Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
Seratus enam puluh enam


__ADS_3

Demi terlepas dari kurungan suaminya, Rara rela selama seminggu harus menuruti semua kemauan lelaki itu.


Bukan hanya di samping lelaki itu setiap saat, tapi juga memenuhi fantasi se**ual suaminya.


Benar-benar sebuah perjuangan agar bisa melanjutkan kehidupan yang diinginkannya.


Tepat dihari keberangkatannya ke Ibu kota, Mendadak suaminya ingin mengantarkannya.


Dengan dalih harus memberikan laporan pada Rama dan membahas soal bisnis bersama Alex.


Kesal tentu saja, Niat hati ingin menyusul Fitri dan Cristy liburan ke Jogja, terpaksa harus menundanya.


Nicholas yang sudah diberitahu jika Rara kembali ke Jakarta, menyambutnya penuh suka cita.


Remaja itu mengaku selama dua pekan, ia tinggal di Apartemen milik daddy-nya, sementara apartemen yang baru ditempati oleh mommy-nya seorang diri.


Nicholas sempat protes karena Fernando ikut kembali ke Ibu kota, karena sejak kejadian menghilangnya Rara, remaja itu menjadi dingin pada Daddy-nya sendiri.


Rara yang mengetahui, berusaha mendamaikan bapak dan anak itu.


Walau keduanya seperti tak rela, tetapi karena ancaman dari Rara berhasil membuat mereka saling berbaikan.


Sebelum keberangkatannya kembali ke Bali, Fernando sempat mengajak istrinya mengunjungi pembangunan rumah mereka.


Hampir rampung, hanya tinggal finishing saja.


Rumah tiga lantai yang terlihat paling besar dilingkungan sekitarnya.


Karena menginginkan halaman belakang yang luas, sehingga bangunan utamanya dibuat berlantai tiga.


Ada basement dengan kapasitas empat mobil dan dua sampai tiga motor.


Lantai satu berisi Ruang tamu, ruang keluarga, dua dapur, ruang makan, satu kamar untuk umi Fatimah, dan satu kamar untuk tamu.


Lantai dua nantinya akan ada ruang bermain, kamar anak-anak.


Di lantai teratas, khusus untuk kamar utama, ruang gym pribadi, ruang kerja, kolam renang dan mini garden.


Rumah itu juga dilengkapi dengan lift.


Mewah, tentu saja, ini kali pertama kalinya Fernando membangun rumah pribadinya.


Halaman belakang ada kolam renang, dan taman lumayan luas.


Tadi Fernando sempat berbicara pada istrinya, lelaki itu berniat membeli rumah yang ada di samping untuk para pekerja rumah.


Fernando menginginkan rumah untuk para pekerjanya terpisah, ia menginginkan privasi hanya untuk keluarga kecilnya.


Tak pernah terlintas dipikiran Rara akan mempunyai rumah sebesar ini.


Selesai memantau perkembangan rumah mereka, Fernando dan Rara menuju cafe tempat sahabatnya berada.

__ADS_1


Rara bersama Sinta berbincang di cafe beserta anak mereka, sedangkan para suami membicarakan masalah pekerjaan di ruang kerja milik Rama.


"Sebulan lebih kamu nggak menghubungi mbak, lagi sibuk apa sih Ra?"Protes Sinta membuka obrolan.


"aku di Bali mbak,"ujar Rara sambil menyuapi putrinya puding strawberry.


"tapi kenapa dihubungi nggak bisa?"tanya Sinta.


Karena sudah menganggap Sinta seperti kakaknya sendiri, Rara menceritakan semua yang ia alami saat di Bali.


Sinta sampai menutup mulutnya tak percaya, "Nando sampai segitunya Ra? aku pikir cuman Ben, yang posesif-nya kebangetan, ternyata mereka sebelas dua belas,"


"ya gitulah mbak,"


"Terus masalah perempuan yang namanya Kelly akhirnya gimana?"


Rara mengangkat bahunya, "aku nggak tau mbak, mas Nando nggak cerita,"


Sinta melakukan hal yang sama pada Rayan, ia menyuapi balita itu dengan puding,


"kamu pernah mikir nggak Ra, Kenapa ya diantara kita bertiga selalu berurusan dengan masa lalu pasangan ya! emang yang paling parah kamu sih, sampai menghasilkan anak segala, untung kalian akur,"


"udah jalan hidup mbak, maka dari itu nasehati Rayan jangan sampai kayak bapaknya kalau udah gede, kalau perlu masukin pesantren mbak,"


"aku juga mikir gitu Ra, pendidikan agama kayaknya yang akan jadi benteng anak-anak biar nggak kayak bapaknya,"


""terus gimana sama usaha jualan kamu?"tanya Sinta.


"lancar mbak, tapi lagi close order dulu, yang ngurusin lagi jalan-jalan di Jogja,"jawab Rara memanyunkan bibirnya.


Rara bercerita tentang rencananya yang aman liburan bersama dengan kedua sahabatnya, tapi semua itu gagal total gara-gara suaminya.


Lagi-lagi Sinta tertawa, "Punya suami kayak Nando itu antara beruntung sekaligus apes ya Ra,"


"Beruntung karena blasteran sehingga anaknya cantik, terus banyak uang, apesnya posesifnya nggak ketulungan, mantannya seabrek, huh..... hidup memang nggak selamanya indah ya!"lanjut ibu dari Rayan itu.


"Ya gitulah mbak, disyukuri aja, tapi mental aku harus setebal baja, apalagi mantan-mantannya masih getol deketin dia kecuali mbak Cristy,"


"Apa Tamara masih mau kembali sama Nando?"tanya Sinta lagi.


Rara mengangguk, lalu menunjukan isi chat terbaru dari Tamara,


Sinta sampai melebarkan matanya saat membaca seluruh chat dari Tamara,


"kok jatuhnya nggak tau diri ya Ra, udah dibiayai pengobatan sampai sembuh, dikasih uang kompensasi, belum lagi apartemen baru sama tunjangan bulanan, rumit hidup kamu Ra,"ucapnya iba.


"Aku mesti gimana ya mbak?"


"Nando tau kalau Tamara chat kamu begitu?"


Rara menggeleng, "kalau tau Mas Nando nanti bakal marah banget, kalau udah kayak gitu aku kasihan sama Nicholas,"

__ADS_1


"Iya juga sih, aku lihat Nicholas sayang banget sama kamu,"


Sekitar dua bulan sekali, Antara Rara, Sinta dan Sandra rutin berkumpul dengan bergantian tempat untuk menjalin keakraban diantara mereka, jika tidak ada Fernando, maka Cristy juga akan ikut berkumpul.


"mbak tau kamu kuat, kamu pasti bisa lewati semua cobaan,"


"oh ya Ra, bulan depan kita jalan-jalan keluar kota yuk, ajak Sandra sekalian, syukur-syukur suami kita nggak ada yang ikut, kadang-kadang cewek-cewek kan perlu ngumpul sama sahabat-sahabatnya, biar nggak stress,"usul Sinta.


"boleh tuh mbak, jangan bilang cowok-cowok itu dulu, ribet bawa mereka, enaknya kemana?"


"Ke Malang aja Ra, aku belum pernah ke sana, sekalian kamu ketemu keluarga,"


Rara tersenyum lebar dan mengangguk setuju, selanjutnya mereka merencanakan apa saja yang akan disiapkan untuk perkumpulan rutin yang akan diadakan diluar kota.


Sementara itu, di ruangan atas, Rama sedang berbincang masalah pekerjaan dengan Fernando.


Hingga lelaki blasteran itu berucap, "Ram, rumah gue jadi, gue resign ya, entar gue ajarin Bagus, dia kayaknya udah bisa handel deh,"


"Bisa nggak do, nggak usah cari masalah,"


"Siapa yang cari masalah Ram, gue cuman pengen ngumpul sama anak bini gue,"


"kan selama ini Lo juga bisa ngumpul do,"


"tapi nggak bisa setiap hari,"


Rama menghela nafas, "Do, Lo tau kan Ben lagi vakum dari dunia bisnis, dia lagi patah hati, buat minta persetujuan aja, susahnya minta ampun, tolong lah jangan kayak gitu, Lo nggak kasihan sama Ayu kalau ngurus semua sendiri?"


"Gue takut Amara kabur lagi,"


"Ya nggak mungkin lah, kan udah ada Arana, Lo lupa kalau anak Lo cewek, pasti bakal mikir berkali-kali kalau bini Lo mau kabur,"


Fernando menceritakan kejadian beberapa waktu lalu, tentang kelly juga bertemunya istrinya dengan Bimo, mantan calon suami dulu.


"Kata Sinta, selama sebulan, Amara nggak bisa dihubungi, gara-gara masalah itu?"


"Awalnya masalah Kelly, Rara mau ngajuin gugatan cerai sama gue, terus terakhir ya Bimo itu,"


Rama terdiam sejenak, lalu berucap, "Saran gue, Lo dikit-dikit ajari Bagus supaya bisa mengelola dengan baik resort-resort di sana, terus kalau rumah Lo udah jadi, Lo tinggal mantau dari jauh, kayak waktu Lo delapan bulanan di Lembang,"


"itu pas gue di sana, omset menurun drastis Rama, untuk Ben nggak nyampe ngamuk, huh... capek gue,"


"Ya elo jangan cuman ajari periksa keuangan doang, tapi strategi marketing lo yang selalu sukses itu, salah Lo disitu Dodo, makanya Bagus belum bisa dilepas gitu aja,"


"Iya juga ya, kenapa gue jadi ogeb gini sih,"


"Terus masalah Nicholas gimana? gue denger Lo beliin Tamara apartemen,"


"Itu karena Rara mau gue ajak tinggal di Bali, makanya Nicho gue suruh tinggal sama mommy-nya, maka dari itu gue beliin apartemen, salah gue, nggak diskusi dulu, kemarin dua minggu, anak gue tinggal sendirian di apartemen yang biasa gue tempati sementara Tamara udah terlanjur pindah ke apartemen yang baru, nggak mungkin gue usir kan?"


"Ya udah lah, anggap aja amal, biar rejeki Lo tambah banyak,"

__ADS_1


"Aamiin,"


Keduanya mengakhiri obrolannya dan beranjak menuju lantai bawah, menemui istri mereka masing-masing.


__ADS_2