Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima puluh


__ADS_3

Sambil menyelam minum air, itulah sebuah pepatah lama yang sedang Fernando lakukan, ia bekerja, sekaligus berbulan madu pasca istrinya melahirkan.


Mencoba secara perdana fasilitas kamar untuk pasangan bulan madu di villa itu, meskipun beberapa kali kegiatannya harus tertunda karena urusan pekerjaan atau putri kecilnya yang menangis haus atau diaper penuh.


Andai saja ia bisa menghabiskan waktunya hanya berdua dengan istrinya, saling berbagi peluh, mungkin akan sangat menyenangkan.


Hanya saja, sepertinya kegiatan itu harus tertunda dulu, ada banyak yang harus dikerjakannya selama dua hari ini.


Urusan di villa beres, ia bersama istri dan putrinya menuju Sukabumi.


Umi Fatimah menyambut cucu dan menantunya dengan bahagia.


Nicholas yang memang sudah akrab dengan ibu sambung dan adiknya, juga senang dengan kedatangan mereka.


Hal itu sempat membuat Fernando heran dengan kedekatan putra dan istrinya.


Mumpung sedang kembali ke Sukabumi, Fernando mengantarkan putranya menuju sekolah.


Dalam perjalanan, ayah dan anak itu mengobrol,


"Son sejak kapan kamu akrab dengan istri Daddy?"tanyanya sambil mengemudikan mobilnya.


"Sejak Daddy meninggalkan Tante Rara dan tidak ada kabar,"jawabnya.


"Kenapa saat Daddy kesini beberapa waktu yang lalu kamu tidak menceritakannya pada Daddy?"


"Untuk apa?"


"Rara istri Daddy son, apapun yang berhubungan dengannya, Daddy harus tau,"


"Tapi Tante Rara adalah ibu aku disini, juga ibu dari adik aku Arana,"


Fernando melirik putranya sinis, "kamu mengakui Rara sebagai ibu kamu, tapi kenapa masih memanggilnya Tante Rara?"


"Aku takut Tante Rara tidak suka, bagaimanapun aku adalah aib bagi kalian,"


"Son, istri Daddy bukan orang yang seperti itu, dia adalah wanita paling tulus selain Nini yang Daddy kenal, dia luar biasa son,"


"Bolehkah aku memanggilnya Uma, seperti yang biasa dia memanggil dirinya sendiri saat mengajak Arana bicara,"


"Tentu son, kenapa tidak? Rara pasti bahagia,"


"Baiklah Daddy,"


Sempat hening sejenak, hingga Fernando kembali berbicara, "son, Daddy akan membangun rumah untuk kita, kalau seandainya ada yang kamu inginkan, misalnya tentang design kamar, kamu bisa beri tau Daddy, tapi selama pembangunan nanti kita untuk sementara tinggal di Apartemen, apa kamu keberatan?"

__ADS_1


Remaja itu menggeleng,


Mobil berhenti tepat didepan pagar sekolah, Nicholas berpamitan pada daddy-nya, Fernando berpesan nanti siang yang menjemputnya mungkin aki Hendi, dirinya akan ada pekerjaan.


Memastikan putranya masuk ke dalam sekolah, Fernando  melajukan mobilnya kembali ke rumah umi Fatimah, ia akan mengajak istrinya mengunjungi villa milik Benedict yang ada di Bogor.


Sesampainya di rumah, Fernando memastikan persediaan ASI yang cukup untuk putrinya sampai setidaknya besok pagi.


Tadi pagi dirinya berbicara pada umi Fatimah, jika ia bermaksud menitipkan Arana pada nini-nya itu, tentu dengan senang hati nini-nya tidak keberatan.


Semua itu tanpa sepengetahuan Rara, tak mungkin mau wanita itu jika harus terpisah dari putrinya.


Dan disinilah pasangan suami istri itu sekarang, didalam mobil menuju villa di daerah puncak.


"Kita mau kemana sih mas, kenapa malah ke sini? Kamu bilang kita mau beli bibit, memangnya harus sejauh ini ya, terus kalo Arana nangis gimana?"ujar Rara ketika baru menyadari dirinya semakin jauh dari putrinya.


"Arana nggak mungkin rewel, ada kedua nini-nya, aki, dan kakaknya yang menjaganya, bukankah dari kemarin kamu udah perah ASI cukup banyak?"


"Kan kamu yang suruh, aku nurut aja, sebenarnya maksudnya apa sih?"


"Aku mau menghabiskan waktu berdua hanya dengan kamu, tanpa ada gangguan apapun,"


Rara melongo mendengar ucapan suaminya, "maksud kamu Arana sebagai gangguan buat kita begitu? kamu nggak ingat Arana itu siapa? Bahkan hampir semua yang ada di Arana diborong semua sama kamu, aku cuman kebagian jenis kelaminnya aja, bisa-bisanya kamu ngomong begitu,"tuturnya kesal.


"Aku nggak bermaksud begitu ya,  lagian umi juga seneng kalau dikasih kesempatan buat mengurus cucu perempuannya, beliau nggak enak kalau mau ngomong sama kamu,"


"Rara sayang sejak kapan aku merasa cukup kalau itu tentang kamu, andai bisa aku ingin menghabiskan semua waktu aku bersama kamu,"


Mendengar ucapan suaminya bukannya senang, Rara malah kesal, menurutnya suaminya egois, ia memilih diam tak menanggapi.


Mobil memasuki kawasan villa, tidak terlalu besar, hanya beberapa bangunan besar berisi beberapa kamar dimasing-masing bangunan.


Fernando disambut oleh penjaga villa, mamang Asep namanya, tak lupa memperkenalkan Rara sebagai istrinya.


Lelaki paruh baya itu menjelaskan tentang keadaan villa juga beberapa tamu yang sedang mengunjunginya.


Mang Asep memberikan kunci kamar yang biasa ditempati Fernando Jika berkunjung,


"Kayaknya ini bangunan lama ya mas?"tanya Rara begitu memasuki kamar, wanita itu berjalan menuju balkon melihat keadaan sekitar.


"Iya, belum pernah di renovasi sama sekali sejak pertama kali dibeli, mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun yang lalu,"jawabnya sambil meletakan ransel berisi beberapa potong baju miliknya dan istrinya, semalam ia merapihkan sendiri tanpa sepengetahuan wanita itu.


"Apa tidak ada rencana untuk renovasi?"tanya Rara.


"Belum kepikiran, nanti ajalah, proyek di Lembang aja, buat aku sibuk banget dan kerjaan aku yang lain nggak ke handle,"

__ADS_1


"Iya juga ya,"


Fernando menghampiri istrinya yang masih berdiri menghadap balkon, ia memeluk wanita itu dari belakang, ia membungkuk lalu meletakkan dagunya di bahu istrinya, "Rara sayang, aku minta supaya waktu yang terbatas ini kita gunakan sebaik-baiknya,"


Rara mengernyit bingung, "maksudnya?"


Fernando membalik tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya, "Rara sayang, aku ingin menghabiskan waktu berdua sama kamu, dari sekarang sampai besok pagi, selama tiga bulan lebih aku hanya bisa membayangkan kamu, nyaris gila rasanya, aku rindu kamu,"


"Lah, bukannya kemarin udah ya!"


Fernando mulai melepas jilbab milik istrinya dan melemparkannya ke sofa, "Rara sayang aku ingin bercinta sepanjang hari sama kamu, tadinya aku ingin mengajak kamu ke pulau punya Benedict, tapi karena Arana masih kecil, jadi aku memilih opsi lain,"


Rara menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan suaminya, "kalau mau gituan ngapain mesti jauh-jauh sih, di rumah juga bisa,  kamu repot deh,"


Fernando membelai rambut yang masih terikat itu, ia melepas ikatan itu, hingga tergerai lah rambut hitam milik istrinya, ia mulai menciuminya, Aroma khas yang hanya dimiliki istrinya.


Ia mulai memegang kedua sisi wajah istrinya, lalu mencium bibir merah merekah itu, bibir yang menjadi candunya, tak bosan rasanya, rasanya ingin memakannya.


Sementara Rara hanya bisa pasrah mengikuti alur yang dibuat suaminya.


Dua sejoli itu larut dalam gairah yang membuat mereka lupa daratan.


Suara ******* saling bersautan semakin membuat panas suasana.


Seakan tak mempedulikan apa yang terjadi diluar sana, keduanya melakukannya berkali-kali.


Berhenti hanya saat waktu ibadah dan makan, Fernando benar-benar tidak mau membuang waktu, ia memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.


Semua yang ada dalam fantasinya saat masih berjauhan dengan istrinya, akhirnya ia realisasikan.


Puas rasanya,


Mungkin ini akan jadi agenda wajibnya nanti, mungkin sebulan sekali, ia akan rutin menghabiskan waktu seharian penuh dengan istrinya, bercinta sepanjang hari, tanpa ada gangguan.


Dan kesekian kalinya lenguhan panjang saling bersautan, istrinya ambruk diatas tubuhnya,  ia menatap wajah berpeluh yang sedang mengatur nafasnya.


"Udah dulu ya mas, aku lelah,"


Fernando mengangguk lalu mencium kening itu lembut,


Rara yang sudah sedemikan lelah langsung tertidur begitu suaminya membaringkannya, bahkan tangannya tak sanggup untuk sekedar membersihkan bagian kewanitaannya.


Alhasil, Fernando yang membersihkan sisa percintaan keduanya.


Usai urusan bersih-bersih selesai, Fernando membaringkan tubuhnya di samping istrinya, ia memandang wajah lelah itu.

__ADS_1


Semakin hari rasa cintanya pada istrinya semakin bertambah, seolah tak ada bosannya.


__ADS_2