Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh dua


__ADS_3

Rara hanya mengikuti sahabatnya yang mengajaknya ke taman tak jauh dari kediaman Ayudia.


Kedua balita kembar itu terlihat antusias melihat banyak anak-anak yang sedang bermain di taman, mereka berlarian di atas rumput hijau berbaur dengan anak-anak seusianya.


Melihat hal itu, lagi-lagi ia memikirkan bayinya, rasanya sedih sekali, andai bayinya selamat mungkin sekarang ini, ia bisa seperti sahabatnya yang disibukan dengan balita lucu dan menggemaskan.


"Ra, Lo laper nggak?"tanya Ayudia pada sahabatnya setelah selesai mengobrol dengan ibu-ibu tadi.


Pertanyaan sahabatnya membuyarkan lamunannya,"Iya, enaknya makan apa ya?"tanya balik Rara.


"Sarapan mie ayam enak kali ya!"ujar ibu dua anak itu.


"Ini masih pagi banget Dia, mie ayam pak min baru buka jam tujuh,"


"Ya udah tunggu aja, kapan lagi kan gue bisa sarapan mie ayam pagi-pagi,"


"Ya udah tunggu disini dulu berarti,"


Kedua sahabat itu ikut bermain bersama si kembar yang sedang main ayunan di sana.


Saat asik bermain ada lelaki yang  memanggil Aileen, balita yang dipanggil namanya, langsung menoleh, dan mencari asal suara yang sangat ia kenali, balita perempuan itu bahkan langsung menghampiri lelaki yang tak lain adalah Fernando.


Rara Melihat bagaimana luwesnya lelaki itu jika bermain bersama Aileen, seperti sudah terbiasa berinteraksi dengan balita itu.


Lagi-lagi Rara memikirkan bayinya, andai dia masih ada, apakah nantinya lelaki itu akan sebaik itu kepada anak kandungnya?  Itu pertanyaan yang mengganggu pikirannya


"Kok A Nando Dateng, bukannya lagi  meeting sama mas Ben?"tanya Ayudia heran.


"Emang nggak boleh ketemu kesayangan gue dulu? Dari semalem gue dateng, Aileen kan udah tidur,"jawabnya santai.


"Hai Amara, ketemu lagi kita, apa kabar? Makin cantik aja nih,"Sapa Fernando.


Rara berfikir mungkin lelaki itu tidak mengenalinya, karena sepertinya sikapnya selalu sama setelah mereka bertemu lagi,


Fernando yang manja padanya, tak ia temukan di diri lelaki itu, ada rasa yang mengganjal pada diri Rara.


"Baik A, AA apa kabar?"tanya Rara balik, wanita itu berusaha terlihat biasa saja, padahal jantungnya berdetak lebih cepat.


"Seperti yang kamu lihat, aku makin baik karena ketemu kamu,"jawabnya dengan senyum secerah mentari, senyum yang selalu menghiasi paginya setelah malamnya mereka berperang peluh.


"Nggak usah modus A, Amara nggak mempan sama gombalan receh AA,"sela Ayudia.


"Usaha dong yu, biar gue bisa punya keluarga sakinah, mawadah warahmah sesuai keinginan umi,"


"tobat dulu A,"


"Udah lama tobat gue yu,"


"Serah AA deh, tapi jangan sama yang ini,"

__ADS_1


"Nggak bisa yu, udah gue tandai dianya,"


"Nggak bisa A, Ayu nggak bolehin,"


"Nggak bisa bundanya Aileen, pokoknya harus yang ini,"


Ayudia menjadi kesal, "kenapa sih A, keras kepalanya sama kayak mas Ben?"


"Namanya juga sahabatan, ya sifatnya sebelas dua belas, ngomong-ngomong ada yang mau gue omongin,"


"Apaan A?"tanya Ayudia bingung.


Fernando mengajak ibu dua anak itu menjauhi tempat bermain itu, setelah menitipkan Ainsley pada Rara, sementara Aileen  masih dalam gendongannya.


Rara bisa melihat betapa akrabnya sahabatnya dengan lelaki itu, ada sedikit rasa cemburu di dirinya,


Rara terus mengamati interaksi dua orang itu, terlihat Ayudia memberikan kalung dan anting miliknya, entah apa maksudnya, dan sahabatnya hanya menuruti permintaan Fernando,


Ia juga melihat Ayudia memberikan ponselnya, tak lama lelaki itu beranjak pergi setelah mendapatkan yang diinginkannya.


Setelah kepergian Lelaki itu, Ayudia mengajak Rara menuju penjual mie ayam langganan mereka dulu.


Karena penjual mie Ayam baru datang, jadi Ayudia menyuapi kedua anak kembarnya dengan bubur ayam yang dijual di sana.


Sedang menyuapi si kembar, Pradikta datang, senyuman yang Rara sangat tau, hanya ditujukan kepada Ayudia, bagaimanapun, Rara saksi kisah mereka terukir di masa putih abu-abu.


Tak menyangka, Pradikta datang kembali, mereka sarapan bersama dalam diam.


Setelah sebelumnya membeli parcel buah, Ayudia mengajak Rara menuju rumah Tante Arini.


Masih seperti dulu, Tante Arini yang ramah dan menerima dengan tangan terbuka sahabat putra semata wayangnya.


Meskipun masih terlihat lemah pasca operasi yang dilakukan beberapa hari lalu.


Sedang asik mengobrol ada sebuah pesan masuk di ponsel milik Rara, sambil mendengarkan cerita Tante Arini juga Ayudia dan Pradikta, diam-diam Rara membuka pesan itu.


+628167xxxxxx


Rara sayang banyak yang harus kita bicarakan, bisakah kamu datang ke apartemen kita, SEKARANG.


Rara tau betul siapa yang mengirimi dirinya pesan itu, ia hafal nomor yang tiga tahun lalu selalu rutin menghubunginya.


Mendadak Rara menjadi gugup, saking tak bisa menahannya, ia meminta ijin menggunakan toilet.


Di toilet ia tidak melakukan apapun, ia hanya diam duduk di atas kloset, berkali-kali ia membuka tutup ponselnya, ia sedang dilanda kebingungan sekarang,


Apa yang harus ia lakukan?


Apa ia harus menemui laki-laki itu?

__ADS_1


Apa ia harus menghindari laki-laki itu lagi?


Tapi sampai kapan?


Rara tau, laki-laki itu pasti menanyakan keberadaan bayinya, tentu sejak tiga tahun lalu ia sudah menyiapkan penjelasan yang akan ia katakan kepada laki-laki itu, karena bagaimanapun, dia berhak tau tentang keberadaan bayinya.


Tapi ada ketakutan, dari dalam dirinya, Rara takut akan luluh dengan bujuk rayu lelaki itu, ia takut akan melakukan dosa yang sama dengan tiga tahun lalu.


+628167xxxxxx


Rara sayang, apa kamu tidak mau menanggapi pesan dari calon suami kamu?


Bagaimana ya kalau Ayudia tau kelakuan sahabat baiknya sama aku, apa kamu mau lihat video panas kita waktu aku membuka segel kamu pertama kali?


Membaca pesan dari lelaki itu, Rara melotot kaget, seingatnya dulu lelaki itu tidak memegang ponsel atau apapun yang digunakan untuk merekam kegiatan mereka dulu.


Rara tak menanggapi, hanya membacanya, ia tak percaya lelaki itu.


Namun sebuah pesan dari nomor yang sama kembali masuk.


+628167xxxxxx


Apa aku share videonya ke kedua kakak kamu atau malah ke Ayu nanti


Dan sebuah pesan dalam bentuk video masuk, otomatis ter-download di ponsel milik Rara.


Wanita itu berusaha menyiapkan mentalnya, bahkan tangannya bergetar saat memegang ponselnya sendiri.


Dan benar apa yang dikatakan lelaki itu, kegiatan panas keduanya terekam jelas, dimulai saat dirinya digendong oleh lelaki itu hanya menggunakan dalaman sementara lelaki itu sudah Shirtless.


Dari empat sisi terlihat jelas bagaimana saat itu, Lelaki itu menjebol segelnya untuk pertama kalinya.


Rara menutup mulutnya tak percaya, lelaki itu benar-benar sudah gila, bagaimana mungkin ada video seperti itu.


Kalau sampai tersebar, apa yang harus ia lakukan?


Sedang pusing memikirkan, Pradikta mengetuk pintu toilet,


"Ra, Lo nggak pingsan di dalam kan?"


Tak mau membuat sahabatnya khawatir, Rara menekan flush sebagai Jawaban.


Sepertinya ia harus ijin kembali terlebih dahulu, ia tidak bisa berfikir saat ini, video itu mengganggunya.


Keluar dari toilet, Rara meminta ijin pada Tante Arini untuk kembali terlebih dahulu, ia juga berpamitan pada sahabatnya, ia berbohong jika tetangga belakang rumahnya meninggal,


Harusnya Ayudia tau kalau belakang rumah Rara adalah sungai kecil, tapi sepertinya ibu dua anak itu tak menyadari kebohongannya.


 

__ADS_1


__ADS_2