Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh delapan


__ADS_3

Kali ini berbeda dari yang dulu, sekarang sudah ada Arana dan usaha yang ia jalani bersama Fitri.


Harinya tak lagi sepi seperti empat tahun lalu saat pertama datang ke tempat ini, dulu ia banyak melamun meratapi kehilangan, sekarang ia lebih banyak bersyukur dan sibuk dengan hari yang dijalaninya.


Disini juga Rara lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, ibadah awal waktu dan berjamaah menjadi hal yang rutin ia lakukan bersama Mbah Sarmi juga Fitri.


Menghadiri majlis taklim juga beberapa kali ia ikuti, tentu membawa serta Arana yang anteng.


Baik pekerja dan para tetangga sekitar suka pada putrinya, bayi dengan rambut cokelat tebal bermata bulat hijau dan berkulit layaknya bayi keturunan bule, mereka bergantian menjaga Arana.


Bahkan ada beberapa tetangga yang memberi Arana hadiah, ada baju, mainan, ada juga yang memberinya teh, gula, susu, biskuit, deterjen dan pewangi pakaian.


Hari-hari yang menyenangkan sekali, hingga ia lupa akan sosok ayah dari putrinya.


Meskipun pemilik asli, tapi Rara tak segan membantu pekerja yang kebanyakan ibu-ibu sekitar rumah, mengemas baju pesanan.


Para pekerjanya bersyukur, setidaknya mereka ada tambahan pemasukan untuk membuat dapurnya mengepul.


Banyak cerita yang didapat dari para pekerja, tentang suami, anak-anak, juga tentang harapan mereka.


Harapan yang menurut Rara sederhana, mereka hanya berharap, agar kehidupan anak-anak mereka lebih baik dari orang tuanya, kebanyakan dari mereka hanya ingin anak-anaknya bisa sekolah hingga universitas, mendapatkan pekerjaan yang layak.


Sebuah harapan dari kebanyakan orang tua, Ah... Rara jadi merindukan mendiang kedua orang tuanya.


Teringat dulu ibunya pernah bicara seperti itu pada dirinya dan kedua kakaknya saat ibu menyuapi mereka dengan nasi besek yang didapat dari tetangga yang akan hajatan.


Keluarganya sederhana, tak memiliki banyak harta, tetapi bapak mempunyai keinginan supaya ketiga anak-anaknya menamatkan pendidikannya sampai kuliah, dan harapan itu terwujud, semua anak-anak bapak lulus kuliah, dan dua kakak Rara mendapatkan pekerjaan di tempat yang bagus.


Hanya Rara yang bekerja sebentar lalu memiliki usaha dengan penghasilan lumayan, setidaknya ia bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para tetangga Mbah Sarmi.


Rara hanya bisa menyemangati ibu-ibu yang bekerja padanya, bahwa harapan itu akan terwujud.


Kegiatan rutin dihari Jumat juga masih dilakukan, menyediakan makanan untuk jamaah shalat Jumat di masjid yang tak jauh dari rumah Mbah Sarmi.


Sebagai rasa syukurnya karena dianugerahi putri yang sehat dan menggemaskan, Rara menambahkan jumlahnya.


Ia juga memberikan snack jajanan untuk anak-anak TPA sore harinya.


Akhir pekan saat toko onlinenya tutup, Rara mengajak  ibu-ibu yang bekerja padanya untuk berwisata ke salah satu pantai yang berbatasan langsung dengan samudera.


Dengan menyewa truck bak terbuka yang ditutupi terpal berwarna biru, mereka berangkat pagi-pagi usai menyelesaikan pekerjaan di rumah masing-masing.


Mbah Sarmi turut serta juga para keluarga pekerja, ada sebagian yang menaiki motor, seperti Fitri dan bapaknya, begitu juga yang lain.


Pantai berpasir hitam yang dulu pernah dikunjungi bersama Pradikta dan Sinta.

__ADS_1


Dulu dirinya bisa bermain, tapi kali ini, Rara hanya berdiri di tepi pantai sambil menggendong Arana menyaksikan tawa bahagia dari orang-orang disekitarnya.


Ada perasaan bahagia melingkupi hatinya, ia berharap selalu bisa melihat tawa bahagia mereka.


Ada beberapa yang menawarinya Snack, tentu saja Rara menerima dengan senang hati.


Dirinya sudah berpesan, untuk tidak membawa makanan berat, dikarenakan ia akan mentraktir  mereka disalah satu warung makan yang dulu didatanginya.


Tadi ia dan Fitri sudah mendatangi terlebih dahulu warung makan itu, membooking dan memesan menu untuk makan siang mereka semua.


Jadi jika kegiatan mereka di pantai sudah selesai, makanan sudah siap tersaji.


Kemarin ia menarik uang dalam jumlah besar di tabungan miliknya.


Karena ini untuk kesenangan dirinya sendiri, tentu ia akan mempergunakan tabungan pribadinya.


Tadi sesampainya di pantai, Rara membagi-bagikan amplop berisi uang untuk pekerjanya, sekadar beli jajanan saja.


Puas bermain di pantai, Rara mengajak mereka untuk makan siang di warung yang telah dibooking nya.


Berbagai hidangan seafood telah tersaji di masing-masing meja.


Senyum mengembang terlihat di wajah-wajah itu, hanya dengan hal itu saja, rasanya Rara senang sekali.


Saat menikmati hidangan, mereka saling berbicara, terdengar di telinga Rara, ada beberapa dari mereka yang baru pertama kalinya makan makanan seperti ini.


Jika ada sisa hidangan, Rara mempersilahkan jika ingin membungkus untuk dibawa pulang.


Selain berbagai kebahagiaan, Rara berharap para pekerjanya semakin semangat bekerja.


Hari berlalu, tak terasa sudah hampir sebulan ia berada di rumah Mbah Sarmi.


Hingga saat ini ia belum membeli ponsel baru, ia merasa tidak perlu, karena seseorang yang ia harapkan menghubunginya, tak kunjung kunjung memberinya kabar disaat terakhir ponsel miliknya masih aktif.


Saat terakhirnya, ia teringat memiliki janji dengan Cristy, ia akan meminjamkan rumah miliknya untuk ditempati wanita itu.


Rara membuka salah satu folder di laptopnya, dimana ia menyimpan surat perjanjian kerja antara dirinya dan Cristy.


Ada dua slide, yang pertama tentang perjanjian, dan yang kedua tentang data diri Cristy, tentang nomor rekening ataupun  nomor ponsel milik wanita itu.


Rara memakai ponsel untuk operasional toko online miliknya, ia mengirimi Cristy pesan, mendatangi alamat rumahnya.


Keesokan harinya Cristy menghubunginya, mengajaknya melakukan panggilan video,


Terlihat dilayar sepupu jauh mendiang ibunya, ingin memastikan apa yang dikatakan Cristy benar atau tidak, jika Rara akan menyewakan pada temannya.

__ADS_1


Setelah berbicara, barulah sepupu jauh mendiang ibunya percaya, dan memberikan kunci rumah pada Cristy.


Rara meminta wanita itu untuk menyuruh orang untuk mengecat dan merapihkan beberapa bagian yang rusak.


Ia mentransfer sejumlah uang pada Cristy untuk merenovasi rumah miliknya sebelum mulai ditempati, supaya lebih nyaman nantinya.


Seminggu waktu pengerjaan, juga pindahan yang dilakukan oleh Cristy.


Beberapa hari ditempati, Rara meminta Cristy  untuk datang ke kampung halaman Mbah Sarmi.


Wanita itu meminta cuti kerja selama dua hari.


Rara juga mengirimi lagi uang untuk ongkos naik kereta


Sepulang kerja Cristy berangkat, kereta tiba sebelum waktu subuh, dengan meminjam motor milik Fitri, Rara menjemput wanita itu di stasiun.


Benar-benar gelap, tapi tak membuat Rara takut,


Cristy hanya membawa ransel kecil di punggungnya, cukup simpel karena hanya sebentar ia di sana.


Wanita itu bercerita jika ini pertama kalinya dirinya ke tempat itu, pengalaman yang baru untuknya.


Rara memperkenalkan Cristy sebagai Titi teman kerjanya dulu, tentu saja itu dusta.


Tidak mungkin ia memperkenalkan Cristy sebagai mantan pasangan kumpul kebo dari suaminya.


Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, bisa-bisanya Rara berhubungan cukup baik dengan perempuan yang berkali-kali pernah tidur dengan suaminya.


Seperti biasa Mbah Sarmi selalu menyambut tamunya dengan tangan terbuka, perempuan itu tak banyak bertanya.


Tentu dari segi fisik membuat sebagian tetangganya kagum dengan Cristy, wanita cantik berwajah oriental berkulit putih dan berpostur tinggi.


Selama seharian, Cristy menjalani beberapa sesi foto untuk baju yang akan dipasarkan di toko online milik Rara dan Fitri.


Bermodalkan ponsel milik Fitri yang lebih baik kualitas kameranya.


Beberapa sudut desa menjadi spot foto untuk Cristy, tentu saja hal itu menarik perhatian tetangga.


Saat pemotretan Arana dititipkan sementara pada ibu dari Fitri, sehingga Rara lebih leluasa menjalani aktifitasnya.


Meskipun lelah, tapi Cristy terlihat senang, bahkan wanita itu bisa tertawa lepas saat Fitri melontarkan beberapa candaan.


Sayangnya wanita itu hanya berkunjung sebentar, dikarenakan ia harus berkerja esok lusa.


Keesokan paginya, Rara dan Cristy berpamitan pada Mbah Sarmi, Fitri juga para pekerjanya.

__ADS_1


Mereka menaiki kereta sekitar jam sepuluh pagi dari stasiun, agar Cristy ada waktu istirahat sebelum esok berkerja.


__ADS_2