Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh tiga


__ADS_3

Sebagai istri yang baik, Rara hanya bisa pasrah menuruti permintaan suaminya.


Ia juga menjelaskan pada putranya, tentang kesibukan daddy-nya, untungnya remaja itu mau menerima.


Fernando jarang datang menemuinya, hanya saat malam, waktu yang singkat itu, hanya diisi dengan kegiatan seputar ranjang hingga menjelang pagi.


Belum pernah ia dapati suaminya saat membuka mata berada disampingnya.


Saking sibuknya lelaki itu, entah proyek apa yang dikerjakannya, hingga menyita hampir sebagian waktu suaminya.


Bosan tentu saja, Rara merasa hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu suaminya saja.


Keduanya jarang berbicara, karena saat lelaki itu datang, mereka hanya akan bercinta.


Sementara kata-kata yang diucapkan suaminya hanya, pujian untuknya, ungkapan cinta, lenguhan dan terima kasih.


Rasanya ingin marah, tapi tak berdaya, Rara hanya bisa pasrah menerima.


Waktu berlalu, sudah empat bulan Rara dan anak-anaknya berada di negara ini, bahkan ia melewatkan euforia hari raya idul Fitri, meskipun terbiasa jauh dari keluarga besarnya, tapi ini kali pertama ia hanya berdua merayakan hari kemenangan itu.


Putranya hingga saat ini masih mengikuti keyakinan mommy-nya, sementara Fernando masih sibuk dengan pekerjaannya.


Bahkan shalat yang seharusnya ia lakukan setahun dua kali, tak bisa ia kerjakan, sedih tentu saja.


Siapa yang tak sedih melewati momen yang terjadi setahun dua kali hanya berdua dengan putri kecilnya.


Lama-lama kesabaran Rara terkikis habis, ia marah, ia kesal, suaminya keterlaluan.


Dalam hati Rara bertanya, sebenarnya untuk apa suaminya, bekerja sangat keras hingga melupakan hari penting untuk keyakinannya?


Seingatnya, Rara bukan tipe istri yang menuntut suaminya dari segi harta, selama mereka menikah, bahkan bisa dihitung pakai jari, ia membeli barang dengan brand terkenal dunia.


Rara juga bukan penggemar makanan mewah, hanya nasi Padang, nasi warteg atau mie bakso, yang membuat tabungan suaminya tak banyak berkurang.


Lalu untuk apa lelaki itu bekerja begitu keras.


Malam itu saat suaminya datang seperti biasa untuk melampiaskan hasratnya, Rara menolaknya.

__ADS_1


Penolakan dari Rara membuat Fernando menanyakan alasan ia tak melayani seperti biasa.


"Aku lelah, aku menyerah, aku mau kembali ke negara asalku,"keluhnya.


"Tapi kenapa? toh sama saja kan, entah disini ataupun di sana,"ujar lelaki itu.


"Sama dari mana sih mas, kamu lihat dari sisi mana? disini dan di sana sama,"


Fernando memeluk istrinya dari belakang, "aku ralat, nggak sama sih, kalau disini, aku bisa bertemu kamu setiap malam, bercinta hingga pagi, sementara kalau kita di sana, aku bertemu sama kamu, dua Minggu atau sebulan sekali, itu membuat aku tidak suka,"


Rara melepaskan pelukan suaminya, ia berbalik dan mendongak menatap suaminya, meskipun dengan pencahayaan yang minim, "Apa dipikiran kamu tentang aku, hanya seputar ranjang saja? apa kamu tidak memikirkan waktu bermain kamu bersama anak-anak?"


"Aku tau mereka baik-baik saja, semua kebutuhan terpenuhi, apa masalahnya?"


"arg... mas, aku tanya kenapa sampai segitunya kamu bekerja? Apa aku sebagai istri kamu, menuntut supaya kamu membelikan barang-barang mewah? sehingga kamu sekeras ini bekerja, mungkin ini sudah biasa untuk kamu, melewatkan lebaran tanpa keluarga, tapi ini pertama kalinya aku merayakannya hanya berdua dengan Arana, bahkan aku nggak shalat yang hanya dilakukan dua kali dalam setahun, itu yang jadi masalah buat aku,"


Fernando menghembuskan nafasnya kasar, "oke yang itu aku salah, aku tidak menyadarinya, aku minta maaf,"


"Aku maafkan, tapi aku mau pulang, ini masih suasana lebaran,"


"Ra, please tetap disini sama aku ya,"pinta Fernando.


"ini bukan masalah uang Amara, Perusahaan Ben sedang butuh tenaga aku, ini proyek penting, kamu tau keadaan Ben bukan?"


Rara berdecak kesal, "Gini deh, pertemukan aku dengan mas Ben, aku yang akan ngomong, kenapa sih patah hati sampai seperti ini, lagian Dia juga nggak sama Dikta, bahkan Dikta lagi di Eropa belajar, kenapa mesti lepas tanggung jawab buat perusahaannya sendiri,"ungkapnya.


"Oke aku akan sampaikan ucapan kamu sama Ben, tapi aku mohon, jangan pulang ya! aku minta kamu disini dulu, sampai proyek ini selesai,"


Rara menghela nafas, "bukannya mas Ben punya sepupu, kenapa tidak dia saja yang membantu, kenapa malah kamu?"


"George tidak berbakat dalam mengelola perusahaan, justru karena ini ulahnya maka dari itu aku membatu Troy dan Richard menangani proyek ini,"


Entah berapa kali hari ini ia menghela nafas, ia merasa percuma berbicara dengan suaminya, ia akan kalah,


"Oke, tapi aku beri waktu buat kamu tetapi sampai liburan kenaikkan kelas usai, aku mau, Putraku bersekolah sewajarnya di tempatnya menuntut ilmu,"


"Tapi Rara sayang, bisakah kita disini sampai musim panas usai, kalau sampai bulan itu, sepertinya proyeknya belum selesai,"

__ADS_1


"kamu tetap disini, dan aku kembali bersama anak-anak,"


"Ra...."


"aku sudah cukup bersabar, jadi tolong jangan ditawar,"


Fernando diam berfikir, "Oke aku akan usahakan proyek ini cepat selesai, tapi aku minta kamu layani aku setiap malam,"


Rara memutar bola matanya malas, "bisa tidak di pikiran kamu hal itu dihilangkan sejenak, kenapa harus seperti itu terus?"


"Kamu protes? kalau begitu sesuai kata aku, kamu disini sampai musim panas selesai,"


Tak memiliki pilihan lain, Rara menyetujui permintaan suaminya.


Sejak itu hampir setiap malam, suaminya akan datang untuk berhubungan intim dengannya dan menjelang pagi lelaki itu akan mulai kembali bekerja.


Begitu terus hingga Fernando bertanya padanya suatu malam,


"Ra, kenapa selama ini kita berhubungan intim setiap malam? apa kamu tidak menstruasi? apa kamu hamil?"tanyanya.


Rara menggeleng,


Fernando teringat akan sesuatu, "sepertinya saat di Bali aku meminta tolong pada Asha untuk memberikan kamu obat penyubur kandungan, supaya kamu bisa hamil lagi, apa itu tidak berhasil?"


"Kenapa kamu ingin aku hamil lagi? apa kamu tidak memikirkan Arana yang masih kecil?"


"Bukankah waktu itu kamu ingin mengajukan gugatan cerai? memangnya aku sebagai orang yang sangat mencintai kamu, aku tidak boleh berusaha untuk mempertahankan rumah tangga aku?"


"Tapi waktunya belum tepat dan aku juga masih disini sama kamu sampai sekarang bukan?"


"Lalu apa Asha memberikan kamu kontrasepsi?"


"iya aku yang memintanya, mbak Asha yang memberitahukan aku, tentang rencana kamu, apa kamu lupa dia sahabat aku juga? meskipun kami jarang berpergian bersama karena mbak Asha sibuk, tapi kami rutin berkomunikasi,"


Fernando menghembuskan nafasnya kasar, ini kali pertama Natasha menentang keinginannya, "sepulang dari sini, aku minta, lepas alat kontrasepsi itu, aku mau kamu hamil lagi,"


"apa alasannya? kalau soal aku akan meninggalkan kamu, tenang saja, itu tidak akan terjadi,"

__ADS_1


"bukan itu, aku hanya ingin memiliki anak sebelum usiaku menginjak tiga puluh lima tahun, kamu mengerti istriku?"


Rara memilih mengangguk tanda setuju, ia juga berfikir untuk memiliki anak lagi supaya rumah semakin ramai.


__ADS_2