
Sepeninggal Pradikta, hanya ada hening di ruangan itu, ketiga orang dengan pemikiran berbeda.
Tetapi sepertinya perempuan yang baru melahirkan beberapa saat lalu, tak peduli dengan pemikiran dari suami mertuanya.
Rara lebih memilih memejamkan matanya, tanpa bicara sepatah katapun dengan yang lain.
Fernando yang melihat tingkah istrinya hanya bisa menghela nafas, ia melirik pada uminya yang sedari tadi hanya diam.
Dengan tatapan mata, keduanya sepakat keluar dari ruangan itu, membiarkan Rara beristirahat.
Ibu dan anak itu memilih menuju ruangan bayi masih dilantai yang sama.
Tak ada yang bersuara sepanjang perjalanan menuju ruangan berkumpulnya bayi-bayi yang baru lahir.
Fernando dan umi Fatimah diijinkan masuk oleh suster yang berjaga, setelah sebelumnya mereka mencuci tangan terlebih dahulu.
Dari balik kaca inkubator, terlihat bayi dengan bedong berwarna merah muda, Fernando ingat, itu bedong yang ia beli bersama Rara beberapa hari yang lalu.
Umi Fatimah Mengucap rasa syukur seraya menyebut sang pencipta, "mirip kamu banget Nando, bentuk hidung, rambut bahkan kulitnya sama, apa tadi warna matanya juga sama seperti kamu?"tanyanya.
"Kayaknya sama mi,"sahutnya.
"Apa kamu sudah memberinya nama?"tanya umi Fatimah.
Fernando menggeleng, "Nando belum berdiskusi dengan Rara,"
"Sebenarnya masalah nama anak itu hak sepenuhnya seorang ayah, tapi kalau memang kamu ingin meminta pendapat mantu umi, tidak masalah, yang umi minta, jangan lupa tambahkan marga dari mendiang kakek kamu,"
"Iya mi, mau bagaimanapun hanya dari Nando nama Wolfer bisa diturunkan,"
"Mudah-mudahan beberapa tahun lagi kamu bisa punya anak laki-laki, supaya marganya bisa diturunkan terus,"
"Tapi aku kok nggak tega kalau Rara suatu saat melahirkan lagi, sepertinya istri Nando kesakitan banget tadi, rasanya ingin menggantikan rasa sakit itu,"
"Ya nanti aja, kalau anak kamu udah gede, toh Rara masih muda, masih bisa punya anak lagi,"
Keduanya masih sibuk memperhatikan bayi itu, hingga ponsel Fernando berdering, tertera nama putranya di layar ponsel, ia mengangkatnya.
Nicholas menanyakan keberadaannya, dan Fernando meminta putranya untuk menghampirinya.
Tak lama, remaja itu muncul, setelah diberi ijin oleh perawat yang berjaga.
Umi Fatimah tersenyum melihat duplikat putranya, "lihat adik kamu, Nini rasa dulu sewaktu bayi kamu mirip dengannya,"
Nicholas yang penasaran mendekat, kebetulan saat dirinya berada didekat inkubator, bayi merah itu membuka mata sejenak, lalu memejamkan matanya lagi,
Remaja itu bisa melihat, mata yang sama dengannya,
__ADS_1
Sejujurnya ia masih belum menerima jika daddy-nya memiliki istri dan anak, tapi setelah melihat bagaimana rupa adik perempuannya, entah mengapa ia sangat bahagia.
"Hai, aku Nicholas kakak kamu,"bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Fernando hanya diam melihat apa yang dilakukan putranya pada putrinya.
"Bagaimana apa mirip dengan Daddy dan kamu son?"tanyanya.
Nicholas berdiri, ia mengangguk tanpa memandang daddy-nya, "bahkan matanya sama dad,"sahutnya.
"Jadi benar matanya juga hijau?"tanya umi Fatimah.
"Betul nini, tadi dia membuka matanya sedikit, cantik sekali,"puji remaja itu tanpa sadar.
Ketiganya memutuskan keluar dari ruangan itu, Fernando meminta umi untuk membawa Nicholas pulang, mengingat hari sudah mendekati senja.
"Umi tau kamu marah sama tingkah istrimu, tapi tolong kendalikan emosi kamu,"pesan umi Fatimah sebelum pergi.
Fernando masuk ke ruang rawat istrinya, saat wanita itu baru keluar dari kamar mandi dibantu oleh salah satu perawat.
Dengan sigap Fernando membantu istrinya menaiki ranjang, tak lupa berterima kasih pada perawat yang membantu.
"Kenapa nggak telpon aku?"tanya Fernando setelah memastikan istrinya berbaring dengan nyaman.
"Tadi kebetulan suster datang mengukur tekanan darah aku, jadi sekalian aku minta tolong"jawabnya.
Wanita itu juga menanyakan keberadaan mertua dan anak sambungnya,
"Mereka aku suruh pulang, kasian Nicho harus bolak-balik, sepertinya dia kelelahan,"
"Disitu bukankah ada kasur untuk keluarga pasien?"tunjuk Rara pada ruangan sebelah.
"Biar mereka istirahat di rumah saja Ra, lagian kamu butuh ketenangan bukan?"
Rara terdiam, lalu menatap suaminya, "mas, masalah nama, apa kamu sudah memikirkannya?"tanyanya.
"Apa kamu ada pendapat?"tanya Fernando balik.
"Aku ingin nama panggilannya Rana, gabungan antara nama Rara dan Nando,"jawabnya.
Fernando mengusap kepala istrinya, "oke kalau itu mau kamu,"
"Masa Rana aja sih? Kamu tambahin lah,"
"Kalau Arana wolfer, gimana menurutmu?"tanya lelaki berkaos hitam itu.
"Simpel ya!"jawabnya.
__ADS_1
"Lagian nama panjang-panjang ujung-ujungnya dipanggilnya singkat, kamu Amara dipanggilnya Rara, aku Fernando dipanggil Nando, kadang sahabat-sahabat aku kalau lagi kesal dipanggilnya malah Dodo,"
Rara tertawa mendengar keluhan suaminya.
"Kok malah ketawa sih, emang kenyataannya gitu kan?"
"Iya sih,"Rara menutup mulutnya sambil menahan tawa, "ya udah jangan lupa urus surat-suratnya,"
"Besok aku minta tolong pihak rumah sakit, oh ya Ra, sesuai janji aku jika anak kita lahir, aku akan mendaftarkan Arana sebagai ahli waris aku, dan sepulang dari rumah sakit, kamu akan aku kasih tau nominal uang tabungan yang diluar negeri,"
"Memangnya perlu ya! Aku hanya minta kamu cukupi semua kebutuhan rumah tangga dan nafkah buat aku dengan rejeki yang halal itu aja, masalah harta kamu, sejujurnya aku nggak terlalu peduli,"
"Tapi kamu istri aku, sudah sewajarnya sebagai seorang istri tau harta suaminya bukan?"
"Aku nggak silau harta mas kalau kamu lupa,"
"Aku tau Amara Cahyani perempuan mandiri yang tidak butuh uang dari suaminya karena usahanya sudah mencukupi kebutuhan pribadinya, tapi kamu istri aku, ibu dari anakku jadi aku mau kamu tau,"
"Sakarepe sampeyan mas, Kulo mboten kerso,"
Fernando mengernyit, "tumben pakai bahasanya sendiri, kamu mau aku sautin pake bahasanya umi, nggak nyambung nanti lagi,"
"Nyambung Lah, aku kan tinggal di Lembang beberapa bulan, eh ngomong-ngomong soal Lembang, kok kamu bisa balik cepat kesini? Harusnya kamu di sana bukan?"tanyanya heran.
"Istri aku mau melahirkan, masa aku nggak ada disampingnya, itu aja udah ada laki-laki lain yang lebih dibela sama istri aku sendiri,"sindirnya.
"Dikta sahabat aku, dia bukan orang lain,"
"Kamu kenapa senang banget mancing emosi aku sih Ra? Kamu kan tau, suami kamu cemburuan,"
"Dikta itu satu-satunya sahabat aku sekarang, kamu tau bukan sahabat aku yang satu lagi sedang terbaring koma, memangnya karena ulah siapa?"ungkap Rara kesal.
Fernando menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali sampai dirinya bisa mengendalikan emosinya, ia teringat perkataan uminya tadi.
Melihat hal itu, Rara tersenyum samar, "kamu marah ya! Kenapa kamu nggak pernah nanya, alasan aku senang jika dekat dengan Dikta?"
Fernando terdiam, ia lebih memilih memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, ia tak ingin amarah menguasai dirinya.
Rara melirik suaminya sekilas, ia ingin mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan, ia harus menyingkirkan rasa takut itu.
"Terserah kalau kamu mau dengerin atau tidak, yang jelas aku harus mengatakannya, alasan aku lebih senang jika dekat Dikta karena dia lebih mengerti aku, dia selalu buat aku nyaman, dia tulus sayang sama aku,"
Rara menghela nafas, "mas, aku memang mencintai kamu, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan aku sendiri nggak tau itu apa, yang jelas aku seperti nggak yakin aja sama kamu,"
Mendengar hal itu, mata hijau itu terbuka lebar, Fernando menatap tajam istrinya, "apa maksud kamu ngomong kayak gitu? Amara kamu baru beberapa saat lalu melahirkan, dan sekarang kamu malah memancing amarah aku? Berkali-kali aku bilang, aku tidak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi, kamu mengerti, sekarang lebih baik kamu istirahat,"
Fernando bangkit hendak menuju ruangan sebelah, sepertinya ia harus mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, namun niat itu ia urungkan setelah mendengar ucapan terakhir istrinya.
__ADS_1