
Fernando menelpon umi Fatimah, memberitahukan jika dirinya akan menikah dengan wanita asal Malang, ia menceritakan dengan antusias tentang pertemuan antara dirinya dengan gadis bernama Amara Cahyani.
Lelaki itu meminta Umi Fatimah untuk pergi mengunjungi Malang dua hari lagi.
Fernando juga mengirimi pesan pada Alex, ia sengaja tidak memberitahu kepada sahabatnya yang lain.
Tak lupa ia menelpon designer perhiasan untuk datang ke resort nanti malam untuk mengukur juga mendiskusikan design cincin pernikahannya.
Disisi lain, Rara tengah memandang langit senja di tepian kolam renang, pikirannya menerawang jauh, baru saja dirinya menelpon kakaknya yang ada di Kalimantan, menceritakan semua yang terjadi pada dirinya kecuali soal dirinya yang telah ditiduri lelaki yang belum seminggu dikenalnya.
Terngiang ucapan kakak tertuanya, "dek, nggak semudah itu kamu batalin rencana pernikahan yang sudah direncanakan oleh bapak sama sahabatnya dari jauh-jauh hari, apalagi bapak punya hutang Budi sama calon besannya, kamu tau betul sifat bapak kayak apa kan?"
Mata bulatnya berkaca-kaca, wanita itu tengah bimbang sekarang, disisi lain ia tak mau mengecewakan bapaknya untuk yang kedua kalinya, tapi disisi lain ia juga tak mau mengecewakan lelaki yang mengenalkannya tentang sesuatu yang baru dalam hidupnya, ia menyadari sesuatu, ia merasa nyaman dengan lelaki blasteran itu, bisa dibilang ia juga jatuh cinta padanya.
Rara menghela nafas, ia pusing memikirkannya, rasanya ingin lari dari kenyataan yang tengah ia hadapi.
Hingga habis warna senja berganti kelamnya malam, Rara masih betah duduk berlama-lama menatap samudra serta menikmati sepoi-sepoi angin yang berhembus.
Ia berfikir, mungkin jika dirinya tidak bertemu dengan lelaki blasteran itu, ia tak akan mengalami hal-hal seperti ini.
Dia bisa menerima uang satu juta dalam sehari hanya sebagai guide lelaki itu, ia juga merasakan duduk dengan nyaman di kereta eksekutif, ia bisa makan steak yang harganya bisa untuk biaya masak ibunya selama dua Minggu, ia juga bisa naik pesawat menuju pulau Dewata, ia juga bisa menaiki mobil sport yang hanya ia lihat di televisi dan ia bisa menginap di resort mewah.
Ada tanya dalam benaknya, akankah dia yang orang biasa ini bisa hidup berdampingan dengan lelaki kaya itu?
"Rara sayang kenapa kamu disini? Kenapa nggak didalam aja, anginnya lagi besar loh,"ujar Fernando merangkul wanita yang ia klaim sebagai calon istrinya.
"Disini enak bangetkj, pemandangannya bagus ya! Aku betah nggak bosen cuman liatin laut aja,"
Fernando mencium pipi wanita yang ia cintai, "Rara sayang, nanti kalau kita sudah menikah, kamu bebas sepuasnya menikmati pemandangan ini, karena setelah kita menikah, kamu akan tinggal disini sama aku,"
"Jadi ini memang kamar kamu?"
Fernando mengangguk, "selama di Bali aku tinggal disini, aku pikir, karena aku hidup tidak menetap, jadi aku tak perlu memiliki rumah yang permanen, aku hanya menyisakan satu kamar di resort yang aku kelola,"
"Pantas saja ada ruang kerja di sebelah ruang makan,"
__ADS_1
Fernando tersenyum, " aku mengelola bisnis salah satu sahabat aku yang berasal dari Amerika, dia yang memberikan kami modal dan mendesign juga resort yang aku kelola,"
"Apa kalian sahabat sangat dekat?"
"Iya Kami bersahabat sejak SMA, kami berenam, ada Benedict pemilik dari semua usaha kami, ada Rama yang merupakan wakil sekaligus yang mengatur keuangan kami, ada Alex yang berurusan dengan hukum dan masalah perijinan, ada Oscar juga Natasha yang mengelola rumah sakit di Jakarta dan aku yang mengelola beberapa resort juga Villa,"jelasnya panjang lebar.
"Apa semua sahabat kamu seperti kamu yang seorang player?"
Fernando tertawa, "hanya aku dan Alex yang brengsek, walau Rama kadang kami rayu untuk mengikuti kami, sedangkan Oscar juga Natasha adalah manusia baik-baik, hidupnya normal seperti kebanyakan orang, sedangkan Benedict, selain kaya dia juga laki-laki yang diam-diam berbahaya, hanya saja, sekarang sudah menemukan pawangnya, belum lama, dia menikah dengan salah satu karyawan Rama, bisa dibilang dia tergila-gila pada istrinya, seperti aku sama kamu,"
Ada rona merah menghiasi pipi wanita itu, "masuk yuk, udah mulai dingin,"ujar Rara beranjak dari sana dan memasuki kamar.
Tak berapa lama, seseorang pegawai resort mengantarkan makan malam untuk kedua sejoli itu, ada steak salmon juga desert yang disajikan di meja makan itu.
Rara terlihat menikmati hidangan yang ada dihadapannya, melihat hal itu, Fernando menawarkannya untuk menambah, tapi wanita itu menolak dengan halus.
Usai makan malam, keduanya kembali berbincang-bincang di ranjang sambil melihat tayangan film dari televisi besar yang menempel di dinding kamar.
Fernando memangku Rara, awalnya wanita itu tidak mau, karena belum pernah sedekat ini dengan laki-laki manapun, tapi dengan bujuk rayu sang player, akhirnya disinilah wanita itu berada.
"Oh ya, tau nggak, ini pertama kalinya, Umi aku memberikan respon positif, saat aku kirim foto kamu ke beliau,"ujar lelaki itu.
Rara mengernyit, "kapan kamu foto aku?"tanyanya bingung.
"Waktu kita jalan-jalan ke kebun teh,"jawabnya.
"Bukannya kamu mengambil foto pemandangan sekitar kebun teh ya?"
"Tidak sepenuhnya sih, sebagian malah foto kamu,"jawab Fernando jujur.
Rara duduk bergeser dan menghadap lelaki itu, "mas emang kamu semudah itu suka sama cewek ya?"sedari tadi pertanyaan itu mengganggu pikirannya, akhirnya terlontar juga dari mulutnya.
"Kalau suka duluan, ngejar-ngejar cewek, baru kali ini sih, kenapa emang? Kok kamu nanya begitu?"
"Kamu kayaknya gampang banget ngajak aku nikah, padahal kita belum lama kenal loh,"
__ADS_1
"Feeling aku kuat Ra,"
"Masa?"
"Ya walau kadang aku sudah tau kalau semua perempuan yang pernah aku kenalkan ke umi, akan berakhir penolakan, tapi aku hanya ingin tau saja, ternyata benar, mereka ditolak sama umi, hanya saat aku kirim foto kamu ke umi, beliau banyak bertanya tentang kamu ke aku, kata beliau jangan lama-lama, nanti keburu dirusak sama aku, umi sadar kalau anak semata wayangnya suka khilaf,"
"Kamu bukan khilaf, tapi tuman,"celetuk Rara, dan Fernando tertawa mendengarnya.
"Oh ya, tadi designer perhiasannya baru bisa datang pagi-pagi, terus pas kebaya akad apa perlu kita fitting dari designer ibu kota? Terus kamu mau resepsi dimana? Kalau kata umi, untuk menghormati keluarga kamu, sebaiknya dilakukan disalah satu hotel di kota asal kamu, tapi apapun itu aku ikut kata kamu,"
"Memangnya harus pakai resepsi segala ya! Kan pemborosan, lagian aku kan orang biasa, kenalan aku paling hanya tetangga, teman sekolah dan kuliah aja,"
"Amara sayang, kan pernikahan untuk seumur hidup sekali, jadi harus meriah lah, kan aku juga ada banyak kolega yang harus aku undang,"
"Pikirkan nanti deh mas, aku mau sikat gigi dulu, setelah ini aku mau tidur,"ujarnya bangkit menuju kamar mandi.
Fernando mengikuti wanitanya, saat Rara sedang menaruh odol pada sikat giginya, wanita itu hanya melirik.
"Kamu kok pakai pasta gigi anak-anak sih?"tanya Fernando sambil melakukan hal yang sama hanya saja ia mengenakan pasta gigi dewasa.
"Aku suka rasanya,"jawabnya sambil memulai menggosok giginya.
"Kan buat bersihin gigi aja, bukan mau kamu makan, kenapa serba strawberry sampai odol dan sampo juga sabun,"
"Aku suka, bukannya kamu juga melakukan hal yang sama kan?"
"Tapi hanya sebatas makanan dan minuman, kalau kamu segala sesuatu yang ada di diri kamu semuanya berhubungan strawberry,"
"Aku suka, kalau kamu keberatan, itu urusan kamu,"
"Tapi itu salah satu daya tarik kamu Di mata aku sih,"
"Kalau gitu jangan protes," ujarnya lalu menyelesaikan kegiatan membersihkan diri sebelum tidur.
Usai berbincang lagi sebelum tidur, Fernando meminta melakukan hal panas seperti tadi siang, dengan rayuan maut dari lelaki itu, membuat Rara tak berdaya, ia hanya pasrah dengan perbuatan yang dilakukan lelaki itu padanya.
__ADS_1