
Villa model lama yang belum pernah direnovasi sejak dibeli sekitar enam tahun lalu itu, sedang kedatangan beberapa tamu, mengingat ini akhir pekan, jadi hanya satu kamar yang tersisa, kamar yang hanya dikhususkan untuk Fernando jika datang memantau kondisi villa.
Mendengar saran istrinya siang tadi, malam harinya, lelaki itu mendiskusikan kepada sahabatnya, ia melakukan panggilan video melalui laptopnya.
Ada Rama yang terlihat sudah ada dirumahnya, Alex yang masih berada di kantor dan Benedict yang masih di ruangan sebelah tempat dimana istrinya sedang terbaring koma.
"Gimana do villa yang di Lembang?"tanya Benedict memulai pembicaraan, kemarin ia menyuruhnya untuk mengunjungi villa.
"Gue ada ide nih, gimana kalau villanya di renovasi total, biar lebih kekinian, terus kan masih banyak tanah kosong sekitar villa, bisa dijadiin kebun buah, jadi buat argo wisata, jadi pengunjung villa selain dapat pemandangan bagus juga bisa wisata buah gitulah kurang lebih, selama ini yang sewa villa kan sebatas keluarga atau acara kantor, kalau ada edukasi tentang pertanian, bisa buah atau sayur, market kita bisa dapet juga tuh anak-anak sekolah, gimana menurut kalian?"jelas lelaki bermata hijau itu.
"Boleh tuh Ben idenya Dodo, kayaknya kita belum ada konsep yang kayak gitu, siapa tau bakal sukses kayak yang di Malang,"celetuk Alex.
"Kayaknya kalau buat designnya mepet waktunya do, bentar lagi gue berangkat, coba Lo aja yang design, pake tuh ijazah arsitek Lo, jangan cuman buat menuhin berkas punya umi Fatimah, "ujar Benedict diakhir dengan ejekan,
"******, yang selama ini nggak pernah ngasih kesempatan buat gue siapa? Takut kalah saing ya!"sindir Fernando tak mau kalah.
"Dodo design gue udah diakui sama dunia internasional, nah Lo, paling setingkat RT doang,"ejek Benedict lagi.
Rama yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, "udah malem Ben, jangan mancing Dodo, entar kalau kesel pelampiasannya sama pohon Pinus,"ejeknya sambil tertawa.
"Yah, si Rama kagak Ce es lagi sama gue, minta disentil nih!"ucap Fernando memperingatkan sahabatnya secara halus.
Rama yang tau betul jika Fernando bisa berbuat nekad, tentu tak mau ambil resiko, sahabat brengseknya, membongkar rahasianya pada istrinya, "gue bercanda Dodo, gini aja deh, menurut gue, karena Ben nggak sempet design itu villa, gimana kalau Lo aja do, gunain skill Lo yang udah mati suri,"
"Oke, kayaknya biayanya bakal gede Ben, karena rencananya gue mau renovasi total, bangunan lamanya robohin, udah tua juga kan, abisin banyak biaya nih, setuju nggak Lo?"
"Dana aman nggak Ram?"tanya Benedict pada Rama yang memang memegang perputaran uang miliknya yang ada di negara ini.
"Kalau kurang gue pake dana pribadi Lo ya!"
"Oke, gue setuju, kalau bisa saat gue pulang dari pulau, itu villa udah jadi,"
"Gila Lo, ini renovasi total, terus belum siapin kebunnya, kayaknya bakal setahun lebih Ben,"ujar Fernando.
"Terserah Lo deh, Lex Lo bisa urus ijin pembangunannya secepatnya, gue pengen tau hasil kerjanya saingan gue,"
Alex menunjukan jempolnya, sedangkan Rama mengangguk,
"Lo liat sekeren apa hasil design gue, dan sementara buat di Bali biar Bagus yang tangani ya Ben, kayaknya itu anak udah mulai ngerti, kalau ada masalah gue baru kesana,"ujar Fernando,
Benedict mengangguk setuju, keempat sahabat itu mengakhiri rapat secara daring.
Rara yang sedari tadi ada dihadapan suaminya akhirnya angkat bicara, setelah lelaki itu menyelesaikan meeting-nya.
"Jadi kamu kuliah jurusan arsitek mas?"tanyanya.
Fernando melirik ke istrinya lalu mengangguk.
__ADS_1
"Kok bisa Arsitek malah kerjanya malah mengawasi resort, bukannya harusnya kerja di kontraktor minimal?"tanya wanita itu heran.
"Seperti yang kamu dengar, karena aku ikutan sahabat aku, ya jadinya gini, sebenernya dari masih kuliah aku mulai kerja kayak gini, awalnya cuman belajar mengelola villa yang di Bogor, nyaris nggak pernah kosong sih, ada banyak teman kuliah atau keluarganya yang nyewa awalnya, Karena pelayannya bagus, akhirnya bisa mendatangkan keuntungan yang besarkan, terus saat baru lulus kuliah, Ben suruh aku cari resort Bali yang akan diakuisisi, begitu seterusnya sampai sekarang,"jelasnya panjang lebar.
"Terus skill kamu dalam mendesign bangunan ke pake nggak setelah lulus?"
"Walau nggak sepenuhnya, soalnya kalau renovasi atau buat bangunan baru, Ben yang kirimin design, karena aku lulusan yang sama, jadi bisa mengerti apa yang dimaksud dengan design buatan Ben, tapi seperti yang kamu dengar, Ben serahkan semua kali ini ke aku, jadi aku mau buktikan ke dia, kalau aku bakal buat bangunan yang bagus,"
"Aku dukung kamu pokoknya,"ungkap Rara memberi semangat, "tapi ngomong-ngomong kok suaminya Dia masih disini? Berarti aku masih bisa ketemu Dia dong, terus kamu emang sengaja nggak mau mengakui kalau kamu udah nikah sama aku?"pertanyaan yang sedari kemarin mengganggu pikirannya.
Fernando lupa jika dia masih menyembunyikan fakta jika Ayudia tengah koma gara-gara ulahnya, namun dengan segera ia berusaha mengalihkan pembahasan soal istri dari sahabatnya itu, "Aku sengaja, soalnya kan Ben paling nggak bisa lihat aku senang, dia selalu mencari cara supaya aku sibuk,"
"Memang segitunya?"
"Dari dulu aku selalu saingan sama Ben, dalam hal apapun kecuali masalah perempuan ya!"
"Udah sering saingan kenapa dia mempercayai kamu pegang usahanya, bisa aja kan kamu jahat sama dia,"
"Itu juga yang pernah aku tanyakan, Ben cuman angkat bahu, atau nyengir doang,"
Obrolan keduanya terus berlanjut hingga Rara mulai mengantuk, masih dalam suasana pengantin baru, keduanya melakukan hubungan suami istri sebelum dan sesudah tidur malam.
Keesokan paginya Fernando mendiskusikan rencananya kepada mang Ujang, dan lelaki paruh baya itu mendukung.
"Mamang mah dukung banget atuh rencana Aa, tapi a kalau boleh tau neng geulis itu Saha?"tanya mang Ujang sedari kemarin ia ingin bertanya.
Fernando tersenyum, "istri saya mang, baru beberapa hari yang lalu kami menikah di Malang,"jawabnya.
"Aamiin, doain ya mang,"
"Iya atuh, mamang selalu doain kalian,"
Melihat kedatangan istrinya, Fernando bangkit, ia berencana mengajak Rara berkeliling villa, lelaki itu undur diri kepada mang Ujang.
Suasana pagi sekitar villa masih sepi, pengunjung mungkin lebih memilih untuk berada dikamar masing-masing, mengingat udara disini masih dingin,
Sambil berjalan-jalan, Fernando memikirkan design yang cocok dengan villa, tak lupa ia membawa tab miliknya, yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Lelaki itu meminta pendapat istrinya sambil memberitahukan rencana yang akan ia jalankan.
Beberapa kali Rara berkomentar tentang konsep villa juga rencana pembuatan kebun buah,
Fernando mendengarkan dan menampung pendapat istrinya, tak lupa menuliskannya.
"Ra, kamu tau nggak, aku baru sadar, kalau ternyata kamu bukan hanya istri yang aku cintai, kamu juga partner diskusi yang asik, kalau yang kali ini hasilnya seperti di Malang, fix setiap ada rencana aku mengembangkan bisnis, aku akan mengajak kamu juga meminta pendapat kamu,"
Rara tersenyum, "nggak segitunya kali mas, aku cuman iseng ngomong aja,"ucapnya merendah.
__ADS_1
Fernando yang berjalan bersisian dengan istrinya, menoleh lalu merangkul wanita yang mengenakan pasmina maroon, "Rara sayang, udah terbukti loh, dulu aku rencananya mau cari villa di Batu, terus gara-gara kamu menyarankan supaya buat taman bermain, aku langsung bicarakan sama sahabat aku tentang saran kamu, dan mereka menyetujuinya, sekarang kamu bisa lihat taman bermain itu ramai pengunjung, melebihi ekspektasi kami loh,"
"Itu cuman kebetulan mas,"
Fernando mencium kening istrinya, "kamu itu partner segalanya Ra, obrolan kita nyambung, pokoknya aku dapat kamu itu kayak Jack pot tau,"
"Iya deh ia, biar cepat,"
Lelaki blasteran itu gemas, ia sampai menunduk untuk menggigit pipi istrinya, tentu saja Rara terkejut dengan perlakuan suaminya.
"Ih, kamu kenapa gigit pipi aku?"tanya wanita itu kesal.
"Abisnya kamu menggemaskan, rasanya aku pengen makan kamu,"jawab Fernando dengan wajah menyebalkan menurut Rara.
"Tiap hari kamu makan aku mas, lama-lama abis aku,"
"Kamu itu buat aku candu Ra,"
"Ngomong-ngomong kamu begini juga sama mantan-mantan kamu?"tanya Rara penasaran.
"Nggak usah bahas masa lalu Ra, aku nggak mau ingat dan menyakiti kamu,"
Rara terdiam berfikir lalu berucap, "mas seandainya suatu saat salah satu mantan kamu mencari kamu, dan memberitahukan tentang anak kalian, apa yang akan kamu lakukan?"tanyanya.
"Kenapa kamu bicara kayak gitu? Lagian Ra, kan aku pernah bilang, aku selalu memakai pengaman jika berhubungan dengan mereka,"
"Yakin mas? Kali aja kamu lupa,"ucap Rara mencoba mengingatkan.
Fernando terdiam mengingatnya, "paling saat pertama kali aku melepas perjaka aku, itupun cuman sekali, lagian nggak mungkin mantan aku nyariin, kan aku pernah cerita, sekarang dia sudah menikah dan tinggal diluar negeri,"
"Mas, kalau ternyata kamu punya anak selain sama aku, saat itu juga aku akan mundur ya,"
Mendengar hal itu, Fernando menghentikan langkahnya, sehingga mau tidak mau, Rara juga berhenti, "apapun yang terjadi kita nggak akan terpisah, kecuali maut, aku nggak suka kamu mau ngomong kayak gitu, terus hanya kamu yang jadi istri aku dan ibu dari anak-anak aku, kamu mengerti?"ucapnya tegas.
"Jangan terlalu percaya diri mas, sekarang mungkin kamu mencintai aku, bisa jadi suatu saat kamu bosan dengan aku,"
"Kamu nggak yakin sama aku, Amara?"tanya lelaki yang tengah menghadap Rara.
"Bukannya nggak yakin mas, hanya untuk berjaga-jaga aja, supaya jika hal itu terjadi, aku nggak terlalu patah hati dan terpuruk,"
"Jika itu terjadi, kamu harus selalu di samping aku, mengingatkan aku, tentang perjuangan aku mendapatkan kamu, aku juga akan memastikan jika hanya kamu dan anak yang berasal dari rahim kamu, yang akan mewarisi semua harta aku, nanti aku akan minta tolong Alex segera mengurus hal ini, aku mau buktikan ke kamu, jika hanya kamu wanita aku satu-satunya, misal suatu saat aku berbuat yang tidak baik, aku akan langsung jatuh miskin, karena semua harta aku atas nama kamu dan anak kita,"ungkap Fernando yakin.
"Nggak usah segitunya kali mas, pokoknya kalau suatu saat kamu nakal, aku mau ninggalin kamu seperti tiga tahun yang lalu,"usai mengatakan hal itu, Rara berjalan cepat menuju kamar villa.
Fernando tak tinggal diam, dengan langkah lebarnya, ia berhasil menyusul istrinya, ia mencengkram pergelangan tangan wanita itu, "kamu nggak akan kemana-mana Ra, kamu harus selalu ada bersama aku, apapun yang terjadi,"
Rara mulai merasakan sakit dipergelangan tangannya, suaminya mencengkeramnya terlalu kuat, ia melirik tangan besar itu, "kamu nyakitin aku,"
__ADS_1
Fernando melonggarkan tangannya, lalu menunduk dan berbisik, "kamu milik aku sayang dan selamanya akan begitu, jadi tak akan aku biarkan kamu pergi,"
Lelaki itu merangkul istrinya dan berjalan menuju kamar mereka.