
Sepeninggal Suaminya bekerja, Rara kembali menjalani rutinitas sebagai mana mestinya.
Nicholas yang kembali bersekolah, akan diantar jemput olehnya.
Kebiasaannya ketika pekerjaan rumah selesai, sambil menunggu putranya pulang, Rara akan mengunjungi Cristy.
Tak lupa membawakan Tas dengan brand ternama yang dibelinya di New York.
Sedangkan untuk Fitri dikiriminya via jasa ekspedisi.
Cristy mengelola usahanya dengan baik, bahkan saking banyaknya pesanan, rumah milik Rara tak bisa lagi menampungnya.
Sehingga Cristy menyarankan untuk menyewa toko dipinggir jalan.
Rara menyetujui rencana sahabatnya.
"Oh ya mbak, Abis lebaran ke Bali yuk, ajak Fitri juga,"
"kenapa mesti ke Bali sih Ra, aku punya kenangan memalukan di sana,"
Rara tertawa, ia teringat awal dirinya mengenal Cristy.
"Bali luas mbak, kita bisa berkunjung ke resort yang lain,"
"nggak janji Ra,"
"mbak belum move on ya?"
"nggak perlu dibahas Ra,"
"Hanya ingin memastikan aja mbak, emang segitu dalamnya ya mbak?"
Cristy mengangguk,
Merasa salah bicara, Rara meminta maaf,
"Tapi kamu tenang aja, aku nggak akan melakukan hal bodoh itu lagi, aku udah mengikhlaskan semuanya, dan hidupku lebih tenang,"
"Sejujurnya aku mengajak mbak Cristy join, karena rasa bersalahku mbak, karena kehadiran aku, membuat hidup mbak jadi begini,"
Cristy menggeleng, "dengan atau tanpa kehadiran kamu, hubungan itu seharusnya memang berakhir, awalnya perbedaan keyakinan, tapi seiring berjalannya waktu aku sadar, dia nggak pernah cinta sama aku, jika hubungan itu dilanjutkan, pasti rasanya hambar, jadi jangan pernah merasa bersalah,"
"Apa mbak nggak mencoba untuk membuka hati?"tanya Rara.
"Aku bukan perempuan sempurna Ra, aku mandul, masa lalu aku kelam, mungkin tidak akan ada seorang ibu yang mengijinkan putranya menikah dengan aku,"
Cristy telah menceritakan tentang masa lalunya pada Rara, sejak papi dan maminya bercerai, di lecehkan oleh pacar maminya, hamil dan dipaksa aborsi, kuliah dibiayai mantan wali kelasnya, lulus kuliah sempat bekerja di kantor, hingga dikejar-kejar penagih utang, dan berakhir ditempat prostitusi, lalu ditawari oleh pelanggannya menjadi model, dari situ ia bertemu dengan Fernando, untuk pertama kalinya ada laki-laki yang menghargainya tentu akan bisa ia lepaskan dengan mudah.
Kehidupannya berubah drastis sejak mengenal lelaki itu, ia diberi tempat tinggal yang sangat layak, mobil, dan uang bulanan.
Rara bisa mengerti kenapa dulu Cristy tak terima diputuskan oleh Fernando, karena segala kenyamanan yang diberikan lelaki itu hilang seketika, walau diberi kompensasi cukup besar, tali karet karena harus menanggung hutang maminya, ia harus kehilangan segalanya.
Cristy juga mengaku saking tidak punya uang, ia tak makan seharian.
__ADS_1
Beruntung salah satu teman SMA menawarinya pekerjaan sebagai kasir supermarket market.
Hidup jatuh bangun telah dialami wanita berwajah oriental itu,
Meskipun pernah merasakan mewahnya menjadi kekasih Fernando, sekarang ia tak ada niatan untuk merebut lelaki itu dari Rara, karena ia sadar diri jika istri dari mantan pacarnya adalah orang yang tulus, memberikan tempat tinggal nyaman tanpa membayar sewa, belum lagi usaha online yang dijalankannya.
Biarpun sedikit tapi lancar, Rara mengajarkan tentang menerima takdir yang sudah digariskan dengan ikhlas dan hidup apa adanya tanpa mengharapkan pujian orang lain.
Cristy juga telah berdamai dengan masa lalunya yang kelam, walau sepertinya ia tak akan mau menerima maminya jika nantinya bebas dari penjara.
Hingga saat ini, Cristy sama sekali belum pernah menjenguk maminya.
Walau kadang Rara menasehatinya untuk menjenguk wanita yang melahirkannya, namun hingga saat ini, hati Cristy belum tergerak melakukannya.
Hingga saat ini, Cristy masih menikmati kesendiriannya, wajah cantiknya memang banyak menarik perhatian, apalagi lingkungan tempat tinggalnya sekarang, namun karena merasa dirinya tak sempurna, ia tak mau mengambil resiko akan patah hati lagi.
"aku percaya, suatu saat akan ada lelaki yang mau menerima mbak Cristy,"
"makasih ya Ra, kamu mau menerima aku, meskipun kamu tau benar siapa aku,"
"sama-sama mbak, tapi masalah liburan mau ya, kita cari tempat yang jauh dari resort yang dikelola mas Nando,"
"Memangnya boleh Ra?"
"kayaknya mas Nando bakal balik ke Amerika lagi, ada acara di sana, nah pas itu, kita jalan deh,"jawab Rara.
"Memangnya kamu nggak ikut?"
"Terserah kamu lah, tapi aku cuman minta supaya kita jauh dari resort yang dikelola suami kamu,"
"iya deh, ini kalau bukan Fitri yang usul, mendingan kita ke Lembang aja, masalahnya dia belum pernah ke Bali,"
"terus Sandra sama Sinta diajak nggak?"
"aku belum tawarin, kemungkinan kalau mbak Sinta, kayaknya diajak mas Rama ke Amerika, kalau mbak Sandra nggak tau deh,"
Selanjutnya mereka membahas masalah bisnis online yang dijalankan.
Jam pulang sekolah Rara sudah berada di pelataran sekolah menjemput putranya.
Pintu belakang mobil terbuka, Nicholas masuk dan duduk di samping adiknya, remaja itu mengambil hand sanitizer terlebih dahulu.
"Sebelum pulang, Uma mau ke toko perabotan rumah tangga, nggak apa-apa kan?"
Nicholas menyetujuinya.
Karena rumah telah selesai dibangun, Rara tinggal mengisi perabotan.
Hanya alat-alat dapur untuk keperluan memasak.
Malam hari Rara sedang mendampingi putranya belajar,
"Uma, mommy bilang akan menikah,"ucap Nicholas.
__ADS_1
"syukurlah kalau begitu,"
"Iya, dan besok aku akan diajak makan siang bersama sekaligus dikenalkan ke calon suami mommy,"
"Baiklah, itu artinya Mommy yang akan jemput kamu begitu?"
Remaja itu mengangguk,
Keesokan harinya setelah mengantar putranya ke sekolah, Rara mengunjungi salah satu kantor design interior atas perintah suaminya.
Tadi pagi, Fernando menghubunginya untuk menggunakan jasa design interior yang merupakan teman kuliahnya dulu.
Tidak lama Rara berada di sana, hanya sekedar berkenalan dan memilih konsep yang akan digunakan di rumah barunya.
Mereka berencana untuk meninjau langsung rumah esok harinya.
Nicholas baru kembali malam hari, remaja itu juga membawakan undangan pernikahan Tamara dan calon suaminya.
Remaja itu bercerita tentang calon papa tirinya yang merupakan kolega bisnis kakeknya.
Menjelang dini hari, Rara terbangun, ada yang memeluknya dari belakang.
Ia mengenali aromanya, itu suaminya, "mas, kapan kamu pulang?"tanyanya.
"baru saja,"jawab lelaki itu.
"memangnya urusan di sana sudah selesai?"tanya Rara lagi,
"udah, aku minta cuti sebelum balik ke Amerika, aku tau kamu nggak akan mau ikut kan?"
"itu tau, berapa lama kamu disini?"
"tunggu Ayu menyetujuinya,"
"kalau Dia nggak setuju gimana?"
"kamu kan sahabatnya, coba beritahu Ayu,"
"bukannya Dia lebih dengerin kamu ya!"
"jangan mulai Amara, aku nggak mungkin macam-macam sama Ayu,"
"aku nggak mikir macem-macem kok,"
"aku tau isi pikiran kamu Amara, kamu itu cemburu kalau aku dekat dengan Ayu,"
"nggak usah dibahas, tidur yuk, aku ngantuk,"
"emang kamu nggak kangen sama aku?"
"besok pagi aja ya mas, aku ngantuk,"
"Oke,"ucap Fernando menyetujui.
__ADS_1