Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh sembilan


__ADS_3

Fernando terkejut dengan keadaan sahabatnya yang sudah delapan bulan ini tidak ia temui.


Rambut panjang, kumis dan brewok yang lebat juga tubuh kurus dari seorang Benedict, bahkan sempat membuat Fernando melongo melihat penampilan itu.


Usai bersalaman dan berpelukan ala sahabat, Fernando dan Benedict mengobrol di ruangan sebelah, tempat dimana Ayudia masih betah menutup mata.


Benedict sempat bertanya, siapa wanita berhijab yang sedang bermain dengan anak kembarnya, alangkah terkejutnya lelaki dua anak itu ketika mengetahui jika wanita dengan perut membuncit itu adalah Amara alias Rara sahabat dari istrinya.


"Gerak cepat juga Lo, selama gue nggak ada, langsung hamil pula,"sindir Benedict.


Fernando tertawa, "jelas lah Ben, kalau nggak cepat-cepat, entar Lo kirim gue ke Pulau,"ujarnya.


"Gue nggak sengaja do, emang Lo pernah cerita Lo deket sama siapa, selama ini kalau bukan cerita dari yang lain, mana gue tau Lo lagi punya cewek,"


"Nggak guna gue ngasih tau lo Ben, adanya entar Lo kasih gue kerjaan seabrek, emang bisa Lo lihat gue seneng?"


"Kenapa sih do Lo negatif thinking mulu sama gue? Mungkin waktu SMA gue kayak gitu, sekarang kan udah nggak,"sangkal Benedict.


"Iyain biar cepat,"


Keduanya membicarakan pekerjaan juga tentang Rama yang sedang bermasalah dengan istrinya, hingga kondisi Ayudia yang tak kunjung bangun.


Tak lama Oscar datang, dokter bedah itu baru selesai dari ruang operasi,


Oscar datang bersama dokter yang menangani Ayudia,


Dokter itu menjelaskan tentang kondisi Ayudia yang masih sama hanya akan merespon jika orang terdekatnya mengajaknya berbicara.


Usai mendengar penjelasan dokter, Benedict menyuruh Fernando untuk menjemput Anindia dan si kembar, mengingat lelaki itu masih cuti.


"Tuh kan, Lo paling nggak bisa lihat gue seneng, gue cuti biar bisa sama Rara, hampir dua bulan gue nggak sama dia, tuh gara-gara sohib brengsek Lo, dan sekarang waktu cuti gue disuruh buat keluar kota buat jemput adik ipar Lo? Kenapa nggak Oscar aja yang Lo suruh?"protes Fernando kesal.


"Do, Oscar jadwal operasinya padat, nggak bisa diganggu, kan Lo yang lagi senggang, gini deh, Lo jemput adik ipar gue, entar kalau villa yang di Lembang udah finis, Lo gue kasih cuti sebulan buat dampingi istri lo mau lahiran, gimana?"tawarnya.


Fernando terdiam, lelaki itu melihat interaksi antara istrinya dengan si kembar yang tengah bermain.


Hingga lelaki itu mengangguk tanda setuju.


Ketiga sahabat itu mengunjungi ruangan sebelah untuk melihat langsung kondisi Ayudia.


Benedict hanya terdiam melihat keadaan istrinya, sementara Oscar dan Fernando menceritakan hari-hari yang keduanya lalui.

__ADS_1


Hingga Rara masuk setelah Anna datang ke ruangan sebelah bergantian menjaga si kembar.


Rara ikut menceritakan tentang harinya, juga tentang Sinta yang sudah melahirkan seorang putra, saking asiknya bercerita, wanita hamil itu juga menceritakan tentang Pradikta.


Hal itu membuat ketiga laki-laki di sana terkejut.


Menyadari telah kelepasan bicara, Rara menutup mulutnya, ia melirik suaminya yang menatapnya dengan tajam.


"Jadi Sinta sama Amara selama ini tinggal sama Pradikta?"tanya Oscar dengan suara pelan pada Fernando.


"Kenapa dia lagi sih? Gue berantem sama Ayu, karena cowok sialan, dan Sekarang Lo sama Rama juga? Mesti diapain tuh orang ya do?"ujar Benedict pelan.


Fernando mengepalkan tangannya, ia semakin cemburu.


OscarĀ  mengetahui tabiat sahabatnya, mencoba menenangkannya, "do, ingat Amara lagi hamil, kendalikan diri Lo,"


Fernando menghela nafas, berusaha sebisa mungkin meredakan amarahnya.


Setelah dirasa lebih tenang, Oscar mengajak kedua sahabatnya dan Rara untuk keluar dari ruangan itu, sambil membahas soal saran dokter yang menangani Ayudia untuk semakin sering bercerita tentang hari-hari orang terdekat.


Rara mendengarkannya dengan seksama, lalu angkat bicara, "mas Ben sebelumnya, Rara minta maaf, gimana kalau buat bangunin Dia, kita panggil Dikta kesini, kali aja, Dia bisa bangun, hanya saran Rara sih, tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa,"


Fernando menyunggingkan senyumannya, "apa kamu sengaja Amara? Supaya bisa dekat-dekat dengan laki-laki itu, apa kamu tidak puas selama hampir dua bulan kebelakang kamu bahkan tinggal bersama dia?"ungkapnya masih berusaha menahan amarahnya.


Oscar yang melihat suasana mulai panas, berusaha meredam amarah sahabatnya yang tengah terbakar api cemburu, dokter bedah itu menepuk punggung lelaki blasteran itu,


"Tenang do, gue rasa maksud Amara bukan kayak gitu, dia hanya ingin supaya Ayu cepat bangun,"


Tatapan Oscar beralih ke Benedict yang menatap tajam Amara, "sorry Ben, gue rasa omongannya Amara ada benarnya, bukankah Lo berantem sama Ayu gara-gara Lo cemburu, lo tau kan Dikta cinta pertamanya Ayu, yang terpenting sekarang, gimana caranya Ayu bisa bangun, redakan amarah Lo Ben,"


Hening cukup lama diantara keempat orang itu yang duduk di lorong tepat didepan ruang rawat Ayudia,


Rara yang duduk sendiri berseberangan dengan ketiga laki-laki itu, hanya bisa menunduk dalam, tak berani menatap mata Fernando dan Benedict yang sedari tadi menatapnya tajam, andai saja tatapan itu laser, mungkin tubuhnya akan berlubang.


Mendadak bulu kuduk Rara berdiri, entah mengapa tatapan mengintimidasi dari kedua lelaki itu membuatnya takut.


Tak ada tatapan penuh cinta yang biasa diberikan suaminya padanya, ia tau kesalahannya, ia sadar telah menyakiti suaminya, tetapi ia hanya ingin membantu Sinta yang tengah putus asa karena dikhianati suaminya.


Rara tau betul sakitnya dikhianati, maka dari itu tanpa pikir panjang saat Sinta meminta pertolongannya, ia menyanggupinya.


Hingga ucapan Benedict, membuat wanita hamil itu mendongak,

__ADS_1


"Oke, tolong panggil Lelaki itu kesini, ini saya lakukan hanya untuk membangunkan istri saya,"tatapan lelaki itu masih saja tajam,


Rara mengangguk, "tapi Dikta lagi nggak di Jakarta, mungkin sekitar satu Minggu lagi, Dikta akan kembali kesini,"ucapnya tanpa balas menatap Benedict.


Fernando bangkit menghampiri istrinya, ia duduk disebelah wanita hamil itu, lalu memegang dagu milik Rara, "kalau ngomong lihat mata Amara, lalu mana ponsel kamu,"


Terlihat raut keterkejutan dari wajah wanita itu, lalu dengan terpaksa ia memberikan ponselnya yang ada di kantung baju gamisnya.


Fernando menerimanya, ia mengutak-atik ponsel milik Rara juga ponsel miliknya sendiri,


"Mulai sekarang, kamu dilarang menghubungi dia, kalau kamu mau ngomong sama dia, kamu bisa pake ponsel aku, kamu mengerti ucapan suami kamu istriku?"ungkap lelaki itu tegas.


Tak ada pilihan lain, Rara mengangguk,


Fernando merangkul dan mencium kening istrinya, "bagus, jadi istri harus nurut sama suaminya, itu baru istri Soleha,"


Oscar dan Benedict tak menyangka Fernando memperlakukan istrinya seperti itu,


"Nando emang sebelas dua belas sama Lo Ben, cuman bedanya, mulutnya lebih pedes dari Lo,"bisik Oscar pelan.


Benedict hanya menggeleng seolah tak percaya, dari dulu banyak kesamaan dalam hal apapun dengan Fernando, sifat keras kepala, posesif, egois, menghalalkan segala cara dan manipulatif, hanya satu yang berbeda, dirinya tak suka bermain dengan wanita sementara Fernando dikenal sebagai pemain wanita.


"Jadi do, kapan Lo jemput Anin sama si kembar?"tanya Benedict.


Fernando terdiam berfikir, lalu bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, lelaki itu malah mencium pipi istrinya dan bertanya, "Rara sayang, aku mau jemput Adiknya Ayu boleh nggak? Soalnya bos sialan itu paling nggak suka kalau aku seneng dekat kamu,"


Benedict yang mendengar ucapan Fernando seketika kesal, "bangsat jaga mulut Lo, sialan,"


Oscar menggelengkan kepalanya, kedua sahabatnya selalu saja seperti ini, setiap ada kesempatan selalu menjahili satu sama lain, "nggak usah didengerin Ben, Nando lagi rada-rada, maklum baru ketemu pawangnya udah gitu masih cemburu juga, wajar dia sensi,"


Fernando mendadak kesal Oscar mengejek dirinya, "wah, kayaknya ada video yang mau gue kasih tau Anin, entar gue minta kirimin sama mami ah,"


Mendengar ancaman sahabatnya, mendadak Oscar gugup, "becanda do, jangan aneh-aneh lah, sorry deh,"


Tak mempedulikan wajah memelas Oscar, Fernando beralih menatap istrinya, "jadi Rara sayang, boleh kan aku jemput adik-adiknya Ayu? Kamu mau ikut atau mau tinggal sama Tante Anna dulu?"


Rara melirik suaminya sekilas, "aku disini aja, bantu Tante Anna jaga si kembar,"


"Oke, kalau gitu besok abis subuh aku berangkat ya, kamu baik-baik disini, dan aku harap kamu tidak berbuat sesuatu yang membuat aku marah, kamu ingat apa resikonya kan?"


Rara mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2