Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus enam


__ADS_3

Pillow talk, sebuah kebiasaan yang dilakukan Fernando dan Rara sebelum tidur.


Keduanya membahas soal dimana Rara akan melahirkan.


"Bagaimana kalau kamu melahirkan di Jerman saja? Aku bisa pinjam privat jet punya Ben,"usul Fernando.


Rara yang baru saja membaringkan tubuhnya, menggelengkan kepalanya, "nggak bisa mas, waktunya mepet, aku juga belum punya paspor,"jawabnya.


Fernando berdecak, menyadari keteledorannya, "bisa-bisanya aku nggak kepikiran,"helaan nafas terdengar dari mulutnya, "kalau dipikir-pikir, sejak kita menikah, aku belum pernah ngajak kamu traveling ya?"


"Ngajak kok, itu ke Bali, terus ke Sukabumi, kesini, kan sama aja mas,"


"Ck.. itu karena aku kerja, maksud aku ke luar negeri, setahun ini memang kerjaan aku padat, dulu sebelum aku ketemu kamu, biasanya selain ke Amerika, aku akan mengunjungi eropa, timur tengah, asia timur, pernah juga ke Afrika diajak Ben sama Troy,"


"Wah keliling dunia, enak banget,"ujar Rara kagum.


"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi di luar negeri?"tanya Fernando.


Rara terdiam berfikir, keningnya berkerut, lalu melebarkan matanya, "aku pengen umroh, terus liat langsung bunga sakura dan mengunjungi kebun buah strawberry kalau nggak di Korea Selatan atau jepang,"


"Kalau umroh mungkin setelah anak kita umur satu tahun, supaya lebih nyaman, lalu kalau untuk ke Korea atau Jepang, baru bisa tahun depan, sekarang di sana lagi winter, selain itu apa ada lagi? Misal eropa, biasanya perempuan senang kalau ke Paris, melihat menara Eiffel sama belanja barang branded,"


"Dih itu sih mantan pacar kamu, aku nggak pengen ke Paris, kalau di kasih kesempatan ke eropa, aku mau ke Belanda, pengin lihat langsung bunga tulip, sama perkebunan Anggur di Italia,"


"Kamu nggak ingin ke tanah kelahiran aku?"


"Tanah kelahiran kamu?"tanya Rara bingung, "bukannya kamu lahir disini?"


Fernando menggeleng, "kamu nggak peka atau bagaimana sih? Kamu nggak pernah lihat KTP aku? Waktu kita nikah kamu nggak lihat emang? terus kemarin di kartu keluarga juga, kamu tuh, egh..... Untung sayang,"ungkap Fernando kesal.


"Memangnya buat apa?"tanya Rara yang tak peka dengan kekesalan suaminya.


"Jangan bilang tanggal lahir aku aja kamu nggak tau Amara?"


Rara meringis memperlihatkan gigi-giginya, lalu menggeleng.


Fernando menghela nafas, "kayaknya aku doang yang tau semua tentang pasangan aku ya, kesannya aku cinta mati gitu sama kamu,"


"Lah emang benar kan? Kamu sendiri yang bilang kamu cinta mati sama aku,"


"Iya aku cinta mati sama kamu, memangnya kamu nggak?"

__ADS_1


"Cinta sih iya, tapi nggak mau mati, bekal aku belum banyak mas,"


Fernando menahan kekesalannya, "kenapa jadi ngebahas yang lain sih? Jadi kamu serius nggak tau suami kamu lahir dimana?"


Rara mengangguk, sambil bergumam maaf,


Melihat hal itu Fernando menghembuskan nafasnya kasar,  "kamu nih, nggak peka ya sama aku, nggak pengin gitu tau tentang aku?"


"Kalau aku tanya terus jawaban kamu malah bikin aku sakit hati, buat apa?"


"Ya minimal kamu Taulah asal muasal aku,"


"Aku tau kok, kamu anaknya umi Fatimah asli Sukabumi, ayah kamu orang Jerman, kerjaan kamu ngurusin resort nya suaminya Ayu, cukup kan begitu,"


Fernando sampai bangkit berdiri saking kesalnya, ia memegangi kepalanya yang mendadak pusing, istrinya benar-benar tidak peka, "Amara kamu keterlaluan, bukan hanya cinta, aku juga butuh perhatian kamu, setidaknya hal sepele begini masa kamu nggak tau, terus kalau ada keluarga kamu tanya tentang suami kamu, apa bisa kamu jawab?"


"Ya kan ada kamu tinggal tanya langsung, lagian yang kamu bilang sepele itu, kenapa kamu jadi kesal sih? Biasa aja lagi,"


"Terserahlah aku males sama kamu,"ucap Fernando pasrah, lelaki itu memilih membaringkan diri lagi membelakangi istrinya.


Melihat suaminya ngambek, Rara malah cekikikan, sudah lama keduanya tidak berdebat hal sepele seperti saat ini, ia merasa jika lelaki dihadapannya lucu, ketika merajuk.


Rara memeluk Fernando, ia mengelus perut sixpack milik suaminya, "gitu aja ngambek, aku minta maaf deh, aku salah, aku nggak peka, bukannya nggak peduli, aku hanya berfikir jika yang utama kita nyaman satu sama lain, kita berdua tau perasaan masing-masing, emang kurang ya?"


Rara mengangguk, wanita itu mengambil tangan suaminya, lalu mencium telapak tangan itu lembut, ia tersenyum memperlihatkan bentuk hati dari senyumannya, "jadi sekarang, coba kasih tau istrimu yang nggak peka ini, dimana dan kapan kamu lahir?"


Lagi-lagi Fernando terpana dengan senyuman itu, jantungnya berdetak lebih cepat, ia sampai menggelengkan kepalanya, benar-benar ajaib, wanita dihadapannya seolah memiliki sihir yang akan membuai dirinya hanya dengan senyumannya itu.


Rara melambaikan tangannya, melihat suaminya diam sambil menatapnya, "jadi mau kasih tau aku nggak? Apa aku perlu lihat di KTP atau kartu keluarga kita?"


Fernando yang tersadar langsung berkata, "aku lahir di Swabia saat musim dingin hampir tiga puluh dua tahun yang lalu, tepat sehari sebelum hari natal,"jelasnya.


"Baru dengar nama Swabia, itu masih di Jerman kan?"tanya Rara bingung.


"Cek aja di googl*, entar juga Nemu, aku malas jelasin, Vatre aku hanya dua bersaudara, Tante dan dua sepupu perempuan aku, mereka tinggal di sana, sudah sekitar lima tahun aku nggak pulang ke sana,"


"Wah keren, suaminya Rara beneran bule asli,"ujarnya konyol.


Fernando berdecak, istrinya sedang meledeknya, sesuatu yang sudah lama keduanya tidak lakukan.


"Dari fisik aja udah keliatan istriku, nanti anak kita juga blasteran, kemarin sewaktu USG kayaknya hidungnya mancung kayak aku, nggak kayak kamu minimalis,"tak mau kalah, Fernando meledek istrinya.

__ADS_1


Rara menyentuh hidungnya, lalu mencubit lengan suaminya,


"Auw... Sayang sakit, kenapa dicubit sih?"protes Fernando.


"Abisnya kamu ngeledek aku, ia aku tau hidung aku standar, biarpun begini, kamu, tergila-gila sama aku loh,"


"Iya deh, kamu memang buat aku bertekuk lutut, puas istriku?"


Rara tersenyum lagi,


"Rara sayang please jangan senyum terus, aku deg-degan lihat senyum kamu,"protesnya sambil menutup matanya.


"Ya udah aku manyun,"


"Kalau kamu manyun, aku cium kamu sampai kamu kehabisan nafas,"


"Ih... Kamu nih, aku jadi serba salah, tapi ngomong-ngomong kamu kan kelahiran Jerman, kok nggak jadi warna negara sana? Aku dengar, paspor asal Jerman itu kuat loh, dibandingkan Indonesia,"


Fernando terlentang menatap langit-langit kamar, ia menghela nafas, "saat aku disuruh memilih akan menjadi warna negara mana, sejujurnya aku bingung, memang enak kalau punya paspor Jerman, tapi saat itu Vatre sudah meninggal, lalu aku hidup disini, umi dan sahabat-sahabat aku juga disini, jadi aku memutuskan untuk jadi warga negara Indonesia,"


"Berarti kamu bisa bahasa Jerman dong?"


"Bisa, tepatnya bahasa di Swabia, bahasanya sedikit berbeda dengan tempat lainnya, kayak bahasa inggris Amerika sama Inggris itu sendiri, kurang lebih begitu, nanti kalau anak kita sudah bisa diajak berpergian jauh, aku akan ajak kamu buat berkunjung ke sana, kamu mau kan?"


Rara mengangguk, "bikinin paspor dulu, terus ajak Nicholas juga, kenalin ke Tante dan sepupu kamu,"


Fernando tersenyum, "aku beruntung banget punya istri kayak kamu Ra, kamu mau terima masa lalu aku yang kelam, ya biarpun kabur-kaburan Mulu,"


"Aku baru dua kali kabur ya, belum ketiga,"


"Nggak ada yang ketiga, aku nggak akan biarkan,"


"Asal kamu nggak menduakan aku, kamu nggak main tangan sama aku, lalu kamu nggak terlibat kejahatan,"


Fernando mengernyit, "kejahatan? Memangnya aku kelihatan kayak penjahat apa?"


"Ya kalau kamu nggak merasa ya udah santai aja lagi,"


"Memangnya contoh kejahatan apa yang  membuat kamu pergi dari aku?"


"Membunuh, melecehkan wanita, bandar judi, menipu, dan lain-lain, pokoknya zolim sama orang lain,"

__ADS_1


Mendengar itu, mendadak Fernando tersedak, ia sampai bangkit duduk.


Rara yang melihat suaminya tersedak, segera menepuk punggung dan memberikan air yang selalu tersedia di kabinet disebelah tempat tidur.


__ADS_2