Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
12


__ADS_3

Fernando menunggu gadis itu di lobby hotel, sudah tiga puluh menit berlalu, tapi tak ada tanda-tanda gadis itu akan muncul, apa ia ditipu, mendadak ia jadi kesal sendiri, dalam hati ia mengumpat, ini pertama kali sepanjang hidupnya, ia menunggu seorang perempuan, biasanya mereka yang menunggu dirinya.


Lelaki yang paling tidak sabar diantara sahabat-sahabatnya, masih mencoba memberi kesempatan pada gadis itu.


Karena ia juga harus segera berangkat ke stasiun, mengejar kereta yang akan membawanya ke Surabaya.


Namun hingga lima belas menit berlalu, gadis itu tak kunjung datang, tak ada notifikasi pesan dari nomor asing yang masuk ke ponselnya.


Fernando menghela nafas, sepertinya sampai disini saja kisahnya dengan gadis penyuka strawberry itu, lelaki itu bangkit, berjalan menuju pintu utama lobby.


Tepat sekali, saat dia keluar, ada taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang, Fernando menghentikan taksi itu, dan meminta supir untuk membukakan pintu bagasi belakang.


Sekali lagi ia menoleh, memastikan tidak ada gadis itu, ia memasuki taksi dan duduk di jok belakang.


Sepanjang jalan menuju stasiun, mendadak pikirannya menerawang jauh, mengingat kebersamaannya dengan gadis itu, ia tersenyum sendiri.


Hingga beberapa menit berlalu, taksi memasuki area stasiun, usai membayar, ia turun dari taksi dan menurunkan kopernya dari bagasi.


Ia menggeret kopernya menuju tempat pencetakan boarding pass, lalu berjalan menuju pengecekan tiket, sekali lagi ia menoleh kebelakang, masih berharap melihat senyum bentuk hati milik gadis itu.


Hingga baru beberapa langkah dari tempat pengecekan tiket, ponselnya berbunyi, tertera nomor asing di sana, lelaki itu mengangkatnya.


"Halo,"


"Kamu dimana? Kok di lobby hotel nggak ada? Kata resepsionis kamu udah cek out,"ucap gadis diseberang sana.


"Aku di stasiun, aku pikir kamu nggak jadi ikut aku,"


"Aku pulang buat pamit sama orang rumah sama sekalian ambil baju-baju aku, terus aku sia-sia dong kesini,"terdengar nada kecewa dari sana.


"Apa kamu serius?"tanya Fernando tak percaya.


"Aku serius, aku udah bawa baju ganti untuk beberapa hari malah,"


"Kamu bisa naik ojek sekarang juga, masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum kereta berangkat, aku tunggu kamu di pintu masuk,"


Panggilan keduanya berakhir, Fernando meminta ijin kepada petugas pengecekan tiket, untuk keluar menjemput kekasihnya.


Fernando mondar-mandir di pintu masuk stasiun, hingga lima menit menjelang keberangkatan kereta, dan panggilan untuk para penumpang untuk segera menaiki ke kereta.


Dari kejauhan, seorang dengan sweater cokelat muda berlarian, menggendong tas ransel besar di punggungnya, menghampirinya, Fernando meminta KTP milik gadis itu menuju loket pembelian langsung.


Hingga kurang satu menit dari keberangkatan kereta, keduanya sedang berada di pengecekan tiket, selesai diperiksa dan dicocokkan dengan identitas, keduanya berlarian menuju gerbong mana saja yang masih dalam jangkauan mereka,


Pluit panjang berbunyi, bersahutan dengan klakson dari kereta, begitu keduanya berhasil masuk, dan kereta mulai berjalan.


Keduanya terengah-engah sambil tertawa lepas, di ruang Border,


"Silahkan kamu jalan duluan, sini ransel kamu,"ucap Fernando meminta ransel yang ada dipunggung gadis itu.


Suasana kereta tidak terlalu penuh, keduanya sedang berada di gerbong ke empat, mereka berjalan ke depan, melalui gerbong dengan bangku berwarna cokelat muda,


Seperti biasanya, di manapun Fernando berada, beberapa wanita yang dilewatinya sampai menoleh dua kali mengagumi ketampanan pria blasteran itu.


Berjalan diantara bangku-bangku kereta, dengan tinggi badan seratus delapan puluh tiga sentimeter, terlihat mencolok untuk orang yang dilaluinya.


Hingga beberapa saat keduanya sampai di gerbong satu, gerbong eksekutif dengan bangku dominan Biru, bangku penumpang hanya sedikit yang kosong,


Rara yang berada didepan terlebih dahulu menemukan nomor kursi yang akan diduduki mereka.


Fernando menyimpan Ransel berwarna hitam juga koper miliknya di bagasi yang telah disediakan.

__ADS_1


Hingga keduanya duduk, ada helaan nafas lega terdengar dari mereka.


Keduanya tertawa lagi,


"Tegang banget tadi, aku pikir, kita nggak bakal ketemu lagi,"ungkap Rara sambil tertawa.


"Aku pikir juga begitu, aku berkali-kali menoleh kebelakang,  hanya ingin memastikan kamu ada dibelakang aku,"


"Masa sih?"


"Ini pertama kalinya aku menoleh kebelakang untuk seorang wanita, dan itu kamu,"


"Iya deh, biar cepat,"


"Aku serius, bukan aku pernah bilang kalau aku itu selalu jujur apa adanya,"


"Iya aku percaya,"


"Oh ya, tadi saat kamu pulang, kok keluarga kamu mengijinkan pergi, bukankah kalau mau nikah, harus dipingit ya!"


"Aku bilang ada pekerjaan mendadak diluar kota, mau nggak mau mereka setuju, beberapa bulan menganggur mereka tau aku udah suntuk banget, apalagi saat aku cerita kerja jadi guide dan upahnya sampai satu juta sehari, mereka yang seneng malah,"


"Memangnya kamu nggak senang?"tanya Fernando.


"Senanglah, uang tabungan aku kan jadi banyak,"jawab Rara.


"Lalu apa kamu ijin juga ke calon suami kamu?"


"Aku udah kirim pesan ke dia kok,"jawabnya sambil menoleh ke arah jendela kereta.


"Apa ada masalah?"tanya Fernando merasa ada yang tidak beres pada gadis disampingnya.


"Kalau kamu sudah siap, kamu bisa cerita sama aku, mungkin dengan kamu berbagi cerita sama aku, walau aku tidak banyak membantu, setidaknya kamu sedikit merasa lega karena membagi sedikit beban kamu, oh ya, apa kamu mau minum? Ada petugas yang menjual minuman,"


Rara menoleh, dari kejauhan ada dua orang petugas kereta dengan seragam biru menawarkan makanan dan minuman.


Hingga petugas berhenti dihadapan mereka, Rara meminta air mineral dan keripik kentang, sedangkan Fernando hanya mengambil air mineral saja dan membayarnya.


Lelaki itu membukakan tutup botol air mineral yang tersegel juga bungkus keripik kentang, dan memberikannya pada gadis disampingnya.


Keduanya terdiam hanya suara mesin kereta juga kunyahan keripik kentang yang terdengar.


Hingga Rara mulai angkat bicara, "dua hari aku nggak temui kamu, aku pergi menyelidiki calon suamiku secara diam-diam, dan hasilnya sesuai dengan apa yang aku dengar dari salah satu kenalan aku, calon suamiku ternyata sudah memiliki istri juga anak, meskipun pernikahan mereka hanya secara siri, karena tidak disetujui oleh pihak keluarga calon suami aku, entah alasannya apa, aku belum mencari tau, aku serba salah disini, undangan sudah jadi dan beberapa sudah disebarkan, aku tak mungkin begitu saja membatalkan pernikahan itu,"


Rara meminum air mineralnya terlebih dahulu, "aku pernah gagal menikah sekali, dan sekarang aku akan gagal lagi, aku tidak mau keluarga aku malu untuk yang kedua kalinya,"


"Tapi aku tidak mau menikah dengan dia, aku tidak bisa berbagi dalam urusan cinta, aku pasti akan egois dan mendominasi, sementara istrinya dan anaknya lebih membutuhkan dia,"


"Apa kamu tidak mencintainya?"tanya Fernando penasaran.


"Kami dijodohkan, dia anak dari teman Bapak, sejak aku gagal menikah sekali, rasanya aku sudah tidak percaya lagi cinta, bilang cinta, nyatanya dia malah mengkhianati aku,"


"Lalu apa yang membuat kamu memutuskan untuk ikut dengan lelaki asing seperti aku?"


Rara mengangkat bahunya, "entahlah, mungkin sekali seumur hidup, aku akan jadi pemberontak, terkadang aku ingin mencoba sesuatu yang baru,"ungkapnya jujur.


"Apa kamu siap menanggung resiko jika kamu ikut dengan aku?"tanya Fernando.


"Yang penting kamu nggak menjual aku ke lelaki hidung belang atau membunuh aku,"jawabnya.


"Aku sudah cerita tentang betapa brengseknya aku kan? Dan setiap aku menjalin hubungan dengan seorang wanita, aku tidak cukup hanya sebatas ciuman, semuanya berakhir menghangatkan ranjang aku, apa kamu siap dengan resiko yang satu itu,"

__ADS_1


Rara terdiam mendengar ucapan lelaki disebelahnya, ia lebih memilih memandangi pemandangan yang di lewati kereta.


"Aku beri waktu kamu berfikir hingga  kita sampai di Surabaya, jika kamu memilih mundur, pertemuan kita cukup sampai di sana, tapi jika kamu mau ikut aku ke Bali, ada harga yang harus kamu bayar, bukan uang tapi tubuh kamu,"bisik lelaki itu diakhir kata.


Rara menoleh, ia menatap Pria dengan bola mata berwarna hijau itu, "Apa tidak bisa kita hanya seperti ini? Bukankah ini lebih menyenangkan?"tanyanya.


"Bukankah sudah cukup dua hari, kita hanya berjalan-jalan, kamu tau, aku selalu berhasil membawa wanita untuk aku tiduri tidak lebih dari setengah hari, hanya kamu pengecualian buat aku, karena kamu masih perawan," jawabnya pelan.


Rara menghela nafas, "kenapa sih kamu selalu berfikir ke arah sana? Tidak bisakah kamu seperti kebanyakan orang-orang yang berhubungan dengan normal,"ungkapnya kesal.


"Masalahnya aku tidak seperti kebanyakan orang, bukankah kamu bisa tau aku berbeda dari yang lainnya disini?"


"Itu secara fisik, jadi bisakah kita seperti ini saja,"Rara masih mencoba membujuk lelaki mesum disebelahnya.


"Aku tidak yakin dengan diri aku sendiri, bisa menahan hasrat ketika hanya berdua dengan kamu, apalagi dari awal aku yang tertarik duluan sama kamu, tentu hasrat yang aku miliki untuk kamu, jauh lebih besar dibanding wanita yang menawarkan dirinya terlebih dahulu,"


Rara menggeleng, "benar-benar gila," celetuknya.


"Ya aku memang gila, dan kesempatan kamu melihat aku dalam mode pria baik-baik hanya sampai Surabaya, jadi pikirkan baik-baik Sisa waktu yang aku berikan Amara Cahyani,"bisiknya tepat ditelinga gadis itu.


Rara terkejut, "kok kamu bisa tau nama panjang aku, bukankah aku tidak pernah memberitahu kamu?" Tanyanya heran.


"Bukannya kamu yang memberikan sendiri kartu identitas kamu tadi, dan sekarang aku bahkan tau tanggal lahir, dan alamat kamu, sepertinya kamu tak akan bisa lari dari aku,"


"Bukanya kamu bilang memberi aku pilihan nanti, jadi itu tidak penting kan?"


"Ya mungkin saja aku berubah pikiran dan ingin menjadikan kamu istri, bukan hanya teman tidur sementara kan?"


"Aku menolak jika kamu jadi suami aku,"


"Kenapa? Bahkan mantan terakhir aku masih menghubungi untuk meminta kembali dan menikahinya, tapi seperti yang aku bilang, aku tidak akan mau kembali dengan mantan yang telah aku putuskan,"


"Tapi aku tidak mau menikah dengan player seperti kamu, sudah cukup aku tertipu dua kali oleh laki-laki brengsek, tidak untuk yang ketiga kali,"


"Kita lihat saja nanti Amara Cahyani, dimasa depan kamu akan menikah dengan Fernando"


"Berapa kali kamu menyebut aku akan jadi istri kamu? Kayak mustahil aja gitu,"


"Kenapa kamu bilang itu mustahil?"


"Sekarang gini ya mas, kita aja baru kenal beberapa hari, aku juga nggak tau asal kamu dari mana? Kamu anak siapa? Pekerjaan kamu apa? Nggak jelas gitu, dan yang paling penting kamu bukan tipe suami idaman aku,"


"Memangnya tipe suami idaman kamu seperti apa?"


"Yang jelas bukan kamu,"


"Ra, aku tampan, aku punya banyak uang, dari semua wanita yang berhubungan sama aku, semuanya nyaman dengan aku, lalu apa kurangnya aku?"


"Kamu udah nggak perjaka, itu kurangnya kamu,"


"Apa itu penting?"


"Bagi aku penting, dan aku paling tidak mau punya suami tampan, Karena laki-laki tampan kebanyakan tidak setia, aku mau menikah sekali seumur hidup, jadi kalau aku menikah sama player, bisa-bisa pernikahan aku hanya bertahan seumur jagung,"


"Aku akan berhenti Ra, tentu aku akan setia jika sudah memiliki istri,"


Malas berdebat, Rara lebih memilih mengalah, "iya deh mas, aku percaya, kamu setia kok, setiap tikungan ada atau selingkuh tiada akhir,"ucapnya sambil tertawa,


"Amara Cahyani"ucap lelaki itu menatap tajam gadis disebelahnya.


"Apa sih mas bule? Mending makan aja nih,"ujarnya sambil menyuapkan keripik kentang pada lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2