
Fernando membayar bakso yang ia pesan juga milik gadis itu.
Keduanya keluar dari warung bakso, gadis yang mengaku bernama Rara menyebutkan beberapa tempat wisata yang cocok untuk objek foto .
Fernando memilih ke tempat yang sejuk, dibanding berada di kota, tapi bukan di Kota Batu.
Tak jauh dari warung Bakso ada tukang helm yang berjualan di trotoar jalan, Fernando membelikannya untuk Rara, agar gadis itu aman selama berboncengan dengannya.
Dari kota Malang keduanya berboncengan menaiki motor sewaan, sepanjang perjalanan, Rara menceritakan beberapa tempat yang mereka lalui, Fernando hanya sesekali menanggapi.
Dibalik helmnya, Fernando menyunggingkan senyumannya, entah apa maksudnya.
Perjalanan ditempuh kurang lebih selama empat puluh menit, lumayan jauh dari pusat kota.
Dan terlihatlah hamparan kebun teh yang luas, menyejukkan mata, indah sekali.
Cuaca siang menjelang sore lumayan cerah, karena bukan weekend, jadi tempat itu tidak terlalu ramai.
Turun dari motor, keduanya berjalan menyusuri kebun teh, beberapa kali Fernando membidikkan lensa kameranya, sesekali ia mencuri kesempatan untuk memfoto gadis dengan cardigan maroon itu.
Sementara Rara, terus berbicara menjelaskan segala seluk beluk perkebunan teh itu,
"Mas, ngerti kan sedari tadi saya ngomong apa?"tanya gadis itu mulai kesal karena Fernando sibuk dengan kameranya, dan menanggapi ucapan Rara hanya dengan gumaman saja.
"Saya ngerti Rara, jadi apa kamu penyuka Strawberry?"tanya Fernando penasaran, sedari tadi ia ingin menanyakan hal itu.
Rara terdiam, mengernyit bingung, "perasaan dari tadi saya nggak bahas diri saya sendiri deh mas, saya kan membahas perkebunan teh ini, kenapa kamu malah nanya masalah kesukaan saya? Nggak nyambung ya!"jawabnya kesal.
Fernando tersenyum, lelaki itu kembali menjelaskan semua ucapan yang Gadis itu jelaskan tanpa terlewat, hal itu membuat Rara melongo.
Gadis itu pikir, sedari tadi lelaki dengan Hoodie army itu tak mempedulikannya, ia tak menyangka lelaki itu bahkan mengulang lagi apa yang tadi ia katakan.
"Jadi apa kamu penyuka Strawberry?"tanya Fernando lagi.
"Kenapa kamu nanya itu lagi sih?"tanya balik Rara.
"Softcase, wallpaper, gantungan kunci, ikat rambut, gelang dan kaos kaki kamu semua motifnya strawberry,"jawab Fernando sambil menunjuk bagian mana yang terdapat motif buah berwarna merah itu.
"Iya, saya penyuka strawberry, selain buah dan berbagai olahannya juga pernak-pernik yang berhubungan dengan strawberry, kenapa? Apa kamu menganggap saya aneh?"ucap Rara ketus.
Fernando menggeleng, "tidak sama sekali, saya malah suka strawberry, hanya saja tidak seperti kamu, yang sampai memakai pernak-pernik strawbery, saya suka hanya dalam bentuk makanan dan minuman,"ungkapnya.
"Tumben, biasanya lelaki tidak terlalu suka strawberry, biasanya mereka suka cokelat,"ucap Rara heran.
"Apa salahnya? Yang penting kesukaan saya tidak merugikan orang lain kan?"
"Betul juga sih, jarang aja, ngomong-ngomong, kamu berapa lama di kota ini?"tanya Rara mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa emang? Apa kamu mau ajak saya ke tempat wisata lain yang ada di kota ini?"tanya Fernando balik.
"Kenapa saya tanya kamu balik nanya?"
"Apa saya tidak boleh bertanya seperti itu? Sekali lagi saya tanya, apa jika saya meminta kamu untuk mengantarkan saya berkeliling kota esok hari, apa kamu mau?"
"Tergantung bayaran yang kamu kasih ke saya,"
Fernando mengambil dompet yang berada di kantong belakang celananya, dan memberikannya kepada gadis dihadapannya.
"Kenapa dompet kamu dikasih ke saya?"tanya Rara heran.
"Itu uang cash yang saya punya, kalau kurang saya bisa transfer ke rekening kamu,"jawab Fernando sambil tersenyum.
Rara mengambil tangan lelaki dihadapannya, ia mengembalikan dompet tebal itu, "tidak perlu sampai seperti ini, kamu cukup kasih saya seikhlasnya, dan membayarkan makanan yang saya makan,"ujarnya.
"Hanya itu?"tanya Fernando tak percaya, gadis ini tidak matre.
"Iya, toh saya diuntungkan disini, selain makan gratis bukankah saya bisa jalan-jalan gratis,"jawab Rara yang membuat lelaki itu semakin kagum.
"Bukannya perempuan biasanya suka uang?"tanya Fernando memastikan.
__ADS_1
"Benar sih mas, saya juga nggak munafik, saya suka banget sama yang namanya uang, hanya saja saya tau diri tidak memanfaatkan kamu, bukankah kita hanya orang asing? Bisa saja jika nanti saya memanfaatkan kamu bisa menjelekkan nama kota ini,"jawab gadis itu.
"Tapi saya suka dimanfaatkan, bukankah transaksi kita saling menguntungkan,"ujar lelaki itu ambigu.
"Maksudnya?"tanya Rara bingung.
"Bukankah kamu yang akan mengantarkan saya berkeliling kota ini, itu menguntungkan buat saya bukan? Dan kamu bisa mendapatkan uang dari saya, bukan kah saya benar?"tanya balik lelaki itu.
Rara mengangguk, dan mulai berjalan lagi menyusuri kebun teh itu, sambil bercerita mengenai beberapa objek wisata menarik di kota itu.
Hingga waktu tak terasa berlalu, gadis itu melihat ponsel di saku celana jeans-nya, "mas, udah jam lima, balik yuk!"ajaknya.
Lelaki itu yang masih sibuk membidikkan kameranya dan menghentikan kegiatannya, ia mengangguk, juga mempersilahkan gadis itu berjalan terlebih dahulu.
"Setelah ini enaknya kemana?"tanya Fernando sambil memakaikan helm kepada Rara.
Gadis itu berpikir sejenak, "ke pusat kota aja mas, di sana nantinya kita bisa berburu kuliner,"jawabnya.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu lebih dari empat puluh menit itu, Rara bercerita tentang beberapa kuliner yang biasa buka pada malam hari, hingga membandingkan harga juga rasa masing-masing kuliner yang tadi ia sebutkan tadi.
Memasuki pusat kota lampu-lampu kelap kelip menghiasi sepanjang jalan menuju spot kuliner yang mereka tuju,
Rara mengarahkan jalannya, dan Fernando hanya menurutinya, hingga keduanya sampai di warung kaki lima yang menjual pecel.
Gadis itu turun dari motor dan melepaskan helmnya lalu memberikannya ke lelaki dengan Hoodie army itu,
Dengan mengenakan bahasa Jawa, Rara menyebutkan pesanan untuk dirinya juga lelaki yang berada dibelakangnya.
"Mas, sudah berapa lama jadi fotografer?"tanya Rara ketika keduanya baru duduk menunggu pesanannya.
"Sejak masih di bangku kuliah, hanya sekedar hobi saja sih, kalau kamu?"tanya balik Fernando.
"Enak ya mas, hobi bisa menghasilkan uang, kalo saya kemarin sempat kerja, tapi resign karena disuruh bapak, ya sudah saya nganggur deh,"jawabnya.
"Lalu kegiatan kamu selama tidak bekerja apa?"
"Palingan bantu-bantu kakak ipar jaga keponakan atau bantu kerjaan ibu di rumah,"
"Saya anak bungsu dari tiga bersaudara, dua kakak laki-laki saya sudah menikah semua, yang sulung kerja di Kalimantan, sedangkan yang kedua kerja disini, kalau mas sendiri?"
"Saya anak tunggal,"
"Sepi ya mas!"
"Ya begitulah, lalu apa saya boleh tau tadi janjian dengan siapa?"
"Oh itu calon suami saya,"
Ada yang patah tapi bukan ranting, tepatnya hati seorang Fernando, entah mengapa ia mendadak kesal mendengar pengakuan gadis itu.
"Kenapa mas? Kok diam aja,"tanya Rara heran, dan Fernando hanya mengangkat bahunya.
Obrolan mereka terhenti ketika pesanan datang, Keduanya mulai menikmati pecel dengan bumbu kacang terasa nikmat itu.
"Asal tau aja mas, tahun kemarin saya bahkan gagal menikah,"ungkap Rara disela-sela makannya.
"Alasannya?"tanya Fernando singkat.
"Saat itu saya baru lulus kuliah, saya berencana menikah dengan teman kuliah, kami menjalin hubungan selama setahun, karena tidak mau berbuat dosa, kami memutuskan menikah diusia muda, tapi semua itu gagal karena calon saya menghamili wanita lain, saya nggak menyangka, dia itu penjahat kelamin,"ungkap Rara panjang lebar.
Mendengar ucapan terakhir gadis itu, sontak membuat Fernando tersedak, dengan sigap Rara bangkit berdiri memutari meja, lalu menepuk punggung lelaki itu dan memberikannya minum.
"Hati-hati kalau makan mas, jadi keselek kan? Lagi mikirin apa sih?"ujarnya sambil duduk kembali dihadapan Fernando.
"Nggak apa-apa kok,"ucap Fernando, "bukankah mantan calon suami kamu itu hanya menghamili satu orang wanita, kenapa kamu bilang dia penjahat kelamin?"tanyanya penasaran.
"Gimana nggak penjahat kelamin, ada beberapa teman kampus saya bilang, bahwa mantan calon suami saya itu player, suka celup sana sini, kayak gitu ngarep dapat perawan kayak saya, dasar egois,"ungkap Rara kesal.
Lagi-lagi Fernando tersedak, ia segera meminum teh manis hangat yang tersisa setengah miliknya hingga tandas.
__ADS_1
"Mas kenapa sih? Dari tadi keselek Mulu,"
"Nggak kenapa-kenapa kok, mungkin tadi ada sayur nyangkut di kerongkongan saya,"ujar lelaki itu berdusta.
"Ya udah saya pesankan air minum lagi ya!"
Fernando mengangguk, tapi meminta air mineral untuk minum selanjutnya.
"Apa menurut kamu? Seorang player, tidak berhak mendapatkan seorang perawan,"tanya Fernando penasaran.
Rara diam berfikir sambil meminum teh manis hangat miliknya, dan berkata, "bukan masalah nggak berhak, hanya nggak adil saja kan?"
"Maksud kamu nggak adil itu bagaimana?"
"Sekarang gini ya mas, ceweknya udah jaga nih kesuciannya hanya untuk suaminya, sementara cowoknya udah nggak perjaka, dan celup sana sini, kalau cewek-cewek yang dia kencani bersih, kalau ternyata bawa penyakit gimana dong? Kan nggak adil itu namanya,"
"Jadi misalnya nih, cowoknya setiap berhubungan intim dengan wanita-wanita menggunakan pengaman dan rutin memeriksakan diri ke dokter untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, dan dokter bilang cowok itu terbebas dari penyakit kelamin, apa dia berhak mendapatkan perawan?"
"Walau sudah sampai begitu, kok tetap nggak rela ya, perawan dapat cowok kayak gitu, kesel saya jadinya,"
"Jadi menurut kamu mantan player nggak berhak mendapatkan wanita baik-baik ya!"
"Bukannya gitu mas, ga tau lah, mudah-mudahan saya nggak ketemu lagi, sama cowok kayak mantan saya itu, nggak bisa saya bayangin mas,"
Karena hidangan sudah habis, Fernando mengajak Rara untuk beranjak dari sana, ia mengajak gadis itu untuk mencuci mulut dengan ice cream rasa strawberry yang ia beli di minimarket tak jauh dari warung pecel tadi.
Lelaki itu, mengajak Rara untuk mengunjungi alun-alun kota, sambil duduk menikmati ice cream.
"Jadi melanjutkan yang tadi, saya masih penasaran dengan jawaban kamu, sekali lagi saya tanya, apa mantan player tidak berhak mendapatkan gadis baik-baik dengan bonus masih perawan?"Tanya Fernando sambil menikmati ice cream strawberry favoritnya.
"Kenapa kamu penasaran? Apa jangan-jangan kamu player juga?"tanya balik gadis itu.
"Rara, tinggal jawab iya atau tidak apa susahnya sih,"ujar Fernando kesal.
Gadis dengan cardigan maroon itu terdiam sambil memakan ice cream strawberry.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak mau menjawabnya?"tanya Fernando mulai habis kesabarannya.
"Emang jawaban saya penting ya mas, kan mau saya jawab apapun, sepertinya tidak berefek apapun pada kamu kan?"
Mendengar hal itu mendadak mood Fernando menjadi buruk, lelaki yang paling tidak sabaran dibandingkan sahabatnya, meremukkan cup ice cream yang sudah habis di telapak tangannya.
Itu disadari oleh Rara, gadis itu mulai merasakan suasana menjadi buruk, dengan takut-takut ia bertanya, "mas marah sama saya? Masa gara-gara itu kamu marah,"
Fernando berusaha mengendalikan dirinya, ia menarik nafasnya kuat dan menghembuskannya perlahan, "saya hanya kesal dengan pemikiran kamu Ra, tapi itu hak kamu sih,"
Rara terdiam mencerna ucapan lelaki disampingnya itu,
"Nggak usah dipikirin Ra, itu hak kamu untuk berfikir seperti itu,"ujar Fernando berusaha mencairkan suasana.
"Kamu nggak marah kan?"tanya Rara tak enak.
"Nggak Rara, pendapat kamu ada benarnya, seorang mantan Player memang tak layak mendapatkan gadis baik-baik ya!"ucap Fernando dengan nada terdengar kesal.
"Ya nggak gitu mas, mereka berhak kok mendapatkan gadis baik-baik asal, laki-laki itu bertaubat dan menghilangkan kebiasaan buruknya, mungkin masih ada kemungkinan mendapatkan gadis baik-baik plus bonus perawan,"
Senyum mengembang, menghiasi wajah lelaki yang mengenakan Hoodie army itu,
"Tadi cemberut sekarang senyum-senyum, jangan-jangan kamu player ya?"ujar Rara melihat ekspresi lelaki disampingnya.
Tapi Fernando hanya tersenyum ambigu, "Ra, besok antar saya lagi berkeliling ya!"
"Bukannya besok kamu ada pekerjaan di Batu?"
"Bisa saya tunda, lagian tidak terlalu mendesak, jadi saya jemput ke rumah kamu ya besok!"
Rara menggeleng, "nggak usah mas, saya samperin ke hotel tempat kamu menginap saja,"
"Oke, kamu tunggu di lobby hotel xx jam delapan pagi ya,"
__ADS_1
Keduanya berpisah di alun-alun, Rara tidak mau diantar sampai kerumahnya, sebelumnya Fernando memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah pada gadis itu, tentu saja terlihat senyum bahagia menghiasi gadis penyuka strawberry itu.