
Tak mau membuang waktu, Fernando menggunakan motor matic yang biasa digunakan istrinya.
Hingga tak sampai lima belas menit, dirinya telah sampai di rumah sakit.
Di lobby ia berpapasan dengan Oscar, namun ia mengangkat tangannya saat sahabatnya hendak berbicara,
"Kalau tentang kerjaan, Lo email aja ke gue, kalau diluar itu, kapan-kapan aja, gue buru-buru,"tolaknya sambil bergegas menuju lift.
Biasanya Fernando akan melihat keadaan Ayudia terlebih dahulu, tapi tidak ia lakukan sekarang.
Di ruangan sebelah, Aileen sudah siap dengan piyama bergambar kucing berwarna biru, sedang duduk diatas kasur bersama maid dan Ainsley.
Senyum mengembang balita itu melihat siapa yang datang, "papa Nando lama, Ai udah ngantuk,"
Fernando melepas Hoodie nya menyisakan kaos hitam polos lalu menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Lelaki itu menyuruh maid untuk keluar dari ruangan itu, sementara dirinya mulai berbaring diapit oleh si kembar.
Fernando mulai membacakan buku cerita, namun baru satu halaman Aileen menghentikan bacaannya,
"Papa Nando tadi Ai, kayak liat dedek bayi sama papa, itu siapa?"tanyanya.
"Masa sih?"
"Iya Ai lihat kok,"
"Tadi Ain liat juga nggak?"tanya Fernando pada balita laki-laki disebelahnya.
Ainsley hanya menggeleng, sepertinya balita itu mulai mengantuk.
"Princess nya Papa, sekarang tidur ya,"
Aileen mengangguk dan mulai memejamkan matanya, sementara Fernando mengelus punggung balita perempuan itu
Tak lama kedua balita itu tertidur, perlahan Fernando bangkit dengan hati-hati.
Baru saja mematikan lampu ruangan itu dan keluar, Anna duduk di kursi samping pintu menunggunya.
"apa Amara sudah kembali do?"tanyanya.
Fernando duduk dengan jarak satu kursi dengan perempuan paruh baya itu.
"Tadi waktu, Nando mau kesini Amara baru saja pulang, makanya Nando telat kesini nya,"jawabnya.
"Apa bisa sampai Ayu diperbolehkan pulang oleh dokter, kamu tetap menyempatkan waktu kamu untuk mengunjungi Aileen?"
"Nando usahakan Tante,"
"Maaf Tante merepotkan kamu terus,"
Setelahnya, Fernando pamitan untuk segera pulang ke rumahnya.
Disisi lain sepeninggal suaminya, Rara mengganti diaper dan baju Arana, tak lupa menyusui putrinya hingga bayi itu terlelap, dengan hati-hati Wanita itu meletakkannya di boks bayi, yang tadi sudah ia bersihkan.
Rara membuka laptopnya, mengecek sejenak laporan yang dikirim Fitri tadi sore.
Hanya sebentar, karena kantuk menyerangnya, ia memutuskan melanjutkannya esok,
Rara menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada, lalu mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Terdengar sayup-sayup putrinya menangis, seperti sudah otomatis, Rara terbangun, untuk melihat apa yang terjadi dengan putrinya.
Meskipun masih mengantuk, Rara menghampiri boks bayi dimana Arana berada.
Ia memeriksa diaper yang dikenakan putrinya, sepertinya bukan karena itu alasan Arana terbangun,
Sepertinya Arana menangis karena haus, Rara menyusui bayi berumur tiga bulan lebih itu, hingga putrinya terlelap kembali.
Baru saja ia meletakan Arana, suaminya datang.
"Kamu belum tidur?"tanya Fernando yang baru saja masuk.
"Aku udah tidur, tadi Arana kebangun, haus dia, apa sudah selesai urusan kamu?"ujar Rara sembari berjalan keluar kamar menuju dapur, sepertinya setelah menyusui kerongkongannya kering.
Fernando mengikuti istrinya, "aku beli sate, apa kamu mau makan?"tawarnya.
Rara yang tengah minum, menganggukkan kepalanya.
Wanita itu mengambil satu gelas lagi air minum dan membawanya menuju meja makan sedangkan Fernando membuka bungkusan sate.
Ada sate kambing dan ayam masing-masing satu porsi plus lontong.
Keduanya mulai makan diselingi dengan obrolan.
"Aku belum makan dari pagi,"ucap Fernando tiba-tiba.
Rara mengernyit bingung, "kamu sibuk apa sampai nggak sempat makan?"tanyanya.
"Aku cariin kamu,"jawab lelaki itu sambil terus mengunyah potongan daging kambing yang dibakar itu.
Fernando menceritakan tentang Sinta yang menghubungi Fitri, lalu gadis itu memberitahukan jika Rara dijemput oleh wanita bernama Titi.
Fernando berdecak kesal, lelaki itu sampai meletakan kembali sate yang hendak dimakannya, "kenapa diungkit sih Ra? Itu masa lalu dan aku menyesal,"
"Itu kenyataan yang tak mungkin dibantah bukan?"
"Tapi yang belakangan nggak usah disebut bisa nggak,"ucap Fernando sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Itu kenyataan,"
Fernando menatap istrinya tajam, "kenapa kamu berhubungan lagi sama dia? Bisa nggak kita meminimalisir konflik diantara kita?"
"Aku ada project sama mbak Cristy, dia yang jadi model dari baju-baju jualan aku, dari pada dia jadi model bikini, mending dia jadi model baju-baju yang tertutup kan?"
"Ra bisa nggak batalkan kerja sama itu,"pintanya.
Rara menggeleng, "nggak bisa, Kami udah teken kontrak,"
"Aku ganti biaya pembatalan kontrak,"
"Nggak bisa mas,"
Fernando menghembuskan nafasnya kasar, "kenapa sih Ra, setelah sekian lama kita nggak ketemu, kita malah kayak gini? Bisakah kita nggak berdebat,"
"Yang ngajak berdebat duluan siapa? Aku hanya menanggapi sesuatu yang aku anggap benar, jadi bisakah kamu habiskan makanan, udah malam aku mau tidur lagi,"
"Aku udah kenyang,"ujarnya merajuk.
Rara memutar bola matanya malas, "kamu dari pagi belum makan, dan sekarang, kamu makan cuma sedikit?"
__ADS_1
"Aku kenyang Amara,"
"Habiskan Fernando,"ucap Rara dengan nada tinggi.
"Kamu berani membentak suami kamu Amara,"
Rara memilih diam tak menanggapi, ia lebih memilih menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.
Fernando mengikuti istrinya menuju dapur untuk membuang sampah bekas makan, "kenapa makin hari kamu makin berani sama aku, suami kamu sendiri Amara?"
Rara yang sedang mencuci tangannya, memutar bola matanya sambil menghela nafas, "aku biasa aja, aslinya aku memang gini, ada masalah?"
"Enggak, kamu nggak kayak gini, Amara yang aku kenal, penurut dan penakut, apa ada orang lain yang membuat kamu seperti ini? Siapa orangnya?"ujar Fernando dengan suara mulai meninggi.
Rara menghadap suaminya, ia mendongak menatap lelaki itu, "nggak ada seorangpun yang merubah aku, Rara tidak pernah berubah, baik dulu ataupun sekarang, jadi apa kamu menyesal baru tau sifat asli aku? Kamu menyesal telah menikahi aku?"
Fernando mengurung istrinya dengan kedua tangannya disisi tubuh wanita itu, ia menunduk agar bis menatap balik mata bulat itu, "kamu sengaja memancing amarah aku, supaya aku melepaskan kamu begitu, sehingga kamu bisa bebas bersama laki-laki yang kamu bilang sahabat itu bukan? Jangan harap Amara, sampai matipun kamu akan jadi istri Fernando, tanamkan di otak kecil kamu itu,"
Rara menyunggingkan senyumannya, ia menatap tajam lelaki itu, "kenapa mesti bawa Pradikta sih? Dengar ya mas, sekalipun aku sama kamu pisah, aku nggak akan bisa sama Dikta, dia hanya sahabat aku sampai kapanpun,"tegasnya, "minggir aku mau tidur,"
Fernando tentu Takan semudah itu melepaskan istrinya, wanita itu membangkitkan amarahnya, "bisa-bisanya disaat seperti ini kamu mau tidur, kita sudah tiga bulan nggak ketemu, dan begitu kita bertemu kamu mengajak aku berdebat, apa kamu pikir aku bisa terima gitu aja,"
"Lalu apa mau kamu? Apa kamu mau aku pergi lagi dari sini?"
Fernando menggeleng, "aku minta kamu putuskan kerja sama kamu sama dia, akan aku ganti pinaltinya, lalu jauhi Pradikta, jangan berhubungan apapun sama dia, termasuk keluarganya, aku nggak suka, jadi Amara yang penurut, yang semua waktunya hanya untuk aku dan anak-anak, simpel bukan? hanya itu Amara,"
Rara memegangi kepalanya, dirinya tidak habis pikir, kenapa suaminya begitu egois," kalau mbak Cristy, aku nggak bisa,"
"Kenapa nggak bisa? Apa alasan kamu? Apa kamu mau mendorong aku lagi supaya kembali sama dia? Kalau itu mau kamu sampai aku matipun aku nggak akan kembali sama dia,"
"Itu urusan bisnis aku, nggak ada hubungannya sama kamu,"
"Apa perlu aku buat dia menghilang Amara?"ancamnya.
Rara melebarkan matanya, "apa kamu gila? Kalau sampai itu terjadi aku benar-benar akan meninggalkan kamu,"
"Kenapa sih Ra, kamu keras kepala banget?"
"Aku hanya mempertahankan yang menurut aku benar, udah ya mas, udah malam, aku lelah, aku mau tidur,"
Fernando menggeleng," kita belum selesai Amara, kamu tau aku bukan orang yang sabar untuk hal seperti ini?"
Rara benar-benar malas menghadapi lelaki dihadapannya, "mas, dibuat simpel aja ya, kayak dulu sebelum kamu tidak tau soal bisnis aku, anggap aja istri kamu pengangguran yang mengandalkan suaminya, jadi anggap aja aku tidak kenal dengan mbak Cristy, lalu masalah Dikta, bentar lagi dia juga mau ke luar negri dalam waktu yang lama, tapi untuk Tante Arini dan om Irwan, mereka udah aku anggap seperti orang tua aku sendiri sejak dulu, jadi hal itu tidak bisa di rubah gitu aja, jadi gitu aja ya, sekarang kamu habiskan makanannya, lalu tidur, besok kamu harus dampingi Ayudia terapi dan menjaga Aileen kan?"
Ada raut terkejut dari wajah blasteran itu, "tau dari mana kamu?"
"Pradikta cerita semua, jadi walaupun aku nggak kembali, sebenarnya itu tak berarti apapun buat kamu, toh sudah ada Ayudia dan si kembar yang mewarnai hari-hari kamu,"
"Kamu cemburu sama sahabat kamu sendiri Amara? Kamu tau keadaan mereka sekarang bukan?"
"Aku tau banget, maka dari itu aku persilakan kamu untuk menjaga mereka, kamu tau bukan selama tiga bulan kamu pergi dari aku tanpa kabar, sampai detik ini, aku dan Arana baik-baik saja bukan?"
"Ra..."
"Apa sih mas, sekarang minggir, aku mau tidur, aku lelah,"
"Ra..."
Wanita itu mendorong suaminya kuat hingga lelaki itu terdorong mundur, dan setelahnya, Rara berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1