Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
empat puluh sembilan


__ADS_3

Rara menaiki moda kereta api menuju Malang, perjalanan ditempuh lebih dari delapan jam,  sesampainya di sana ada Andi menjemputnya, karena hari masih gelap.


Sesuai dengan saran Anisa, Rara menggunakan pakaian lebih tertutup, wanita itu mengenakan niqab.


Andi langsung membawanya menuju rumah sakit, wanita yang tahun ini genap berumur dua puluh enam tahun itu, menangis melihat kedua orang tuanya berbaring tak sadarkan diri di ranjang ICU,


Rara menciumi tangan bapak dan ibunya secara bergantian, dengan linangan air mata, ia meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


Sempat ada gerakan dari tangan bapaknya, namun setelahnya, lelaki paruh baya itu terdiam kembali.


Rara bersembunyi setelah mengetahui jika lelaki itu datang menjenguk kedua orang tuanya, Bahkan Anisa memberitahukan jika semua biaya rumah sakit, lelaki itu yang menanggungnya.


Ada tatapan kerinduan dari Rara, melihat lelaki yang sudah dua tahun terpisah dari dirinya.


Andai bisa ia ingin memeluk lelaki itu, namun mengingat ajaran agama yang telah ia dapatkan selama dua tahun ke belakang, ia mengurungkan niatnya.


Hati anak mana yang tidak hancur melihat kepergian kedua orang tuanya menghadap sang Khaliq secara berurutan, lagi-lagi karena ajaran yang ia terima, ia hanya bisa mengikhlaskan kepergian bapak dan ibunya.


Rara sempat tak sengaja bersenggolan dengan lelaki itu, saat dirinya beranjak pergi meninggalkan makam.


Atas saran Andi juga Dika, Rara terpaksa meninggalkan Malang lebih cepat, kedua kakaknya tidak ingin adik bungsunya bertemu dengan lelaki yang telah merusaknya.


Dika sudah diberi tahu Andi beberapa bulan yang lalu tentang keberadaan adik perempuannya.


Awalnya Dika marah, namun mendengar penjelasan Andi, ia bisa menerimanya.


Sudah setahun semenjak kepergian kedua orangtuanya Rara menjalani hari-harinya di rumah Mbah Sarmi, ia masih berjualan online bersama Fitri.


Gadis yang berniat jualan karena ingin mengumpulkan uang untuk kuliah, malah tidak jadi melanjutkan cita-citanya, ia lebih memilih menekuni usaha yang dijalani saat ini.


Rara sudah memiliki akun Facebook yang baru, untuk sarana jualannya di samping via market place dan Ig.


Dari akun facebooknya ia menghubungi sahabatnya, yang tak lain adalah Ayudia.


Sahabat SMA nya mengaku ingin bertemu dengannya dan merindukannya.


Kebetulan sekali, Dika menghubunginya untuk kembali menempati rumah warisan mendiang ibu mereka yang dikontrakkan, karena orang yang menempatinya, akan segera meninggalkannya rumah dimana masa SMP hingga SMA Rara tinggal.


Dika juga mengatakan mungkin lelaki itu sudah melupakannya, mengingat ini sudah tiga tahun berlalu, atas persetujuan Andi, akhirnya Rara kembali pulang ke ibu kota.


Bisnis jualan online-nya dipegang sepenuhnya oleh Fitri walau masih dalam pantauan Rara dalam hal keuangan.


Atas saran Dika juga ia meminta adiknya, untuk menemui ibu dari lelaki itu, untuk meminta ijazah miliknya.


Beberapa hari mengisi rumah lamanya, dengan menggunakan ojek online ia menyambangi rumah umi Fatimah, namun sayang, menurut pengakuan tetangga, wanita paruh baya itu, tidak tinggal lagi di rumah itu sejak pensiun, hanya sesekali ada orang yang membersihkan, atau putra semata wayangnya yang datang menginap.


Seperti tak ada harapan Rara pasrah, ijazah Strata satunya tidak kembali.


Via inbox ia menghubungi Ayudia, memberitahukan jika, dirinya telah ada di Jakarta dan berniat mencari pekerjaan di ibukota.


Siang itu, pintu rumahnya di ketuk, dengan jilbab instan yang ia kenakan, ia membuka pintu, terlihat senyum yang memperlihatkan lesung pipi milik sahabatnya,


Rara memeluk Ayudia erat, senang sekali rasanya ia bertemu dengan sahabat SMA nya.


"Gue kangen Lo Ra,"ujar Ayudia memeluk erat sahabatnya.


Rara membalas pelukan itu, ia mempersilahkan sahabatnya masuk, tak lupa menawari minuman untuk Ayudia.


"Lo kemana aja sih Ra? Kenapa Facebook Lo yang lama nggak aktif?"tanya Ayudia membuka obrolan.


"Pengen ganti aja Di,"jawab wanita berjilbab itu asal.


"Terus gimana kehidupan Lo sejak kita nggak bareng,"


Teringat sesuatu, bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, Rara berucap, "Di, maaf ya, gue nggak ada pas bokap Lo nggak ada,"ujarnya menyesal.


"Nggak apa-apa Ra, udah berlalu juga,"


"Di kita sama sekarang, bokap nyokap gue juga udah nggak ada, setahun yang lalu mereka meninggal karena kecelakaan,"ucap Rara bersedih.


Ayudia memegang tangan sahabatnya, "maaf ya gue nggak tau,"


Sempat hening sejenak, hingga Rara kembali angkat bicara, "gue dua kali gagal nikah Di, dengan kasus yang sama,"


Ayudia menatap tak percaya sahabatnya itu.


"Yang pertama, gue pacaran sama temen kuliah, setelah lulus kami memutuskan menikah, tapi ada cewek yang mengaku dihamili oleh calon suami gue, mau nggak mau gue membatalkannya,"


Rara menarik nafas kasar, "terus yang kedua, bahkan undangan sebagian udah disebar, dan Lo tau, seminggu sebelum gue nikah, ada perempuan yang mengaku sebagai istri siri calon suami gue, beserta anak yang dibawanya,"


Mata Rara berkaca-kaca, "saat itu gue kecewa banget Di,"


"Yang sabar ya Ra, gue yakin Lo bakal dapat cowok yang mencintai Lo apa adanya,"ujar Ayudia memberikan semangat.


Tentu saja Rara tidak akan menceritakan tentang kaburnya dirinya dari rumah orangtuanya bersama lelaki itu, ia tidak ingin sahabatnya tau, aib yang ada padanya.


"Terus gimana kabar mas Andi sama mas Dika?"tanya Ayudia lagi.

__ADS_1


"Mas Andi udah nikah dan tinggal di Kalimantan, sedangkan Mas Dika tinggal di rumah bapak yang di Malang bareng keluarga kecilnya, gue juga kesini atas saran mas Dika,"


Berusaha menghibur sahabatnya, Ayudia mengalihkan pembicaraan, "Oh ya Amara makan bakso di langganan kita yuk, laper nih, gue yang traktir deh,"ajak Ayudia.


"Tumben Lo Di, Lo bukannya orang pelit ya!"


"Gue nggak pelit Amara, gue hemat,"


"Serah Lo  Di, kalau gitu gue ganti baju dulu ya!"


Ayudia mengangguk, beberapa saat berlalu, Rara sudah rapih dengan satu set gamis dan jilbab beredar maroon.


"Amara Lo cantik banget sih,"puji Ayudia pada sahabatnya.


"Lo mau gue dandanin biar kayak gini?""tawar Rara.


"Emang boleh Ra?"


"Boleh lah, ya udah, yuk ke kamar gue, kayaknya gue punya baju yang warnanya seperti kesukaan Lo,"


Dan Ayudia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seolah dirinya orang lain saat sedang bercermin.


"Lo cantikan pake jilbab di,"


"Kok gue mikir yang sama ya Ra, kalau gitu gue bayarin deh,"


"Apaan sih Lo, ini tuh baju udah pernah gue pake, masa Lo bayarin sih, udah buat Lo aja, kali aja Lo bisa dapat hidayah buat tutup aurat,"


"Aamiin,"


Keduanya menuju warung bakso langganan mereka saat masa putih abu-abu,


Mereka juga duduk ditempat dimana keduanya duduk dulu saat masih mengenakan seragam putih abu-abu,


Ketika pesanan, keduanya mulai meraciknya, sesuai dengan selera masing-masing,  "jadi sekarang apa kesibukan Lo?"tanya Rara.


"Jadi babu,"jawab Ayudia asal.


"Bokis banget Lo,"ujar Rara tak percaya.


"Serah Lo Ra, seminggu lagi gue bakal jadi TKW selama setahun,"


"Yah Lo Di, masa gue udah balik kesini, Lo malah cabut sih,"


"Ya gimana, Lo kan tau gue butuh duit banyak, tau sendiri kan bayar kuliah mahal, apalagi ada si kembar yang mondok,"


"Iya juga sih, emang Lo jadi TKW, bakal kerja apaan?"


"Kok gue merasa Lo lagi bohongin gue ya!"


"Mau percaya sukur nggak ya udah, btw Lo kuliah jurusan apa si? Gue lupa?"


"Gue jurusan akutansi, kenapa? Lo ada info lowongan?"


"Coba gue tanya-tanya ke kenalan gue,"


Saat keduanya asik mengobrol tak berapa lama, ada dua  pria masuk ke warung bakso, Rara melebarkan matanya, Bahkan ia mengedipkan matanya memastikan penglihatannya, ia tau betul siapa lelaki itu.


Kenapa dari sekian tempat ia bertemu lagi dengan lelaki itu?


Namun ia berusaha untuk biasa saja, toh lelaki itu mungkin tidak mengenalinya karena saat ini dirinya telah berhijab.


Rara berpura-pura terpesona seperti kebiasaannya dulu saat masih SMA ketika melihat lelaki tampan, ia sengaja menepuk tangan sahabatnya, sehingga Ayudia kaget dan bakso yang hendak ia masukan ke mulut menjadi jatuh.


" Gila Lo Ra, gue lagi makan ini, ngapain ngagetin segala sih?"protesnya


"Di...di... Ada cogan mau makan bakso,"ujar Rara dengan pandangan berbinar-binar.


"Udah tua masih mikirin cogan, ingat Lo udah ketipu dua kali gara-gara cogan,"ucap Ayudia memperingati sahabatnya.


"Di, mereka jalan kemari, kok gue deg-degan ya,"


"Norak Lo,


Dan Ayudia terkejut saat ia menoleh, ada ayah dari anak kembarnya yang duduk disampingnya, juga ada satu lagi pria yang duduk disebelah Rara.


Rara mendekat pada Ayudia sembari berbisik, "di, gue mimpi apaan semalem, ketemu cowok ganteng dan wangi parfumnya Ampe bisa gue cium,"


Sahabatnya tak menanggapi, Rara jadi bingung dengan perubahan sikap sahabatnya,


Jujur saja, ia juga grogi saat duduk bersebelahan dengan lelaki yang tiga tahun tidak ia temui.


Rara melihat Ayudia terlihat biasa saja ketika berdampingan dengan lelaki tampan disebelahnya, ia heran.


Beberapa saat kemudian Rara protes dengan apa yang dilakukan lelaki disebelah sahabatnya,


Lelaki itu hanya melirik sekilas tak menanggapi protes dari Rara.

__ADS_1


"Kayaknya tambah cantik ya Ben, kalau pakai jilbab,"ujar lelaki yang tak lain adalah Fernando.


"Iya nih, jadi makin pengen gue bungkus,"sahut lelaki itu menanggapi.


Lelaki itu kembali meminum minuman milik Ayudia, dan Rara kembali menegurnya.


"Wah Ben, kayaknya temennya boleh buat gue nih, nggak kalah cantik, kira-kira boleh nggak kalau gue deketin,"celetuk Fernando.


"Nggak usah macem-macem A,"sela Ayudia tak terima.


"Gue seriusin yu, Soleha begini, nyokap gue bakal setuju kalau sama yang tipe kayak gini,"ucap Fernando menimpali.


"Tapi Ayu nggak ikhlas ya,"


"Kalau dia mau gimana dong, iya nggak teteh meni geulis pisan, boleh kenalan nggak?"tanyanya pada gadis disampingnya.


Rara yang ditanya mendadak tersedak seketika, mendapat pertanyaan dari lelaki disebelahnya.


Fernando menepuk punggung, gadis itu, namun ditepis oleh Amara, "maaf anda bukan mahrom saya, jangan sembarang menyentuh saya,"ucapnya kesal.


"Wah yu, yang ini nggak bakal gue lepas nih,"


"A jangan macem-macem,"


"Serius gue yu, bentar-bentar gue video call nyokap dulu,"


Fernando mengambil ponselnya, ia hendak melakukan video call,


"Assalamualaikum mi," ucap Fernando sambil melambaikan tangan pada ponsel mahalnya.


Walaikumusalam Do, ada apa?"ujar wanita dari seberang sana.


"Mi, AA mau tanya, kalau mantu umi, model begini, umi bolehin Nando nikah nggak?"lelaki itu mengarahkan layar ponselnya pada Rara yang sedang menyuapkan bakso ke mulutnya,


Dari seberang sana umi Fatimah terkejut mendapati calon menantunya telah ditemukan, "Meni geulis pisan A, hayuk jadiken, umi setuju sama yang ini,"


"Iya mi, ini lagi usaha, doain ya mi, Assalamualaikum,"


Setelah mendapatkan salam dari uminya, Fernando mengakhiri panggilan videonya.


"Denger kan Ayu, nyokap gue udah setuju,"


"Grecep amat A, emang AA udah tau namanya?"


"Teteh geulis namanya siapa?"tanya Fernando menjulurkan tangannya, namun wanita disampingnya hanya menangkupkan kedua tangannya.


"Saya Amara, sahabatnya Dia,"jawabnya.


"Apa Amara udah punya pacar atau suami?"tanya Fernando lembut.


"Saya nggak pacaran A,"


"Ya udah nikah aja yuk,"ajak Fernando tiba-tiba.


"A, yang romantis kalau melamar cewek, masa di tukang bakso,"


"Emang waktu Ben ngelamar Lo dimana? Bukannya cuman di apartemen sama aja kali,"


"Itu karena kepepet,"kilah Ayudia.


"Mas kamu nggak pengen belain aku? Si AA ngeselin,"protes Ayudia pada suaminya yang sedari tadi diam saja.


Benedict mengelus kepala istrinya yang tertutup pasmina lalu mencium keningnya lembut, "kamu minta aku apakan Nando? Apa mau dikirim ke pulau seperti setahun yang lalu? Atau mau dikirim ke Afrika?"


"Si Ayu, minta belain si bos, nggak asik Lo, Ben masa gue usaha kaga boleh sih, gue lagi nyari calon bini nih biar bisa besanan sama Lo,"ujar Nando.


Rara teringat cerita tentang bos lelaki disampingnya, jadi ini yang dimaksud, ia tidak menyangka, dunia sempit sekali, ternyata lelaki itu bersahabat dengan Ayudia.


"Ra, sorry gue lupa, kenalin yang di sebelah gue itu mas Ben suami gue, dan yang disebelah Lo itu Aa Nando sahabatnya suami gue,"


"Kok Lo nggak cerita Lo udah nikah?"


"Ini gue cerita Ra,"


"Kenapa nggak dari tadi Di?"


"Lo kan nggak nanya soal status gue, "


"Ya Lo ceritain Dia, hal begini Lo nggak mau cerita sama gue,"


"Lo dari tadi nggak nanya Amara,"


"Lo dari tadi nggak cerita sama gue Dia,"


Tiba-tiba Fernando menyela, "tunggu deh neng Amara, kenapa sedari tadi manggil Ayu dengan nama Dia?"


"Itu panggilan sayang buat Ayudia, biar beda aja sama yang lain, biar Dia ingat sama Amara ya nggak Di, kayak Dikta manggil Ayu pakai panggilan sayang Ay,"ungkap Rara polos, hal itu membuat ketiganya melotot dengan maksud berbeda.

__ADS_1


Fernando kaget mengetahui itu, fakta tentang panggilan itu, ia melihat Benedict yang sepertinya kesal.


"Di, gue salah ngomong ya, sorry gue keceplosan,"ucap Rara tak enak.


__ADS_2