Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh tujuh


__ADS_3

Rara sampai di stasiun tujuan hampir pukul dua puluh dua.


Hari sudah malam, suasana stasiun tidak terlalu ramai, Rara memilih duduk di kursi tunggu penumpang yang ada di sana.


Rara memesan taksi online yang akan membawanya ke rumah Mbah Sarmi.


Setelah ia mendapatkan taksi online itu, ia menghubungi drivernya, mereka bersepakat akan bertemu di depan gerbang masuk stasiun, Karena taksi online tidak diperkenankan masuk oleh komunitas taksi konvensional di sana.


Usai menyelesaikan panggilan, saat hendak memasukan ponselnya ke saku gamisnya, ponsel itu terjatuh dan sialnya tak sengaja terinjak oleh orang yang kebetulan lewat dan


Krek.... Ponsel itu retak dan mati seketika.


Si penginjak yang menyadari kesalahannya meminta maaf namun tidak bisa mengganti ponsel milik Rara yang harganya lumayan mahal.


Rara bisa melihat wajah ketakutan lelaki muda itu, "udah nggak usah ganti, tapi lain kali hati-hati ya!"


Lelaki muda itu berterima kasih sampai beberapa kali menunduk, dan Rara memaafkannya dan mengijinkan lelaki muda itu pergi.


Menyadari jika dirinya telah di tunggu driver taksi online, Rara bergegas menarik kopernya dan mendorong stroller menuju pintu gerbang masuk stasiun.


Rara bersyukur driver telah menunggunya, beruntung ia ingat plat nomor dan nama driver taksi online yang tadi ia pesan.


Perjalanan dari stasiun menuju rumah Mbah Sarmi memakan waktu sekitar tiga puluh menit.


Jalanan desa di jam dua puluh dua sangat sepi, bahkan tak terlihat ada kendaraan yang lewat.


Lampu penerangan juga tidak banyak membantu, suasana gelap di kanan kiri jalan, hanya terang dari lampu mobil juga lampu dari depan rumah penduduk yang dilewati, itupun jarak rumah satu dari lainnya tidak dekat.


Rara dan driver taksi itu mengobrol hal remeh temeh tentang hal random untuk mengusir rasa bosan, sementara Arana tidur lelap dalam gendongannya.


Hingga mobil berhenti tepat di depan rumah Mbah Sarmi, Rara memberi lebih pada driver itu disertai ucapan terima kasih.


Benar-benar sepi sekali, tak ada penduduk yang keluar di jam seperti sekarang.


Rara mendorong stroller lalu menarik koper miliknya, ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Mbah Sarmi.


Rumah tradisional Jawa yang setengah tembok sementara setengahnya lagi masih kayu.


Rara mengucapkan salam lalu mengetuk pintu, hingga dua kali dan Pintu terbuka, Fitri yang membukanya.


Gadis itu sengaja menginap untuk menunggu kedatangan Rara setelah tau jika wanita itu akan berkunjung.

__ADS_1


Ruang tamu Mbah Sarmi yang luas banyak terdapat barang dagangan keduanya.


Setelah berbasa-basi, Rara menitipkan Arana, agar dirinya bisa membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat jamak isya Magrib.


Selesai urusan ibadah, Fitri sempat menawarinya makan malam, namun Rara menolaknya dengan halus, tadi saat di kereta ia sempat memesan makan malam dari petugas.


Dan disinilah keduanya dengan Arana yang ada ditengah-tengah,


Fitri mengatakan jika Mbah Sarmi telat tidur selepas shalat isya, tapi perempuan itu tau, jika Rara akan datang.


Gadis itu bercerita, jika tadi sore barang dagangan mereka baru datang dari produsen, sehingga barang menumpuk di ruang tamu.


Keduanya tidur sekitar jam dua puluh tiga lewat.


Rara terbangun ketika Arana menangis, bayi itu sepertinya haus, wanita itu duduk bersandar di head board ranjang, ia menggendong putrinya, lalu menyusuinya.


Ia melihat Fitri yang masih terlelap berselimut dan memeluk guling.


Waktu menunjukan pukul empat pagi, sekitar sepuluh menit, Arana kembali tidur, dengan berhati-hati Rara bangkit usai meletakan putrinya di samping Fitri.


Ia bergegas ke dapur untuk membersihkan diri dan bersiap untuk shalat subuh.


Di dapur ia bertemu Mbah Sarmi yang sedang memasak air di tungku, Rara menyapanya, mencium tangannya lalu memeluknya.


Keduanya bercerita sejenak, sebelum bersiap untuk shalat subuh setelah bergantian mengambil wudhu.


Tak lama Fitri bangun menyusul keduanya.


Mereka shalat subuh berjamaah dengan Fitri yang menjadi imam.


Usai shalat mereka mengaji secara bersama-sama.


Mereka juga memasak bersama untuk sarapan, kegiatan yang dirindukan oleh Rara.


Meski memasak serba tradisional menggunakan kayu bakar, tapi itu hal yang menyenangkan bagi Rara.


Jam enam sajian telah siap, mereka sarapan bersama,


Rara tertawa lepas ketika mendengar candaan yang di lontarkan Fitri,


Tepat sekali keputusannya untuk mengunjungi Mbah Sarmi, disini dirinya merasa tenang dan damai.

__ADS_1


Rasanya masalah yang menimpanya beberapa bulan kebelakang menguap terlupakan, karena rasa bahagia berada di tempat ini.


Keramahan dan senyum tulus Mbah Sarmi membuat Rara lebih tenang.


Dua kali ia datang ketempat ini dalam keadaan gundah gulana, sedang bermasalah dengan lelaki yang sama, hanya saja kali ini berbeda.


Rasanya betah sekali, andai bisa ia ingin tinggal di desa ini saja, membesarkan putrinya dengan tenang, apakah bisa?


Tak apa hidup sederhana, tak apa jika ia harus ke ladang dan sawah, tak apa jika disini tak seterang di kota saat malam, sekali lagi apakah bisa?


Apa lelaki itu mau merelakannya?


Hingga semalam lelaki itu tidak menghubunginya sama sekali, ada tanya dalam hatinya, Apa lelaki itu lupa padanya?


Kalau memang harus berpisah, Rara pikir itu lebih baik, meskipun sisi hatinya yang lain tidak rela, karena ia mencintai lelaki itu, dan lelaki itu juga ayah dari putrinya, tapi mungkin ini yang terbaik.


Dari drama  yang ia tonton di televisi, ia bisa tau kehidupan anggota mafia itu tidak tenang, setiap saat nyawa mereka akan terancam.


Sudah ada Arana di hidupnya, ia tidak ingin mati cepat hanya karena ia istri dari Fernando.


Rara menggeleng, sekarang ia sedang berada di gubuk ladang milik Mbah Sarmi,


Ia menemani Fitri memetik kacang panjang dan cabai di sana.


Yang ia sukai disini adalah orang-orang disekelilingnya tidak pernah bertanya-tanya tentang alasan ia datang, tentang kegundahannya dan kehidupannya di luar sana.


Mereka hanya bertanya kabar, tak lebih, paling hanya membahas soal hal seputar desa.


Termasuk Fitri, gadis itu hanya bertanya sekitar bisnis saja, padahal gadis seumuran Fitri biasanya banyak bertanya tentang ini itu.


Itulah yang ia kagumi dari penduduk desa disini, mereka benar-benar menghargai privasi masing-masing.


Dari ladang, mereka pulang kembali ke rumah Mbah Sarmi.


Sekitar jam sembilan nanti, keduanya akan mulai bekerja, mengerjakan pesanan yang telah menumpuk.


Rara berharap Arana tidak rewel seperti biasanya, agar pekerjaannya bisa berjalan lancar.


Mulai sekarang ia akan hidup dari uang yang ia hasilkan sendiri.


Jadi ia harus lebih bekerja keras agar bisa menabung untuk masa depan Arana.

__ADS_1


Ia berharap akan ada hari membahagiakan disisa hidupnya, meskipun tanpa kehadiran lelaki itu.


Walau ada rindu terselip di hatinya, namun ia harus menepis semua itu, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidupnya akan baik-baik saja setelah ini.


__ADS_2