Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
empat puluh


__ADS_3

Sore harinya sepulang bekerja, Fernando mengajak Rara untuk memeriksakan kandungannya di rumah sakit tak jauh dari rumah Umi Fatimah.


Usai mengantri selama tiga puluh menit, kedua sejoli itu memasuki ruangan dokter kandungan,


Beberapa pertanyaan diajukan oleh dokter itu, hingga Rara dipersilahkan untuk menaiki ranjang, agar bisa dilakukan USG pada kandungannya.


Semua proses yang dilakukan dokter itu dibantu perawat, tak lepas dari mata hijau Fernando, dari mulai membuka bawah kemeja kerja milik Rara, sampai menurunkan sedikit celana formalnya.


Ada cairan seperti gel yang dioleskan di permukaan perut bawah Rara yang terlihat mulai membuncit.


Ada semacam alat yang ditempelkan di sana, lalu terlihat di layar tepat di atas Rara dan di samping dokter,


Dokter berjenis kelamin perempuan itu, menjelaskan segala kondisi janin,


Berat badan sang bayi, ukuran  dan segala hal, yang membuat Fernando tersenyum bahagia, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah,


Sayangnya karena masih terlalu kecil, jadi tidak bisa mengetahui jenis kelamin janin itu,


Setelah pemeriksaan itu selesai, Dokter menuliskan resep untuk ditebus juga mengingatkan pasien agar tidak terlalu lelah, karena tekanan darah Rara sedikit rendah.


Setelahnya kedua sejoli itu keluar dari ruang pemeriksaan menuju apotek untuk menebus resep dokter.


Fernando langsung mengajak Rara untuk pulang usai urusannya dengan rumah sakit selesai, mereka menuju rumah umi Fatimah.


Keduanya tiba usai azan isya berkumandang,


Setelah membersihkan diri, umi mengajak putra semata wayangnya dan calon menantunya untuk makan bersama.


Umi memasak sendiri hidangan itu, ada sayur bening bayam, tahu, tempe dan ayam goreng, tak ketinggalan sambal terasi yang ditempatkannya di cobek berukuran kecil.


Rara berinisiatif mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk pauk untuk calon mertuanya, umi Fatimah senang melihatnya, walau belum sah menjadi menantunya, tetapi wanita paruh baya itu bersyukur bisa mendapatkan calon menantu seperti Rara.

__ADS_1


Usai melayani calon mertua, giliran Rara melayani calon suaminya, tak lupa menanyakan apa yang diinginkan lelaki itu.


Sesuatu yang diimpikan Fernando, makan bersama dua wanita yang dicintainya dan mungkin beberapa tahun lagi, ada anaknya yang hadir untuk makan bersama ditengah-tengah mereka, membayangkan itu, membuatnya tersenyum sendiri.


Hingga hidangan itu habis, hanya beberapa obrolan tentang makanan yang sedang mereka makan.


Umi Fatimah menyuruh putranya untuk mencuci piring, dengan alasan, Rara tidak boleh lelah karena sedang hamil muda, tentu saja hal itu membuat Fernando menuruti perintah Uminya.


Sedangkan Rara dan Umi Fatimah duduk di ruang tengah sambil menikmati puding dengan potongan strawberry didalamnya,


"Kamu tau Ra, putra umi paling malas kalau disuruh cuci piring, atau mengerjakan apapun pekerjaan rumah, walau Nando itu benci sesuatu yang berantakan, namun ia paling malas kalau disuruh beres-beres,"ungkap Umi Fatimah sambil memperhatikan punggung putranya yang sedang mencuci piring di dapur.


"Pantas saja tadi pagi, Rara nyapu sama ngepel, mas Nando cuek aja, nggak ada basa-basi buat bantuin gitu, cuman ngelarang doang," jelasnya mengingat kejadian tadi pagi.


Umi tertawa, "yang sabar Ra, umi kasih tau sesuatu yang lebih parah dari malas beberes, Nando sekalinya sakit, luar biasa manjanya, udah Segede gitu, kalau sakit maunya ditungguin, nggak mau sama sekali ditinggal, untung anak umi cuman satu, setidaknya nggak terlalu repot, kamu tau, saat mau lulus SD Nando sudah jadi anak Yatim,"


Rara mengangguk, "lalu dulu saat umi mengajar, yang jagain mas Nando siapa?"tanyanya.


"Ada nini-nya, tapi udah meninggal saat Nando SMP, "


"Wah, kalau bisa dibilang Nando luar biasa, umi beberapa kali dipanggil, gara-gara Nando buat ulah, dia menghajar teman sekelasnya saat elementary school, sepeninggal Vatre, Kami kembali ke sini, lalu sewaktu SMP, Fernando berubah lebih pendiam dikarenakan terpuruk, Nini-nya meninggal, tapi begitu memasuki masa SMA, dia mulai sering buat masalah, apa Rara kenal dengan sahabatnya yang bernama Ben?"


"Rara pernah dengar mas Nando bercerita tentang sahabatnya, tapi aku tidak pernah bertemu langsung atau dikenalkan,"


"Dulu sewaktu SMA, Nando sering berkelahi dengan Ben, dari masalah sepele hingga persaingan mendapat peringkat pertama, sering sekali pulang sekolah wajahnya babak belur, dan beberapa kali umi dipanggil ke sekolah, bahkan mereka hampir dikeluarkan dari sekolah, tapi karena prestasinya, pihak sekolah tetap memberi kesempatan mereka bersekolah hingga lulus, yang buat Umi heran, mereka tetap bersahabat bahkan Ben mempercayakan resort miliknya untuk dikelola oleh Nando, walau terkadang Umi dengar dari Rama, keduanya  sering berdebat masalah pekerjaan,"


"Lucu juga persahabatan mereka ya mi, Rara juga punya sahabat, biasanya kami bertiga, ada Dia sama Dikta, kami selalu bersama, kami nyaris tidak pernah bertengkar, tapi karena harus melanjutkan pendidikan di luar kota, kami jadi lost kontak,"


Tiba-tiba cup, dengan santai Fernando mencium pipi kekasihnya di depan uminya,


"Nando..."umi memperingatkan.

__ADS_1


"Cuman pipi umi sayang,"ujarnya sambil duduk di samping kekasihnya.


"Oh ya mi, tadi siang Nando, udah telpon Tante Susi, katanya beliau mau menemani umi liburan sekalian Rani ikut katanya,"


"Apa Tante Anna tidak kamu ajak?"tanya Umi Fatimah.


"Aku mau ajak, tapi si anak bangsat malah bentak Nando, ya udah, nggak jadi deh,"jawabnya memelas.


"Ya udah nanti umi sendiri yang telpon Tante Anna,"


Ketiganya masih berbicara seputar kehamilan Rara hingga pukul setengah sepuluh malam.


Saat hendak tidur perdebatan terjadi, umi meminta Rara tidur dengannya, namun dengan tegas, Fernando menolak permintaan uminya, ia juga berjanji tidak akan berbuat aneh-aneh.


Keesokan paginya Rara ijin tidak bekerja, itu dikarenakan permintaan dari kekasihnya, dengan alasan hari ini, merupakan hari terakhir lelaki itu berada di negara ini.


Karena tak mau mengotori rumah uminya dengan dosa, Fernando mengajak Rara menuju apartemen miliknya.


Lelaki itu seakan sedang men-charge dirinya, dikarenakan  ia akan ke luar negeri, untuk urusan pekerjaan, entah berapa lama dia di sana.


Sedari memasuki unit apartemen, Fernando tak membuang waktu, lelaki itu langsung mencumbui kekasihnya,


Hampir semua sudut apartemen menjadi saksi bisu bagaimana kegiatan panas itu berlangsung.


Meski tak bisa melakukannya dengan keras, karena ada bayi Mereka, setidaknya Fernando masih bisa mengendalikan dirinya.


Beberapa kali lenguhan keluar dari mulut lelaki tampan itu, menandakan betapa ia puas dengan kegiatan itu.


Mereka hanya berhenti jika lelah atau lapar, untuk makan pun keduanya memilih memesan makanan lewat ojol.


"Ra, selama aku nggak ada kamu nggak boleh pergi dari rumah umi, pokoknya aku pulang dari Amerika, kamu harus ada di rumah umi,"

__ADS_1


"Iya mas,"


Seolah tidak ada bosannya, Fernando melakukannya lagi hingga waktu senja tiba.


__ADS_2