
Rara berpamitan pada bu Narti, akan pergi menemui temannya di cafe.
Wanita hamil itu memilih berjalan kaki menuju cafe, meski sekarang ini matahari sudah meninggi.
Berjalan kurang lebih sepuluh menit, sampailah wanita berjilbab maroon itu ditempat tujuan.
Cristy belum datang, Rara memesan milkshake strawberry dan cake dengan rasa yang sama.
Sambil menunggu Cristy, Rara membuka email dari Fitri, selain laporan penjualan juga laporan gaji beberapa orang yang membantunya.
Fitri mengirimi pesan, jika dirinya meminta pendapat kepada Rara untuk menambah jumlah pekerja, dikarenakan saat ini pesanan membludak, mendekati akhir tahun.
Rara menyetujuinya dan menyarankan menerima pekerja harian saja, dikarenakan tidak setiap saat pesanan membludak seperti sekarang ini.
Selain dengan Fitri, Rara berkirim pesan dengan Pradikta, lelaki itu mengaku sudah mulai pulih, dan rencananya besok akan mulai bekerja.
Rara meminta maaf lagi pada sahabatnya tentang ulah suaminya.
Pradikta mengatakan, jika dirinya tak masalah, lalu mengajaknya untuk menjenguk Ayudia, dan Rara mengatakan jika sekarang berada di cafe dekat dengan rumah mertuanya.
Saat sedang chat dengan sahabatnya, Cristy datang mengenakan kaos putih dilapisi cardigan cokelat dengan celana berwarna senada, ada Sling bag dari brand ternama.
"Hai Ra,"sapa Cristy dengan senyuman.
Rara menyambutnya dengan senyuman ramahnya dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Jadi kenapa kamu mengajak aku bertemu?"tanya Cristy to the poin, setelah duduk berhadapan dengan istri mantan pacarnya.
"Mbak Cristy nggak pesan minum atau makan dulu?"tawar wanita berhijab maroon itu.
"Nggak usah Ra, aku juga nggak bisa lama,"wanita bermata sipit itu melihat jam yang ada dipergelangan tangan kirinya, "sejam lagi aku harus berangkat kerja,"
Rara menatap mantan pacar suaminya, "mbak Cristy bukannya lulusan sarjana ya? Kenapa nggak melamar kerja kantoran?"tanyanya.
"Aku lebih tenang kayak gini Ra, lingkungan kerjanya juga menyenangkan, meskipun lebih capek, tapi aku bahagia,"jawab wanita berusia tiga puluh tahun itu.
"Maaf sebelumnya, bukan maksud aku menganggap remeh pekerjaan mbak Cristy, tapi apa gajinya cukup untuk membiayai hidup selama satu bulan? Bukankah mbak Cristy harus membayar sewa rumah?"
"Di cukup-cukupi aja, yang penting hidup aku lebih tenang, aku sudah tidak berurusan dengan rentenir,"
Rara memegang punggung tangan Cristy, "mbak sejujurnya aku merasa bersalah dulu, karena hadirnya aku, merusak hubungan diantara mbak dengan mas Nando, apalagi setelah tau masalah-masalah yang menimpa mbak setelah putus dari mas Nando,"
"Masa itu udah lewat Ra, aku udah ikhlas, kamu datang setelah aku putus dengan Nando, jadi jangan berfikir kamu merusak hubungan kami dulu, memang dari awal sejak aku dikenalkan dengan umi, dan hubungan kami tidak disetujui, aku berfikir, sepertinya aku tidak bisa berharap lebih dengan hubungan kami, dan aku juga tidak bisa memberikan anak pada Nando,"
__ADS_1
Cristy memegang tangan Rara, "aku tau meskipun Nando sempat bertengkar dengan umi gara-gara aku, tapi aku lihat bukan karena ia ingin berjuang mempertahankan hubungan kami, tapi lebih kepada hasratnya yang menentang kemauan uminya, Nando pernah cerita ke aku, beberapa wanita yang dia kenalkan pada uminya berakhir sama seperti aku, tidak direstui,"
"Nando tidak mencintai aku Ra, dia hanya tertarik secara fisik, bukan hati, aku bisa merasakan jika selama kami menjalin hubungan, dia menganggap aku layaknya j*Lang yang ia sewa, bedanya aku menetap dan diberi segala fasilitas yang membuat aku nyaman, sehingga saat tiba-tiba dia memutuskan aku, rasa takut akan kembali ke tempat asal itu yang membuat aku memintanya kembali,"
"Maaf ya Ra, dulu aku egois banget, meminta kamu meninggalkan dia,"
Rara tersenyum, "aku ngerti kenapa mbak begitu, jadi bisakah kita saling memaafkan dan berteman?"
Raut terkejut terlihat dari wajah Cristy, mungkin ia tak habis pikir, bagaimana ada perempuan yang mau berteman dengan mantan pacar suaminya.
"Kamu jangan mengada-ada Ra,"
Rara tersenyum lagi, "mbak Cristy aku serius, lagian temenannya sama aku, bukan sama mas Nando, memangnya nggak boleh ya?"tanyanya sambil mengelus perut buncitnya.
"Bukan gitu Ra, aku baru ketemu orang seperti kamu, aku nggak habis pikir aja,"
"Aku biasa aja mbak, hanya ingin punya teman aja, memangnya salah ya?"
"Ya nggak sih, cuman apa nggak canggung?"
"Aku tegaskan, yang temenan sama mbak Cristy itu Rara bukan mas Nando,"
"Baiklah, aku setuju, tapi tolong sebisa mungkin jangan sampai Nando tau, kamu udah tau belum, kalau dia ngamuk? Menakutkan banget Ra,"
Cristy menghela nafas, "ngamuknya bukan sama aku, jadi waktu aku lagi makan bareng Nando disalah satu resto, ada penagih utang yang mencari aku, Nando udah ngomong, kalau urusan utang akan diselesaikan setelah kami makan, tapi penagih utang itu malah menyindir dan mengatakan yang tidak enak, Nando merasa terganggu akhirnya menghajar habis-habisan penagih utang itu, kalau saja security tidak datang, mungkin Nando bakal bunuh orang itu ditempat, bukan hanya sekali Ra, bahkan Nando hampir saja mencelakai mami aku,"
"Sampai segitunya mbak?"
Cristy mengangguk, "Nando paling tidak suka diganggu, nggak sabaran dan gampang emosi, maka dari itu aku minta, jangan sampai Nando tau kita berteman, dia pasti akan menentang keras,"
"Iya mbak, oh ya aku lupa, aku ingin menawari mbak Cristy tempat tinggal, tapi bukan sekarang, Mungkin sekitar tiga sampai empat bulan lagi,"
Cristy mengernyit bingung, "maksudnya Ra?"
"Jadi aku punya rumah yang sekarang lagi dikontrakkan, kira-kira tiga atau empat bulan lagi, kontrak itu habis, aku berniat mau menawari mbak Cristy untuk menempatinya, gratis kok mbak, meski lingkungannya padat tapi tetangga sekitar pada baik, asal jangan bawa cowok terus pintu ditutup aja, bakal kena grebek,"jelasnya, Rara jadi ingat kejadian saat dirinya digrebek warga.
"Kenapa kamu baik banget sih Ra, aku ini mantan pacar suami kamu loh, kamu nggak takut kalau aku bakal rebut suami kamu lagi?"
"Aku percaya mbak Cristy nggak bakal begitu lagi, aku mau tanya, mbak pernah jualan nggak?"
"Dulu waktu SMA pernah bantu tetangga, kenapa emang?"
"Aku punya usaha jualan baju gitu, online tepatnya, maksud aku kalau mau, selain tetap bekerja, mbak bisa jualan sekaligus merangkap jadi modelnya, hasilnya lumayan buat nambah jajan,"
__ADS_1
"Boleh Ra, aku mau, jadi mulai kapan?"tanya Cristy antusias.
"Nanti saat mbak mulai tempati rumah aku, gimana?"
Cristy mengangguk sambil tersenyum, "aku mesti ngomong apa lagi Ra, kamu penolong aku,"
"Satu lagi, mbak kesini naik apa?"
"Naik ojol, kenapa emang?"
"Mbak bisa naik motor nggak?"
"Dulu bisa, sempat punya motor malah, cuman ya gitu, ditarik sama dealer karena nggak mampu bayar, uang cicilan motor diambil mami buat main judi,"
"Aku beliin motor buat nanti operasional sekaligus buat mbak berangkat dan pulang kerja, agar lebih cepat juga hemat ongkos,"
Mata Cristy berkaca-kaca, "aku jadi sadar kenapa Nando bisa dapat istri seperti kamu Ra, kalian sama-sama baik dan royal dengan siapapun,"
"Mbak Cristy bisa aja,"
Saat kedua wanita itu mengobrol tiba-tiba ada yang memanggil Rara, wanita berhijab itu menoleh, terlihat sahabatnya dengan wajah yang ditutupi masker.
"Kamu kok kesini?"tanya Rara.
Pradikta duduk disebelah Rara, "kamu sendiri yang bilang sedang disini, ya udah aku samperin, biarpun tadi mama larang, tapi aku pengin ketemu kamu,"
"Tapi kamu belum sembuh betul Ta, nekad banget sih,"
"Udah sembuh kok, ini aku udah ada di samping kamu,"
Cristy yang berada dihadapan mereka hanya melongo melihat kedekatan Rara dengan lelaki yang bukan suaminya.
Rara yang menyadari jika dirinya tidak sendiri, berinisiatif memperkenalkan Pradikta dengan Cristy,
"Ini salah satu korbannya mas Nando beberapa hari yang lalu mbak, namanya Pradikta sahabat aku dari SMA,"jelasnya.
"Ta, ini mbak Cristy mantan pacarnya mas Nando,"
Kedua orang itu terkejut mendengar penjelasan Rara,
"Biasa aja dong pada liatnya, bisa bolong aku, kalian segitunya lihatin aku,"protesnya.
"Oh ya ta, antar mbak Cristy Ke tempat kerjanya dulu ya, baru entar kita ke rumah sakit,"
__ADS_1
Pradikta mengangguk, usai membayar, ketiganya pergi dari cafe.