
Fernando mengajak Rara untuk kembali ke Lembang usai makan siang keesokan harinya.
Awalnya wanita itu protes karena masih ingin tinggal di rumah sahabatnya sambil menjaga si kembar, namun Fernando berkilah, sudah ada adik-adik Ayudia yang membantu Anna menjaga si kembar, juga Sinta dengan Rama.
"Kalau di Lembang, aku kesepian mas, kamu dari pagi sampai sore kerja, sedangkan aku hanya diam di rumah, aku bosan,"protes wanita hamil itu ketika keduanya dalam perjalanan menuju villa.
Fernando yang sedang mengemudi, hanya melirik tanpa menanggapi protes dari istrinya.
Tidak ditanggapi suaminya, Rara berdecak, "kamu ngeselin ih,"
"Rara sayang, aku tau maksud kamu tetap tinggal di sana, kamu ingin ketemu Dikta kan?"
"Mas, Dikta temen aku, apa salahnya? Kamu juga punya teman lawan jenis? Sama aja dong, masa aku nggak boleh punya,"
"Maksud kamu Asha? Yang bener aja, nggak pernah sekalipun kami berlima menganggap Asha itu wanita, begitu juga Asha yang benci dengan laki-laki seperti kami,"
"Kamu kalau ngomong pedes ya!"
"Nyatanya begitu Ra, dari sejak SMA kami berteman memang seperti itu adanya, sementara kamu berbeda dengan Dikta, kalian bahkan merencanakan menikah jika aku tidak menikahi kamu,"
"Ya karena Dikta hanya bisa dekat aku sama Dia aja, wanita lain mana bisa dia dekat,"
"Itu Sinta, hampir dua bulan mereka berinteraksi, nggak masalah kan?"
"Tetap beda mas, Kalau di rumah Dikta tetap jaga jarak sama mbak Sinta,"
"Lalu selama tinggal bareng apa yang kalian lakukan?"
"Biasa aja,"
"Biasa aja gimana? Dikta hanya bisa berinteraksi sama kamu dan Ayu, lalu apa saja yang sudah kalian lakukan?"
"Aku nggak ngapa-ngapain sama Dikta, paling cuman boncengan motor, duduk bareng ngobrol, bercanda gitu-gitu aja, apa masalahnya?"
"Apa kamu dipeluk dan dicium keningnya sama dia?"
"Itu kan udah biasa dari jaman SMA, ungkapan rasa sayang diantara kami,"
__ADS_1
Fernando menghentikan laju mobilnya lalu menghadap ke istrinya, "tapi sekarang kamu udah nikah, lagian kamu tau kalau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom itu haram,"
Rara terdiam mendengar perkataan suaminya, dalam hati ia membernarkan, tapi karena mungkin sudah terbiasa berinteraksi seperti itu dengan Pradikta ia melupakan hal itu.
"Kenapa diam? Benar kan perkataan aku, Amara aku tau dulu aku brengsek, berzina udah jadi makanan sehari-hari aku, tapi setelah aku ketemu kamu, aku hanya berinteraksi dengan kamu, bahkan aku muak melihat wanita yang dengan sengaja menyodorkan dirinya kepada aku, harusnya kamu yang lebih ngerti dibandingkan aku yang seperti ini,"
Fernando mengambil tangan istrinya lalu menciumnya, "Ra, aku sudah berusaha membentengi diri aku sendiri dari hal-hal yang akan menghancurkan rumah tangga kita, jadi aku minta kamu melakukan hal yang sama, Ra sejak kamu meninggalkan aku tanpa pamit empat tahun yang lalu, aku tersadar, bahwa kamu sangat berarti buat aku, mungkin aku terlihat baik-baik saja, aku masih bisa menjalani hari-hari aku, tapi tidak ada yang tau hancurnya hati dan pikiran aku, karena kehilangan kamu,"
Fernando mencium kening wanita itu lembut, lalu memeluknya, "Ra, aku nggak bisa bayangin kalau kamu pergi lagi dari sisi aku, setiap hendak tidur dan bangun di pagi hari, aku memastikan kamu dalam dekapan aku, jadi tolong, jaga diri, hati dan pikiran kamu hanya untuk aku,"pintanya.
Usai mengungkapkan yang ada dipikirannya, Fernando melepaskan pelukannya dan kembali melajukan mobilnya.
Keheningan melanda diantara suami istri itu, belum ada yang angkat bicara, keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Rara memilih memejamkan matanya, meskipun wanita itu tidak tidur, sejujurnya ia merasa bersalah dengan suaminya, namun mulutnya seolah berat mengucapkan kata maaf.
Fernando tak langsung membawa istrinya pulang, ia menuju villa yang sedang tahap finishing.
Villa hasil pemikiran antara Fernando dan Rara tak terasa hampir rampung, target satu tahun pengerjaan bisa diselesaikan dalam waktu lebih cepat, meskipun untuk kebun belum sepenuhnya jadi, setidaknya kamar-kamar villa bisa mulaiĀ disewakan bulan depan.
Pada kesempatan kali ini, Fernando ingin Benedict melihat hasil rancangan yang katanya saingannya.
Selama berbulan-bulan ia bahkan menetap lama di satu tempat demi memastikan jalannya renovasi besar-besaran itu.
Masing-masing kamar villa terpisah-pisah, bangunan dua lantai, yang lantai atasnya sebagian besar berdinding kaca sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan langit malam juga suasana sekitar villa jika siang hari.
Lalu ada bangunan standar dengan material sebagian kayu untuk rombongan, dengan banyak kamar.
Ada juga area berkemah yang sudah disediakan tenda-tenda disekitar hutan pinus.
Penanaman tanaman Argo wisata juga sudah selesai, tinggal merawatnya hingga berbuah, jadi area ini akan dibuka saat musim panen tiba.
Bukan hanya strawberry, ada kebun anggur, melon, durian, mangga dan lain sebagainya, tentu membutuhkan waktu yang lebih lama.
Sementara sayuran menerapkan sistem hidroponik, bisa digunakan sebagai sarana edukasi bagi keluarga atau anak-anak sekolah yang ingin belajar menanam sayur di rumahnya.
Ada juga resto yang menyediakan makanan khas Nusantara, namun sebagian didominasi masakan khas Sunda.
__ADS_1
Rencananya sebelum cuti panjang yang akan ia ambil untuk menyambut kelahiran buah hatinya, ia akan mulai membuka lowongan pekerjaan untuk para pekerja villa.
Bukan hanya dirinya, ada Benedict dan Rama yang Minggu depan akan ke villa untuk memilih mana saja yang akan bekerja di sana.
Menjelang magrib, Fernando dan istrinya baru kembali ke rumah kontrakan yang selama ini mereka tinggali.
Tak banyak berubah, masih terlihat rapih, meski sang Ratu rumah tidak berada di sana selama hampir dua bulan ini, ada pekerja yang rutin membersihkan dua hari sekali.
Saat Fernando baru selesai mandi, ponselnya berdering, tertera dilayar nama umi Fatimah menghubunginya via video call.
Lelaki itu mencari keberadaan istrinya yang ternyata sedang berada di ruang tamu.
"Umi video call, kayaknya bakal nanyain kamu jadi angkat aja, aku mau pakai baju dulu,"ujarnya sambil memberikan ponsel miliknya.
Rara menerimanya, terdengar sapaan salam dari sana dan wanita hamil itu menjawab salam mertuanya.
"Alhamdulillah menantu umi sudah pulang, kamu apa kabar Ra? Gimana cucu umi?"tanya umi Fatimah.
Rara tersenyum malu dan merasa tak enak dengan mertuanya, "Alhamdulillah baik, begitu juga dengan kabar kandungan Rara, umi bagaimana kabarnya?"
"Umi sehat, lalu bukankah sekarang kandungan kamu delapan bulan? Rencananya Rara mau lahiran dimana?"
"Rara belum bahas sama mas Nando,"
"Ya dibahas Ra, lalu bicarakan soal kalian akan menetap dimana? Mau tak mau kalian harus mulai membicarakannya,"
Fernando datang dan duduk bersebelahan dengan istrinya, ia memiringkan kepalanya agar bisa terlihat di kamera,
"Ia mi, nanti aku omongin sama Rara, kan istri aku baru pulang,"
"Buruan diomongin, apa mau tetap di Lembang atau mau pindah kemana, kalau mau di Jakarta kan ada rumah juga, apa mau ikut kamu di Bali, kalau mau di Sukabumi, umi malah seneng,"
"Entar deh mi, aku omongin, terus aku lupa kasih tau, soal jenis kelamin, sepertinya harapan umi terkabul, anak kami perempuan,"
Umi berucap syukur, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, "umi nggak sabar pengen cepet-cepet liat cucu umi, akhirnya biarpun nggak punya anak perempuan, umi punya cucu perempuan, makasih banyak Ra, umi bersyukur banget, pokoknya cepat tentuin kalian mau tinggal dimana, nanti umi datang saat Rara mau lahiran, kamu yang sehat ya Ra, jaga cucu umi,"
Rara mengangguk, keduanya mengakhiri panggilannya usai mengucapkan salam.
__ADS_1