Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh dua


__ADS_3

Perjalanan dari ibu kota menuju tempat Mbah Sarmi, di tempuh dalam waktu tujuh jam lamanya, sehingga mereka baru tiba menjelang azan Magrib.


Terlihat wajah lelah dari Pradikta, ia menyetir selama berjam-jam dan hanya berhenti saat mengisi bahan bakar.


Mbah Sarmi dan Fitri menyambut ketiga tamunya, gadis itu masih berada di rumah Mbah Sarmi, karena masih mengurusi barang dagangannya.


Usai menjalankan shalat magrib, ketiganya dipersilahkan untuk menyantap makan malam yang disediakan wanita tua itu.


Rara yang memang sudah kangen sekali dengan masakan Mbah Sarmi, sampai menambah nasi juga lauk,


Pradikta sampai heran dengan kelakuan sahabatnya itu,


Sementara Sinta juga sama, wanita yang tengah hamil tua itu juga makan dengan lahap.


Usai makan malam, Rara menceritakan kejadian yang menimpa Sinta kepada Mbah Sarmi dengan jujur, tak ada yang ditutupi sama sekali.


"Ujian nduk, yang sabar, yang kuat demi jabang bayi dikandungan kamu,"nasehat wanita tua itu iba.


Sinta masih saja meneteskan air mata, Rara dan Fitri mencoba menenangkannya.


"Lalu nak Dikta ini, apa suaminya Rara? Setau Mbah, suaminya Rara orang bule?"tanya Mbah Sarmi,


Yang ditanya tersenyum canggung, "saya tadinya calon suaminya Rara Mbah, tapi udah keduluan suaminya yang sekarang,"jawabnya diakhiri dengan tawa.


"Jangan percaya Mbah, Dikta suka bercanda, Dikta ini sahabat Rara Mbah, dari SMA kelas satu,"Sangkalnya.


Mbah Sarmi ikut tertawa, "kalau gitu berarti nak Dikta ini belum menikah ya!"


"Saya nunggu Rara jadi janda Mbah,"lagi-lagi Pradikta melontarkan candaan.


Rara menggeleng, "amit-amit Dikta, kamu doanya jelek banget,"


"Dikta belum pernah pacaran Mbah, dia laki-laki baik-baik,"lanjutnya menjelaskan kepada Mbah Sarmi.


"Mudah-mudahan cepat ketemu jodohnya ya nak Dikta,"


Rara mengaminkan doa dari Mbah Sarmi,


Mereka bercerita hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Mbah Sarmi ijin untuk istirahat terlebih dahulu.


Sinta juga melakukan yang sama, wanita yang tengah hamil tua itu menempati kamar yang biasa digunakan oleh Rara.

__ADS_1


Fitri pamit pulang, karena hari sudah malam, sedangkan Rara dan Pradikta masih mengobrol di ruang tamu.


"Ra, tahun depan aku mau ada rencana ambil S2 di Eropa, menurut kamu gimana?"tanya Pradikta meminta pendapat sahabatnya.


"Ya baguslah, biar karir kamu makin bagus, duit kamu makin banyak kan?"


"Ra, kamu kan sama Ayu udah pada nikah, berarti aku nggak akan nikah ya, aku mau melajang seumur hidup,"


Sebenarnya Rara tidak terlalu terkejut, karena lelaki itu pernah membicarakannya, namun tetap saja, ia tak suka dengan keputusan sahabatnya.


"Bukannya Tante Arini pengin cucu ya Ta? Mau nggak mau kamu harus nikah,"


"aku mau sewa rahim supaya aku bisa kasih mama cucu,"


Rara terkejut dengan ucapan lelaki itu, "jangan gila ta, di agama kita dilarang, kenapa si, kamu nggak coba Konsul ke psikolog?"


Pradikta menggeleng, "aku takut Ra,"


"Dikta, jangan kayak gini, kamu harus semangat, aku sama Dia pasti dukung kamu,"


Pradikta diam menunduk.


Rara jadi teringat tentang keadaan sahabatnya, "Ta, kamu udah tau belum, kalau Dia sekarang koma?"


Rara menceritakan masalah yang menimpa Ayudia, termasuk ulah Fernando juga.


"Kenapa kalian dikelilingi oleh lelaki yang kayak gitu sih Ra? Aku nggak rela kalian disakiti,"ungkap lelaki berusia hampir dua puluh delapan tahun itu.


"Ini salah aku Ta, coba seandainya aku nggak ngilang, mungkin mas Nando nggak bakal balas dendam sama suaminya Dia, aku yang salah ta,"ungkap Rara penuh penyesalan.


"Kamu nggak salah Ra, mungkin memang udah jalan hidupnya Ayu, lalu bagaimana dengan si kembar?"


"Mereka diurus oleh Tante Anna mertuanya Dia, sementara suaminya Dia, ada pekerjaan di pulau,"


Pradikta menghela nafas, "ra, aku baru ingat, sepertinya suaminya cemburu sama aku, karena aku yang sengaja memeluk dan cium kening Ayu tepat didepan dia, apa aku bisa menjenguknya?"


"Sepertinya sulit, coba nanti kalau aku balik ke sana lagi, aku bilang ke pihak keluarga,"


Mereka menyudahi obrolan itu karena waktu sudah semakin malam.


Keesokan harinya, Fitri mengajak Rara Pradikta dan Sinta mengunjungi pantai di selatan pulau Jawa, yang jaraknya dari rumah Mbah Sarmi sekitar lima belas kilometer.

__ADS_1


Pantai yang langsung berbatasan dengan samudera Hindia berpasir hitam, tidak terlalu ramai, dikarenakan hari ini bukan weekend.


Sinta yang sedari kemarin terlihat sedih, bisa tertawa lepas melihat tingkah Fitri, Rara dan Pradikta yang bermain air laut juga membuat istana pasir,


Ketiganya seperti kembali ke masa kanak-kanak, yang berlomba membuat istana seindah mungkin.


Namun berkali-kali membuat istana pasir, ombak kembali datang dan menghancurkan istana yang mereka buat, hal itu membuat Sinta tertawa.


Puas bermain di pantai, tak jauh dari sana ada kolam renang, sebenarnya dikhususkan untuk anak-anak, namun ketiganya malah asik bermain di sana.


Berkali-kali Sinta berteriak mengingatkan Rara, jika dirinya harus menjaga kandungannya.


Rara hanya menanggapinya dengan senyuman, namun baru diingatkan, wanita yang sedang hamil enam bulan itu malah menaiki seluncuran kecil.


Tawa mereka lepas melihat ibu hamil satu itu,


Puas bermain air di kolam renang, mereka membilas badan masing-masing di kamar mandi yang berada tak jauh dari kolam renang, untung saja tadi sebelum berangkat, Fitri mengingatkan untuk membawa baju ganti.


Lelah bermain, Fitri mengajak mereka untuk makan di salah satu warung yang menerima jasa memasak hasil laut yang mereka beli ditempat pelelangan ikan tak jauh dari sana.


Ada beberapa jenis hasil laut yang tadi dibeli oleh Pradikta, ada cumi, udang, kerang dan ikan, semua dimasak di warung itu.


"Makasih banget ya Fitri, mbak seneng banget diajak main kesini, apalagi lihat tingkah konyol kalian,"ungkap Sinta dengan senyum mengembang.


"Sama-sama mbak, Fitri juga seneng lihat mbak Sinta bisa ceria, kata mbak Rara, mbak Sinta dari kemarin sedih terus, Alhamdulillah sekarang mbak keliatan lebih seneng,"ucap Fitri.


Mereka masih menunggu masakan matang,


"JadiĀ  apa rencana mbak Sinta setelah ini? Apa mbak mau tinggal disini dulu atau ikut aku ke Jakarta besok, mbak bisa tinggal di rumah aku, pasti mama seneng banget ada temennya,"usul Pradikta.


"Sebelumnya makasih ya Ta, mbak ngerepotin kamu, tapi sepertinya mbak mau disini dulu, semalem mbak udah ijin ke Mbah Sarmi, buat tinggal sementara di rumah beliau,"


Pradikta mengangguk, "lalu kamu Ra?"tanyanya pada sahabatnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Pradikta, Rara beralih menatap Sinta, "kalau misal mbak Sinta, aku tinggal disini mau nggak? Aku janji nggak bakal kasih tau mas Rama,"


"Nggak apa-apa Ra, mbak bisa kok disini, kan ada Fitri, iya nggak fit?"


Yang ditanya mengangguk antusias.


"Oke jadi besok pagi abis subuh, kita jalan ya Ra, lusa aku harus kerja,"ujar Pradikta,

__ADS_1


Rara mengangguk setuju, tak lama pesanan mereka datang,


__ADS_2