Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan puluh lima


__ADS_3

Atas permintaan Rara keesokan paginya, sebelum berangkat kembali ke Lembang, Fernando mengantarkan Suri ke tempat kerja sepupunya.


Sesampainya di tempat kerja Sepupunya, Fernando berakting seolah dirinya adalah tunangan yang sangat mencintai calon istrinya, dan untuk mendukung aktingnya, Lelaki itu bahkan mentraktir rekan kerja Suri sarapan pagi, tak lupa berpesan kepada mereka untuk menjaganya dari lelaki yang mendekati gadis itu, dikarenakan ia lebih banyak bekerja diluar kota.


Urusan membantu Suri selesai, Fernando dan Rara bertolak menuju Lembang,


Didalam perjalanan, tiba-tiba Fernando menanyakan soal pembicaraan Rara dengan Nicholas, namun wanita itu sepertinya menyembunyikan sesuatu.


Fernando yang sedang mengemudi, menghembuskan nafas kasar, istrinya tak kunjung mau terbuka dan jujur padanya.


"Apa Nicholas meminta kamu, agar meninggalkan aku ?"tebak lelaki itu.


Rara terkejut, suaminya seperti bisa membaca pikirannya, namun wanita itu berusaha menutupinya dan menanggapi pertanyaan itu hanya dengan gelengan kepala tanpa berani menatap mata suaminya.


Fernando tau istrinya tengah berbohong, "kenapa sih Ra, kamu nggak jujur aja sama aku? Dan itu alasan kamu menerima ajakan Suri kemarin kan?"


Rara menggeleng, "aku hanya ingin jalan-jalan aja,"dustanya.


"Ra, harusnya kamu tau, seberapa besar rasa cinta dan sayang aku ke kamu, aku tak peduli dengan apapun, asal aku selalu bisa bersama kamu, jadi jangan pernah berfikir aku akan memilih masa lalu aku, dan hanya kamu wanita yang akan menemaniku aku disisa umurku,"


"Tapi mereka lebih butuh kamu, mbak Tamara lagi sakit, butuh biaya besar, sedangkan Nicholas anak kalian butuh keluarga yang utuh untuk dia tumbuh dengan baik, dia akan membenci kamu jika kamu malah lebih memilih aku, coba kamu berfikir jika berada di posisi Nicholas?"ungkap Rara tanpa sadar mengakui ucapan suaminya.


Fernando tersenyum miris, akhirnya istrinya mengungkapkan isi hatinya,


"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu tidak membutuhkan aku sebagai suami kamu?"tanya Fernando.


Pertanyaan dari suaminya membuat  Rara terdiam, entah apa yang dipikirkannya, wanita itu lebih memilih menikmati pemandangan yang dilewatinya melalui jendela samping mobil.


"Kenapa nggak jawab? Apa benar kamu tidak membutuhkan aku? Apa hanya aku yang membutuhkan kamu, sementara kamu?"pertanyaan beruntun Fernando ucapkan,


Rara diam menanggapi, pikirannya terasa penuh, kalau boleh jujur, tentu saja, ia membutuhkan suaminya, ia mencintai lelaki itu, tapi rasa iba pada Tamara juga Nicholas mengganjal di hatinya.


Fernando mendadak menepikan mobilnya, ia menarik tuas rem, ia juga melepas seat belt, lalu ia melepas seat belt yang terpasang di samping kursi kemudi, ia mengangkat istrinya, untuk duduk di pangkuannya, lalu memegang kedua sisi pipi wanita itu.


Gerakan cepat Fernando, tak disadari Rara yang sedang melamun sambil melihat sisi jalan, hingga tersadar dirinya telah terduduk dipangkuan suaminya.


Mata hijau itu menatap mata bulat itu tajam, terlihat ketegasan di sana, "dengar ucapan aku dan tanamkan di otak kecil kamu Amara Cahyani, meskipun kamu tidak membutuhkan aku, tetapi aku yang membutuhkan kamu, AMAT SANGAT membutuhkan kamu, aku akan sangat egois jika itu menyangkut kamu, apapun akan aku lakukan agar kamu selalu ada disisi aku, bahkan tindakan yang mungkin tidak pernah terlintas di pikiran kamu, akan aku lakukan, asal kamu selalu ada disisi aku,"


Masih dengan tatapan tajamnya, Fernando mengatakan, "Ini salah kamu membuat aku jatuh cinta sekaligus terobsesi sama kamu, jadi silahkan nikmati saja apa yang aku berikan, entah sifat posesif aku, atau apapun itu,"


Setelahnya, Fernando mencium, menyesap bibir yang membuatnya tergila-gila, bahkan salah satu tangannya meremas bomb istrinya, seolah tak peduli dimana dirinya sekarang,

__ADS_1


Tak lama, ada sesuatu yang menusuk dibawah sana, Fernando melepaskan ciuman itu, lalu mengelus kepala yang tertutup jilbab berwarna nude itu, "kita cari villa terdekat,"


Ujarnya sambil memindahkan istrinya ke kursi disebelahnya, lalu kembali mengemudikan mobilnya.


Rara tak menyangka, jika suaminya serius dengan ucapannya tadi saat Mereka di mobil, usai keduanya berciuman.


Dan disinilah ia sekarang, setelah memarkirkan mobilnya, Fernando bergegas keluar dari sisi kemudi dan menghampiri istrinya disisi yang lain,  tanpa banyak berucap ia menggendong istrinya ala bridal style, lalu menemui resepsionis, tanpa melalui proses ini itu, resepsionis menunduk hormat begitu melihat kedatangan Fernando, hanya dengan sapaan selamat datang, lalu memberikan kunci kamar begitu saja.


Ada tanya dibenak Rara, Namun urung ia tanyakan, ia tak berani, suaminya tengah merajuk padanya.


Masih menggendong isterinya, Fernando melewati jalan dengan paving blok, dan beberapa villa dengan kamar terpisah-pisah, seluruh villa didominasi unsur kayu berbentuk segitiga yang berjejer rapih disepanjang jalan yang mereka lalui.


Hingga keduanya, sampai disebuah bangunan berbentuk segitiga dengan ukuran paling besar diantara yang lainnya,


Fernando menurunkan istrinya, untuk mengambil key card dikantong celana Chino dengan warna khaki itu,


Pintu terbuka, belum sempat Rara berucap, Fernando dengan cepat membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya, ia merengkuh tubuh yang masih tertutup itu.


Fernando menutup pintu dengan kaki panjangnya, pintu otomatis terkunci,


Lelaki itu menahan istrinya tepat dibelakang pintu, Fernando terus menyesap seolah hendak menghabisi bibir milik istrinya, hingga tepukan di bahunya menghentikan aktifitas keduanya,


"Apa kamu gila? Aku sesak nggak bisa nafas,"Rara kesal,


Fernando masih merengkuh istrinya, saat wanita itu mengomel, dirinya hanya tersenyum, lalu mulai membuka jilbab nude yang dikenakan istrinya,


Lelaki itu memegang kedua sisi kepala yang tak tertutupi, tepat dibawah telinga, ia mulai meremas pelan, hingga terdengar lenguhan keluar dari mulut Rara,


Tak banyak bicara, Fernando membungkam kembali bibir itu, menyesapnya lagi dan lagi, rasanya selalu manis sama seperti pertama kali saat dulu ia menciumnya,


Kalau bukan karena maksud terselubung di pikiran lelaki itu, mungkin ia akan segera menuntaskan hasratnya,


Teringat tadi saat di mobil, istrinya mendorongnya untuk menjauh, rasanya kesal sekali, seolah wanita ini tidak membutuhkannya,


Seorang Mantan player seperti dirinya, tau betul titik lemah seorang perempuan saat berada diatas ranjang,


Fernando ingin istrinya sendiri yang akan memohon-mohon agar menuntaskan hasrat wanita itu, untuk itulah ia harus menahan hasratnya sendiri.


Sebagai seorang suami, tentu ingin sekali, jika istrinya membutuhkannya dan bergantung padanya, namun selama ini, kalau bukan karena paksaannya, Rara tak mungkin mau menurutinya.


Beberapa menit berlalu, Fernando masih mencumbui istrinya, ia sendiri mati-matian menahan hasratnya, dan benar saja, wanita itu mulai terbuai,

__ADS_1


Terlihat dari tatapannya yang sayu, ya... Rara yang sudah tak mengenakan apapun tengah terbaring diatas ranjang, sedangkan Fernando masih mengenakan kemeja yang tiga kancingnya telah terbuka,


Hingga menit selanjutnya, wanita itu mulai memohon padanya, namun dengan santai Fernando mulai bangkit lalu mengancingkan kembali kemejanya, ia duduk bersandar di sofa yang berseberangan dengan ranjang ber-sprei putih,


Fernando menyunggingkan senyuman tipis, melihat raut kebingungan istrinya, ini pertama kalinya ia bertindak seperti itu,


Rara menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal berwarna putih itu, ia bingung dengan tingkah suaminya, ini bukan kebiasaan lelaki itu,


"Kamu kenapa sih mas?"tanyanya sambil bersandar di head board,


Fernando mengangkat bahunya seolah tak peduli dan tak terjadi apa-apa, lelaki itu berucap, "seperti yang kamu lihat, aku sedang duduk, lalu apa masalahnya?"


Rara semakin bingung dibuatnya, "tapi biasanya kita akan melakukannya kan?"tanyanya.


"Gimana ya, em... Sayangnya aku udah nggak kepengin tuh,"tentu saja itu bohong, bahkan sekarang ini, Fernando mati-matian menahan hasratnya,


"Tapi kan..."


"Memangnya kamu butuh aku?"tanya lelaki itu menohok.


Rara baru menyadari lelaki itu masih marah dengan pembahasan tadi saat keduanya berada di mobil,


"Jadi kamu marah sama aku?"tanyanya lagi.


"Ya menurut kamu, aku bakal marah nggak kalau kamu terus-menerus mendorong aku untuk menjauhi kamu dan bersama dengan wanita lain, padahal kamu harusnya lebih tau, jika aku hanya mencintai kamu dan sesuatu yang mustahil kalau aku kembali sama dia, aku tidak mencintainya, aku berbeda keyakinan dengan dia juga tak ada getaran apapun saat aku bertemu dengan dia,"


"Lalu kamu mendorong aku ke dia itu maksudnya apa? Kamu mau bunuh aku perlahan ya? Aku tersiksa setengah mati selama tiga tahun karena kamu menghilang, dan sekarang setelah kita menikah, kamu akan melakukan hal yang sama, apa kamu pikir aku akan terima, tidak akan pernah Amara, lebih baik aku mati jika tak bisa bersama kamu,"ungkapnya panjang lebar.


Rara tercengang mendengar ungkapan isi hati suaminya, ia tau lelaki itu mencintainya, namun tak berfikir segitu besarnya,


Mata hijau itu masih menatapnya tajam, Rara sendiri tau jika tatapan itu, tatapan amarah, ia menghembuskan nafasnya kasar, ia tak menyangka suaminya akan semarah itu, walau tak berbuat kekerasan, tapi ucapan lelaki itu terasa menghujam jantungnya.


Rara tau dirinya salah, tak seharusnya, ia menyakiti suaminya, mau bagaimanapun ia juga mencintai lelaki itu, ia bangkit sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya,


Ia berjalan menuju lelaki itu, lalu duduk dipangkuan Fernando, ia mencium kedua tangan suaminya, lalu mencium kening itu lembut,


"Maaf ya suamiku sayang, seharusnya aku tidak mendorong kamu lagi, padahal nantinya aku pasti akan patah hati lagi, maaf sayang, aku mencintai kamu, aku membutuhkan kamu,"


Usai mengatakannya, Rara mulai menciumi seluruh wajah suaminya, berakhir mencium bibir milik lelaki itu, tak lupa mulai membuka kancing kemeja suaminya, satu persatu tanpa melepaskan tautan bibir itu,


Bagai gayung bersambut, Fernando mulai memberikan reaksinya, ia membalas ciuman itu, dan selanjutnya kegiatan berbagai peluh keduanya lakukan, seolah keduanya sedang berbulan madu.

__ADS_1


__ADS_2