
Karena tidak ada persiapan apapun, untuk membagikan rasa bahagianya karena telah berhasil menikahi wanita yang dicintainya, Fernando meminta pak imam sebagai manager taman bermain, untuk menggratiskan tiket masuk khusus warga satu RT sekitar rumah orang tua Rara, diakhir pekan esok, cukup menunjukan KTP sebagai tiket masuk taman bermain itu.
Sedangkan untuk keluarga dari pihak Rara, lelaki itu mengajaknya untuk mengunjungi resort yang ia kelola di pulau Bali bagian selatan.
Keponakan Rara menyambut gembira ajakan om barunya itu.
Malamnya Fernando untuk pertama kalinya tidur di kamar milik istrinya, jauh dari kata mewah,
Kamar yang hanya berukuran empat kali tiga itu, hanya diisi kasur busa ukuran nomor tiga, dengan lemari kayu, dan meja belajar lesehan, ada karpet bulu berwarna merah.
Katanya selama Rara tidak ada di rumah, anak tertua Dika yang menempatinya.
Tidak ada AC hanya ada kipas angin ukuran sedang yang diletakan didinding berwarna merah muda tepat di atas kasur.
"Maaf ya, kamarnya kecil, abisnya serba dadakan sih, jadi nggak dirapihkan,"ujar Rara tak enak, saat malamnya keduanya hendak beristirahat.
"Nggak masalah sayang, yang penting aku sama kamu,"
"Malam ini kita jangan ngelakuin dulu ya! Soalnya disini kamar mandinya rame-rame, nggak enak, sama yang lain,"
Fernando mengangguk setuju, ia akan membiarkan istrinya untuk malam ini, mengingat kondisi tempat yang tak memungkinkan.
Esok harinya keluarga Rara berangkat menuju Surabaya terlebih dahulu dengan menaiki moda kereta api,
Di kota itu, keluarga Rara diajak berbelanja disalah satu mall terkemuka, tentunya dibayari oleh anggota baru keluarga mereka.
Baru sorenya, rombongan bertolak menuju pulau Dewata menggunakan pesawat.
Tapi umi Fatimah tidak ikut karena akan ada acara didekat tempat tinggalnya di Sukabumi, beliau menaiki pesawat menuju ibukota.
Tidak sampai satu jam rombongan telah tiba di Bali, ada orang dari pihak resort yang menjemput mereka.
Karena mereka sampai tepat jam makan malam tiba, Fernando mengajak keluarga barunya untuk makan malam di restoran yang ada di resort, ia mengabari chef untuk menyediakan hidangan istimewa.
Usai makan malam kedua keluarga kakak Rara memasuki kamar yang disediakan untuk mereka, sedangkan Fernando mengajak Rara menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, keduanya membersihkan diri secara bergantian.
"Mas, kira-kira Dia sama suaminya bagaimana ya? Kamu sudah ada kabar dari mereka belum?"tanya Rara tiba-tiba saat keduanya baru saja berbaring saling berhadapan di atas ranjang.
"Belum tau, kenapa memangnya?"
"Apa sahabat kamu yang lain tidak mengabari kamu?"
"Aku matikan ponsel, aku tidak mau diganggu oleh mereka,"
__ADS_1
"Tapi kan?"
"Sayang, kita ini pengantin baru, dan malam pengantin kita belum terlaksana kan? Jadi bisakah kita memulainya sekarang?"
"Tapi badan aku pegal mas, seharian kan kita jalan-jalan, besok malam bisa nggak?"tolak Rara secara halus.
"Aku pijitin ya!"tawar lelaki itu.
"Ih nggak usah, aku tau kamu capek juga,"
"Nggak sayang, aku nggak capek kalau sama kamu,"
"Terserah kamu mas, tapi aku tidur dulu ya!"
Rara mulai memejamkan matanya, hari ini rasanya ia lelah sekali, rasa kantuk tak dapat ia tahan, tidak sampai lima menit, terdengar nafas teratur dari wanita itu.
Fernando yang sedang memijit kaki istrinya, tersenyum, walau belum bisa melampiaskan hasratnya, setidaknya hanya melihat wajah terlelap wanita yang dicintainya, ia merasa bahagia, hatinya tenang, penantiannya selama tiga tahun akhirnya membuahkan hasil.
Meskipun tak ada pesta mewah untuk pernikahannya, tapi ia sama sekali tidak kecewa, yang terpenting ia sudah sah menjadi seorang suami dari Amara Cahyani, perempuan yang membuatnya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hanya karena gantungan berbentuk strawberry di ransel wanita itu juga senyum bentuk hatinya yang membuatnya terpana.
Kalau dipikir-pikir sudah berbagai jenis wanita yang pernah singgah dalam hidupnya, dari pacar-pacarnya hingga partner one night stand nya, tak ada satupun yang membuatnya berdebar.
Bisa jadi ini doa Uminya, yang mengharapkan dirinya memiliki istri wanita baik-baik yang akan mendampinginya dan memberinya anak-anak yang lucu-lucu.
Ngomong-ngomong soal anak, ia teringat mimpinya saat dirinya tertidur di pesawat menuju Amerika tiga tahun lalu.
Meskipun belum sempat tau jenis kelamin janin yang di kandung Rara saat itu, tapi ia meyakini bahwa itu adalah putrinya yang ia beri nama Strawberry secara diam-diam,
Saat itu putrinya berpesan untuk menjaga dan tidak menyakiti uma-nya.
Fernando tersenyum sendiri mengingat itu, betapa cantiknya putrinya itu, wajahnya mirip dirinya tapi senyumnya sama seperti Rara, andai putrinya ada mungkin akan menjadi teman untuk Aileen.
Ah... Fernando jadi merindukan balita menggemaskan itu, terkadang saat bersama Aileen ia teringat dengan putri kecilnya,
Memastikan bahwa istrinya tertidur lelap, ia beranjak menuju meja kerjanya melewati ruang makan, ia mengaktifkan ponselnya sambil duduk di sofa ruang kerjanya.
Ada banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari sahabatnya, ia mengernyit heran, ada apa gerangan?
Ia membuka pesan dari Alex terlebih dahulu, sahabatnya itu mengabarkan jika Ayudia masuk rumah sakit dan terbaring koma.
Fernando terkejut, semua pesan dari sahabatnya hampir berisi hal yang sama, tapi tak memberitahukan padanya penyebab Ayudia bisa koma.
Ia menghubungi Alex.
__ADS_1
"Halo Alex,"
"Do, Ayu koma,"ucap Alex diseberang sana.
"Kenapa bisa sampai koma sih Lex?"tanya Fernando penasaran.
"Ayu ribut gede sama Ben, terus Ayu benturkan kepalanya sendiri ke tembok kamar mandi, sambil mandi air dingin, dia terkena hipotermia, gue bingung ngejelasinnya, kurang lebih begitulah,"jelas Alex.
"Kenapa bisa sampai ribut sih?"
"Ayu seharian sama Dikta, Lo ingat Dikta kan?"
Fernando menjawabnya dengan gumaman,
"Ben cemburu parah, Lo tau kan dia kayak apa,"
"Jadi sampai sekarang Ayu belum sadar?"tanya Fernando,
"Iya, dia masih koma,"jawab Alex dari sebrang sana, "tapi Lo kemana aja sih? Pake acara matiin hape segala, terus gue denger dari Oscar Lo bareng Amara temennya Ayu, bukanya Amara itu Rara ya! Cewek Lo tiga tahun lalu kan?"
"Iya, gue juga baru tau Lex, gue nyari cewek gue Sampai mumet, eh ternyata dia sahabatnya Ayu,"
"Iya, gue hampir nggak ngenalin, abisnya dia sekarang pake jilbab, makanya gue sempet bingung kenapa Lo ngotot banget buat deketin Amara,"
"Ya Lo tau kan kenapa gue Sampai ngotot, diluar kerjaan gue baru kali ini begitu kan?"
"Iya juga, kenapa gue baru mikir, sorry gue nggak belain Lo kemarin, tapi ngomong-ngomong kata Oscar, Amara sempat hamil anak Lo kan? Terus keguguran karena kecelakaan waktu kita ke Amerika kan?"
"Ya begitulah,"
"Apa ini alasannya Lo ngerjain Ben?"
"Niatnya gitu, tapi gue nggak nyangka Ayu sampai koma gara-gara ulah gue, jadi merasa bersalah, terus si kembar gimana?"
"Ada Tante Anna yang urus, untungnya mereka nggak rewel, tapi Ben kayaknya syok banget, dia nyalahin dirinya sendiri, mana Minggu depan dia harus mulai kerjaan dari mister Amar lagi, serba salah kan jadinya, terus Lo dimana sih? Lo nggak ada niatan gitu minta maaf sama Ben atau nengok Ayu gitu?"
"Gue lagi di Bali, tiga hari lagi mungkin gue ke situ, thanks buat infonya, gue tutup dulu,"
Setelah mendapatkan sahutan dari Alex, ia mengakhiri panggilannya.
Ada rasa bersalah melingkupinya, karena ulahnya Ayudia terbaring koma, niatnya ingin membalas perlakuan menyebalkan Benedict, tapi malah berimbas pada Ayudia,
Sepertinya ia tidak memberitahukan dulu kabar tentang Ayudia pada istrinya, bisa gawat kalau Rara sampai marah padanya.
Fernando menghela nafas, ia sengaja tidak memberitahu kepada sahabatnya tentang pernikahannya, ia ingin merahasiakannya dulu.
__ADS_1