yang pertama dilihatnya, adalah rambut cokelat kekasihnya,
Lelaki itu menyusupkan kepalanya tepat di dada milik kekasihnya.
Rara mengelus rambut dengan aroma strawberry, lelaki itu pasti memakai shampo miliknya semalam.
Pikiran Rara menerawang, sungguh rasanya ia masih marah dengan lelaki ini, mengingat kejadian semalam saat Fernando bersama dengan wanita lain, ia akui ia cemburu dan tak rela, tapi ia tak berdaya jika berhadapan lelaki ini, bodoh sekali dirinya.
__ADS_1
Rara masih memiliki waktu dua hari bersama lelaki ini, ia tau betul setidaknya harus membantu menyalurkan hasrat lelaki itu, sebenarnya ia malas sekali, setiap melakukannya, ia teringat kalau tubuh milik lelaki itu sudah dijamah berkali-kali oleh wanita lain, sampai saat ini ia tidak rela.
Memikirkan itu Rara jadi kesal, tanpa sadar ia menjambak rambut lelaki itu kuat, hingga terdengar teriakan keluar dari mulut Fernando.
"Rara kamu apa-apaan sih, kenapa rambut aku dijambak?"ucap lelaki itu kesal karena tidurnya terganggu.
"Aku sebel punya pacar kayak kamu,"ungkap Rara jujur.
"Kalau mau kesal, nanti aja Ra, aku masih ngantuk,"
"Ya udah tidur lagi deh, maaf aku ganggu kamu,"
"Udah nggak bisa, sekarang kamu harus melakukan kegiatan yang tertunda semalam,"
"Emang ngapain?" Tanya Rara bingung.
Tak banyak bicara lelaki itu memulai aksinya, ia mencumbui kekasihnya, dan Rara hanya bisa pasrah melayani nafsu besar lelaki itu.
Hingga lenguhan panjang keluar dari mulut Fernando, rasanya lega sekali, setelah sebulan ia menahan hasratnya.
Lelaki itu ambruk di dada wanitanya, keduanya terengah-engah setelah melakukan olahraga ranjang di pagi buta.
Usai membersihkan diri secara bersama-sama, keduanya kembali merebahkan diri di ranjang,
Dengan senyum mengembang dan wajah berseri-seri, Fernando mengelus rambut hitam kekasihnya, "hari ini apa yang ingin kamu lakukan?"tanyanya.
Rara terdiam berfikir, lalu berkata, "aku ingin istirahat sampai siang, yang jelas aku nggak bisa ke Malang,"
"Apa aja mas, yang penting halal,"
"Oke, kita sarapan di kamar aja ya!"
Rara mengangguk, ia kembali memejamkan matanya, dan Fernando menghubungi pihak hotel untuk menyiapkan sarapan satu jam lagi.
Usai beberapa kali mengulangi kegiatan panasnya, hingga siang hari, keduanya membatalkan rencananya untuk keluar dari kamar, mereka lebih memilih tidur kembali, bahkan melewatkan makan siang.
Hingga sore hari, Fernando bangun terlebih dahulu, ia mendapati dirinya tertidur menghadap leher kekasihnya, ada beberapa tanda cinta yang ia buat dileher milik wanitanya, ia tersenyum sendiri mengingat kegiatan panas mereka sedari tadi pagi, rasanya menyenangkan sekali.
Entah mengapa, jika dekat dengan Amara Cahyani, hasratnya bangkit, meskipun wanita itu tidak melakukan apapun, hanya diam tak berbuat apa-apa.
Berbeda sekali dengan mantan-mantannya dulu, biasanya mereka harus memakai lingerie dulu dan menggodanya terlebih dahulu, barulah hasratnya bangkit.
Fernando tersenyum sendiri, namun senyumnya mendadak sirna, saat teringat, selama ini wanitanya telah membohonginya,
Ia teringat semalam ia meminta tolong Alex untuk mencari tau tentang apa yang dilakukan wanitanya,
Fernando bangkit perlahan, ia teringat meletakan ponselnya di sofa, ia mengeceknya, ada beberapa pesan juga panggilan tak terjawab dari nomor asing,
Hanya sekilas ia mengetahui siapa yang mengirimi pesan, beberapa mantannya, yang memintanya bertemu, termasuk Felicia, lelaki itu segera memblokir satu-satu nomor mantan-mantannya itu.
__ADS_1
Lalu ia membuka email-nya, ada pesan dari orang suruhan Alex, ada beberapa laporan terkait transaksi atas nama Amara Cahyani, dibeberapa ATM di ibukota, juga pembelian tiket pesawat pulang pergi Jakarta- Surabaya,
Fernando menyunggingkan senyumannya, ia mengirimkan fee untuk orang suruhan Alex, meskipun mereka bersahabat, bisnis adalah bisnis, tidak ada kata gratis untuk sebuah pekerjaan.
Alex selain berprofesi sebagai pengacara, ia juga mengelola kantor notaris dan penyedia jasa keamanan juga jasa detektif swasta.
Fernando memilih membersihkan diri, terlebih dahulu sebelum membangunkan wanitanya yang masih tertidur lelap dengan tubuh polos dibalik selimut tebal itu.
Ada sebuah benda kenyal nan basah mengecup bibir wanita yang tengah memejamkan matanya, juga bisikan lembut, "Rara sayang, kalau kamu nggak bangun, kita main lagi ya!"
Mendengar hal itu, sontak Rara membuka matanya lebar-lebar, ia melihat kekasihnya sedang tersenyum yang menurutnya menyebalkan.
"Bangun sayang, kita makan yuk!"ajak Fernando sambil mengelus kepala wanitanya.
"Aku mandi dulu mas,"ujarnya mulai duduk,
"Mau aku bantu mandi?"tawar lelaki itu menggoda,
Rara menggeleng, "tidak terima kasih, aku tau isi pikiran kamu, jadi stop lakukan itu karena badan aku rasanya mau remuk,"
Keluhnya.
"Aku pijit sini,"
"Mas, aku tau arah pikiran kamu jadi stop, aku mau mandi,"ujarnya seraya bangkit, sambil melilitkan selimut,
"Sayang aku udah lihat semua, jadi nggak usah malu-malu,"goda lelaki itu.
Rara tak menanggapi, ia hanya menanggalkan selimut itu tepat didepan pintu kamar mandi.
Fernando tertawa terbahak-bahak melihat polah wanitanya yang menurutnya lucu, ia memungut selimut itu, dan melipat rapih dan meletakkannya di ranjang.
Tak berapa lama, Rara keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit ditubuhnya, seperti sudah otomatis, Fernando membantu mengeringkan rambut dibawah bahu wanitanya,
"Rara sayang, aku baru lihat kamu pakai poni, perasaan terakhir aku video call dua malam yang lalu, kamu belum pakai poni deh,"
"Ini kemarin aku iseng sama Dini, potong poni di kantor, biar tampil beda kata dia, aneh atau nggak pantes ya!"
"Nggak ko sayang, aku suka, jadi ditempat kerja kamu, ada beberapa orang yang satu ruangan sama kamu?"tanya Fernando menyelidik,
"Em.. ada Dini sama Liana, mereka staf keuangan, terus ada staf marketing, ada siska, Ferry, Tomi, Emil dan Leo,"
"Kamu satu ruangan sama laki-laki lain?"tanyanya kesal.
"Iya, tapi mereka jarang di ruangan, paling pagi buat ambil kerjaan atau kasih laporan, abis itu mereka kerja lapangan, sore ngasih laporan lagi, jadi jarang ketemu juga, kenapa emang kok kamu nanya gitu,"
"Terus kamu pernah diantar sama mereka?"
"Ada beberapa kali sih, cuman sampai stasiun, lumayan kan menghemat tenaga,"
__ADS_1
Mendengar itu mendadak mood Fernando turun drastis, ia cemburu, wanitanya dekat dengan lelaki lain.