
Dua Minggu berlalu, keduanya telah mantap akan berjualan gamis secara online, untuk sementara gamis-gamis itu akan dipesan dari produsen yang masih berada di provinsi Jawa tengah.
Mereka belum bisa memproduksi gamisnya sendiri, tempo hari Anisa mengobrol bersama mereka melalui sambungan telepon, memberikan sarannya, juga merekomendasikan produsen gamis yang berharga miring namunĀ berkualitas bagus.
Andi mendukung penuh usaha adiknya, bahkan Anisa siap meminjamkan uang simpanan nya untuk tambahan modal.
Luka-luka ditubuh Rara juga sudah sepenuhnya sembuh, setidaknya selain dahi yang terdapat bekas jahitan, serta tangan dan kaki yang lecet-lecet, tidak ada luka yang berarti.
Rara dan Fitri berpamitan kepada Mbah Sarmi juga orang tua Fitri, untuk pergi mengunjungi produsen yang akan menjual gamisnya produknya kepada mereka.
Keduanya ingin melihat langsung proses produksinya,
Menempuh perjalanan hingga enam jam lamanya menggunakan motor milik bapaknya Fitri, keduanya mengendarainya secara bergantian.
Beruntung Rara tidak sampai trauma akibat kecelakaan yang menimpanya lebih dari sebulan yang lalu.
Sesampainya di kota tujuan, mereka makan terlebih dahulu sebelum menuju rumah pemilik usaha pembuatan gamis itu.
Usai makan makanan khas daerah itu, keduanya langsung menuju kediaman mbak Aminah, pemilik tempat produksi.
Ketiganya berdiskusi tentang model gamis juga jilbab yang diinginkan Rara dan Fitri.
Di kota itu pula, Rara menarik uang dari tabungannya, dalam jumlah besar, beruntung hari dimana dia kecelakaan ia membawa buku tabungan di dalam Sling bag miliknya.
Lebih dari setengah uang yang dimiliki ia tarik.
Saat pergi ke Bank, ia sendirian, berjalan kaki, sementara Fitri menunggunya di warung nasi yang berjarak sekitar seratus meter dari bank tersebut,
Semua yang dilakukan Rara atas saran Andi, entah apa alasannya, yang jelas sebagai adik yang penurut, ia hanya mengikuti saran kakak sulungnya.
Rara menaruh uang itu kedalam plastik hitam, itu juga saran Andi, katanya supaya aman dan tidak ada yang mencurigainya.
Usai urusannya di Bank selesai Rara kembali berjalan menuju tempat dimana Fitri menunggunya.
Keduanya kembali ke desa, seperti tadi mereka bergantian mengemudikan motor itu, tadi mbak Aminah sempat memberikan sampel gamis juga jilbab.
Ba'da Maghrib kedua perempuan itu baru saja tiba di rumah milik Fitri, mbak Nurul mempersilahkan Rara untuk makan malam, namun perempuan dua puluh empat tahun itu menolaknya dengan halus, karena tidak enak dengan Mbah Sarmi, pasti beliau sudah menunggunya.
Keesokan harinya, usai menyelesaikan pekerjaan rumah membantu Mbah Sarmi, Rara ijin pamit menuju rumah Fitri, sedangkan wanita tua itu beranjak menuju ladang, katanya mau memanen jagung.
Tiba di rumah Fitri, sudah ada gadis itu juga mbak Nurul yang menunggunya,
__ADS_1
"Fitri, kamu punya rekening nggak?"tanya Rara yang baru duduk di kursi rotan.
"Buat apa punya rekening Ra, lah wong nabung aja nggak pernah,"Nurul menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada putri sulungnya.
"Buat apa nabung mbak, bisa lulus sekolah SMA aja udah Alhamdulillah, ibu kalau punya duit ya disimpan di lemari, kalau aku sama adik-adik, nyelengin di celengan kendil,"
Rara tersenyum, ia jadi teringat hadiah dari kakung nya sewaktu kecil dulu, katanya kalau punya uang taruh di celengan yang bentuknya seperti ayam jago pemberian Kakung.
"Buka tabungan yuk, mas Andi nyuruh tabungannya atas nama kamu aja, kamu kan yang warga sini,"ujar Rara.
"Duit dari mana Ra, lah wong Fitri belum kerja,"celetuk Nurul.
"Ini uang modal usaha kita bersama, kan aku bilang, aku dengan dibantu mas Andi sama mbak Anisa mau kasih modal buat jualan, nah Fitri ini yang mengelola dibantu aku tentunya,"jelas Rara.
Nurul mengangguk,
"Tapi beneran mbak percaya sama aku?"tanya Fitri.
Rara mengangguk, "aku percaya Fit,"
"Ya udah sana ke kota kecamatan dulu, mumpung masih pagi, nanti banknya keburu ngantri,"saran Nurul.
"Kamu sebelum kesini kerja dimana Ra?"tanya Nurul.
"Aku kerja di kantor jasa pengiriman barang di Jakarta mbak,"
"Oh, terus kenapa kamu keluar, bukannya kerja kantoran itu enak ya!"
"Aku cuman gantiin karyawati yang lagi cuti melahirkan, jadi nggak perpanjang kontrak,"
Nurul mengangguk, "aku juga maunya Fitri itu kerja kantoran tapi cuman lulusan SMA kan agak susah ya!"
"Nggak selalu sarjana sih mbak, ada beberapa bagian yang masih menerima lulusan SMA,"
"Gitu ya! Sebenarnya Fitri pengen kuliah, tapi lah wong bapaknya cuman buruh tani dan mbak sendiri cuman tukang jahit, mana bisa biayai kuliah, kan mahal,"
"Sebenarnya bisa kuliah dengan mengajukan beasiswa dan bisa ambil kerja part time, lumayan kan buat yang jajan sama bantu bayar kos,"
"Gimana dapat beasiswa, Fitri kan bukan murid berprestasi, bisa lulus aja Alhamdulillah,"
Tiba-tiba ada yang menyela, "iya Bu, Fitri bukan murid berprestasi," ucapnya, gadis itu sudah rapih dengan baju gamis biru dan pasmina dengan warna senada.
__ADS_1
"Lah emang kenyataan Fit, anak sulung ibu, kepintarannya pas-pasan,"ujar Nurul.
"Tapi Fitri pandai ngaji mbak,"bela Rara.
"Itu Bu, dengarkan Mbak Rara, setidaknya ada yang belain Fitri,"
"Iya, anak ibu pandai ngaji, sekarang mending langsung berangkat, nanti keburu kesiangan, banknya mengantri,"
Rara juga Fitri berpamitan pada Nurul, keduanya menyalami dan mencium punggung tangan perempuan berusia tiga puluh sembilan tahun itu.
Tiba di Bank, mereka harus menunggu lebih dari tiga puluh menit, banyak nasabah yang mengantri.
Hingga giliran Rara dan Fitri menemui customer service, Rara menjelaskan, ingin membuka rekening atas nama Fitri,
Customer service memberikan kertas agar diisi oleh Fitri, tak lupa meminta KTP milik gadis berusia delapan belas tahun itu.
Customer service menjelaskan jenis tabungan yang ditawarkan, Rara yang menjawab dan memilih sendiri tabungan yang diperlukan, tak lupa ia meminta untuk didaftarkan menggunakan M-banking.
Saat menyebutkan setoran awal, Fitri sampai menganga mendengar ucapan Rara,
"Mbak kok banyak banget sih, aku pikir cuman satu juta atau paling banyak tiga juta,"bisik Fitri.
"Namanya modal kan mesti gede Fit,"balas Rara berbisik.
Customer service tersenyum melihat interaksi keduanya,
"Jadi setoran awal sebesar tujuh puluh juta rupiah ya!"
Setelah bermenit-menit berlalu, akhirnya Fitri mendapatkan buku tabungan juga kartu ATM pertamanya.
Senyum secerah mentari pagi menghiasi wajahnya, "aku ngerasa jadi orang kaya mendadak mbak,"ujar Fitri saat keduanya berada di parkiran Bank.
Rara tertawa, "itu belum termasuk tambahan modal dari mbak Anisa sama mas Andi loh,"
"Kalau ibu tau, bisa pingsan kayaknya, seumur-umur baru kali ini bisa lihat duit sebanyak tadi didepan mata, bapak pernah dapat hasil panen, tapi paling besar dua puluh juta, itu langsung bisa beli motor ini,"ujar Fitri sambil menepuk motor yang hendak ia kendarai.
"Mudah-mudahan usaha kita lancar ya Fit, biar uang di rekening kamu bisa ratusan bahkan milyaran,"
"Aamiin"
Mereka kembali ke rumah Fitri, setelah sebelumnya mampir membeli es campur.
__ADS_1