Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
tujuh puluh


__ADS_3

Malam harinya, kedua pasutri itu tengah berada di kamar, tadi Rara mengeluh kakinya pegal, karena berdiri terlalu lama menggunakan high heels saat acara hajatan pernikahannya.


Fernando dengan senang hati memijat kaki istrinya, keduanya membicarakan soal acara tadi siang.


"Mas, tadi bang Alex bilang soal mantan yang masih cariin kamu, kalau boleh tau emang siapa yang dimaksud?"tanya Rara, ucapan sahabat suaminya membuatnya kepikiran.


"Nggak usah dibahas Ra, aku malas,"jawab lelaki itu masih memijat kaki istrinya.


"Bisa nggak mas, mulai sekarang kamu terbuka sama aku,"ungkap wanita itu.


"Kamu juga nggak terbuka soal kamu yang punya usaha kan?"ucapan Fernando membuat Rara terdiam.


Melihat istrinya yang diam, Fernando mengambil alih tangan wanita itu, dan mencium punggung tangannya.


"Rara sayang, aku nggak peduli soal penghasilan kamu dari usaha yang kamu tekuni, hanya saja, bisakah kamu beritahukan sama aku, tentang usaha itu dan dimana kamu menjalankannya? Sebatas itu,"


"Bisa nggak mas, kalau yang itu, kamu nggak perlu tau, aku punya alasan kenapa nggak ngasih tau kamu,"


"Boleh aku tau alasannya?"


"Jujur aja ya mas, aku sebenarnya masih nggak yakin sama kamu, ditambah lagi, ucapan karyawan yang di resort tempo hari dan ucapan bang Alex tadi, maaf ya mas, aku harap kamu mengerti kekhawatiran aku,"ungkap Rara jujur.


Fernando menghela nafas, "Ra, aku tersinggung kamu ngomong gitu sama aku, tapi kalau dipikir-pikir wajar sih kamu masih sulit percaya, mengingat masa lalu aku, tapi Ra, soal aku mencintai kamu itu, benar-benar dari lubuk hati terdalam, debaran yang hanya aku rasakan ketika bersama kamu,"


"Ra, tempat aku pulang selain umi, hanya kamu, tak peduli apapun yang terjadi diluar sana, hati aku hanya untuk kamu, mungkin dulu wanita lain bisa menyentuh fisik aku, tapi hanya kamu pemilik hati aku, apapun yang terjadi kedepannya, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku, ingatkan jika aku salah, ajaklah aku untuk selalu kembaliĀ  sama kamu," ungkapnya sambil duduk bersimpuh menghadap istrinya.


"Oke, tapi bisakah mulai sekarang kamu lebih terbuka sama aku, apapun yang kamu alami, ceritakan semua sama aku, setidaknya aku tidak mendengar dari orang lain, meskipun itu pahit bagi aku sekalipun,"


Fernando mengangguk, lelaki itu memeluk istrinya erat, "sekarang lebih baik kita tidur, sepertinya kamu kelelahan,"


Rara membaringkan tubuhnya, ia sandarkan kepalanya di lengan kekar milik suaminya.


Selang dua hari kedua pasutri itu kembali ke ibu kota, selain harus mulai membicarakan rencana renovasi villa di Lembang, Fernando juga harus segera kembali ke pulau Dewata untuk mengawasi resort yang ada di sana, sambil menunggu ijin pembanguan villa yang akan diurus oleh Alex.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke ibu kota, umi Fatimah berpesan, agar anak dan menantunya tinggal di rumah miliknya, tentu tak ada protes dari pasutri itu.


"Mas mendingan apartemennya di jual atau disewakan aja,"saran Rara saat keduanya dalam perjalanan menuju ibu kota.


Fernando yang sedang mengemudi, melirik sekilas istrinya, "kenapa dijual? Memangnya kamu butuh uang?"tanyanya.


"Ya nggak juga, sayang tau kalau kosong,"jawab wanita itu.


"Itu kan tempat kenangan kita,"


"Kenangan apaan, tempat bikin dosa iya,"celetuk Rara mengingat tiga tahun lalu, laki-laki yang tengah mengemudi mengajaknya berhubungan intim di sana.


Mendengar celetukan istrinya, Fernando tertawa, "kan maunya kamu digituin dulu, baru mau nikah kan?"


"Siapa juga yang mau, aku itu udah taubat, aku pernah berjanji sama diri aku sendiri, kalau aku nggak akan mengulangi dosa yang sama,"


"Tapi buktinya kamu mau kan?"


"Kamu paksa aku kalau kamu lupa, yang Gendong aku ke atas siapa? Itu sama aja pemaksaan, kan aku niatnya mau mengakhiri hubungan kita, eh kamu malah ngajak yang enggak-enggak,"


"Nah itu tau, sebenarnya masalah ta'aruf itu nggak sepenuhnya bohong sih, sebelum aku kembali ke ibu kota, aku sempat di kenalin sama saudara aku, lelaki Soleh, dia guru bahasa Arab di madrasah Aliyah, masih bujang, wajah lokal tapi adem lihatnya, mungkin karena air wudhu ya, tapi karena mas Dika nyuruh aku buat tempati rumah ibu, mau nggak mau aku balik kesini, eh nggak taunya malah ketemu kamu lagi, yang aku nggak nyangka kamu sahabatnya suaminya Dia,"


"Wah berarti aku mesti berterima kasih sama Dika ya, karena udah nyuruh kamu balik kesini,"


"Iya dan sekarang mas Dika nyesel karena nyuruh aku balik kesini dan ketemu cowok brengsek yang sudah merusak adiknya,"


Fernando tertawa, "kan kamu yang maunya dirusak, ditawarin baik-baik mau nikah, eh diam-diam kabur pake acara bohong segala sama aku lagi,"


"Siapa juga yang mau, kamu tuh maksa aku terus,"


"Siapa yang maksa sih, aku kan cuman merayu kamu, terus kamu nggak berdaya dengan rayuan aku, memangnya aku salah?"


Rara kesal sekali mendengarnya, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, karena selalu terbuai dengan rayuan maut playboy disampingnya.

__ADS_1


"Eh tapi ngomong-ngomong kamu seriusan nggak mengenali aku, waktu kita ketemu di warung bakso?"tanya Rara penasaran.


"Awalnya aku nggak yakin, saat aku baru masuk sama Ben, terus lihat kamu, cuman setelah memastikan dengan aku duduk di samping kamu, mencium aroma kamu, terus Ayu kenalin kamu ke aku sebagai Amara, detik itu juga aku bersyukur dalam hati, akhirnya setelah tiga tahun aku cari kamu, ternyata aku bisa ketemu kamu lagi,"


"Kamu tau, sebenarnya aku tidak sengaja ikut Ben saat itu, kamu dengar ceritakan kalau aku jarang akur sama Ben, entah mengapa hari itu, aku mau saja diajak dia buat ikutin istrinya, dan aku bahagia akhirnya penantian aku selama ini tidak sia-sia,"


"Aku pikir, saat itu kamu lupa sama aku, saking banyaknya cewek yang singgah,"sahut Rara.


"Ya nggak mungkin lah aku lupain kamu, tiga tahun aku kayak orang gila nyariin kamu, sampai aku mengancam bapak sama kakak-kakak kamu, emang mereka nggak cerita sama kamu?"


"Mbak Anisa yang cerita, mendengar itu, aku berencana menyerah dan pulang ke Malang, tapi mbak Anisa melarang, katanya bapak nggak mau anak perempuan satu-satunya punya suami seperti kamu,"jelasnya mengingat ucapan kakak iparnya.


Fernando tertawa, "yang buat aku nggak baik Dimata keluarga kamu, itu kamu sendiri loh, berkali-kali kan aku bilang, aku mau nikahin kamu, bahkan setelah pertama kali aku tiduri kamu kan, kurang bertanggung jawab apa coba aku sama kamu,"


"Jadi kamu nyalahin aku gitu,"ungkap Rara kesal.


"Ya kamu pikir aja sendiri, aku akui aku salah, karena selalu nggak bisa menahan hasrat jika ketemu kamu, sebatas itu kan?"


"Iya deh biar cepat, sekarang aku tanya, siapa yang masih cariin kamu?"


Fernando tersenyum, "kamu cemburu?"tanyanya meledek.


"Tinggal jawab apa susahnya mas,"


"Cristy yang cariin aku ke kantornya Alex,"jawab lelaki itu jujur.


"Memangnya urusan kompensasi nggak jadi kamu berikan?"


"Aku kasih kok, orang Alex yang urus, dia juga udah tanda tangan di atas materai,"


"Terus kenapa mbak Cristy masih nyariin kamu?"


"Mana saya tau nyonya Fernando, saya kan belum bertemu langsung dengan dia,"

__ADS_1


Wajah Rara bersemu merah mendengar sebutan untuk dirinya,


Fernando melirik istrinya, ia tersenyum senang, wanita itu menggemaskan jika wajahnya bersemu merah, rasanya ingin menciumnya, namun ia harus mengurungkan niatnya, karena ia sedang mengemudi di jalan Tol menuju ibu kota.


__ADS_2