Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh enam


__ADS_3

Mata bulat itu terbuka lalu melihat sekeliling ruangan tempatnya berada saat ini, sangat berbeda dengan kamar miliknya yang ada di Penthouse.


Ranjang dengan empat tiang berwarna putih dan gorden dengan motif bunga kecil-kecil, belum lagi perabotan kayu yang berwarna putih.


Bingung, tentu saja, siapa juga yang tidak bingung dengan suasana asing ini,


Teringat terakhir suaminya menggaulinya dengan kasar, dan berakhir dirinya tak sadarkan diri,


Tapi ini dimana?


Kenapa sepi sekali?


Dimana putrinya?


Rara mencoba bangkit, walau rasanya bagian bawahnya terasa sedikit tidak nyaman.


Ia mencoba mengintip dari gorden motif bunga kecil berwarna hijau, namun alangkah terkejutnya ia ketika disuguhkan dengan pemandangan sangat berbeda.


Sepertinya ia berada dilantai dua, jauh di sana terdapat kapal yang biasa disebut Yacht terparkir di dermaga, belum lagi helipad dengan helikopter berwarna hitam.


Sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar itu, sepertinya ia harus mengosongkan kandung kemihnya terlebih dahulu.


Selesai dengan hajatnya, Rara keluar dari kamar, lagi-lagi ia terkejut, dengan apa yang ada dihadapannya.


Design ruangan salah satu negara benua biru.


Ini kali pertama Rara mengunjungi tempat seperti ini.


Hingga salah satu wanita paruh baya berpakaian layaknya seorang maid, menegurnya.


Rara ditawari camilan, namun ia menolak, ia malah bertanya balik tentang keberadaan suami dan anaknya.


Maid itu membawanya ke lantai bawah, lumayan jauh dari kamar yang tadi ditempatinya.


Hingga ia sampai disebuah pintu besar berwarna putih.


Pintu itu terbuka, sebuah senyuman menyambutnya, "Sudah bangun istriku?"tanya Fernando menghampirinya, lalu memeluk dan mencium keningnya.


"Apa tidur kamu nyenyak?"tanyanya lagi.


"Ini dimana? lalu dimana Arana?"tanya Rara balik.


"Putri kita sedang mencoba ruang bermain bersama Nicho,"jawab lelaki itu.


"Jadi ini dimana?"tanya Rara lagi,


"Lebih baik kita duduk dulu,"ujarnya sambil menuntun istrinya menuju sofa dimana ada Troy, Richard dan dua lelaki asing.


Memastikan istrinya telah duduk, Fernando mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Jadi Rara sayang, bukankah kamu ingin bertemu dengan suaminya Ayu, ada yang ingin kamu bicarakan sama dia,"


Rara mengernyit bingung, "Lalu mas Ben mana?"tanyanya bingung.


Fernando menunjuk lelaki dengan rambut hitam panjang, kumis dan jenggot cukup lebat serta kulit kecokelatan seperti terbakar matahari.


Rara melebarkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia sampai mengedipkan matanya beberapa kali.


"Nggak usah kaget gitu Amara,"ujar lelaki dengan brewok cukup tebal.


Rara teringat suara ini, itu suara milik suami Ayudia, ia tak menyangka penampilannya sangat berbeda dari beberapa tahun lalu.


Rara meminta maaf tidak bisa menutupi keterkejutannya,


"Jadi apa yang membuat kamu ingin bertemu dengan saya? bukankah kamu sahabat dekat Ayudia?"


Rara terdiam, ia mencoba mengingat apa tujuannya meminta pada suaminya agar dipertemukan dengan Benedict.


Rara menarik nafas terlebih dahulu lalu menghembuskannya kasar.


Biang kerok yang merecoki kehidupan rumah tangganya, bukan selingkuhan, melainkan gara-gara lelaki itu, ia dan anaknya menjalani hidup di negara asing ini.


"Mas Ben, bisa tidak kalau patah hati nggak usah nyusahin orang,"ungkap Rara dengan berani.


Kelima lelaki yang ada di ruangan itu terkejut dengan ucapan wanita berkerudung maroon itu.


Tak peduli dengan reaksi kelima lelaki itu Rara menatap tajam Benedict, "Gara-gara Anda, mau tak mau saya harus mengikuti suami saya untuk bekerja membantu perusahaan anda, itu kan harusnya tanggung jawab anda, kenapa jadi suami saya ikutan repot,"


"Lagian cari masalah sih, ngapain pake acara cerai sama Dia, toh walaupun kalian bercerai, memangnya Dia bisa bareng Dikta?"


Rara menghela nafas, "misalnya Dia sampai menikah dengan Dikta, anda pikir mereka berdua bisa bahagia? Anda itu sok tau ya,"


Rara mencoba mengendalikan emosinya, ia mengatur nafasnya, "denger ucapan saya, dengan anda bersikap seperti ini, justru anda yang telah menyakiti hati sahabat saya,"


"Bukankah anda yang memaksa Dia untuk menikah? andai tak dipaksa mungkin Dia belum menikah hingga sekarang, karena keinginan Dia untuk membesarkan adik-adiknya hingga sukses,"


"setelah kalian menikah dan memiliki anak, bisa-bisanya anda melepaskan sahabat saya gitu aja? tau begitu lebih baik anda tak usah mengajaknya menikah, anda benar-benar menyakiti hati sahabat saya,"


"oh ya untuk kalian berdua nih,"tunjuknya pada Benedict dan Fernando, "kalian pikir kekayaan yang segitu banyaknya, bisa membeli kebahagiaan? bahkan waktu yang kalian berikan untuk kami sangat sedikit, belum lagi sifat posesif kalian yang sama,"


Mumpung diberi kesempatan, Rara tak akan menyia-nyiakannya, "Aku dan Dia itu sadar diri untuk membatasi diri, kami juga tau kewajiban yang harus dilakukan, jadi jangan berlebihan membatasi kami,"


Selama ini ia hanya berkirim pesan dengan Ayudia, membahas tentang anak-anak atau obrolan random lainnya.


Kelima lelaki itu sampai menganga mendengar perkataan wanita berkerudung maroon itu.


"Dan sekarang aku tanya, ini sebenarnya dimana? kenapa sepi sekali?"tanya Rara pada akhirnya.


"Ini di mansion milik Ben,"jawab Fernando.

__ADS_1


Rara kembali duduk, ia menghadap pada suaminya, "aku kan mau pulang, kenapa dibawa kesini?"tanyanya kesal.


"Supaya kamu tidak akan ada keinginan untuk lari dari aku,"jawab Fernando jujur.


"aku nggak lari, aku itu pulang ke negara asalku,"sangkal Rara.


"Sama aja Ra,"


"Jadi sebagai sahabat Ayu, apa pendapat kamu jika kami kembali rujuk?"tanya Benedict menyela perdebatan sepasang suami-isteri itu.


Rara melirik Benedict sekilas, "undang Dia untuk berkunjung kesini, terserah alasan apa, kalau bisa yang tak mungkin bisa ditolak oleh Dia,"


Kelima laki-laki itu terdiam, memikirkan cara supaya Ayudia kembali ke sisi Benedict.


"Apa itu sepupu mas Ben?"bisik Rara pada suaminya.


Fernando mengangguk,


"Apa sudah menikah?"bisik Rara lagi.


Fernando menggeleng.


"Bagiamana jika beralasan akan ada pernikahan disini, tak mungkin Dia tidak akan hadir bukan? meskipun sudah jadi mantan,"usul Rara.


Keempat lelaki melirik kearah George dengan tatapan sinis,


Hal itu membuat Rara heran, "kenapa pada begitu sih?"bisiknya heran.


Fernando berbisik, "George itu g*y,"


Rara melebarkan matanya, seolah tak percaya, "dia bukan g*y,"bisiknya pada suaminya.


"Tapi dia mengaku sendiri dan sering mendatangi club' khusus kaum pelangi,"bisik Fernando.


Mereka masih terdiam dengan pemikiran masing-masing,


"Aku rasa Dia pasti berfikir kalau mas Ben sudah move on, apalagi ini hampir tiga tahun dari jatuhnya talak,"tutur Rara.


"Oh ya, apa mas Ben serius akan rujuk kembali dengan Dia?"tanya Rara.


"Tentu, bahkan hingga detik ini, saya masih mencintai Ayu,"jawab lelaki berbadan besar itu.


"bisakah jangan menyakiti Dia lagi?"


"Pasti,"


"Oke,"


Setelahnya adalah pembicaraan tentang akad yang akan dilakukan, karena menurut informasi dari Alex, hingga saat ini , Ayudia belum mau menandatangani surat kesepakatan bercerai.

__ADS_1


Meski secara agama mereka telah bercerai, tetapi secara agama, mereka masih terikat pernikahan.


__ADS_2